NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Gala Dinner

Jika ada satu hal yang mulai membuat Almira Valencia Pradipta meragukan kewarasannya selama tiga hari terakhir, maka hal itu adalah frekuensi kemunculan Reynard Arsenio Mahardika dalam hidupnya.

Terlalu sering.

Sangat terlalu sering.

Bahkan untuk ukuran kebetulan.

Malam itu, Almira berdiri di depan cermin kamar hotel sambil merapikan gaun hitam elegan yang dipilihnya untuk menghadiri gala dinner penutupan Indonesia Future Business Summit.

Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai acara seperti ini.

Acara bisnis di siang hari masih bisa diterima.

Ada diskusi.

Ada presentasi.

Ada tujuan yang jelas.

Namun gala dinner?

Sebagian besar hanya berisi orang-orang yang saling tersenyum, bertukar kartu nama, lalu berpura-pura menikmati percakapan yang sebenarnya tidak terlalu menarik.

Meski begitu, sebagai perwakilan perusahaan keluarganya, ia tetap harus hadir.

Almira mengambil kartu tempat duduk yang diberikan panitia siang tadi.

Dan seperti yang sudah dilakukannya berkali-kali sejak sore, ia kembali membaca nama yang tertera di sana.

Meja 12.

Kursi 5.

Di sebelahnya:

Reynard Arsenio Mahardika.

Almira menghela napas panjang.

"Aku mulai percaya ada konspirasi."

Di waktu yang hampir sama, Reynard juga sedang berdiri di depan jendela kamar hotelnya.

Tangannya memegang kartu tempat duduk yang sama.

Dan nama yang sama.

Ia sudah mencoba menjelaskan semua ini dengan logika.

Mungkin jumlah peserta terbatas.

Mungkin bidang bisnis mereka serupa.

Mungkin panitia hanya mengelompokkan peserta berdasarkan kategori tertentu.

Namun semakin ia memikirkannya, semakin sulit menemukan penjelasan yang masuk akal.

Karena selama tiga hari terakhir mereka hampir selalu berada di tempat yang sama.

Dan Reynard tidak menyukai sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Grand Ballroom Hotel Aurora malam itu terlihat jauh lebih megah dibanding hari-hari sebelumnya.

Lampu kristal besar menggantung dari langit-langit.

Musik orkestra dimainkan secara langsung.

Pelayan berlalu-lalang membawa minuman dan makanan.

Ratusan tamu memenuhi ruangan.

Para pengusaha senior.

Investor.

Direktur perusahaan.

Pejabat.

Dan para peserta muda yang dianggap sebagai generasi penerus dunia bisnis.

Ketika Almira tiba di Meja 12, beberapa kursi sudah terisi.

Termasuk kursi yang paling ingin ia hindari.

Reynard sudah duduk di sana.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat jauh lebih formal dibanding biasanya.

Saat melihat Almira mendekat, ia hanya menganggukkan kepala.

Almira membalas dengan anggukan tipis.

Lalu duduk di kursinya.

Tepat di sebelah Reynard.

Tentu saja.

Awalnya tidak ada yang berbicara.

Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.

Suara musik memenuhi ruangan.

Orang-orang mulai mengobrol.

Pelayan menuangkan minuman.

Namun di antara mereka berdua hanya ada keheningan.

Sampai akhirnya Reynard membuka suara.

"Kita harus berhenti bertemu seperti ini."

Almira langsung menoleh.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada orang yang benar-benar memahami perasaannya.

"Aku setuju."

Reynard mengangkat alis.

"Langka."

"Sangat langka."

"Aku mulai merasa seseorang sedang bercanda."

"Aku mulai merasa seseorang sedang merencanakan sesuatu."

Keduanya terdiam.

Lalu saling menatap.

Untuk pertama kalinya, mereka memiliki teori yang sama.

Dan itu cukup menyeramkan.

Makan malam dimulai.

Satu per satu hidangan disajikan.

Suasana perlahan menjadi lebih santai.

Tak ada lagi tekanan seperti saat sesi presentasi atau diskusi kelompok.

Dan mungkin karena itulah, percakapan mereka mulai berubah.

Tidak lagi tentang parkiran.

Tidak lagi tentang debat.

Tidak lagi tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Melainkan tentang hal-hal yang lebih normal.

