NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju ibukota

Pagi itu Mireya terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi.

Matahari baru saja mengintip dari balik tirai tipis kamarnya ketika ia sudah duduk tegak di atas ranjang.

Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Hari ini.

Hari yang akan menentukan banyak hal.

Ia buru-buru mandi, air dingin membasahi tubuhnya yang masih terasa lelah karena syuting kemarin.

Namun rasa gugup membuat semua lelah itu seolah hilang.

Setelah mengenakan pakaian terbaik yang ia punya— meski tetap sederhana— Mireya segera menyambar tas kecilnya.

Tangannya refleks menyentuh bagian dalam tas.

Kartu hitam itu masih ada.

Syukurlah.

Ia mengeceknya sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Dan sekali lagi.

“Jangan sampai hilang…”

gumamnya pelan.

Kartu itu terasa lebih berharga daripada seluruh isi tasnya.

Sarapan dilakukan dengan terburu-buru.

Hanya roti isi sederhana dan segelas susu hangat.

Setelah itu ia langsung bergegas menuju terminal transportasi udara tercepat dengan tujuan ibu kota kerajaan.

Sepanjang perjalanan menuju terminal, tangannya terus memegang erat tas di pangkuan.

Matanya sesekali menatap ke luar jendela.

Dan begitu kereta udara cepat mulai melesat…

Mireya terdiam.

“Waaah…”

Suara kagum keluar begitu saja.

Gedung-gedung tinggi menjulang.

Kaca-kaca bangunan memantulkan cahaya pagi seperti lautan kristal.

Jembatan udara melintas di antara menara.

Jalur kendaraan terbang membelah langit.

Di beberapa sisi, lingkaran sihir besar berputar di udara sebagai penunjuk arah transportasi.

Cantik.

Megah.

Dan membuatnya sadar…

dunia di ibu kota benar-benar berbeda.

Industri hiburan di sini terasa hidup.

Layar hologram raksasa memutar iklan.

Nama-nama artis besar berkilauan di langit kota.

Sihir bahkan digunakan sebagai atraksi.

Saat kereta berhenti sebentar di salah satu terminal dekat taman hiburan besar, mata Mireya langsung melebar.

Di luar jendela, sebuah pertunjukan sirkus sihir sedang berlangsung.

Bola-bola cahaya berputar di udara.

Seekor naga ilusi berwarna biru melayang di atas kubah taman bermain.

Anak-anak berteriak kagum.

“Indah banget…”

bisiknya pelan.

Namun kereta kembali melesat.

Pemandangan itu perlahan menghilang di balik gedung-gedung tinggi.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya ia sampai.

Terminal pusat.

Jantung ibu kota.

Begitu turun, Mireya langsung mematung.

Matanya bergerak ke kanan.

Lalu ke kiri.

Lalu ke kanan lagi.

Orang-orang berjalan cepat.

Jalur terminal bercabang ke mana-mana.

Lift transparan naik turun.

Layar petunjuk mengambang di udara.

Ia menelan ludah.

“…Aku harus ke mana?”

Ia terlihat benar-benar linglung.

Persis orang desa pertama kali masuk kota besar.

Dan memang begitulah perasaannya saat ini.

Untungnya, sebuah robot kecil berbentuk manusia menghampiri.

Tubuhnya mungil.

Matanya berupa dua cahaya bulat biru yang lucu.

Suaranya lembut dan ramah.

“Selamat pagi. Apakah Anda membutuhkan bantuan navigasi?”

Mireya hampir kaget.

“Eh? Ah—iya!”

Robot itu memiringkan kepala kecilnya.

“Tujuan Anda?”

Mireya buru-buru mengeluarkan kartu hitam.

Robot itu memindainya.

Bunyi bip kecil terdengar.

“Menara Ardevar. Jalur tercepat tersedia.”

Mata Mireya berbinar.

“Bisa… bantu aku?”

“Tentu saja.”

Robot itu menampilkan peta hologram kecil di terminal pribadi Mireya.

“Anda bisa menuju jalur taksi udara di lantai dua. Setelah itu gunakan mobil terbang umum menuju distrik pusat bisnis.”

