Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu orang yang peduli
"ALESHA!"
Luna langsung menahan tubuh sahabatnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
"Sha, ya Allah... badanmu panas banget," ucap Luna panik saat memeluk Alesha yang sudah lemas dan hampir tidak sadar.
Tubuh Alesha terasa panas, napasnya tidak teratur. Ia seperti berada di antara sadar dan tidak sadar.
"Sha! Kamu dengar aku nggak? Sha!" Luna berteriak, namun tidak ada sahutan yang jelas dari Alesha.
Luna semakin panik, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menoleh ke sekitar rumah yang sunyi, membuatnya bingung harus meminta bantuan kepada siapa.
"Ya Allah... aku harus minta tolong ke siapa..." gumamnya dengan suara gemetar.
Tak lama, Alesha perlahan membuka matanya yang berat.
"Lapar..." ucapnya lirih, hampir tidak terdengar.
Mendengar itu, hati Luna langsung mencelos. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Ya Allah Sha... kamu sakit hanya karena lapar..." ucap Luna dengan suara bergetar.
Luna segera membantu Alesha duduk di kursi terdekat. Tangannya gemetar saat memegang bahu sahabatnya itu agar tetap bersandar.
"Ibuku bawa makanan untukmu, Sha... aku suapin kamu ya," ucap Luna pelan berusaha menenangkan.
Luna segera membuka bekal makanan yang dibawanya dari rumah. Dengan hati-hati, ia mulai menyuapi Alesha sedikit demi sedikit sambil menahan air mata yang terus jatuh melihat kondisi sahabatnya.
Setelah beberapa suap makanan masuk ke perutnya, kondisi Alesha perlahan mulai membaik. Warna wajahnya yang tadi pucat mulai kembali sedikit normal, meski tubuhnya masih tampak lemah.
"Sha, kenapa kamu nggak makan, Sha?" tanya Luna pelan sambil memperhatikan sahabatnya.
Alesha menunduk dalam diam. Tangannya yang lemah menggenggam ujung baju Luna.
"Aku… nggak sempat makan, Lun…" ucapnya dengan suara serak dan pelan.
Mendengar itu, Luna langsung menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang menumpuk di dadanya.
"Nggak sempat… atau mereka memang nggak kasih kamu makan, Sha?"
Air mata yang sejak tadi ditahan Alesha akhirnya jatuh. Ia tidak sanggup lagi menyembunyikan semuanya dari sahabatnya.
Luna langsung meraih Alesha dan memeluknya erat.
"Sha… sampai kapan kamu mau bertahan?" ucapnya dengan suara bergetar, penuh kekhawatiran.
Semua penderitaan Alesha selama ini, Luna rasakan dan lihat langsung.
"Terus aku harus bagaimana, Lun? Aku nggak punya pilihan…" jawab Alesha dengan suara serak di sela tangisnya.
"Sha… kamu nggak bisa terus diperlakukan seperti ini. Aku nggak mau sahabatku pelan-pelan hancur di rumah orang yang bahkan nggak peduli sama dia," suara Luna bergetar menahan emosi.
Alesha menunduk dalam pelukan itu. Air matanya jatuh perlahan tanpa suara, seperti sudah terlalu lelah untuk menangis keras-keras.
Luna menarik napas dalam, lalu menggenggam kedua tangan Alesha.
"Sha… kamu tinggal di rumah aku aja."
Alesha langsung menggeleng pelan.
"Nggak bisa, Lun…"
"Kenapa nggak bisa? Di sini kamu disiksa pelan-pelan, Sha."
Alesha menunduk semakin dalam.
"Aku nggak mau nyusahin kamu dan ibumu."
Luna mengernyit.
"Nyusahin? Sha, kamu itu sahabat aku."
Alesha menggeleng lagi, lebih kuat.
"Keluargamu sudah terlalu baik sama aku dari dulu… aku nggak bisa nambah beban."
Suara Alesha bergetar.
Luna langsung mengusap wajahnya frustasi.
"Sha, ini bukan soal beban atau nggak beban."
"Ini soal kamu masih mau hidup dengan layak atau nggak."
Alesha terdiam, ia hanya menatap lantai.
"Aku masih bisa bertahan di sana, Lun…"
Luna langsung tertawa pahit kecil.
"Bertahan?"
Ia menunjuk tubuh Alesha yang masih lemas.
"Ini kamu bilang bertahan?"
