Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tiga
“Chika memilih jalan yang tak biasa untuk bertahan … sementara di sisi lain, obsesi seorang pria bisa menghancurkan siapa saja yang menghalanginya.”
Tak terasa lagi telah menjelang, semua menjalankan tugasnya. Chika dan Farhan telah selesai sarapan.
Farhan sudah berangkat kerja sejak satu jam yang lalu. Suara mesin mobilnya yang menjauh tadi masih terngiang di telinga Chika. Ia berdiri cukup lama di depan pintu, menatap jalan kosong dengan pikiran yang entah ke mana.
Hari ini, ia sudah mengambil keputusan. Keputusan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Chika menarik napas panjang, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Nama Jessica terpampang di layar.
Semalam mereka sudah berbicara cukup lama. Dan hari ini semuanya akan dimulai. Ia menggenggam ponsel itu erat.
“Ini satu-satunya jalan …,” gumam Chika pelan. Tanpa ragu lagi, ia meraih tasnya dan keluar rumah.
**
Sebuah kafe kecil di sudut kota.
Tidak terlalu ramai, tapi cukup nyaman untuk berbicara tanpa banyak gangguan. Chika masuk dengan langkah pelan. Matanya langsung mencari sosok yang ia kenal.
“Chika!”
Suara itu membuatnya menoleh. Jessica melambaikan tangan dari meja di pojok. Senyumnya lebar seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda—seperti ada rahasia yang sedang ia pegang.
Chika berjalan mendekat. “Maaf lama,” ucapnya singkat.
“Ah, santai aja,” balas Jessica. “Aku juga baru sampai kok.”
Namun mata Chika langsung menangkap satu hal. Jessica tidak sendirian. Seorang pria duduk di sampingnya.
Pria itu tampak santai, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Ia memperhatikan Chika sejak ia datang.
Jessica tersenyum penuh arti. “Kenalin … ini Alex.”
Chika sedikit terdiam. Ia menatap pria itu beberapa detik sebelum akhirnya duduk.
“Chika,” ucapnya singkat.
Alex mengangguk kecil. “Alex.”
Suasana sempat hening sejenak. Jessica berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana. “Oke … jadi, aku rasa kita langsung ke intinya aja ya.”
Chika menarik napas pelan. Tangannya saling menggenggam di atas meja. Ia tidak punya waktu untuk berlama-lama.
“Aku akan bicara langsung,” ucapnya tegas.
Jessica dan Alex sama-sama memperhatikannya.
Chika menatap Alex lurus. “Kita tidak punya ikatan apa pun.”
Kalimat itu keluar tanpa ragu. Alex tidak bereaksi banyak. Ia hanya menunggu kelanjutan.
Chika melanjutkan, suaranya tetap tenang meski dalam hatinya ada gelombang besar. “Aku tidak mencari hubungan. Tidak juga perasaan.”
Jessica menelan ludah pelan. Bahkan ia yang sudah tahu pun tetap merasa tegang mendengarnya langsung.
“Aku hanya ingin hamil.”
Suasana diruangan menjadi hening. Alex sedikit mengangkat alis, tapi tidak terlihat kaget. Seolah ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
Chika melanjutkan, lebih jelas.
“Setelah itu … semuanya selesai.”
Ia menatap tajam, memastikan tidak ada kesalahpahaman. “Aku akan memberikan uang sebagai kompensasi. Dan setelah itu, kamu tidak boleh menemui aku lagi.”
Jessica melirik Alex, mencoba membaca reaksinya. Sementara itu, Alex menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap Chika beberapa detik sebelum akhirnya bicara.
“Kamu yakin?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi dalam. Chika tidak ragu. “Yakin.”
“Ini bukan keputusan kecil.”
“Aku tahu.”
Alex menghela napas pelan. “Dan kamu tidak takut dengan konsekuensinya?”
Chika tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku lebih takut kalau tidak melakukan apa-apa.”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening. Jessica menggigit bibirnya pelan. Ia tahu ada banyak hal yang tidak Chika ceritakan sepenuhnya.
Alex menatap Chika lebih lama kali ini. Seolah menilai dan menimbang.
Lalu akhirnya ia berkata, “Baik.”
Satu kata itu cukup membuat Jessica sedikit terkejut.
“Serius?” tanya Jessica cepat.
Alex mengangguk. “Selama semuanya jelas.”