Ia bahkan mengantarnya sampai pintu lift.

Mireya tersenyum lega.

“Terima kasih banyak…”

Lalu ia tersadar.

Ia baru saja berterima kasih pada robot.

Namun robot itu membungkuk kecil dengan sopan.

“Senang membantu.”

"Ahh imutnya!!!"

Beberapa saat kemudian Mireya sudah duduk di taksi udara umum.

Mobil terbang itu melesat melewati jalur tengah kota.

Pemandangan ibu kota semakin luar biasa.

Namun ketika terminal pribadinya memunculkan notifikasi pembayaran…

senyumnya langsung membeku.

Saldo berkurang drastis.

“…HAH?”

Matanya membelalak.

“HARGANYA MAHAL BANGET?!”

Tangannya hampir gemetar memegang layar.

Baru sampai ibu kota saja…

uangnya sudah terkuras banyak.

Mireya langsung memeluk tasnya erat.

Astaga.

Kalau sampai negosiasi hari ini gagal…

dia bahkan bisa pulang sambil menangis.

...****************...

Di dalam taksi udara, Mireya menatap angka saldo di terminal pribadinya dengan wajah nyaris pucat.

Angkanya turun jauh lebih banyak dari yang ia kira.

Dadanya langsung sesak.

Ya ampun…

duitku…

duit makan…

duit buat pulang…

Ia hampir memegangi kepalanya sendiri.

Harusnya aku nggak usah datang langsung.

Harusnya aku minta nomor terminal pribadi mereka aja.

Kenapa aku nekat banget ke ibu kota…

Kenapa tiket ke sini semahal ini…

Air mata hampir naik ke pelupuk matanya.

Namun hanya bisa ia telan mentah-mentah.

Menangis pun tidak akan mengembalikan uangnya.

Kalau sampai hari ini gagal…

ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menutup biaya hidup minggu depan.

Ia hanya bisa bersandar lemah sambil memeluk tasnya erat.

tolong… jangan sampai sia-sia

Namun semua kekhawatiran itu mendadak lenyap begitu kendaraan mulai melambat.

Mireya menoleh ke luar jendela.

Lalu…

ia terdiam.

“Wah…”

Suara itu keluar begitu saja.

Di hadapannya berdiri sebuah gedung hitam megah yang nyaris tampak tidak nyata.

Menara Ardevar.

Bangunan itu menjulang tinggi seperti membelah langit.

Permukaannya didominasi kaca gelap berkilau dengan garis-garis perak yang memantulkan cahaya matahari pagi.

Arsitekturnya unik.

Dua menara utama berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri.

Seperti dua tiang besar penyangga.

Dan di bagian tengah yang menghubungkan keduanya…

terdapat lanskap terbuka yang menggantung di ketinggian.

Semacam balkon raksasa.

Taman udara.

Dari bawah, Mireya bisa melihat pepohonan hijau, kursi-kursi santai, serta aliran air tipis seperti air terjun kaca.

Cantik.

Mewah.

Dan terlalu indah untuk disebut gedung kantor biasa.

Mulutnya sedikit terbuka.

Ia bahkan lupa pada saldo yang baru saja membuatnya ingin menangis.

Tanpa sadar kakinya melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Dengan keberanian yang bahkan ia sendiri tidak sadari.

Tatapannya tak lepas dari bangunan itu.

“Ini… nyata?”

Ia berbisik pelan.

Namun sebelum bisa melangkah lebih dekat, suara seseorang menegurnya.

“Maaf, Nona.”

Seorang petugas keamanan berseragam rapi mendekat.

Wajahnya ramah namun tetap profesional.

“Gedung ini tidak bisa dimasuki sembarangan.”

Mireya tersentak.

“Oh! Ah— iya, maaf…”

Ia buru-buru merapikan tasnya.

“Aku… saya ke sini karena ada janji.”

Petugas itu mengangguk sopan.

“Apakah Anda memiliki kartu undangan atau akses digital?”

“Bisa kami bantu scan.”

Mireya buru-buru mengeluarkan kartu hitam dari dalam tas.

Begitu kartu itu terlihat…

ekspresi petugas langsung berubah.

Sedikit terkejut.

