Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad yang Kukuh
Zizi berdiri di depan pintu apartemen, tas koper yang cukup hanya beberapa potong baju sudah siap di tangan.
Jendela besar di belakang mereka menampilkan langit pagi yang pucat, seolah ikut menahan napas.
Danu bersandar di kusen, menyilangkan tangan, berusaha terlihat biasa saja, padahal matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
“Aku harus pulang,” ucap Zizi pelan. Suaranya tidak gemetar, tapi ada sesuatu yang berat di ujung kalimatnya. “Bukan… pulang ke rumah itu. Aku mau ke rumah orang tuaku.”
Danu menatapnya lebih lama. “Kamu yakin?”
Zizi mengangguk. “Sudah terlalu lama aku menjauh. Mereka perlu tahu semuanya. Dan…aku juga butuh rumah, setidaknya untuk sementara.”
Keheningan singkat turun di antara mereka. Banyak hal yang tidak diucapkan seperti rasa bersalah, rasa lega, dan ketakutan pada apa yang menunggu di depan.
Danu akhirnya mendekat, merapikan ujung kerah Zizi seperti kebiasaan kecil yang bahkan tidak mereka sadari kapan dimulai. “Aku nggak akan tanya apa-apa dulu,” katanya lembut. “Tapi kalau kamu capek, baliklah ke sini. Kamu nggak sendirian.”
Kata-kata itu membuat dada Zizi berdesir aneh, hangat sekaligus menakutkan. Ia tak ingin menggantungkan diri pada siapa pun lagi, tetapi kehadiran Danu terasa seperti pijakan saat tanah di bawahnya bergeser.
“Terima kasih,” ucap Zizi, tulus. “Untuk tempat, untuk diam, untuk nggak memaksa aku cerita.”
Danu tersenyum kecil. “Kamu nggak perlu izin kalau cuma mau datang dan duduk. Kulkas mungkin kosong, tapi aku punya kopi instan.”
Zizi terkekeh, tawa pendek yang sudah lama tak keluar dari dirinya. Lalu ia membungkuk sedikit, bukan pelukan penuh hanya sebatas jarak yang aman namun cukup untuk membuat keduanya merasakan betapa rapuh saat itu.
“Aku pergi dulu.”
“Perlu aku antar?” tanya Danu.
"Aku sudah memesan taksi."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Zizi menatapnya sekali lagi, lalu membalikkan badan. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, tetapi di telinga Zizi terdengar seperti keputusan final.
Di lorong apartemen yang panjang, ia menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melangkah bukan karena disuruh, bukan karena dituntut, melainkan karena ia memilih.
.
Shinta berdiri dari sofa hampir tanpa sadar. Matanya melebar, antara cemas dan tidak percaya. Rama yang sejak tadi membaca koran menurunkan kacamatanya, menatap putrinya lama, seolah ingin memastikan bahwa sosok yang berdiri di depan pintu benar-benar Zizi, bukan bayangan lelah yang tercipta dari rindu.
“Zizi…?” suara Shinta bergetar. “Kamu pulang sendiri? Mana suamimu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi mengguncang dada Zizi. Ia menelan ludah. Senyum yang ia coba bentuk justru retak di tengah jalan. Kopernya diletakkan pelan di lantai marmer, suaranya terdengar kecil sekali di ruang tamu yang terlalu luas.
“Arman… tidak bisa ikut,” jawabnya pendek.
Shinta menatap wajah putrinya lebih dekat. Tatapan seorang ibu jarang bisa dibohongi. Garis lelah di bawah mata Zizi, tubuh yang lebih kurus, cara ia berdiri seperti menahan beban yang tak ingin dijatuhkan, semuanya bercerita lebih banyak daripada kata-kata.
“Kamu habis menangis?” tanya Shinta pelan, hampir berbisik.
Zizi menggeleng, tapi matanya berkaca.
Rama bangkit, langkahnya mantap namun hatinya diliputi badai yang tak ingin ia tunjukkan pada putrinya. Ia tidak bertanya banyak, hanya menepuk bahu Zizi, sebuah isyarat seperti kamu sudah pulang, Nak. Di sini kamu aman.
Namun Shinta tidak bisa setenang itu. Di matanya masih terbayang hari ketika ia dan Rama memohon agar Zizi mempertimbangkan lagi pilihannya. Betapa kerasnya Zizi berkata bahwa cinta tidak bisa dihitung dengan harta, jabatan, atau apa pun yang dunia anggap penting.
“Kami sudah memperingatkanmu dulu,” kalimat itu hampir keluar. Shinta menggigit bibirnya, menahannya. Ia menukar kata-kata itu menjadi pelukan.
Zizi terdiam di dalam pelukan ibunya, bahunya bergetar pelan. Aroma rumahnya, wangi kayu, teh melati, linen bersih, membangkitkan kenangan masa kecil pada seseorang yang tidak pernah kekurangan apa pun… kecuali keberanian untuk pulang seperti hari ini.
Rama duduk kembali tapi tatapannya tajam, penuh perhatian.
“Zizi,” suaranya dalam, tenang, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Zizi tidak segera menjawab. Ada jeda panjang. Angin dari jendela menggerakkan tirai tipis, jam dinding berdetak terlalu keras, dan di tengah semua itu, ia akhirnya berkata lirih, “Aku tidak bahagia, Papa…”
Kalimat itu patah di ujungnya.
