maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Setelah ketegangan di paviliun bawah dan sensasi aneh yang membuatnya merinding, bel istirahat kunjungan lapangan akhirnya berbunyi. Guru-guru mengizinkan murid-murid Winterhall untuk membaur dan beristirahat di area kafetaria atau halaman museum. Kebanyakan murid langsung menyerbu mesin minuman atau berkumpul di lantai dasar untuk mengobrol, termasuk Rachel yang sibuk mengantre roti lapis.
Maizy, dengan sifatnya yang aslinya pendiam dan sedang butuh waktu untuk menenangkan diri, memilih untuk memisahkan diri dari keramaian. Langkah kakinya yang masih agak kaku menuntunnya menaiki tangga marmer menuju lantai atas museum.
Lantai atas ini rupanya diisi oleh galeri arsip tua dan artefak pra-industri yang jarang diminati oleh remaja seumuran mereka. Suasananya luar biasa sepi. Hanya ada gema langkah kaki Maizy sendiri dan pendar cahaya matahari Berlin yang menembus jendela kaca besar, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di udara.
Maizy berjalan menyusuri deretan etalase kayu tua yang berjejer. Di sini, tidak ada suara bising murid lain, tidak ada bisik-bisik gosip, dan yang paling penting, tidak ada Paul ataupun tatapan menghunus penuh kebencian dari cowok itu. Rasa aman yang menenangkan perlahan kembali menyelimuti orang seperti dirinya.
Dia berhenti di depan sebuah meja displai besar di sudut ruangan yang memamerkan replika peta wilayah Jerman kuno dan potongan-potongan harian dari abad ke-19—periode yang sama dengan penemuan dua cincin di lantai bawah tadi.
Maizy membetulkan letak kacamatanya, lalu mencondongkan tubuh untuk melihat lebih dekat sebuah replika manuskrip usang. Tangannya yang tadi sempat merasakan sensasi "kesetrum" aneh saat menyentuh Paul, kini dia usapkan perlahan ke permukaan kayu etalase. Keheningan di lantai atas ini begitu mutlak, seolah waktu sengaja berhenti untuk memberikan Maizy ruang bernapas setelah berminggu-minggu didera trauma mental.
Di tengah keheningan lantai atas museum yang begitu damai, ketenangan Maizy mendadak pecah oleh getaran keras dari dalam saku sweaternya.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Maizy tersentak kecil, lalu meraba sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat layar digital yang menyala, jantungnya berdegup aneh. Di sana tertera nama pemanggil Paman Michael.
Maizy sempat membuatnya ragu untuk mengangkat telepon di dalam area pameran museum. Namun, dia tahu betul watak Paman Michael. Pria kaku yang super sibuk itu tidak akan pernah meneleponnya di jam kerja kecuali ada hal yang benar-benar mendesak.
Maizy menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Paman Michael? Ada apa—"
"Halo? Apakah ini dengan keluarga dari Herr Michael Siegfried Falkenhayn?"
Suara di seberang sana bukan milik pamannya. Suara itu terdengar asing, berat, penuh kepanikan, dan latar belakangnya dipenuhi oleh suara bising sirine yang meraung-raung memekakkan telinga.
Maizy mendadak membeku di tempat, tangannya yang memegang ponsel seketika sedingin es. "I-iya, benar. Saya keponakannya. Ini siapa ya? Di mana Paman saya?"
"Nona, saya dari pihak otoritas darurat jalur perkeretaapian Berlin. Kami mengabarkan dari nomor ponsel beliau karena terjadi situasi darurat skala besar. Kereta cepat Intercity-Express yang dipimpin oleh Herr Michael baru saja mengalami kecelakaan fatal akibat anjloknya rel di sektor utara..."
Deg.
Dunia di sekitar Maizy seolah runtuh seketika. Seluruh pasokan oksigen di dadanya menguap habis. Suara petugas di telepon itu mendadak berdenging kabur di telinganya, namun kata-kata seperti 'tabrakan keras', 'evakuasi korban', dan 'kondisi kritis' terus menghantam kepalanya bagai gada besi.
Paman Michael—pria sedingin es yang baru beberapa minggu lalu berdiri tegap memakai seragam kebanggaannya untuk melindunginya di ruang BK, pria yang semalam dengan telaten mengobati lututnya yang terluka—kini berada di antara puing-puing kereta yang hancur.
Ponsel di tangan Maizy gemetaran hebat, air matanya langsung merebak mengaburkan pandangan di balik kacamata barunya. Di lantai atas museum yang sepi itu, Maizy berdiri gemetar sendirian, merasakan ketakutan terdalamnya menjadi kenyataan saat satu-satunya keluarga yang dia miliki kini bertaruh nyawa di luar sana.
"Nona? Halo? Anda masih di sana? Kami sedang berusaha mengevakuasi—"
Suara petugas di telepon itu mendadak tenggelam oleh bunyi benturan keras. Ponsel di tangan Maizy terlepas, jatuh ke lantai marmer yang dingin, menyisakan suara statis yang samar. Tubuh Maizy lemas seketika. Dia merosot bertumpu pada etalase kayu tua, napasnya memburu cepat, dan air mata mulai membanjiri pipinya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat akibat syok yang teramat sangat. Paman Michael... satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini, kini berada di antara hidup dan mati.
Di tengah keputusasaan mutlak yang melanda Maizy, terdengar langkah kaki yang berat dan cepat menaiki tangga marmer.
Itu Paul.
