NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 PERKATAAN MENYAKITKAN

Hutan itu terasa jauh lebih mencekam daripada yang dibayangkan Zeta. Keheningan yang ada bukanlah ketenangan, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang besar sedang mengintai. Zeta menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila.

*Duk! Duk! Duk!*

Tanah bergetar. Pepohonan di depan mereka tumbang dengan kasar.

"HUAAAAAA!" Sebuah teriakan menggelegar memecah kesunyian.

Lytia terkesiap, tangannya langsung memasang kuda kuda untuk jaga jaga. "Hah?! Gila! Kenapa *Minotaur*

tiba-tiba muncul di sini? Ini bukan tempatnyaa harusnya dia ada di hutan lembah nox!"

Zeta membelalak melihat makhluk setinggi tiga meter dengan kepala banteng dan tubuh manusia berotot di depannya. "Benar-benar kau, Lytia! Harusnya beri monster pemula dulu, kenapa langsung monster sebesar ini?!"

"Aku sendiri juga tidak tau Zeta seharusnya minotour ada di hutan lembah nox bukan di dekat gerbang 3 kerajaan cepat hadapi dia Zeta!"

balas Lytia tegas.

Ujian Pertama Zeta

Zeta menggertakkan gigi. Minotaur itu... bentuknya mirip seperti di game. Apa aku bisa menggunakan teknik pedang yang kupelajari di klub kendo dulu?batinnya. Cih, aku harus berani. Jangan memalukan!

Zeta meriang maju. "Terima ini! Sihir Angin: Bola Angin!" Sebuah pusaran angin menghantam dada sang Minotaur. Makhluk itu melenguh kesakitan, tapi hanya sedikit. Merasa terganggu, Minotaur itu mengayunkan gada raksasanya ke arah Zeta.

*BRAKK!*

Zeta menahan hantaman itu dengan pedang Lytia. Tangannya bergetar hebat, tulang-tulangnya terasa mau rontok. Ia terdorong mundur, namun langsung membalas. "Tombak Angin!"

Serangan itu menghujam kaki si minotour, membuatnya terhuyung mundur. Namun, Minotaur itu mengamuk. Ia mencabut sebuah pohon besar dan melemparkannya ke arah Zeta!

"Zeta, awas!" Lytia menghentakkan kakinya ke tanah. "Sihir Tanah: Dinding Tanah!"

*DUARR!* Pohon itu hancur menabrak dinding batu yang muncul tiba-tiba. Namun, malapetaka belum usai.

Dari balik bayangan pohon di belakang Zeta, muncul Minotaur kedua! Gada raksasa sudah terangkat di atas kepala Zeta. Zeta berbalik cepat, menahan serangan maut itu dengan pedangnya dalam posisi menyilang. Namun, ia tertekan hebat, lututnya hampir menyentuh tanah. Melihat Zeta terdesak, aura Lytia mendadak berubah. Matanya yang merah berkilat sangat tajam ia murka. Dalam sekejap mata, Lytia melesat seperti bayangan hitam. Lalu membakar minotour itu dengan sihir apinyaa

*Bussh bussh*

Kedua Minotaur itu tumbang seketika, mereka terbakar habis karena sihir lytia. Zeta jatuh terduduk, napasnya memburu. Ia terpaku melihat punggung Lytia. *Jadi ini... kekuatan seorang Jenderal? Dia sehebat ini?*

Kata-Kata yang Menusuk

Lytia sangat kesal dan kecewa. Napasnya pendek karena amarah, bukan karena lelah.

"Terima kasih, Lytia..." ucap Zeta lirih, mencoba bangkit.

Lytia berbalik, tapi wajahnya tidak menunjukkan kekhawatiran. Ia menatap Zeta dengan tatapan paling dingin yang pernah Zeta lihat. "Sepertinya... harapan Kerajaan Beltrum memang sudah hancur."

Zeta tertegun. "Kenapa... kenapa kamu bicara begitu?"

"Lihat dirimu sendiri, Zeta!" bentak Lytia, suaranya menggelegar di hutan yang sunyi. "Sial, kamu benar-benar tidak bisa diharapkan! Kamu penakut sekali! Kupikir gulungan kuno itu membawa kesatria yang benar hebat, ternyata hanya menambah beban bagi kami saja. Kehadiranmu bukan menyelamatkan kami, tapi justru mempercepat kehancuran kami!" Lytia melangkah maju, menunjuk dada Zeta dengan jarinya. "Kami menaruh sisa nyawa bangsa kami di pundakmu, tapi kamu bahkan gemetar melawan monster rendahan seperti tadi. Kamu benar-benar lemah... tidak ada keberanian sama sekali!"