Sedikit lebih serius.

“Mohon izin.”

Sebuah terminal scan kecil melayang di udara.

Kartu itu dipindai.

Bunyi bip terdengar pelan.

Layar hologram langsung menampilkan lambang keluarga Ardevar.

Akses VIP.

Petugas itu sontak menegakkan tubuh.

“Selamat datang, Nona.”

Nada suaranya berubah jauh lebih hormat.

“Silakan masuk.”

Mireya membeku.

Hah?

Ia bahkan tidak sempat bereaksi ketika salah satu staf penerima tamu segera menghampiri.

Seorang wanita berpakaian rapi dengan senyum profesional membungkuk sedikit.

“Silakan ikut saya.”

Mireya hanya bisa mengangguk cepat.

Ia dibawa melewati lobby utama yang luar biasa luas.

Langit-langitnya tinggi.

Lampu gantung kristal dan sihir cahaya berputar lembut di atas kepala.

Lantai marmer hitam memantulkan bayangan langkahnya.

Ia bahkan takut salah injak.

Setelah itu ia diarahkan menuju ruang tunggu khusus.

Sofa empuk.

Meja kaca.

Minuman hangat sudah tersedia.

“Mohon tunggu sebentar, Nona.”

“Kedatangan Anda akan kami laporkan.”

Mireya duduk dengan tubuh tegang.

Sementara di sisi lain gedung…

laporan mulai bergerak naik.

Dari resepsionis.

Ke supervisor lantai.

Lalu ke kepala administrasi.

Ke sekretaris utama.

Naik lagi.

Sampai akhirnya…

menuju Robert.

Dan dari Robert…

baru akan sampai ke Zevran.

Mireya menelan ludah.

Tangannya menggenggam tas erat.

Sekarang…

sudah tidak ada jalan mundur.

...****************...

Awalnya Mireya duduk dengan sangat sopan.

Punggung tegak.

Kedua tangan di atas lutut.

Kaki rapat.

Seolah satu gerakan salah saja akan membuat semua orang di gedung ini langsung mengusirnya keluar.

Namun seiring waktu berjalan…

kegelisahan itu semakin menjadi.

Tatapannya berulang kali menyapu ruangan.

Sofa empuk.

Meja kaca berkilau.

Aroma teh bunga yang menenangkan.

Lukisan sihir bergerak di dinding.

Dan lampu gantung kristal yang bahkan mungkin lebih mahal dari biaya hidupnya setahun.

Ini bukan tempat ku…

Ngapain sih aku di sini…

Malu banget…

Ia menggigit bibir pelan.

Rasanya serba salah.

Duduk salah.

Berdiri salah.

Minum teh yang sudah disediakan pun ia takut salah etika.

Satu jam berlalu.

Belum ada tanda-tanda Zevran datang.

Mireya mulai melirik jam di terminal pribadinya.

Dua jam.

“Ya ampun…”

Ia berbisik pelan.

Apakah pria itu lupa?

Atau mungkin ia sedang rapat?

Atau jangan-jangan…

ia memang tidak berniat menemuinya?

Panik perlahan naik.

Saat waktu hampir memasuki jam ketiga, tubuhnya yang sudah lelah sejak kemarin mulai memberontak.

Kelopak matanya terasa berat.

Sangat berat.

nggak boleh tidur…

nggak boleh…

Kepalanya mengangguk kecil.

Lalu terangkat lagi.

Lalu turun.

Naik.

Turun.

Dan…

entah sejak kapan.

Mireya tertidur pulas.

Benar-benar pulas.

Sampai hampir tiga jam kemudian pintu ruang tunggu terbuka.

Robert melangkah masuk lebih dulu.

Di belakangnya, Zevran berjalan tenang dengan jas hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya.

Robert langsung menoleh ke sofa.

Lalu membeku.

“…Tuan.”

Di sana, Mireya tertidur lelap.

Kepalanya sedikit miring ke samping.

Salah satu tangannya masih memegang tas erat.

Robert maju satu langkah, hendak membangunkannya.

Namun tangan Zevran terangkat.

“Biarkan.”

Robert berhenti.