Shinta spontan mempererat pelukan. Hatinya ikut runtuh. Semua ketakutan lama, tentang anak satu-satunya itu disia-siakan lelaki yang bahkan tidak tahu betapa berharganya Zizi, mendadak terasa nyata.
“Dia menyakitimu?” tanya Rama, kini suaranya berubah lebih tegas.
Zizi menggeleng pelan. “Tidak dengan tangan,” katanya, “tapi… dengan caranya hidup. Dengan membiarkan aku sendirian di rumahnya sendiri. Dengan membuatku merasa seperti tamu… kadang seperti pembantu.”
Shinta menutup mulutnya, menahan isak. Rama terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap jauh, ke masa lalu yang pernah ia takuti. Bukan soal kekayaan mereka, bukan soal gengsi, tetapi tentang anak perempuan yang ia besarkan dengan cinta, memilih pergi demi cinta yang lain, dan kini kembali dalam keadaan patah.
Ia menarik napas panjang.
“Kamu tidak perlu kuat sendirian lagi di sana,” katanya pelan namun tegas. “Di sini rumahmu. Apa pun keputusanmu… kami bersamamu.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Zizi benar-benar menangis, bukan karena sakit, tapi karena merasa diterima kembali tanpa syarat.
Di luar jendela, senja turun perlahan. Hari itu, rumah besar itu bukan hanya megah, ia menjadi tempat pulang.
.
Makan malam itu disajikan sederhana, tetapi tetap berkelas seperti kebiasaan rumah besar keluarga mereka. Meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi cahaya lampu gantung kristal yang memantul lembut. Suara sendok dan garpu beradu pelan, sunyi, tapi bukan sunyi yang nyaman. Sunyi yang penuh tanya.
Rama beberapa kali melirik Zizi, memperhatikan cara putrinya memotong daging yang sejak tadi nyaris tidak berkurang.
Shinta lebih peka. Ia tahu, anak bungsunya tidak pernah pulang tanpa alasan. “Bagaimana kehidupanmu?” tanya Shinta akhirnya, suaranya lembut namun hati-hati.
Zizi mengangkat kepalanya. "Aku menggugat cerai, Arman." semua terdiam.
Ruangan itu seketika membeku. Kata-kata Zizi tidak melayang begitu saja, kata jatuh berat, menghantam dada setiap orang yang mendengarnya. Rama refleks menatap Zizi, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Shinta menahan napas, sendok di tangannya berhenti di udara.
Zizi, matanya teduh, tapi ada kilau baru yang tidak dimilikinya beberapa tahun terakhir yaitu tekad. “Aku ingin bicara serius,” ucapnya pelan, tetapi mantap.
Rama meletakkan garpu. Ruangan seketika terasa berbeda. “Apa yang kamu inginkan?” tanyanya langsung.
Zizi menarik napas dalam-dalam. Semua rasa sakit, sidang, mediasi, tatapan sinis keluarga Arman, dinginnya apartemen yang bukan rumah—semuanya berkumpul menjadi satu dorongan kuat di dadanya.
“Aku ingin terjun ke perusahaan,” katanya. “Bukan sekadar nama di kartu keluarga, bukan cuma anak pemilik perusahaan. Aku ingin mengambil tanggung jawab. Aku ingin… duduk di kursi CEO.”
Ucapan itu jatuh seperti batu ke air yang tenang.
Shinta menatapnya, setengah terkejut, setengah bangga.
Rama bersandar ke kursinya, memandang lama ke arah putrinya, bukan lagi sebagai anak kecil yang dulu mereka jemput dari sekolah, melainkan sebagai perempuan dewasa yang baru saja melewati badai.
“Kamu yakin?” suara Rama berat. “Itu bukan jabatan untuk melarikan diri dari masalah pribadi.”
Zizi mengangguk. “Aku tidak lari, Papa. Aku justru berhenti lari. Selama ini aku berusaha menjadi istri baik menurut standar orang lain. Sekarang… aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin bekerja, berjuang, mengambil keputusan, menanam saham, membangun sesuatu dari tanganku sendiri. Bukan bersembunyi di balik nama keluarga.”
Tangannya mengepal di pangkuannya, halus tapi kukuh.
“Aku lelah bergantung,” lanjutnya lirih. “Aku ingin berdiri.”
Shinta menatap suaminya. Ada percakapan sunyi di antara keduanya tentang rasa bersalah telah melepaskan Zizi dulu, tentang kekhawatiran kalau anaknya terluka lagi, tetapi juga tentang kebanggaan melihat sayapnya mulai terbuka.
Rama akhirnya tersenyum kecil. Bukan senyum mudah, tetapi senyum seorang ayah yang mengakui keteguhan anaknya.
“Baik,” katanya pelan. “Buktikan. Bukan sebagai putri kami… tapi sebagai Zizi.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dada Zizi terasa hangat. Bukan karena siapa pun memeluknya, tapi karena ia memeluk dirinya sendiri.
Malam itu, dunia bisnis tidak lagi terlihat sebagai ruang asing penuh angka dan rapat. Ia melihatnya sebagai panggung baru untuk hidupnya, bukan sebagai istri yang dipinggirkan, bukan sebagai perempuan yang diminta bertahan, tetapi sebagai seseorang yang memilih arah hidupnya sendiri.