Ia kembali menatap Chika. “Tidak ada drama. Tidak ada tuntutan di kemudian hari.”
“Tidak akan ada,” jawab Chika tegas.
“Dan ini murni kesepakatan.”
“Iya.”
Alex mengangguk lagi. “Oke. Aku setuju.”
Chika menghela napas pelan. Entah kenapa, ada sedikit rasa lega, tapi juga ada sesuatu yang berat di dadanya.
Jessica menepuk meja pelan. “Oke … berarti sudah ya?”
Namun Chika belum selesai. “Ada satu hal lagi.” Alex mengangkat pandangan, ingin tahu apa yang wanita itu akan katakan.
“Aku yang akan menghubungi kamu.”
“Untuk?”
“Menentukan kapan kita mulai.” Kalimat itu diucapkan dengan nada yang tetap tenang, tapi jelas.
Alex mengangguk tanpa banyak komentar. “Baik.”
Chika berdiri perlahan. “Aku tidak akan lama.”
Jessica ikut berdiri. “Chika .…”
Chika menoleh.
“Kamu benar-benar yakin?” tanya Jessica pelan.
Chika tersenyum kecil. “Tidak ada yang benar-benar yakin dalam hidup, Jes.” Ia meraih tasnya.
“Tapi aku memilih jalan ini.”
Tanpa menunggu lama, ia melangkah pergi. Jessica hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.
Sementara Alex kembali menyandarkan tubuhnya, menatap kosong ke depan. “Dia nekat,” gumamnya.
Jessica mengangguk pelan. “Dia lagi terluka.”
**
Di sisi lain kota…
Tiga hari. Sudah tiga hari Han dan timnya mencari. Dan hasilnya nihil.
Ruangan kerja terasa tegang sejak pagi. Han berdiri di depan meja, wajahnya pucat. Kertas laporan di tangannya sedikit bergetar.
Arsaka duduk di kursinya, diam. Bagi Han diamnya sang bos itu lebih berbahaya.
“Belum ada hasil, Pak …,” ucap Han pelan.
Tidak ada jawaban. Arsaka hanya menatap ke depan, rahangnya mengeras.
“Semua tempat sudah kami cek. Kontrakan lama, tempat kerja sebelumnya, bahkan beberapa kenalan—”
“Dan?” potong Arsaka dingin.
Han menelan ludah. “Tidak ada yang tahu keberadaannya.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Detik terasa lebih panjang.
Arsaka berdiri perlahan. Langkahnya pelan tapi berat. “Sudah tiga hari.”
“Iya, Pak .…”
“Tiga hari dan kalian tidak tau apa-apa?”
Han menunduk. “Maaf, Pak .…”
BRAK! Tangan Arsaka menghantam meja dengan keras. Han refleks mundur setengah langkah.
“Jangan ulangi kata itu lagi di depanku!” suara Arsaka meninggi. Ruangan terasa mencekam. “Maaf tidak akan membawa dia kembali!”
Han diam. Tidak berani membalas. Arsaka berjalan mondar-mandir, emosinya jelas tidak terkendali.
“Bagaimana mungkin satu orang bisa hilang begitu saja?!”
“Kami masih terus mencari, Pak—”
“Tidak cukup!”
Arsaka berhenti tepat di depan Han. Tatapannya tajam. “Dengarkan aku baik-baik.”
Han langsung menegakkan badan.
“Aku beri kalian waktu satu minggu.”
Jantung Han seperti berhenti sesaat. “Satu minggu?” ulangnya pelan.
Arsaka mengangguk. “Jika dalam waktu itu kalian masih tidak tahu di mana dia .…”
Ia mendekat sedikit. “Aku akan pecat kalian semua.”
Kalimat itu jatuh seperti palu. Tubuh Han seperti membeku.
“Semua, Pak?” suaranya hampir tidak terdengar.
“Tanpa pengecualian.”
Hening. Han merasakan keringat dingin di punggungnya.
“Termasuk kamu.”
Ucapan sang Bos, bagaikan pedang menusuk langsung ke jantungnya. Jika ia berhenti, belum tentu bisa dapat kerja seperti ini lagi. Arsaka walau terlihat kejam, tapi ia sangat perhatian dengan bawahan. Dan paling utama, ia mungkin tak akan dapat kerja dengan gaji besar seperti saat ini.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....