"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Senyuman yang Menipu
Resital piano itu berakhir dengan tepuk tangan riuh yang memenuhi aula. Achell tampil dengan sangat memukau; setiap nada yang ia tekan seolah menceritakan luka yang perlahan mengering. Saat ia berdiri dan membungkuk, matanya kembali melewati Victor tanpa ekspresi, seolah pria itu hanyalah bagian dari dekorasi ruangan.
Di waktu istirahat sebelum pengumuman pemenang, para tamu dipersilakan menikmati jamuan teh di taman asrama. Achell berdiri bersama Sophie dan Julian di dekat pancuran air, mencoba menenangkan diri.
"Kau luar biasa, Achell! Kau lihat wajah wanita hijau itu tadi? Dia sampai berhenti mengunyah biskuitnya karena melongo melihatmu bermain," Sophie tertawa puas sambil menyeruput tehnya.
"Kau bermain dengan perasaan, Rachel. Itu penampilan terbaikmu," puji Julian tulus.
Namun, ketenangan mereka terusik saat sesosok wanita dengan gaun emerald mendekat ke arah mereka. Clara, wanita yang dibawa Victor, berjalan dengan langkah anggun yang sengaja dibuat-buat. Di belakangnya, Victor menyusul dengan langkah lambat, wajahnya tetap datar seperti es, namun matanya terus tertuju pada Achell.
"Halo, Sayang. Kau pasti Gabriella, kan?" Clara menyapa dengan suara yang manis namun terdengar merendahkan. Ia berhenti tepat di depan Achell dan langsung meraih tangan gadis itu.
Achell tersenyum ramah, sangat ramah hingga Sophie hampir tersedak tehnya. "Iya, saya Gabriella. Anda pasti rekan bisnis Uncle Victor?"
Wajah Clara sedikit menegang mendengar kata 'rekan bisnis'. Ia sengaja mendekat ke arah Victor dan merapatkan tubuhnya. "Oh, lebih dari sekadar rekan, Sayang. Victor sering bercerita tentangmu. Katanya, kau adalah gadis kecil yang sangat menggemaskan di rumah. Dia sangat peduli padamu, seperti pada... seekor anak kucing yang lucu."
Sophie sudah ingin meledak, namun Julian menahan lengan Sophie dengan kuat.
Achell tetap tenang. Ia tidak menarik tangannya. "Benarkah? Saya senang mendengarnya. Uncle Victor memang orang yang sangat bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Saya bersyukur dia menjalankan 'tugas' menjaga saya dengan sangat baik."
Achell menoleh ke arah Victor, menatap mata pria itu secara langsung. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukanmu yang luar biasa, Uncle. Dan terima kasih sudah membawa tamu yang begitu... cantik."
Victor terdiam. Ia merasa ada yang salah. Achell yang ada di depannya bukan lagi Achell yang akan berlari memeluknya atau menangis karena diabaikan. Gadis ini bersikap sangat sopan, namun sopan santun itu terasa seperti tembok baja yang dingin.
"Kau bermain dengan baik, Achell," ucap Victor pendek. Suaranya berat dan berwibawa, namun ada nada tidak nyaman yang terselip di sana.
"Terima kasih, Uncle. Saya belajar banyak selama di sini. Terutama belajar bahwa hidup terus berjalan meskipun kita sendirian," balas Achell dengan senyum manis yang tidak mencapai matanya.
Clara, yang merasa diabaikan, kembali mencoba memanaskan suasana. Ia menyentuh dasi Victor dengan manja. "Victor, setelah ini kita jadi kan pergi makan malam di restoran Prancis yang kau janjikan itu? Aku sudah tidak sabar ingin merayakan kemenangan keponakanmu ini bersamamu... berdua saja."
Clara melirik Achell, menunggu reaksi cemburu atau ledakan amarah. Namun, Achell justru mengangguk setuju.
"Tentu saja, kalian harus pergi. Restoran Prancis di pusat kota sangat indah malam ini. Uncle Victor butuh hiburan setelah lelah bekerja," ucap Achell tulus, seolah ia benar-benar tidak peduli. Ia lalu menoleh pada Julian. "Julian, bukankah kau bilang ada buku baru di perpustakaan yang ingin kau tunjukkan padaku?"
Julian yang mengerti kode itu langsung tersenyum. "Ah, benar. Kita harus segera ke sana sebelum petugas menutup pintunya."
"Kalau begitu, Uncle, Nona Clara... saya permisi dulu. Masih banyak hal yang harus saya kerjakan," Achell membungkuk sedikit, lalu berbalik dan berjalan pergi bersama Julian dan Sophie tanpa menoleh lagi.
Victor berdiri mematung. Ia memperhatikan tangan Julian yang berada di dekat punggung Achell saat mereka berjalan menjauh. Rasa panas di dadanya semakin menjadi-jadi.
"Victor? Ayo, kenapa diam saja?" Clara menarik lengan Victor.
"Diamlah, Clara," desis Victor tajam. Ia melepaskan rangkulan tangan wanita itu dari lengannya dengan kasar.
"Tapi Victor—"
"Aku bilang diam," Victor menatap ke arah punggung Achell yang kian menjauh.
Di kejauhan, ia bisa mendengar sayup-sayup suara Sophie yang sedang mengomel. "Idih! 'Gadis kecil menggemaskan' katanya? Mau muntah aku dengarnya! Achell, kau hebat sekali tadi. Kalau aku jadi kau, sudah kusiram wajahnya pakai teh panas!"
Achell tertawa. Tawa yang renyah dan lepas. Dan untuk pertama kalinya, Victor merasa bahwa tawa itu bukan lagi miliknya. Tawa itu milik dunia Achell yang baru, dunia di mana Victor Louis Edward bukan lagi pusat dari segalanya.
Victor mengepalkan tangannya di dalam saku jas. Ia datang ke sini untuk menunjukkan pada Achell siapa yang memegang kendali, tapi entah kenapa, justru dialah yang merasa baru saja kehilangan kendali sepenuhnya.