Dada Zeta terasa sesak. Bukan karena sisa pertarungan, tapi karena kata-kata itu. "Hah? Kenapa kamu yang marah?! Harusnya aku! Kalian yang memaksaku datang ke sini, menyeretku dari duniaku, lalu menuntutku sesuai kemauan kalian! Aku bahkan belum tahu cara kerja sihir di sini sepenuhnya! Bagaimana aku bisa jadi hebat kalau kamu sendiri menuntutku sekuat itu dalam waktu singkat?!"

Lytia tidak bergeming. Ia hanya menatap Zeta dengan rasa kecewa yang mendalam. "Dunia ini tidak butuh alasan, Zeta. Dunia ini butuh hasil. Dan sejauh ini, kamu hanya sampah yang memegang pedang."

Seketika itu, Zeta terdiam. Penghinaan itu terasa lebih sakit daripada hantaman gada Minotaur tadi. Di tengah hutan yang mulai menggelap, Zeta merasakan mata kirinya mulai berdenyut panas lagi kali ini lebih panas dari sebelumnya.

Kata-kata Lytia yang menusuk tadi bukan sekadar hinaan bagi Zeta, melainkan cermin yang memaksanya melihat kenyataan pahit. Di tengah kesunyian hutan, bayangan masa lalu Zeta berkelebat. Ia teringat rumahnya di dunia asal, teringat suara pertengkaran kedua orang tuanya yang selalu membuatnya bersembunyi di pojok kamar dengan gemetar. Mentalnya sudah jatuh sejak kecil. Selama ini aku memang penakut,batin Zeta pedih. Bahkan saat tinggal bersama nenek, aku selalu mengandalkannya. Untuk kuliah dan kerja di kota saja aku harus mengumpulkan keberanian berhari-hari. Latihan pedangku dulu... bukankah tujuannya agar aku tidak jadi pengecut lagi?

Zeta menatap tangannya yang masih sedikit bergetar. Ia teringat senyum tulus Ibu Lytia dan harapan rakyat Beltrum. Mungkin Lytia benar-benar lelah. Dia sudah kehilangan banyak teman di medan perang, makanya dia sangat menaruh harapan padaku. Jika aku terus begini, aku memang sampah. Zeta menarik napas panjang. Matanya yang tadinya layu kini menajam. Ia memutar badannya, membelakangi Lytia, dan melangkah mantap menuju jantung hutan yang lebih gelap. Secara tidak sengaja, ia menemukan

sebuah pedang tua milik pemburu yang tergeletak di tanah. Ia memungutnya, kini ia tidak memegang pedang Lytia

"Zeta! Kau mau ke mana?! Jangan sok berani atau kau akan mati cepat!" teriak Lytia dari belakang.

Zeta tidak peduli. Ia terus berjalan tanpa menoleh. Ini seperti game yang sering kumainkan. Aku akan gunakan imajinasiku. Teknik kendo, variasi sihir... aku akan serius. Benar-benar serius menjadi pemberani!

Badai di Tengah Hutan

Zeta melompat melewati semak berduri hingga tiba di sebuah tanah lapang kecil. Di sana, empat ekor Minotaur sedang duduk bersantai. Tanpa peringatan, Zeta menerjang.

"Sihir Angin: Hempasan Badai!"

*BOOOMM!*

Angin kencang berkekuatan luar biasa meledak dari tubuh Zeta. Keempat Minotaur itu terhempas seperti daun kering, pepohonan di sekitarnya tumbang dan hancur berantakan.

Lytia yang berada di kejauhan terkesiap. "Apa yang terjadi?!" Ia mendengar teriakan kesakitan para Minotaur yang bersahutan. Ia ingin menyusul, namun egonya masih menahan kakinya.

Di pusat pertempuran, Zeta berdiri dengan tatapan dingin dan cuek. Seekor Minotaur bangkit dan menyerang dengan amarah. Zeta mengayunkan pedangnya, namun kali ini ia menyalurkan angin tajam ke mata pedang.

*SRET!* Kulit keras Minotaur itu sobek seketika.

Gerakan Zeta berubah drastis. Ia bergerak secepat angin, berpindah dari satu titik ke titik lain dengan sangat cepat, merobek tubuh para monster itu sebelum mereka sempat mengayunkan gada. Dua Minotaur yang tersisa melenguh keras, memanggil kawanan mereka. Dalam sekejap, tujuh ekor Minotaur lagi muncul dari balik pepohonan.

Bagus... datangkan lebih banyak lagi, batin Zeta. Ia menyeringai tipis. "Majulah, monster-monster jelek!"

Saat kawanan itu mengepungnya, Zeta memusatkan seluruh energinya ke satu titik. Ia tidak merapal mantra, ia hanya membayangkan sebuah badai besar yang menghancurkan segalanya.

PUSARAN ANGIN PENGHANCUR!

