Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bisa membeli cinta
Aroma kopi hitam yang pekat berpadu dengan wanginya roti panggang mentega yang baru saja matang. Di rumah mewah ini, keteraturan selalu terjaga berkat perintah mutlak dari sang nyonya rumah.
Salsa berdiri di dekat meja, mengenakan gaun rumah berbahan sutra tipis sewarna salem yang pas memeluk tubuhnya. Rambutnya jepit ke atas dengan santai namun tetap terlihat modis.
Dengan jemarinya yang lentik, ia baru saja meletakkan segelas jus jeruk segar di samping piring porselen kosong yang dipersiapkan khusus untuk suaminya.
Meskipun hubungan mereka membeku, Salsa tetap konsisten menyiapkan sarapan Arkan siap tepat waktu, tidak peduli apakah pria itu akan menyentuhnya atau tidak. Yah meski Salsa tidak pernah membuatnya sendiri.
Langkah kaki yang berat terdengar menuruni anak tangga, memecah kesunyian rumah. Arkan melangkah masuk ke ruang makan.
Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerja berwarna biru dongker, lengkap dengan dasi yang terpasang sempurna, tanpa bantuan Salsa, tentu saja. Wajahnya sedatar dinding beton, dan tatapan matanya sedingin es yang membeku di kutub.
Salsa membalikkan tubuhnya, bersiap menarik kursi untuk menyambut suaminya dengan binar mata cantiknya yang biasa ia pasang sebagai kamuflase. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat lolos dari bibir Salsa, sebuah gerakan kasar memutus seluruh gerakannya.
Tak.....
Sebuah kartu bank dilemparkan dengan kasar oleh Arkan, meluncur di atas permukaan meja marmer sebelum akhirnya berhenti tepat di samping gelas jus jeruk.
Salsa terhenyak. Tubuhnya menegang sesaat, dan matanya melebar menatap benda persegi panjang dari plastik tebal itu. Rasa syok dan bingung seketika melintas di wajah cantiknya. Ia mendongak, menatap Arkan dengan kening berkerut dalam.
"Apa maksud kamu Mas?"
Tanya Salsa, nadanya terdengar heran sekaligus tersinggung karena cara suaminya memberikan benda itu terkesan begitu merendahkan.
Arkan menarik kursi di seberang Salsa, namun ia tidak berniat untuk duduk. Ia hanya berdiri bersandar pada sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Salsa dengan senyum sinis yang mengembang di sudut bibirnya.
Tatapannya penuh dengan kejijikan yang tidak lagi disembunyikan.
"Itu nafkah lahir yang kamu tuntut Salsa" Jawab Arkan, suaranya terdengar sangat tenang namun setiap katanya sarat akan racun sindiran.
"Bukannya itu yang kamu tangisi dan kamu adukan pada ibuku di depan ratusan pasang mata saat pesta ulang tahun perusahaan papamu tempo hari yang lalu? Kamu bilang di depan semua orang kalau aku tidak memberimu nafkah lahir dan batin, kan?"
Arkan mendengus pelan, menunjuk kartu hitam itu dengan dagunya.
"Di dalam kartu itu ada uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu sebulan. Ambil itu. Aku tidak mau mendengarmu mengadu lagi seperti anak kecil yang kehilangan mainannya kepada ibuku, atau bahkan kepada papamu yang terhormat itu"
Mendengar penjelasan Arkan, rasa syok di wajah Salsa perlahan memudar, berganti dengan senyuman angkuh yang kaku. Sifat sombong dan manjanya yang setinggi langit seketika terusik.
Ia menatap kartu bank itu dengan pandangan meremehkan, seolah benda itu tidak ada harganya sama sekali di matanya. Sebagai putri tunggal dari seorang Brahmantyo, uang adalah hal terakhir yang ia butuhkan di dunia ini.
Salsa terkekeh pelan, sebuah tawa anggun namun penuh nada pamer yang kental. Ia melangkah mendekati meja, lalu menyentuh ujung kartu itu dengan kuku merah darahnya yang dihias cantik.
"Uangku masih sangat banyak Mas. Dan aku sangat yakin, nominal di dalam kartu ini bahkan tidak ada seujung kuku dari total uang yang ada di dalam rekening pribadiku" Ucap Salsa dengan nada sombong yang menguar kuat dari setiap kalimatnya. Ia mendongak, menantang tatapan mata suaminya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Tapi..." Salsa menjeda kalimatnya, jemarinya membalikkan kartu hitam itu dengan santai lalu menyelipkannya ke dalam saku gaun sutranya.
"...aku tidak keberatan untuk menerima berapapun nominal yang kamu berikan di sini. Bagaimanapun, ini adalah uang dari suamiku. Ini sudah menjadi kewajiban mutlakmu sebagai seorang pria untuk menafkahiku setelah kamu mengambilku dari Papa. Jadi, terima kasih atas nafkah lahirnya Mas"
Melihat bagaimana Salsa dengan begitu tenangnya menerima kartu itu sambil tetap memamerkan kekayaannya, rahang Arkan mengetat dengan keras.
Kilat kemarahan kembali menyala di sepasang mata tajamnya. Keangkuhan Salsa selalu berhasil memicu monster di dalam dadanya untuk berontak.
"Baguslah kalau kamu sadar akan hakmu" Desis Arkan, melangkah satu tindakan lebih dekat ke arah meja, mengikis jarak di antara mereka hingga atmosfer di ruang makan itu terasa semakin mencekam dan menyesakkan.
"Sekarang katakan padaku, Salsa. Apa lagi yang kamu tuntut dari diriku? Tolong sebutkan semuanya sekarang juga" Tuntut Arkan dengan nada suara yang bergetar menahan luapan emosi.