"Kamu kuliah di London, kan?" tanya Reynard.

Almira sedikit terkejut.

"Bagaimana kamu tahu?"

"Salah satu pembicara menyebutnya kemarin."

"Oh."

Reynard mengangguk.

"Bagaimana rasanya?"

Almira berpikir sejenak.

"Sepi."

Jawaban itu membuat Reynard menoleh.

"Sepi?"

"Banyak orang mengira hidup di luar negeri selalu menyenangkan."

"Dan ternyata tidak?"

"Tidak selalu."

Almira memainkan garpunya.

"Aku sendirian hampir sepanjang waktu."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suaranya terdengar lebih lembut.

Lebih jujur.

Tanpa sengaja, Reynard memahami perasaan itu.

Karena ia pernah mengalaminya.

"Aku kuliah di New York."

Kini giliran Almira yang menoleh.

"Serius?"

Reynard mengangguk.

"Dan aku juga merasa hal yang sama."

Almira tampak sedikit terkejut.

Untuk pertama kalinya, mereka menemukan sesuatu yang sama.

Percakapan terus berlanjut.

Perlahan.

Natural.

Mereka membahas kehidupan sebagai pewaris perusahaan keluarga.

Tentang tekanan yang tidak pernah dilihat orang lain.

Tentang ekspektasi yang selalu ada.

Tentang bagaimana semua orang menganggap hidup mereka mudah hanya karena terlahir kaya.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

"Banyak orang berpikir aku mendapatkan semuanya dengan mudah," kata Almira.

"Bukankah memang begitu?" tanya Reynard.

Almira langsung menatap tajam.

Reynard tertawa kecil.

"Aku bercanda."

"Itu tidak lucu."

"Itu sedikit lucu."

Almira memutar mata.

Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.

Di meja yang sama, beberapa peserta lain mulai memperhatikan mereka.

Karena ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya ketika Almira dan Reynard berada dalam satu ruangan, hasilnya adalah pertengkaran.

Namun malam ini?

Mereka terlihat sedang mengobrol.

Normal.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang saling menyindir berlebihan.

Bahkan sesekali mereka terlihat tertawa.

Pemandangan itu cukup mengejutkan.

Masalah dimulai sekitar satu jam kemudian.

Seorang fotografer resmi acara menghampiri meja mereka.

"Permisi."

Semua peserta menoleh.

"Kami sedang mengumpulkan dokumentasi peserta muda."

Beberapa orang langsung berdiri.

Termasuk Almira dan Reynard.

Mereka diarahkan menuju area foto.

Puluhan peserta muda sudah berkumpul di sana.

Awalnya semuanya berjalan normal.

Sampai fotografer mulai mengatur posisi.

"Yang lebih tinggi di belakang."

"Yang lebih pendek di depan."

"Kalian berdua ke tengah."

Almira dan Reynard langsung menoleh bersamaan.

"Kami?"

"Iya."

Sebelum sempat menolak, mereka sudah dipindahkan ke posisi tengah.

Berdampingan.

Sangat berdampingan.

"Sedikit lebih dekat."

"Kiri sedikit."

"Bagus."

Klik.

Klik.

Klik.

Beberapa foto diambil.

Dan hasilnya...

Terlihat sangat buruk.

Bukan buruk secara kualitas.

Justru terlalu bagus.

Karena dari sudut tertentu, mereka tampak seperti pasangan yang sedang menghadiri acara formal bersama.

Bencana berikutnya datang hanya beberapa menit kemudian.

Seorang pengusaha senior yang mengenal keluarga mereka menghampiri.

Pria itu tersenyum lebar.

"Wah."

Almira langsung curiga.

"Wah apa?"

"Kalian terlihat serasi."

Reynard menutup mata.

Tidak lagi.

Tolong.

Namun pria itu melanjutkan tanpa ampun.

"Kapan tunangannya?"

Almira yang sedang minum langsung tersedak.

Batuk keras.

Reynard hampir menjatuhkan gelasnya.

"Kami tidak—"

"Itu bukan—"

Pria itu tertawa.

"Kalian bahkan saling melengkapi saat menyangkal."

Lalu ia pergi.

Meninggalkan dua orang yang kini mempertanyakan keputusan hadir di acara ini.

Jika mereka mengira malam tidak bisa menjadi lebih buruk, mereka salah.

