NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

JEJAK YANG TAK INGIN DITEMUKAN

Pagi itu, Aira bangun dengan perasaan yang tak bisa ia beri nama.

Bukan cemas. Bukan takut.

Lebih seperti… dorongan pelan yang tak bisa diabaikan.

Ia duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang masih gelap.

Nama ayahnya muncul begitu saja di kepalanya, bukan sebagai sosok yang ia rindukan, melainkan sebagai ruang kosong yang terlalu lama ia biarkan tak tersentuh.

Ayahnya selalu hadir sebagai kenangan yang rapi. Terlalu rapi.

Aira berdiri, membuka lemari, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berdebu, kotak yang bertahun-tahun tak pernah ia buka. Isinya dokumen lama, potongan koran, dan foto-foto yang tak lagi dibicarakan di rumah.

Ia menarik satu map tipis berlabel samar: “Proyek Sungai Selatan.”

Nama itu terasa asing… dan anehnya, familier.

####

Perpustakaan kampus masih sepi ketika Aira tiba.

Ia duduk di sudut, membuka laptop, lalu mengetik pelan, Proyek Sungai Selatan,konflik

Hasilnya sedikit.

Terlalu sedikit untuk proyek sebesar itu.

Namun satu artikel lama menarik perhatiannya.

Bukan karena judulnya, melainkan karena satu kalimat kecil di tengah paragraf:

“Keputusan akhir proyek diambil oleh tim konsultan independen yang diketuai oleh”

Nama ayahnya terpotong di layar.

Bukan disensor.

Hanya… tidak lengkap.

Aira mengernyit.

Kenapa nama itu tidak pernah muncul utuh?

Ia menyimpan halaman itu, Diam-diam.

Tanpa memberi tahu siapa pun. Termasuk Raka.

####

Sore harinya, Langit muncul seperti biasa, terlalu tepat waktu untuk disebut kebetulan.

“Kamu kelihatan capek,” katanya.

Aira mengangkat bahu. “Proyek.”

Langit duduk. Menyilangkan tangan. “Proyekmu makin disorot.”

“Kamu tahu?” tanya Aira spontan.

Langit berhenti sepersekian detik.

Senyumnya muncul, sedikit terlambat.

“Isu publik cepat menyebar,” jawabnya ringan.

Aira mengangguk, tapi matanya tak lepas dari wajah Langit.

Ada sesuatu yang… berubah.

Bukan pada kata-katanya, melainkan pada caranya menghindari tatapannya.

“Aira,” ujar Langit, nadanya tiba-tiba lebih tajam, “kamu jangan terlalu dalam.”

“Dalam apa?”

“Dalam hal-hal yang bukan tanggung jawabmu.”

Aira terdiam.

Nada itu… bukan peringatan.

Lebih seperti larangan yang nyaris lolos.

Langit menyadarinya. Ia menghela napas, lalu menurunkan suaranya.

“Maksudku… kadang kebenaran bukan selalu menenangkan.”

Aira menatapnya lama.

“Kamu pernah bilang,” kata Aira pelan, “capek itu manusiawi. Tapi berhenti karena takut itu beda.”

Langit tersenyum, tapi kali ini senyumnya tak sepenuhnya sampai ke mata.

“Aku juga manusia,” jawabnya.

Singkat, Terlalu singkat.

Dan untuk pertama kalinya, Aira merasakan sesuatu yang membuatnya bergeser sedikit menjauh.

####

Hari-hari berikutnya, proyek mereka meledak ke permukaan.

Media kampus, forum warga, bahkan akun anonim mulai mengangkat isu:

“Siapa yang Bertanggung Jawab?”

“Proyek Lama, Luka Lama.”

Nama ayah Aira muncul, kali ini utuh.

Tidak sebagai penjelasan.

Melainkan sebagai tudingan.

Aira membaca komentar-komentar itu dengan tangan gemetar.

“Nama lama, wajah lama, masalah lama.”

“Anak tak selalu salah, tapi darah tak pernah bohong.”

Teleponnya bergetar.

Pesan anonim masuk satu per satu.

Hentikan proyek itu.

Kamu membuka luka yang seharusnya dikubur.

Raka mencoba menelepon, tapi Aira tak menjawab.

Bukan karena tak ingin, melainkan karena ia tak tahu harus berkata apa.

####

Malam itu, Aira duduk sendiri di kamar, lampu dimatikan.

