NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 (Sangkar Emas Raharja)

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu di kamar utama vila Sentul. Alisha terbangun dengan rasa penat yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Ketika ia mencoba menggerakkan badannya, sebuah lengan yang kokoh dan berat terasa melingkar posesif di pinggangnya, mengunci posisinya agar tidak bisa menjauh bahkan satu sentimeter pun.

Alisha menoleh perlahan. Di sampingnya, Mike Raharja masih memejamkan mata. Wajah pria itu tampak sangat tenang dan puas saat tertidur, jauh dari kesan CEO berdarah dingin yang semalam membongkar seluruh kedok gila di balik pernikahan ini.

Air mata Alisha kembali menetes ke atas bantal sutra. Ingatan tentang malam pertama mereka—di mana Mike membuktikan dengan sangat gamblang dan intens bahwa rumor kemandulan itu hanyalah bualan belaka—membuat dadanya sesak. Rasa bersalah, rasa iba, dan ketulusan yang Alisha bawa dari rumah kemarin mendadak menguap, berganti dengan rasa terkhianati yang teramat dalam. Pria ini telah memanipulasi rasa hormatnya pada mendiang sang kakak, memanfaatkan kesetiaan keluarganya selama sepuluh tahun hanya untuk menjadikannya bidak catur terakhir dalam skenario gila ini.

Dengan gerakan sepelan mungkin, Alisha mengangkat lengan Mike dari pinggangnya. Ia menyelimuti tubuhnya dengan jubah mandi beludru yang tergeletak di tepi ranjang, lalu melangkah turun. Tujuannya hanya satu: ia ingin pulang ke rumah ibunya. Ia butuh bernapas keluar dari atmosfer yang menyesakkan ini.

Namun, baru saja kaki Alisha menyentuh lantai marmer yang dingin, suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur menginterupsi keheningan kamar.

"Mau ke mana, Alisha?"

Alisha membeku. Ia berbalik dan mendapati Mike sudah menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya yang tajam langsung menatap Alisha dengan tatapan mengunci, sama sekali tidak ada sisa kantuk di sana. Pria itu selalu waspada, bahkan dalam tidurnya.

Alisha mengepalkan tinjunya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Aku mau pulang ke rumah Ibu. Aku... aku tidak bisa tinggal di sini, Mike. Kamu menipuku. Kamu menipu Ibuku, dan kamu menipu Kakekmu sendiri!"

Mike tidak marah. Pria itu justru menghela napas pendek, lalu beranjak dari ranjang dengan santai, mengikat jubah mandi hitamnya tanpa memedulikan tatapan penuh amarah dari istrinya. Ia berjalan mendekati Alisha, memangkas jarak di antara mereka hingga Alisha terpaksa mendongak.

"Pulang?" Mike menaikkan sebelah alisnya. "Rumahmu adalah di sini sekarang, Nyonya Raharja. Berkas pernikahan kita sudah didaftarkan ke catatan sipil pagi ini oleh orang kepercayaanku. Secara hukum dan agama, kamu adalah milikku."

"Tapi pernikahan ini didasarkan pada kebohongan!" suara Alisha meninggi, bergetar oleh emosi yang membuncah. "Kamu berpura-pura malang, berpura-pura mandul agar aku merasa bersalah dan mau menikahimu! Bagaimana bisa kamu sekejam itu pada rasa kemanusiaanku, Mike?"

Mike mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pipi Alisha, namun gadis itu dengan cepat menepisnya. Kilat tidak suka melintas sesaat di mata Mike, sebelum akhirnya digantikan oleh senyuman tipis yang dingin.

"Aku tidak kejam, Alisha. Aku hanya pragmatis," ucap Mike, suaranya terdengar datar namun mutlak. "Jika empat tahun lalu aku mendekatimu yang masih berusia tujuh belas tahun, Kakek Surya akan mendepakku dari perusahaan dan mengirim orang untuk menyingkirkanmu serta ibumu demi menjaga kemurnian silsilah Raharja. Aku butuh waktu untuk memperkuat posisiku. Dan pernikahan kontrak dengan Anita adalah satu-satunya tameng yang bisa melindungimu dari radar Kakek."

Mike maju selangkah lagi, mengurung tubuh Alisha di antara dirinya dan dinding kaca yang menampilkan pemandangan perbukitan berkabut.

"Lalu tentang rumor mandul itu..." Mike merunduk, menatap lurus ke dalam manik mata Alisha yang basah. "Itu adalah mahakarya terbaikku. Tanpa rumor itu, Kakek tidak akan pernah sudi merestui aku menikahi gadis sederhana sepertimu. Sekarang, Kakek justru memujamu sebagai malaikat. Ibumu hidup tenang karena mengira kamu melakukan hal yang mulia, dan aku... mendapatkan apa yang kuinginkan selama empat tahun ini. Siapa yang dirugikan di sini, Alisha? Tidak ada."

"Aku!" Alisha terisak, memukul dada bidang Mike dengan frustrasi. "Aku yang dirugikan! Kamu mengambil kebebasanku! Kamu membuatku hidup dalam kebohongan!"

Mike menangkap kedua pergelangan tangan Alisha, menguncinya dengan mudah dalam satu genggaman tangannya yang besar. "Kebebasan apa yang kamu inginkan, Alisha? Menikah dengan pria muda seusiamu di kampus? Menghabiskan waktu dengan cinta monyet yang tidak bisa menjamin masa depanmu?" Suara Mike memberat, sarat akan letupan obsesi yang posesif. "Aku membiayai kuliahmu, memastikan tidak ada pria lain yang berani mendekatimu selama empat tahun ini, dan membangun kerajaan bisnis ini hanya untuk meletakkannya di bawah kakimu. Kamu adalah ratuku, Alisha. Di sini, di dalam sangkar emas ini, kamu akan mendapatkan segalanya... kecuali izin untuk pergi dariku."

