Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tidak Ada Alasan
Tatapannya terpaku pada layar ponsel yang diangkat Kirana, sementara pikirannya bekerja keras mencari alasan yang bisa menyelamatkan keadaan. Sayangnya, semakin lama ia melihat foto itu, semakin sadar bahwa semuanya sudah terlambat.
"Kirana..." suara Rendra terdengar serak.
"Kali ini alasan apa yang akan kamu pakai?" tanya Kirana.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Rendra kehilangan warna di wajahnya.
Kalimat itu keluar begitu saja, kalimat yang bahkan terdengar bodoh di telinganya sendiri.
"Aku sudah melihat fotonya." Kirana tersenyum tipis.
"Aku bisa menjelaskan."
"Silakan."
Rendra membuka mulut lalu menutupnya kembali karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan apa.
Foto kedua itu jauh lebih jelas daripada foto pertama, tidak ada pantulan cermin, tidak ada sudut yang membingungkan. Di dalam foto itu, Rendra dan Selina sedang duduk berdekatan di sofa, tangan wanita itu melingkar di lengan Rendra sementara keduanya terlihat tersenyum ke arah kamera. Foto yang terlalu intim untuk disebut hubungan kerja, foto yang terlalu jelas untuk dibantah.
"Kamu sengaja menyimpannya?" tanya Kirana.
"Apa?" Rendra mengusap wajahnya kasar.
"Hubungan kalian." jawab Kirana.
"Kirana, dengarkan aku dulu." Rendra berusaha ingin menjelaskan, walaupun sebenarnya itu bohong.
"Aku sedang mendengarkan."
"Kami tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Lalu seperti apa?"
Rendra kembali terdiam dan lagi-lagi keheningan itu menjadi jawaban.
.
Malam semakin larut, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berniat pergi. Area parkir gedung sudah hampir kosong hanya beberapa kendaraan yang masih tersisa, ditemani lampu jalan yang menyinari suasana dingin malam itu.
"Kamu mencintainya?" tanya Kirana.
"Aku..." Rendra langsung mengangkat kepala.
"Jawab." Nada suara Kirana tetap datar.
Tetap tenang dan justru itu yang membuat Rendra semakin sulit bernapas.
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu akhirnya keluar dan sesuatu di dalam diri Kirana seolah runtuh saat itu juga. Selama ini ia masih berusaha percaya, berusaha berpikir bahwa semua ini hanya kesalahpahaman, berusaha meyakinkan dirinya bahwa rumah tangga mereka hanya sedang melewati masa sulit amun malam ini semua pembelaan yang selama ini ia bangun perlahan hancur karena seorang pria yang tidak bersalah tidak akan menjawab seperti itu.
"Kirana."
"Aku lelah."
Kalimat itu keluar pelan, sangat pelan namun cukup membuat Rendra membeku.
"Aku benar-benar lelah."
"Kirana, aku bisa memperbaikinya."
"Tidak."
"Aku bisa."
"Tidak semua hal bisa diperbaiki."
"Kita sudah bersama bertahun-tahun." Rendra langsung meraih pergelangan tangan istrinya.
Kirana menunduk menatap tangan yang menggenggamnya, dulu sentuhan itu membuatnya merasa aman tapi sekarang tidak lagi.
"Tolong lepaskan."
"Kirana."
"Tolong."
Rendra perlahan melepaskannya.
.
Tidak jauh dari sana, sebuah mobil hitam masih terparkir di pinggir jalan. Di dalamnya, Gavin menatap ke arah gedung sambil memakan keripik.
"Bos."
"Hm?"
"Mereka masih di sana."
Aiden tidak menjawab, matanya tetap tertuju pada area parkir. Ia sebenarnya sudah berniat pulang sejak satu jam lalu, namun setelah melihat Kirana dan Rendra berbicara entah kenapa ia tidak bisa pergi begitu saja.
"Saya merasa seperti penguntit." Gavin memasukkan keripik ke mulutnya.
"Kamu memang penguntit."
"Bukan saya yang menyuruh berhenti di sini."
Aiden melirik sahabatnya.