Hanya layar laptop yang menyala.

Ia membuka kembali artikel lama itu.

Membandingkan tanggal, nama, keputusan.

Ada kejanggalan kecil.

Satu keputusan penting diambil sehari sebelum laporan final dipublikasikan.

Dan penandatangan terakhir… bukan ayahnya.

Nama itu dihapus.

Diganti.

Kenapa?

####

Langit berdiri di lorong sempit rumah tua.

Telepon di tangannya bergetar.

“Aku bilang jangan ganggu dia,” kata langit rendah.

Suara di seberang sana terdengar samar.

“Kita belum aman,” lanjut Langit, rahangnya mengeras. “Kalau dia terus menggali, ”

Ia berhenti. Menarik napas.

“Aku yang urus,” katanya akhirnya. “Dengan caraku.”

Telepon ditutup.

Langit memejamkan mata.

Tangannya mengepal—lalu dilepas.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Belum saatnya.”

Namun bayangan Aira yang mulai bertanya…

mulai mengganggu rencananya.

####

Malam semakin larut ketika Aira akhirnya menutup laptop.

Ia tidak menemukan kebenaran.

Tapi ia menemukan cukup alasan untuk tidak berhenti.

Aira mengambil jaket.

Keluar dari kamar tanpa suara.

Ia tidak tahu ke mana langkah ini akan membawanya.

Ia hanya tahu satu hal.

Ada masa lalu yang sengaja dibuat kabur.

Dan ia, tanpa sadar, sudah melangkah terlalu dekat.

Di luar, hujan turun pelan.

Dan di kejauhan, seseorang mengawasinya,

bukan dengan kebencian penuh,

melainkan dengan ketakutan yang mulai retak.

####

Pagi datang dengan cara yang tidak ramah.

Aira terbangun sebelum alarm berbunyi, dada terasa penuh, seperti ada sesuatu yang tertinggal dalam mimpi, sesuatu yang penting, tapi belum sempat diberi nama.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela kamar kosnya. Langit pagi tampak pucat, bukan abu-abu, bukan cerah, warna yang ragu-ragu, Seperti dirinya.

Sudah tiga malam terakhir Aira memimpikan ayahnya.

Bukan mimpi utuh, hanya potongan-potongan kecil, suara batuk, meja kerja penuh kertas, sebuah map cokelat tanpa judul.

Dan selalu berakhir dengan satu hal yang sama.

ayahnya berdiri membelakangi, seolah ingin berkata sesuatu, tapi tak pernah sempat.

Aira menghela napas panjang.

“Kenapa sekarang?” gumamnya.

Ia mengambil ponsel. Tidak ada pesan baru dari Raka. Tidak ada dari Langit.

Entah kenapa, justru itu yang membuatnya gelisah.

####

Ruang diskusi fakultas pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya.

Proyek riset sosial yang mereka kerjakan, yang semula hanya berupa pengumpulan data komunitas, tiba-tiba berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Terlalu besar.

“Kita dapat sorotan,” kata dosen pembimbing mereka, nada suaranya serius. “Beberapa media lokal tertarik.”

Beberapa mahasiswa bersorak kecil.

Tapi Aira merasakan sesuatu yang lain, dingin di tengkuknya.

“Namun,” lanjut sang dosen, “ada pihak luar yang merasa keberatan. Proyek ini menyinggung kebijakan lama.”

Aira menegang.

“Kebijakan siapa, Pak?” tanya Bimo.

Dosen itu berhenti sejenak. “Kebijakan daerah. Lama. Sekitar belasan tahun lalu.”

Belasan tahun.Angka itu jatuh tepat di dadanya.

Aira menunduk, membuka laptopnya, berpura-pura mencatat. Tangannya gemetar.

“Dan satu hal lagi,” tambah sang dosen, “nama keluarga Aira muncul dalam arsip awal. Sebagai… pihak yang pernah terlibat.”

Ruang itu mendadak sunyi.

Semua mata perlahan mengarah padanya.

Aira mengangkat kepala. “Terlibat… bagaimana, Pak?”

“Belum jelas,” jawab dosen itu jujur. “Itu sebabnya kita harus ekstra hati-hati.”

Aira mengangguk. “Saya mengerti.”

Tapi di dalam kepalanya, sesuatu mulai runtuh perlahan.

Ayahnya.

Proyek ini.

Sorotan publik.

Terlalu banyak garis yang tiba-tiba saling bertemu.