Zevran menatap gadis yang tidur begitu nyenyak di ruang VIP-nya.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Dalam hati ia terkekeh.

Tebakanku benar.

Dia datang.

Tatapannya sedikit menyipit.

Tapi kenapa malah tidur?

Ia berjalan mendekat.

Memandang wajah Mireya yang tampak sangat lelah.

Bahkan dalam tidur, masih ada sisa tegang di wajahnya.

Mungkin memang capek.

Atau mungkin…

gadis ini benar-benar punya bakat tidur di mana saja.

Zevran duduk di kursi seberangnya.

Pandangan matanya tak lepas.

Bisa senyenyak ini?

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Kerbau.

Istilah lama itu muncul begitu saja di kepalanya.

Dari dulu, orang-orang memang suka menyindir seseorang yang tidur pulas dan susah dibangunkan dengan sebutan itu.

Dan entah kenapa…

cocok.

Robert menatap atasannya, sedikit bingung.

Namun Zevran hanya memberi isyarat kecil.

“Keluar.”

“Biarkan aku di sini.”

Robert menunduk hormat.

“Baik, Tuan.”

Pintu kembali tertutup.

Kini hanya ada suara ketikan halus dari terminal hologram Zevran.

Cahaya biru transparan memantul di wajah tampannya.

Beberapa saat kemudian…

Mireya bergerak kecil.

Kelopak matanya perlahan terbuka.

Pandangan buramnya langsung menangkap sosok di depan.

Seorang pria tampan.

Sangat tampan.

Duduk dengan tenang sambil mengetik di layar hologram tipis yang melayang di udara.

Rasanya tidak nyata.

Mireya berkedip pelan.

Lalu bergumam setengah sadar.

“…Apa ini mimpi?”

“…atau aku masuk surga?”

Tangannya bergerak sedikit di atas sofa.

“Kenapa ada cowok ganteng banget di depan aku…”

Sayangnya.

Semua itu terdengar jelas.

Jari Zevran berhenti mengetik.

Ia mengangkat pandangan.

Tatapan matanya jatuh lurus pada Mireya.

Lalu…

ekspresi geli yang sangat tipis muncul.

Cih.

Dia begini lagi.

Mireya langsung membeku.

loh?

Kenapa cowok ganteng itu ngeliatin aku kayak geli begitu?

Apa aku kurang cantik?

Ia menatap balik dengan linglung.

Pikirannya terasa lambat.

Seolah ada sesuatu yang sangat penting yang ia lupakan.

Ia berpikir keras.

Lama.

Sangat lama.

Lalu…

mata Mireya membelalak.

Ruang VIP.

Gedung Ardevar.

Menunggu Zevran.

Dan pria tampan di depannya adalah—

“ZEVRAN?!”

Ia hampir melompat dari sofa.

Wajahnya langsung merah.

Tangannya buru-buru merapikan rambut yang berantakan karena tidur.

Astaga.

Astaga.

Astaga.

Ia baru saja tidur di ruang VIP milik pria itu.

Dan ngomong sembarangan.

Malu.

Malu banget.

...****************...

Mireya duduk tegak.

Sangat tegak.

Terlalu tegak.

Padahal di dalam kepalanya, jiwanya seperti sedang memukul-mukul dirinya sendiri.

gua memalukan sekali…

udah tiga kali ini loh…

kalau empat kali dapat hadiah kali…

Ia ingin menutup wajah dengan bantal sofa.

Tidur di ruang VIP.

Ngigau.

Ngomong soal surga.

Dan di depan Zevran lagi.

Namun di luar…

wajahnya tetap tenang.

Setidaknya ia berusaha terlihat begitu.

Zevran sendiri terlihat biasa saja.

Seolah kejadian tadi tidak penting.

Tatapannya kembali turun ke terminal hologramnya beberapa detik sebelum akhirnya ia menonaktifkannya.

Cahaya biru itu padam.

Ruangan menjadi lebih hening.

Ia mengangkat pandangan.

“Jadi.”

suara rendah itu langsung membuat Mireya menegang.

“Kau sudah memutuskan?”

Mireya menelan ludah.

Lalu mengangguk pelan.

“Aku sudah memutuskan.”

Tatapan Zevran sedikit menajam.