"Oke. Saya diam." Gavin langsung mengangkat kedua tangan.
.
Di area parkir, Kirana akhirnya mengambil satu langkah mundur.
"Aku mau pulang."
"Kirana."
"Aku tidak ingin bicara lagi malam ini."
"Kapan?"
"Aku tidak tahu."
Rendra mengusap wajahnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia melihat tatapan asing di mata istrinya. Bukan marah, bukan benci, justru sesuatu yang lebih menakutkan, yaitu kecewa.
"Kamu masih mencintaiku?" tanya Rendra tiba-tiba.
Kirana terdiam, pertanyaan itu terasa ironis karena pria yang mengkhianatinya justru menanyakan hal tersebut.
"Aku tidak tahu."
Kini giliran Rendra yang merasakan sakit dari jawaban itu, karena itu adalah jawaban yang sama yang tadi ia berikan dan sekarang ia tahu rasanya.
Kirana akhirnya berbalik dan berjalan menuju mobilnya, langkahnya tetap tenang seperti biasa namun setiap langkah terasa lebih berat dari yang pernah ia bayangkan.
Saat pintu mobil terbuka, ponselnya kembali bergetar. Pesan baru dari Selina, Kirana menghela napas pelan sebelum membukanya namun kali ini bukan foto. Melainkan sebuah kalimat,
Maaf. Aku tidak tahu kalau dia sudah menikah.
Kirana membaca pesan itu dua kali lalu tiga kali dan entah kenapa, kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak karena jika Selina baru tahu belakangan... berarti hubungan itu sudah berlangsung cukup lama.
.
.
.
Di apartemennya malam itu, Kirana duduk sendirian di ruang tamu. Lampu hanya menyala sebagian, membuat rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Jam dinding terus berdetak tanpa henti, seolah mengingatkannya bahwa hidup tetap berjalan meskipun dunianya baru saja berubah.
Ponselnya kembali bergetar, kali ini dari Dita.
"Gimana?" tanya Dita begitu panggilan tersambung.
"Benar."
Hanya satu kata, namun Dita langsung memahami semuanya.
"Ya ampun."
"Iya."
"Kamu menangis?"
"Tidak."
"Kirana."
"Aku tidak menangis."
Dan itu memang benar dan anehnya, Kirana tidak menangis. Ia hanya merasa kosong.
.
.
.
Sementara itu, di apartemen Aiden suasananya jauh berbeda.
"Bos."
"Hm?"
"Kalau terus melihat ponsel seperti itu, baterainya bisa takut."
"Apa?" Aiden menatap Gavin.
"Sejak tadi Bos melihat layar setiap dua menit."
"Aku sedang bekerja."
"Tengah malam?"
"Iya." Gavin mengangguk pelan.
"Lalu kenapa yang dibuka chat Kirana?" Aiden langsung meletakkan ponselnya.
"Saya tahu Bos khawatir." Gavin menyandarkan tubuh ke sofa. "Tapi jangan kirim pesan."
"Kenapa?"
"Karena sekarang dia sedang rapuh."
Aiden terdiam untuk pertama kalinya malam itu, Gavin tidak bercanda.
"Kalau Bos mendekat sekarang, Bos akan terlihat seperti sedang memanfaatkan keadaan."
Kalimat itu membuat Aiden memejamkan mata karena jauh di dalam hati, itulah yang paling ingin ia hindari.
.
.
.
Keesokan paginya, Kirana datang ke kantor seperti biasa. Rambutnya tersisir rapi, pakaiannya sempurna, wajahnya tenang, tidak ada yang terlihat berbeda, namun saat pintu lift terbuka dan ia melangkah keluar seluruh area kantor mendadak terasa sunyi. Beberapa pasang mata langsung menoleh ke arahnya dan di dekat meja resepsionis seorang wanita cantik sedang berdiri sambil menggenggam tas mahal di tangannya.
Wanita itu menatap Kirana, Kirana menatap balik lalu perlahan mengenali wajah yang pernah ia lihat di foto dan dari ekspresinya... wanita itu datang bukan untuk meminta maaf lewat pesan lagi.