NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Misi Pertama dan Lapangan SMP

BAB 2: Misi Pertama dan Lapangan SMP

"Velix! Kamu dengar Ibu tidak, sih? Malah bengong di depan cermin!"

Suara gedoran pintu kamar membuyarkan fokus Velix. Layar hologram biru di depannya perlahan memudar, menjadi transparan dan melayang di sudut pandang bawah matanya seperti tampilan Head-Up Display (HUD) dalam permainan video.

"Iya, Bu! Ini Velix sudah bangun, mau langsung mandi!" jawab Velix setengah berteriak. Ketenangan seorang pria dewasa membuatnya mampu mengontrol keterkejutan dalam suaranya dengan sangat baik.

Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan paru-parunya yang berusia 14 tahun begitu bersih tanpa polusi rokok atau beban stres kantor. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya ketika mendengar suara ibunya lagi—suara yang di tahun 2026 sudah jarang dia dengar karena kesibukan kerja yang gila di Jakarta.

Setelah mandi secepat kilat dan mengenakan seragam putih-biru, Velix berjalan ke meja makan. Di sana sudah ada sepiring nasi goreng rumahan sederhana. Ibunya sedang sibuk merapikan dapur.

"Makan yang banyak. Hari ini katanya ada ujian praktik sepak bola, 'kan? Jangan sampai kamu pingsan lagi di lapangan seperti waktu kelas dua dulu," ujar ibunya tanpa menoleh.

Velix tersenyum hangat. Memori masa lalunya berputar. Benar, di lini masa aslinya, Velix remaja adalah anak yang lemah dalam olahraga. Dia tidak punya bakat, staminanya payah, dan sering menjadi bahan tertawaan saat pelajaran olahraga.

"Iya, Bu. Velix habiskan," jawabnya tenang, lalu menyendok nasi goreng itu dengan lahap.

Sembari makan, Velix memfokuskan pikirannya pada layar Sistem yang tersembunyi.

'Sistem, buka panel statusku,' perintah Velix dalam hati.

Ting!

Sebuah lembar status transparan muncul di hadapannya:

[STATUS TUAN RUMAH]

Nama: Velix Purnama (Usia: 14 Tahun)

Posisi Kemampuan: Amatir (Tanpa Bakat)

Fisik:

- Kecepatan (Speed): 45 / 100

- Stamina: 40 / 100

- Kekuatan (Strength): 38 / 100

Teknik:

- Kontrol Bola (Ball Control): 35 / 100

- Operan (Passing): 42 / 100

- Tembakan (Shooting): 30 / 100

[System Points (SP): 0]

Velix hampir tersedak melihat angka-angka itu. 'Astaga, pantas saja dulu aku ampas sekali di lapangan. Rata-rata di bawah 50. Tapi tidak apa-apa, ini justru membuat progresnya jadi menantang.'

Pukul 07.15 WIB, Velix sudah berada di lapangan sekolah SMP-nya. Bau rumput basah berbaur dengan debu tanah kering khas lapangan sekolah negeri di Jakarta langsung menyambut indra penciumannya.

"Hei, Velix! Melamun saja! Cepat ganti baju, Pak Joko sudah datang itu!" panggil sebuah suara.

Itu adalah Ryan, teman sebangkunya yang bertubuh agak gempal. Velix menatap Ryan dengan pandangan hangat. Di masa depan, Ryan adalah salah satu dari sedikit teman sekolah yang masih sering bertukar kabar dengannya lewat WhatsApp.

"Ah, iya Yan. Ayo," jawab Velix santai. Ketenangannya membuat Ryan agak heran, karena biasanya Velix selalu mengeluh dan cemas setiap kali pelajaran olahraga tiba.

Di pinggir lapangan, Pak Joko, guru olahraga berkumis tebal dengan peluit menggantung di leher, menepuk-nepuk bola sepak yang agak kempis.

"Hari ini materi kita adalah teknik dasar dribbling dan juggling. Bapak akan ambil nilai satu per satu. Yang tidak bisa melakukan juggling minimal lima kali tanpa jatuh, nilainya di bawah KKM!" seru Pak Joko tegas.

Anak-anak lelaki di kelas langsung mengeluh, kecuali beberapa anak yang memang ikut sekolah sepak bola (SSB) lokal. Salah satunya adalah Danu, kapten tim sepak bola sekolah yang bertubuh tinggi tegap. Danu menatap anak-anak lain dengan pandangan meremehkan, terutama ke arah Velix.

[Misi Sampingan Terdeteksi!]

[Tantangan Praktik Olahraga: Lakukan juggling minimal 15 kali di depan guru dan teman kelas.]

[Hadiah: 5 System Points (SP), +0.5 Kontrol Bola.]

[Penalti Gagal: Pengurangan Stamina -2 selama 24 jam.]