####

Raka memperhatikan Aira dari kejauhan.

Sejak rapat itu berakhir, Aira menjadi lebih diam. Bukan diam yang biasa, bukan diam lelah, tapi diam waspada.

“Aira,” panggil Raka saat mereka berjalan keluar gedung.

Aira berhenti. “Iya?”

“Kamu nggak apa-apa?”

Aira tersenyum kecil. “Aku baik.”

Raka tahu senyum itu.

Senyum yang selalu dipakai Aira saat ia tidak ingin ditanya lebih jauh.

“ soal ayah kamu…” Raka memulai hati-hati.

Aira menegang sesaat, lalu menghela napas. “Iya.”

“Kamu mau cerita?”

Aira menatap Raka cukup lama. Ada banyak hal di matanya, keinginan untuk bersandar, dan ketakutan untuk menyeret.

“Nanti,” katanya akhirnya. “Boleh?”

Raka mengangguk. “Kapan pun kamu siap, aku akan selalu jadi pendengar untuk adik kecilku ini” di dadanya, muncul perasaan yang mulai menerima.

####

Rumah itu selalu terasa sama bagi Aira.

Pagar besi berderit pelan, pohon mangga di halaman depan yang daunnya tak pernah rapi, dan suara televisi dari ruang tengah yang selalu menyala meski tak benar-benar ditonton.

Ayahnya duduk di kursi favorit, membaca koran sambil sesekali mengusap kacamata.

Ibu Aira di dapur, suara sendok beradu dengan panci.

Semua tampak utuh.

Terlalu utuh.

Dan justru itu yang membuat Aira merasa ada sesuatu yang selama ini luput ia lihat.

“Ayah masih lembur kerja jam segini?” tanya Aira pelan sambil melepas sepatu.

Ayahnya mengangguk singkat. “Beberapa hari ke depan. Ada evaluasi lama yang diminta dibuka lagi.”

“Evaluasi lama?” Aira menoleh.

Ayahnya berhenti membaca. Sejenak saja.

Lalu kembali membuka halaman.

“Iya. Proyek lama.”

Nada itu… netral.

Terlalu netral.

Aira mengangguk, tapi dadanya mengeras oleh rasa aneh yang tak bernama.

####

Keesokan paginya. Di kampus, proyek yang sedang mereka kerjakan mendadak berubah arah.

Bukan dari tim inti, melainkan dari luar.

“Ada permintaan klarifikasi,” kata dosen pembimbing sambil menatap layar.

“Beberapa pihak mempertanyakan data lama yang menjadi dasar penelitian ini.”

Aira merasakan tengkuknya dingin.

“Data lama… maksudnya?” tanyanya hati-hati.

“Dokumen pendukung. Tahun-tahun awal,” jawab sang dosen. “Nama-nama lama muncul kembali.”

Aira tidak bertanya lagi.

Tapi satu nama berputar di kepalanya sejak tadi pagi.

Nama ayahnya.

Bukan karena disebut.

Tapi karena cara semua ini muncul bersamaan.

Aira membuka laptopnya diam-diam.

Bukan untuk mengerjakan laporan.

Ia mengetik nama proyek lama yang pernah dikerjakan ayahnya, sekadar iseng, katanya pada diri sendiri.

Satu artikel lama muncul.

Forum diskusi.

Komentar samar.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada kepastian.

Hanya satu kalimat pendek dari akun anonim:

“Beberapa keputusan diambil dengan cara yang tak pernah dijelaskan ke publik.”

Aira menutup layar.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

####

Di tempat lain, tempatnya di halte

Langit duduk seperti biasa.

Tenang.

Rapi.

Seolah dunia tidak pernah berisik baginya.

“Kamu selalu kelihatan capek,” katanya.

Aira duduk, tidak langsung menjawab.

“Langit,” ucap Aira akhirnya, “kalau seseorang menyimpan masa lalu yang… rumit, apa menurutmu dia pantas dihakimi sekarang?”

Langit menoleh.

Ekspresinya berubah Sedikit.

“Kenapa tanya begitu?” balasnya.

Aira mengangkat bahu. “Cuma kepikiran.”

Langit tersenyum tipis, tapi rahangnya mengeras, Sangat singkat, Nyaris tak terlihat

.

“Masa lalu,” katanya perlahan, “bukan sesuatu yang selesai hanya karena waktu lewat.”

Aira menatapnya.