Sangat salah.

Sekitar pukul sembilan malam, ketika acara sedang berlangsung dengan tenang, tiba-tiba seluruh ballroom gelap.

Lampu padam.

Musik berhenti.

Beberapa tamu langsung berseru kaget.

Suasana menjadi kacau selama beberapa detik.

Dalam kegelapan itu, seseorang bergerak terlalu cepat.

Menabrak kursi.

Lalu menabrak Almira.

"Ah!"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Sepatu hak tinggi yang dikenakannya membuat keadaan semakin buruk.

Ia yakin akan jatuh.

Namun sebelum itu terjadi, sebuah tangan meraih lengannya.

Kuat.

Cepat.

Refleks.

Lalu tangan lain menahan pinggangnya.

Semua terjadi begitu cepat.

Beberapa detik kemudian lampu kembali menyala.

Dan seluruh ballroom dapat melihat pemandangan yang sangat disayangkan.

Almira berada dalam pelukan Reynard.

Keheningan menyelimuti area sekitar mereka.

Almira membeku.

Reynard juga.

Mereka sama-sama menyadari posisi tersebut.

Dan yang lebih mengerikan...

Mereka juga menyadari bahwa banyak orang melihat.

Sangat banyak orang.

"Uh..."

Reynard segera melepaskan pegangannya.

Almira mundur beberapa langkah.

Wajah keduanya terlihat canggung.

"Terima kasih," kata Almira cepat.

"Sama-sama."

Hening.

Lalu terdengar suara seseorang dari belakang.

"Aku bilang juga apa."

Temannya mengangguk.

"Mereka pasti dekat."

Almira menutup mata.

Ia ingin menghilang.

Saat itu juga.

Sepuluh menit berikutnya terasa seperti mimpi buruk.

Gosip menyebar ke seluruh ballroom.

Orang-orang mulai berbisik.

Melirik.

Tersenyum penuh arti.

Semakin mereka mencoba menjelaskan, semakin tidak ada yang percaya.

"Kami hanya kebetulan."

"Tentu."

"Tidak, serius."

"Tentu saja."

Pada akhirnya mereka menyerah.

Karena melawan gosip ternyata jauh lebih sulit daripada memenangkan debat bisnis.

Menjelang akhir acara, suasana mulai tenang kembali.

Sebagian tamu sudah pulang.

Sebagian masih berbincang santai.

Almira dan Reynard kembali duduk di meja mereka.

Sama-sama lelah.

Sama-sama pasrah.

Lalu seorang pebisnis senior menghampiri.

Pria itu tersenyum hangat.

"Kalian tahu sesuatu?"

"Apa?" tanya Almira.

"Kalian sebenarnya cocok."

Biasanya...

Kalimat itu akan langsung disambut bantahan.

Namun malam ini berbeda.

Mereka terlalu lelah.

Terlalu bosan.

Terlalu capek menjelaskan hal yang sama berulang kali.

Akibatnya...

Tak satu pun berbicara.

Dan keheningan itu justru membuat pria tua tersebut tersenyum semakin lebar.

"Nah."

Ia mengangguk puas.

"Aku tahu."

Lalu pergi.

Ketika acara akhirnya berakhir, Almira berjalan menuju area parkir sambil menghela napas panjang.

Ia sudah tidak sabar pulang.

Mandi.

Tidur.

Dan melupakan semua kejadian memalukan malam ini.

Namun saat membuka pintu mobil, ponselnya berbunyi.

Sebuah notifikasi masuk dari panitia.

Ia membuka pesan itu.

Lalu membaca daftar peserta.

Nama pertama:

Almira Valencia Pradipta.

Normal.

Nama kedua:

Reynard Arsenio Mahardika.

Almira membeku.

Beberapa detik kemudian ia mengangkat kepala menatap langit malam.

"Siapa pun yang mengatur ini..."

Ia menghela napas panjang.

"...aku mulai membencimu."

Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Reynard menerima notifikasi yang sama.

Dan reaksinya hampir identik.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka berdua mulai yakin akan satu hal.

Ini bukan kebetulan.

Seseorang sedang memainkan permainan besar di belakang layar.

Dan tanpa mereka sadari, empat orang tua yang tergabung dalam grup rahasia Proyek Masa Depan sedang tersenyum puas melihat tahap berikutnya berjalan sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!