Angin puyuh raksasa tercipta seketika, menghisap dan mencabik-cabik apa pun yang ada di dekatnya. Hutan yang tadinya rimbun mendadak menjadi gundul di bagian tengah. Lytia yang mencoba mendekat pun ikut terhempas jauh oleh tekanan angin itu. Ketika debu dan daun-daun mulai turun, area itu telah bersih. Semua Minotaur tewas mengenaskan. Zeta berdiri di tengah-tengah kehancuran itu, menatap tangannya sendiri dengan takjub. Ternyata benar... tidak perlu dirapal pun, aku bisa melakukannya. Kekuatan ini... adalah keberanianku.

Lytia terhempas ke batang pohon besar, dadanya sesak akibat tekanan udara yang luar biasa. "Aduh... ugh... sebenarnya apa yang dilakukan Zeta? Apa yang terjadi di tengah hutan itu?" gumamnya sambil berusaha bangkit dengan kaki yang gemetar.

Di tengah hutan yang kini gundul, Zeta terengah-engah. Napasnya berat dan uap panas keluar dari mulutnya. Sihirku... sepertinya hampir habis. Baru satu pusaran besar saja sudah selemas ini,batinnya. Namun, tepat saat ia ingin beristirahat, mata kirinya berdenyut lebih keras dari sebelumnya.

*NYUT! NYUT!*

Pandangan Zeta memerah. Rasa pusing yang hebat menghantamnya, diikuti gelombang emosi murka yang tidak terkendali. Mata kiri itu seolah mengambil alih kesadarannya, membisikkan kembali kata-kata pedas Lytia berulang-ulang di kepalanya.

"Aku bukan sampah..." desis Zeta dengan suara yang lebih berat. "Di mana kau, Lytia? Aku akan membuktikan padamu siapa yang sebenernya sampah!"

Zeta melesat keluar dari tengah hutan, gerakannya liar namun sangat cepat. Ia melihat Lytia yang baru saja berdiri. Tanpa peringatan, Zeta melompat dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

*CLANG!*

Lytia berhasil menahan pedang Zeta, tapi tekanan angin di balik tebasan itu membuatnya terseret beberapa meter.

"Zeta! Apa yang kau lakukan?! Apa kau semarah itu padaku?!" teriak Lytia kaget.

Zeta tidak menjawab. Matanya yang sebelah kiri bersinar Ungu elektrik yang gelap. Ia kembali menyerang dengan membabi buta. Pertarungan sengit pecah di luar hutan dekat jalanan masuk ke hutan yang tersisa. Lytia mencoba menghentikannya dengan Sihir Tanah: Dinding Pertahanan, namun setiap dinding batu yang muncul langsung hancur berkeping-keping oleh tebasan angin tajam Zeta.

"Gila! Sihir angin bisa sekuat ini?!" Lytia mulai terdesak. Ia tidak punya pilihan lain. "Zeta! Sadarlah! Rasakan ini...Sihir Api: Lidah Neraka!"

Semburan api besar melesat ke arah Zeta. Di dunia sihir ini, semua tahu bahwa api adalah lawan alami angin. angin hanya akan membuat api semakin besar dan membakar penggunanya. Lytia berharap Zeta akan mundur.

Namun, Zeta justru menyeringai beringas. Ia mengulurkan tangannya tepat ke arah api yang mendekat. Di duniaku, ini adalah sains dasar, batin Zeta. Angin bisa mengatur arah dan intensitas api jika kau tahu cara memanipulasi tekanannya!

Zeta memutar tangannya, menciptakan pusaran udara kecil di depan telapak tangannya. Alih-alih padam, api milik Lytia tersedot ke dalam kendali Zeta, berputar mengikuti aliran anginnya, dan menjadi bola api raksasa yang menyala biru karena oksigen yang melimpah.

Lytia terbelalak. "Gimana bisa?! Pengguna angin... mengendalikan api?!"

"Rasakan ini, Lytia!" teriak Zeta sambil melempar balik api tersebut.

BOOM!

Lytia tidak sempat menghindar sepenuhnya. Ledakan itu mengenainya, merobek baju zirah dan melukai lengan serta bahu kirinya. Ia jatuh tersungkur, darah mulai merembes. Kenapa dia bisa tiba tiba sekuat ini... Zeta, maafkan aku... batin Lytia menyesal di tengah rasa sakitnya.

Zeta berjalan mendekat dengan pedang yang terlapisi angin tajam, siap untuk memberikan serangan terakhir. Amarah di mata kirinya benar-benar sudah menutup logikanya. Saat pedang itu terangkat tinggi untuk menebas Lytia

SRETT!

Sebuah bola Cahaya menembak ke arah Zeta dan ada pelindung Cahaya.

"STOP! CUKUP!"

Putri Stella muncul bersama dua pengawal istana yang bersenjata lengkap. Stella menatap pemandangan itu dengan ngeri.