Mata Velix berbinar melihat notifikasi tiba-tiba dari Sistem. Sikap serius dan fokusnya langsung bangkit seketika. Ini bukan lagi sekadar ujian sekolah, ini adalah langkah pertamanya untuk mengumpulkan poin demi membeli skill impian.

Satu per satu siswa dipanggil. Ketika giliran Danu maju, dia dengan pamer melakukan gerakan juggling hingga 25 kali, memutar bola di atas kepala, lalu menghentikannya dengan dada. Riuh tepuk tangan terdengar dari anak-anak perempuan di pinggir lapangan. Danu berjalan kembali ke barisan dengan dada membusung.

"Selanjutnya... Velix Purnama!" panggil Pak Joko.

Bisik-bisik langsung terdengar di antara teman-temannya.

"Wah, si Velix maju. Paling baru tiga kali bolanya sudah menggelinding ke got."

"Jangan kencang-kencang, nanti dia nangis."

Velix mengabaikan semua cibiran itu. Langkah kakinya seringan angin, pandangannya lurus ke depan, tenang dan sedingin es. Kedewasaan mentalnya membuat omongan anak-anak berumur 14 tahun sama sekali tidak memiliki bobot di telinganya.

Dia mengambil bola dari tanah. Permukaan bola plastik berlapis kulit sintetis itu terasa agak kasar di tangannya. Velix menarik napas dalam-dalam, mengunci fokusnya 100% pada benda bulat tersebut.

'Sistem, bantu aku mengalkulasi gravitasi dan pantulan dasar bola,' pinta Velix.

[Sistem diaktifkan. Mode Bantuan Pemula: Menampilkan titik jatuh bola optimal secara visual.]

Di pandangan Velix, muncul sebuah titik lingkaran hijau kecil di permukaan sepatunya, menandakan posisi paling pas untuk mengenai bola.

Velix menjatuhkan bola.

Plak. Sentuhan pertama dengan kaki kanan. Bola memantul lurus setinggi dada.

Plak. Sentuhan kedua dengan kaki kiri.

Pak Joko yang awalnya sibuk mencatat di papan dada langsung mendongak. Matanya menyipit. Gerakan Velix tidak kaku seperti biasanya. Meskipun fisiknya masih kurus, posisi berdiri dan keseimbangan tubuhnya tampak sangat kokoh.

Plak. Plak. Plak.

"Enam... tujuh... delapan..." Ryan mulai menghitung dengan suara berbisik, matanya melotot tidak percaya.

Velix terus fokus. Setiap kali kakinya mengenai bola, dia merasakan sensasi aneh yang hangat mengalir dari saku celananya (tempat roh batu pipih itu berada) menuju otot kakinya, membuat sentuhannya menjadi sedikit lebih lembut dari ingatan masa lalunya.

"Tiga belas... empat belas... lima belas!"

Velix sengaja menghentikan bola dengan telapak kakinya tepat di hitungan ke-15. Dia tidak ingin terlalu mencolok dan membuat kegemparan yang tidak perlu di hari pertama reinkarnasinya. Dia butuh progres yang bertahap.

Suasana lapangan mendadak hening. Danu yang tadinya tersenyum sinis kini melongo, sementara Pak Joko mengangguk-angguk kagum sambil meniup peluitnya.

"Bagus, Velix! Ada kemajuan pesat. Nilai kamu 85!" seru Pak Joko sambil menulis di kertasnya.

Velix tersenyum hangat, mengembalikan bola ke keranjang, dan berjalan kembali ke barisan. Dia sempat melirik Danu yang menatapnya dengan rahang mengeras karena merasa tersaingi. Velix hanya membalas tatapan itu dengan senyuman dewasa yang menenangkan, membuat Danu makin salah tingkah.

Di sudut matanya, sebuah kembang api digital berwarna biru meledak kecil.

[Misi Sampingan Selesai!]

[Anda mendapatkan: 5 System Points (SP) & +0.5 Kontrol Bola (Stat Kontrol Bola meningkat menjadi 35.5)]

Velix mengepalkan tangannya di dalam saku celana olahraga. Kegembiraan yang luar biasa meletup di hatinya. Sisi antusiasnya sebagai pecinta sepak bola meronta ingin berteriak. Hanya dengan 15 kali juggling, dia sudah mendapatkan poin.

'Baru lima poin... aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi untuk membeli skill operan Kevin De Bruyne atau drible Iniesta!' batin Velix bersemangat.

Namun, dia tahu perjalanan masih panjang. Sore nanti, setelah pulang sekolah, misi harian yang sesungguhnya—lari 5 KM dan juggling 100 kali—sudah menantinya di lapangan kompleks rumah. Tubuh amatirnya harus ditempa dengan keringat yang nyata sebelum dunia sepak bola dunia mendengar namanya.

1
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!