“Dan?”

Mireya menarik napas.

“Tapi bagian karierku…”

“Aku ingin berunding denganmu.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Alis Zevran sedikit terangkat.

“Berunding?”

Nada suaranya datar.

Seolah tidak mengerti kenapa itu perlu dibahas.

“Tidak ada yang perlu dirundingkan.”

Mireya membeku.

Zevran melanjutkan dengan tenang.

“Ibumu lebih penting daripada kariermu.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Lugas.

Tajam.

Tanpa ruang basa-basi.

“Lagi pula,” lanjutnya sambil menyandarkan tubuh ke kursi, “kau bisa berganti pekerjaan yang lebih stabil.”

“Pekerjaan kantoran, misalnya.”

Tatapan matanya lurus ke Mireya.

“Aku bahkan bisa memberimu kesempatan kuliah.”

“Jurusan manajemen.”

“Dengan itu, setelah pernikahan kontrak ini selesai, kau tetap punya masa depan yang jelas.”

Mireya mengepalkan jemari di atas lututnya.

Dadanya terasa panas.

Namun kali ini ia tidak mundur.

“Tidak.”

Zevran sedikit mengernyit.

Mireya mengangkat wajah.

Tatapannya jauh lebih tegas dari sebelumnya.

“Itu mimpiku.”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak goyah.

“Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya.”

“Ini bakatku.”

“Aku tidak bisa disuruh duduk di kantor, pegang berkas, atau mengurus angka sepanjang hari.”

Ia menggeleng cepat.

“Aku tidak bisa.”

“Aku suka bekerja di industri hiburan.”

Tatapan Zevran berubah.

Ada sedikit sesuatu yang sulit dibaca di sana.

Lalu ia mengembuskan napas pelan.

“Industri hiburan?”

Nada suaranya terdengar hampir seperti meremehkan.

“Menurutmu tempat itu layak diperjuangkan?”

Mireya terdiam.

Zevran melanjutkan.

“Tempat itu busuk.”

Kalimat itu begitu dingin.

“Orang-orang di sana menjual citra.”

“Menjual muka.”

“Menjual cerita.”

Tatapannya menajam.

“Dan sebagian menjual tubuh mereka demi naik lebih cepat.”

Mireya membeku.

Kata-kata itu menusuk.

Ia tahu.

Ia tahu dunia itu tidak bersih.

Ia sudah melihat bagaimana Luna diprioritaskan.

Bagaimana figuran diinjak.

Bagaimana potongan gajinya diperas.

Namun mendengar pria ini mengatakannya dengan nada merendahkan…

tetap terasa menyakitkan.

Zevran menyilangkan kaki.

“Kenapa masih ingin bertahan di tempat seperti itu?”

Tatapan Mireya turun sesaat.

Lalu perlahan kembali naik.

Karena untuk pertama kalinya…

ia ingin orang ini mengerti.

“Karena itu satu-satunya tempat di mana aku merasa hidup.”

Ruangan mendadak sunyi.

Mireya menarik napas.

“Memang busuk.”

“Memang tidak adil.”

“Memang melelahkan.”

“Kadang aku diperlakukan seperti tidak terlihat.”

Suaranya melembut.

“Tapi saat kamera menyala…”

“aku merasa itu tempatku.”

Tatapan Zevran sedikit berubah.

Mireya melanjutkan.

“Aku tidak peduli kalau harus mulai dari bawah.”

“Aku tidak peduli kalau aku cuma figuran.”

“Tapi aku ingin naik dengan kemampuanku sendiri.”

“Karena itu mimpiku.”

Hening.

Lalu Zevran menyandarkan punggung.

Tatapannya tetap tajam.

Namun kali ini tidak lagi sekadar meremehkan.

Lebih seperti sedang menilai.

Pria itu memang tidak pernah menyukai drama.

Film.

Acara hiburan.

Baginya semua itu terlalu penuh kepalsuan.

Ia lebih menyukai olahraga.

Pekerjaan.

Hal-hal yang nyata.

Dan gadis di depannya ini…

justru sedang mati-matian mempertahankan dunia yang paling ia pandang rendah.

Menarik.

Sangat menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!