"Orang-orang di rumah ini keterlaluan, Sha. Mereka memperlakukan kamu seperti binatang tanpa diberi makan," ucap Luna dengan nada emosi yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia kemudian menggenggam tangan Alesha erat. "Sha, kamu pindah ke rumahku ya… aku takut kamu di sini lama-lama, Sha…"
Saat Luna hendak melanjutkan perkataannya, suara ponselnya berbunyi nyaring. Ponsel yang ia letakkan di atas meja itu menampilkan nama yang membuat Alesha ikut melihatnya.
Bu Darmi.
"Angkat, Lun..." ucap Alesha pelan.
Luna menghela napas sambil mengangguk, lalu segera mengangkat telepon dari Bu Darmi.
"Iya, Bu?"
"Luna, kamu masuk kerja hari ini."
"Tapi Bu, ini kan jadwal libur saya."
"Besok saja kamu liburnya. Banyak orderan di toko."
Tanpa menunggu jawaban, panggilan langsung terputus.
"Huh..." Luna menghela napas kesal, merasa rencananya untuk menemani Alesha harus kembali tertunda.
"Kamu berangkat kerja saja, Lun..." ucap Alesha pelan.
"Tapi, Sha… kamu gimana?"
"Kamu nggak usah khawatir, Lun. Aku sudah lebih baik kok. Makasih ya kamu sudah datang," ucap Alesha dengan tulus, meski suaranya masih terdengar lemah.
Luna menggeleng pelan.
"Tapi Sha, aku nggak tenang ninggalin kamu."
Alesha tersenyum tipis, meski matanya masih sembab.
"Aku nggak apa-apa, Lun. Serius."
Luna menatapnya ragu.
"Kamu yakin?"
Alesha mengangguk cepat, seolah memaksa dirinya terlihat kuat.
"Iya. Kamu kerja saja. Jangan sampai kamu kena masalah gara-gara aku."
Deg.
Luna langsung menghela napas panjang.
"Kamu itu selalu mikirin orang lain, Sha…"
Alesha hanya diam.
Tangannya masih memegang gelas kosong di meja.
Luna bangkit perlahan, lalu merapikan tasnya.
"Tapi kalau kamu kenapa-kenapa, aku bakal balik lagi, ngerti?"
Alesha mengangguk kecil.
"Ngerti."
Luna menatapnya lama sekali, masih tidak yakin.
Namun akhirnya ia menyerah.
"Oke… aku berangkat."
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak.
"Jangan kemana-mana dulu ya."
Alesha mengangguk lagi.
"Iya."
Setelah itu Luna benar-benar pergi.
Krek.
Pintu tertutup pelan.
Meninggalkan Alesha seorang diri di rumah itu.
Alesha menatap pintu yang sudah tertutup lama.
Lalu ia menunduk pelan.
"Aku bersyukur punya sahabat seperti kamu, Lun…"
Suaranya lirih.
Air matanya jatuh perlahan, tetapi kali ini bukan karena sakit.
Melainkan karena ia merasa masih ada seseorang yang peduli padanya.
—
Di dalam sebuah klub malam, suasana terasa riuh dengan irama musik yang mengalun. Renata berdansa bersama dua temannya, Citra dan Putri. Mereka mengenakan pakaian yang pas di badan, tampak menikmati malam itu sambil bercanda dan tertawa bersama.
Di sudut ruangan, seorang pria berdiri sambil memegang gelas berisi minuman anggur. Matanya terus tertuju pada Renata. Ia pun berjalan menghampiri kelompok itu.
Pria itu mendekat dengan senyum ramah. "Maaf mengganggu. Bolehkah saya berkenalan dengan kalian? Terutama dengan kamu..." ucapnya menunjuk Renata.
Renata sempat tertegun. Sekilas pria itu memang terlihat menarik, dan karena sempat terkesan dengan penampilannya sekilas, ia mulai meladeni percakapan itu tanpa curiga lebih dulu. Namun tak lama kemudian, sikap pria itu berubah menjadi tidak senonoh—ia dengan seenaknya menyentuh bagian tubuh Renata secara tidak pantas.
Karena terkejut dan merasa hasrat yang tiba-tiba memuncak, Renata mengambil keputusan yang tergesa. Ia membawa pria itu menuju ruang pribadi yang lebih tertutup di dalam klub tersebut. Begitu berada di sana, pria itu langsung mengajukan pertanyaan yang tidak pantas.
"Berapa tarifmu?" tanya pria itu.
Renata tersenyum tipis lalu mengatakan sesuatu pelan kepadanya. Setelah mendengarnya, pria itu mengangguk setuju dan berniat melanjutkan niatnya.
"Itu kan Renata? Buat apa dia di sini?"
Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Renata mengernyitkan dahi, lalu tersenyum miring dengan penuh sindiran.
"Jadi ini kerjaan lo? Pantas saja semua barangmu mahal. Ternyata cih..."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