Cowok Kanada itu rupanya tidak benar-benar pergi jauh. Rasa benci dan dendam yang membakar harga dirinya membuat Paul kembali memutar langkah, sengaja mengikuti Maizy ke lantai atas yang sepi ini. Sifatnya yang tinggi hati dan mutlak tidak mau kalah menuntut pelampiasan. Dia ingin memojokkan Maizy di tempat di mana tidak ada orang lain yang melihat, ingin mengembalikan rasa terhina yang dia rasakan beberapa minggu lalu.
"Kau pikir kau bisa mengabaikanku begitu saja setelah apa yang terjadi, Maizy?!" seru Paul lantang begitu dia menginjakkan kaki di galeri atas. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu, penuh dengan racun kemarahan yang sudah dia pendam.
Paul melangkah lebar mendekati Maizy dengan kepalan tangan erat. "Lihat aku saat aku bicara padamu! Paman masinis sialanmu itu tidak ada di sini sekarang untuk menyelamatkan—"
Kalimat Paul mendadak terhenti di tenggorokan.
Dia sudah bersiap untuk melihat wajah Maizy yang ketakutan atau menantang seperti biasanya. Namun, yang dia lihat justru pemandangan yang sama sekali tidak dia duga. Maizy sedang terduduk di lantai, memegangi dadanya yang sesak dengan air mata yang terus bercucuran, menatap kosong ke arah ponselnya yang tergeletak di lantai. Gadis itu bahkan tidak punya tenaga untuk merespons kedatangan Paul. Dia tampak hancur lebur, seolah seluruh jiwanya baru saja direnggut paksa.
Paul membeku satu langkah di depan Maizy. Sifat egoisnya sempat mendesaknya untuk terus meluapkan makian, namun melihat kondisi Maizy yang mengalami kepanikan luar biasa di saat yang sama sekali tidak tepat ini, membuat Paul mendadak kehilangan kata-kata.
Kebencian Paul yang sudah memuncak selama berminggu-minggu membuat akal sehatnya tertutup kabut. Meskipun ia melihat Maizy dalam kondisi hancur—duduk tersungkur di lantai dengan isakan yang menyayat hati—Paul tidak berhenti. Baginya, ini adalah kesempatan emas untuk membalaskan harga dirinya yang telah diinjak-injak.
"Kenapa? Kau menangis karena takut pria itu tahu kau payah?" ejek Paul dengan nada yang sangat kejam. Ia tidak tahu—dan mungkin saat itu tidak peduli—bahwa Maizy sedang menerima kabar tentang kecelakaan fatal pamannya.
Maizy, yang jiwanya sedang diliputi trauma mendalam, tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas tersengal. Sifat yang lembut kini terkubur di bawah gelombang amarah dan keputusasaan yang tidak terkendali. "Pergi... PERGI DARI SINI, PAUL!" teriak Maizy dengan suara serak yang memecah keheningan lantai museum.
"Tidak! Sebelum kau dengar betapa aku membencimu!" bentak Paul. Ia mencengkeram lengan Maizy dengan kasar, menarik gadis itu agar menatap matanya.
Pertengkaran hebat pun pecah. Bukan adu argumen yang tenang, melainkan konfrontasi fisik yang kacau. Maizy, yang biasanya sangat tidak enakan, kini melawan sekuat tenaga. Ia mendorong dada Paul, mencakar lengan cowok itu, dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang ketua Paskibra yang kini tampak seperti iblis yang kehilangan arah.
"Kau menghancurkan segalanya! Kau pikir kau siapa, hah?!" Paul mendorong bahu Maizy hingga gadis itu terhempas ke etalase kaca. Suara benturan tubuh Maizy dengan kayu etalase terdengar sangat keras.
"Aku tidak melakukan apa-apa padamu!" Maizy menjerit, air matanya kini bercampur dengan kilatan kemarahan yang luar biasa. "Paman Michael... dia satu-satunya yang kupunya! Dan sekarang... dia mungkin mati!"
Paul tertegun sejenak mendengar kata 'mati', namun rasa dendam yang sudah mendarah daging membuatnya segera menepis rasa simpati itu. "Bohong! Kau hanya mencari alasan untuk membuatku merasa bersalah! Kau licik, Maizy! Kau dan paman buruhmu itu sama saja!"
Amarah Paul yang meledak-ledak membuat ia tidak sadar bahwa ia telah memojokkan Maizy di sudut galeri. Maizy, dalam puncak emosinya, menampar wajah Paul sekuat tenaga.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh galeri. Paul tersentak, wajahnya teralih ke samping. Namun, alih-alih mereda, Paul justru mencengkeram kerah seragam Maizy dengan murka. "Berani-beraninya kau menyentuhku lagi!"
Di tengah pergumulan hebat itu, tanpa sengaja kaki mereka menghentak area etalase tempat kerangka tangan kuno yang berada di lantai atas tersebut dipamerkan. Guncangan akibat perkelahian mereka membuat replika meja pajangan yang sudah tua itu oleng.
Bukan hanya mereka yang emosinya tidak terkendali, tetapi keadaan di sekeliling mereka pun ikut bergejolak. Saat Paul hendak melayangkan dorongan sekali lagi, Maizy kehilangan keseimbangan, dan secara naluriah ia meraih tangan Paul untuk berpegangan—tepat di saat etalase kuno itu jatuh menimpa mereka berdua, menghancurkan kaca dan artefak tua di dalamnya.
Ruangan itu mendadak diliputi cahaya putih yang aneh dan menyilaukan, seolah-olah perkelahian mereka telah membangkitkan sesuatu yang selama ini terkunci di balik puing-puing sejarah tersebut.