Alisha menatap Mike dengan pandangan tak percaya. Pria di depannya ini bukan lagi sosok 'Kak Mike' yang kaku namun hangat yang dulu sering datang membawakan buku-buku baru untuknya. Pria ini adalah seorang penguasa tirani yang egois dan terobsesi padanya.

"Lepaskan aku, Mike..." bisik Alisha lemah, energinya habis terkuras melawan dominasi pria itu.

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu," balas Mike, suaranya melunak namun tak terbantahkan. Ia mengecup dahi Alisha dengan lembut, sebuah kecupan yang terasa seperti cap kepemilikan yang permanen. "Mandilah. Pakaian barumu sudah disiapkan di ruang rias. Siang ini, kita harus ke kediaman utama. Kakek ingin makan siang bersama cucu menantu kesayangannya."

Sementara itu, di sebuah kafe kelas atas di pusat kota Jakarta, dua orang sedang duduk menikmati makan siang mereka. Anita menyesap es Americano-nya, sementara Alvin duduk di seberangnya sembari sesekali memeriksa laporan keuangan di tabletnya.

"Bagaimana malam pertama mereka menurutmu?" tanya Alvin tiba-tiba, meletakkan tabletnya lalu menatap Anita dengan senyuman penuh arti.

Anita tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak mau membayangkan seberapa syoknya Alisha yang polos itu saat mengetahui bahwa suami yang dikasihaninya ternyata adalah seekor serigala lapar. Mike pasti langsung membuka kartu-kartunya malam tadi. Pria itu tidak akan betah berakting lebih lama lagi setelah menahan diri selama empat tahun."

"Kamu tidak merasa bersalah telah membantu Mike menyembunyikan rahasia besar ini selama empat tahun?" Alvin menaikkan sebelah alisnya, menggoda wanita yang kini statusnya bukan lagi sekretaris melainkan calon pendamping hidupnya sendiri.

"Kenapa harus bersalah?" Anita mengedikkan bahunya dengan elegan. "Pernikahan kontrakku dengan Mike murni bisnis, dan aku mendapatkan modalku sekarang. Lagipula, Mike tidak berniat menyakiti Alisha. Pria itu hanya... terlalu gila dalam mencintai. Cara dia menjaga Alisha dari jauh selama empat tahun ini membuktikan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan seujung rambut Alisha pun terluka. Alisha hanya perlu waktu untuk membiasakan diri dengan intensitas cinta seorang Mike Raharja."

Alvin tersenyum hangat, mengulurkan tangannya di atas meja untuk menggenggam jemari Anita. "Ya, kamu benar. Setiap pria punya cara gilanya masing-masing untuk mengunci wanita yang dicintainya. Bedanya, cara Mike sedikit lebih ekstrem karena dia memegang kendali atas seluruh dinasti Raharja."

"Dan caramu sendiri bagaimana, Tuan Alvin?" goda Anita, membalas genggaman tangan Alvin.

"Caraku adalah dengan memastikan mantan sekretaris terbaikku ini tidak perlu lagi bekerja lembur untuk pria lain, melainkan fokus mendampingiku seumur hidup," balas Alvin dengan kedipan mata yang membuat Anita merona merah.

Kembali ke vila Sentul, Alisha keluar dari kamar mandi dengan gaun terusan berwarna hijau pastel yang anggun. Wajahnya tampak pucat walau sudah dipoles riasan tipis. Di ruang makan, Mike sudah menunggu dengan meja yang penuh dengan hidangan sarapan mewah. Pria itu tampak sangat segar, kontras dengan Alisha yang lesu.

Mike bangkit dari kursinya, menarikkan kursi untuk Alisha dengan kesopanan seorang pria sejati—sifat kaku yang masih tersisa dari dirinya. "Makanlah yang banyak, Alisha. Kamu butuh energi untuk menghadapi Kakek nanti siang."

Alisha duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memandangi piringnya dengan pandangan kosong. Rasa lapar yang sempat ia rasakan mendadak hilang.

"Aku tahu kamu marah, Alisha," Mike kembali duduk di kursinya, menatap istrinya lekat-lekat. "Tapi pikirkan ibumu, pikirkan dedikasi mendiang kakakmu. Skenario ini berjalan demi kebaikan semua orang. Jika kamu bersikap dingin seperti ini di depan Kakek nanti, beliau akan curiga. Dan jika beliau tahu pernikahan kita didasarkan pada manipulasiku, beliau tidak akan melepaskanku begitu saja. Kamu mau melihat Raharja Group hancur dalam semalam karena perang internal?"

Alisha mendongak, menatap Mike dengan kilat kemarahan yang kini bercampur dengan kepasrahan yang pahit. "Kamu selalu punya alasan untuk mengunci pergerakanku, bukan?"

"Itu tugasku sebagai suamimu," jawab Mike dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan. Ia mengulurkan tangannya, mengusap sudut bibir Alisha yang bersih dengan ibu jarinya. "Makanlah, Sayang. Mulai hari ini, belajarlah untuk menerima bahwa di dunia ini, hanya ada satu pria yang berhak memilikimu... dan pria itu sedang duduk di depanmu saat ini."

Alisha memejamkan matanya, menelan paksa suapan pertamanya. Sangkar emas itu telah resmi dikunci dari luar, dan Alisha baru saja menyadari bahwa ia telah menjadi tawanan paling berharga di dalam hidup seorang Mike Raharja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!