"Katakan apa saja yang ingin kamu tagih dariku, agar aku bisa bersiap-siap sebelum kamu memutuskan untuk menggelar aksi teatrikal mengadu lagi di hadapan ibuku, atau mungkin langsung di depan papamu yang berkuasa itu. Aku ingin tahu seberapa jauh kelicikanmu bisa berjalan"
Arkan mencibir, menatap wajah cantik Salsa dengan gelengan kepala yang penuh dengan rasa tidak percaya.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada wanita sepertimu. Wanita yang begitu licik, serakah, dan menghalalkan segala cara untuk menjerat pria yang bahkan tidak sudi melihat wajahnya. Kamu menggunakan kekuasaan orang tuamu untuk mengemis perhatian. Kamu benar-benar tidak punya harga diri Salsa!"
Deg...
Kalimat tidak punya harga diri yang keluar dari mulut Arkan terasa seperti hantaman gada besi yang telak menghujam ulu hati Salsa. Dada Salsa seketika terasa sangat sesak, napasnya memburu tersengal-sengal menahan rasa sakit hati yang teramat sangat. Pria yang dipujanya, pria yang seluruh jiwanya telah ia serahkan, baru saja menelanjanginya sebagai wanita tanpa harga diri di rumahnya sendiri.
Namun, binar di sepasang mata indah Salsa tidak meredup. Alih-alih menangis atau berteriak histeris, kilatan obsesi yang gelap justru terpancar semakin kuat dari manik matanya. Topeng kamuflasenya runtuh, menampilkan sosok Salsa yang sebenarnya seorang wanita yang telah dirasuki oleh ego dan cinta yang buta.
Salsa melangkah memutari meja makan, mendekati Arkan hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata suaminya yang menyalang marah.
"Aku tidak butuh apa-apa lagi, Mas! Aku tidak butuh uangmu, aku tidak butuh kekuasaan, aku juga tidak butuh kemewahan dari keluargamu!" Seru Salsa, suaranya bergetar hebat oleh emosi yang meluap-luap dari dalam dadanya.
Ia mengangkat kedua tangannya, hendak menyentuh dada bidang Arkan, namun ingatan akan kekerasan fisik tempo hari membuatnya menahan diri di udara.
"Aku sudah mendapatkan segalanya sejak aku lahir ke dunia ini! Semua barang mewah, semua fasilitas, papaku bisa membelinya dalam kedipan mata! Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh uang papaku, Mas... dan hal itu adalah cintamu!"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Salsa untuk pertama kalinya, namun ia menolak keras untuk membiarkannya luruh di depan Arkan. Salsa menolak menjadi lemah di depan Arkan.
"Aku melakukan semua ini, aku mengadu pada ibumu, aku memaksa pernikahan ini terjadi, karena aku hanya mencintai kamu Mas! Hanya kamu!" Tekan Salsa dengan suara yang serak, menumpahkan seluruh ego dan keputusasaan yang selama beberapa hari ini ia pendam di bawah satu atap yang dingin.
"Cintaku padamu begitu besar sampai aku tidak peduli jika harus menjadi wanita paling jahat dan paling licik di mata dunia, asalkan aku bisa memilikimu! Aku hanya butuh cintamu, Mas! Apa itu salah?!"
Ruang makan itu seketika jatuh ke dalam keheningan yang memekakkan telinga setelah Salsa meneriakkan isi hatinya. Napas wanita itu naik turun dengan cepat, menanti setitik kelembutan atau celah di wajah suaminya.
Namun, harapan Salsa hanyalah sebuah fatamorgana di tengah padang pasir yang gersang.
Wajah Arkan tidak melunak sedikit pun setelah mendengar pengakuan cinta yang menggebu-gebu dari istrinya. Alih-alih tersentuh, ekspresi wajah Arkan justru semakin mengeras, memancarkan ketetapan hati yang sedingin batu karang di dasar lautan.
"Ya, itu salah. Dan itu menjijikkan Salsa!" Jawab Arkan, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan tanpa ampun. Ia menatap mata sembab Salsa dengan pandangan yang mati, seolah ia sedang berbicara dengan dinding kosong.
Arkan merapikan kerah kemeja kerjanya, bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menyentuh setetes pun jus jeruk atau roti panggang yang telah disiapkan untuknya. Sebelum ia melangkah melewati Salsa, ia berhenti sejenak dan membisikkan kalimat penegas yang sekali lagi menghancurkan fondasi impian Salsa.
"Dengar ini baik-baik, dan simpan di dalam otak sombongmu itu, Salsa Brahmantyo. Sampai bumi ini berhenti berputar, sampai hembusan napas terakhirku, aku tidak akan pernah, dan tidak akan sudi untuk mencintai wanita sepertimu. Di mataku, kamu tetaplah sebuah benalu yang merusak hidupku. Hatiku hanya milik Nabila, selamanya"
Tanpa menunggu balasan lagi, Arkan melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan, membiarkan bunyi dentuman pintu depan yang tertutup keras menjadi akhir dari konfrontasi pagi itu.
Salsa berdiri mematung di tengah ruangan yang sunyi. Tangannya meraba saku gaun sutranya, menggenggam erat selembar kartu bank hitam yang baru saja diberikan oleh suaminya. Rahangnya mengatup rapat, dan sepasang matanya menatap lurus ke arah koridor yang kosong dengan kilatan dendam yang semakin menggelap.
Arkan baru saja menegaskan penolakannya, namun bagi Salsa, penolakan itu justru menjadi bahan bakar baru bagi obsesinya yang kian tidak terkendali.
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..