"Kalian kenapa?! Zeta! Apa kau berkhianat?!"

Mendengar suara Stella, denyut di mata kiri Zeta tiba-tiba mereda. Aura Ungu gelap itu menghilang, meninggalkan Zeta yang langsung limbung dan memegang kepalanya.

"A-apa... kenapa aku bisa seemosi ini?"

Zeta tersadar, ia menatap pedangnya yang hampir saja membunuh Lytia dengan tangan gemetar. Stella segera memberi perintah tegas.

"Kalian, bawa Lytia kembali ke istana! Rawat luka-lukanya segera!" Ia kemudian menatap Zeta dengan pandangan tajam namun penuh tanya. "Dan kau, Zeta... ikut aku sekarang. Aku ingin penjelasan darimu di istana."

Beberapa saat sebelum kekacauan itu berakhir, Putri Stella yang berada di menara tertinggi istana sempat terheran heran. Ia mendengar teriakan Minotaur yang membelah langit, disusul dengan munculnya pusaran angin raksasa yang terlihat jelas dari kejauhan hutan. Tanpa membuang waktu, Stella segera memacu kudanya, ketika sampai di lokasi dia sangat kaget ia menemukan pemandangan yang menghancurkan hatinya: Harapan Beltrum saling menghunuskan senjata.

Setibanya di istana, suasana menjadi tegang. Lytia yang pingsan segera dilarikan ke ruang perawatan khusus . Sementara itu, Zeta dibawa ke ruang pribadi Putri Stella untuk dimintai keterangan.

Zeta menunduk, menjelaskan segalanya dengan jujur. "Putri... mata ini. Saat aku merasa terpojok oleh kata-kata Lytia, mata kiri ini seolah membisikkan amarah padaku. Aku kehilangan kendali, padahal di sisi lain, kata-kata Lytia justru membuatku tersadar untuk menjadi pemberani."

Stella menghela napas lega setelah mendengar penjelasan itu. "Untung saja itu bukan murni keinginanmu, Zeta. Aku lupa memberitahumu, jika energi sihirmu menipis, sisa-sisa kesadaran dalam mata itu bisa mencoba mengambil alih emosimu. Meski begitu, aku terkejut... kau mampu bertarung imbang dengan Lytia, Jenderal terkuat kami."

Zeta menggaruk kepalanya, raut bersalah terlihat jelas di wajahnya. "Aku jadi makin tidak enak pada Lytia. Mungkin caraku mengobrol selama ini terlalu ceplas-ceplos sampai aku tidak sadar dia sudah habis kesabaran. Memang benar, aku hanya menambah beban pikirannya saja."

Stella tersenyum tipis, mencoba menenangkan Zeta. "Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Lytia memang sangat frustrasi. Dia hanya ingin menjaga orang tuanya dan seluruh masyarakat Beltrum. Dia keras karena dia tidak ingin kehilangan teman atau orang yang dia sayangi lagi."

Zeta hanya tersenyum kecut dan mengangguk pelan. Setelah memberikan beberapa keping koin emas agar Zeta bisa menenangkan diri di kota, Stella menyuruhnya beristirahat. "Temui dia jika dia sudah siuman. Kalian harus baikan."

Di Ruang Perawatan

Zeta berjalan menyusuri kota dengan pikiran yang jauh lebih tenang. Sekarang aku paham. Menggunakan pedang dan sihir sekaligus ternyata sama seperti mekanik di game. Aku hanya perlu mengontrol imajinasiku, batinnya.

Sementara itu, di dalam ruang perawatan, Lytia baru saja siuman. Stella duduk di samping tempat tidurnya. Setelah mendengarkan penjelasan dari Lytia, Stella menggelengkan kepala.

"Seharusnya kau tidak memanggilnya sampah, Lytia," ucap Stella lembut namun tegas. "Meskipun kata-katamu membuatnya berani, itu tetap menyakitkan. Dia adalah bagian dari keluarga kita sekarang, terlepas dari dunia mana dia berasal. Kita yang memaksanya ke sini, ingat?"

Lytia terdiam, menatap perban di lengannya. "Maaf, Putri... aku depresi. Aku hanya tidak ingin kerajaan ini hancur. Aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi. Aku harus bisa lebih sabar." Stella mengusap kepala Lytia. "Kalau begitu, dinginkan pikiranmu. Ambil waktu sejenak untuk memulihkan mentalmu. Dan jangan lupa, minta maaf pada Zeta. Bukankah kalian sudah sedekat itu?" Mendengar itu, pipi Lytia mendadak memerah. Ia teringat bagaimana Zeta selalu membuatnya tertawa, meski dalam keadaan emosi. Ia tersenyum malu-malu dan memalingkan wajahnya. "Iya... aku tahu."

1
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!