“Ada hal-hal,” lanjut Langit, “yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Hanya… ditunda.”

Nada suaranya turun di akhir kalimat.

Aira tidak bertanya lebih jauh.

Namun dadanya mencatat sesuatu:

Langit terlalu dalam menjawab pertanyaan itu. Aira mulai mengingat kembali tentang hari itu, Hari itu, Aira tak sengaja melihat Langit berbicara dengan seseorang di luar kampus.

Bukan mahasiswa.

Bukan dosen.

Pria itu lebih tua.

Membawa map cokelat.

Langit tidak tersenyum.

Saat Aira mendekat, Langit menoleh.

Ekspresinya berubah cepat,

“Kamu kenal dia?” tanya Aira ringan.

Langit terlalu cepat menjawab.

“Bukan siapa-siapa.”

Aira mengangguk.

Tapi di dalam kepalanya, satu potongan jatuh ke tempatnya.

Langit jarang menjawab secepat itu.

####

Beberapa hari kemudian, isu proyek mulai beredar.

Komentar publik.

Pertanyaan media kampus.

Nama ayah Aira belum disebut.

Tapi lingkarannya semakin dekat.

Di rumah, ayah Aira pulang lebih larut.

Lebih sering diam.

Aira ingin bertanya.

Tapi tidak berani.

Karena jika ia bertanya…

maka semua yang selama ini stabil bisa runtuh.

Langit duduk di halte seperti biasa.

Namun malam itu, ia tidak tenang.

Ponselnya bergetar—pesan dari nomor lama, yang jarang aktif.

Proyek itu muncul lagi.

Langit menutup mata.

Dan nama Aira ada di dalamnya.

Tangannya mengepal.

“Kenapa sekarang…” gumamnya.

Ia mengangkat kepala saat mendengar langkah mendekat.

Aira.

“Aira,” sapanya, mencoba terdengar biasa.

Aira duduk. Tidak langsung bicara.

“Langit… boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu.”

Aira menatap ke depan. “Kamu… pernah dengar nama proyek lama yang mirip dengan proyek ku sekarang?”

Langit terdiam sepersekian detik.

Terlalu singkat untuk disadari Aira secara sadar. Tapi cukup lama untuk direkam oleh hatinya.

“Mungkin,” jawab Langit. “Kenapa?”

“Ayahku terlibat,” kata Aira pelan.

Langit menelan ludah. “Oh…”

Nada itu.

Bukan kaget.

Lebih seperti… mengingat.

Aira menoleh. “Kamu tahu sesuatu?”

Langit tersenyum kecil, tapi rahangnya mengeras. “Aku cuma tahu sedikit. Dari cerita orang.”

“Orang siapa?”

Langit terdiam lebih lama kali ini.

“Aira,” katanya akhirnya, “kadang masa lalu itu… nggak selalu perlu dibongkar.”

Aira menatapnya tajam. “Atau ada yang takut kalau masa lalu itu muncul?”

Itu bukan tuduhan.

Hanya pertanyaan.

Namun Langit berdiri.

“Aira,” suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, “kamu lagi capek. Jangan bikin kesimpulan sendiri.”

Aira ikut berdiri. “Aku cuma bertanya.”

Langit menarik napas panjang, menahan sesuatu di dadanya.

“Dan aku cuma jawab sebisanya,” katanya. “Hati-hati.”

Dengan apa?

Dengan siapa?

Langit pergi lebih dulu.

...####...

Aira menelepon Raka malam itu.

Raka datang tanpa banyak tanya.

Mereka duduk di tangga rumah lama Aira.

“Aku nemu sesuatu,” kata Aira, menunjukkan foto dokumen di ponselnya.

Raka membaca pelan. “Ini… serius.”

“Aku nggak tahu harus percaya siapa,” ujar Aira. “Langit bilang sedikit, tapi rasanya… dia menahan banyak.”

Raka menatap Aira lama.

“Aira,” katanya pelan, “kalau aku bilang kamu harus jaga jarak dari Langit… kamu bakal denger?”

Aira menoleh. “Kamu curiga?”

“Aku khawatir.”

Itu jawaban paling jujur yang bisa Raka berikan.

Aira memejamkan mata. “Aku juga.”

Sunyi menyelimuti mereka.

“Aku mau nyelidikin ini,” kata Aira akhirnya. “Pelan-pelan.”

Raka mengangguk. “Aku di sini.”

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!