NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genggaman Sutra Wangi dan Detak Jantung yang Terusik

Suasana sunyi yang sempat menyelimuti lapangan utama perlahan mencair ketika Sagara akhirnya berhasil mensejajarkan posisi kuda putihnya dengan kuda hitam Rebecca. Dengan tangkas, pemuda jangkung itu meraih tali kekang pembantu, meredam sisa-sisa kegembiraan kedua hewan besar tersebut hingga mereka benar-benar berhenti di tengah lapangan.

"Re," bisik Sagara, wajah tampannya yang sedingin es kini tampak sedikit menegang saat ia melirik ke arah panggung juri. "Sepertinya akurasi tembakan anak panahmu tadi kalah legendaris dengan akurasi lemparan cadarmu. Lihat ke depan. Sasaranmu kali ini langsung ke jantung pertahanan dosen paling sakral se-kampus."

Rebecca tidak menyahut. Jari-jari kecilnya yang mulus meremas pelan tali kekang kulit di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak rangkaian acara dimulai, ketenangan mutlak di wajah porselen Rebecca sedikit goyah. Semburat merah muda yang merona di pipi mulusnya bukan lagi sekadar efek riasan wajah yang ia poles sendiri tadi subuh, melainkan darah yang berdesir cepat karena rasa canggung yang luar biasa.

Melalui sepasang mata hijau lembutnya yang langka, ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Gus Adrian masih duduk bergeming di kursi utamanya. Kain cadar sutra hitam miliknya kini berada di dalam genggaman tangan besar sang Gus. Jari-jari kokoh pria keturunan Arab-Jawa itu melingkari kain lembut tersebut, menahannya di atas meja juri seolah-olah benda itu adalah sebuah barang bukti berharga dari sebuah misteri yang baru saja terpecahkan.

Kepala sekolah yang menyadari ketegangan mikro tersebut segera berdeham keras ke arah mikrofon, mencoba menyelamatkan jalannya acara. "Luar biasa! Penampilan ketangkasan yang penuh kejutan dan... dinamika alamiah dari kelas dua belas unggulan! Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk Sagara dan Rebecca!"

Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai histeris dari para murid kembali membahana, memecah kecanggungan yang sempat membekukan udara siang itu. Beberapa siswi di barisan depan bahkan tampak menjerit iri melihat bagaimana cadar wangi Rebecca bisa mendarat tepat di hadapan pria se-karismatik Gus Adrian.

Gus Adrian perlahan menurunkan pandangannya dari wajah porselen Rebecca menuju kain sutra di tangannya. Aroma mawar hitam, bergamot, dan cendana yang menguar dari kain itu begitu pekat, menembus indra penciumannya dan membangkitkan kembali ingatan akan kantung rami cokelat di dalam laci mobilnya. Bagi seorang pria yang terbiasa hidup dalam keteraturan syariat dan logika akademis yang kaku, kehadiran Rebecca yang bertubi-tubi dalam hidupnya—mulai dari tahu isi ayam suwir pedas di koridor kampus, insiden di mall, hingga cadar yang terbang ditiup angin hari ini—terasa seperti sebuah variabel tak terduga yang sengaja dikirim untuk menguji ketenangannya.

Dengan gerakan yang sangat tenang dan penuh wibawa, Gus Adrian melipat kain sutra hitam itu menjadi lipatan kecil yang rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku beskap jangkep hitam bersulam emas yang dikenakannya. Tindakan protektif yang dilakukan secara terang-terangan itu tidak luput dari pandangan mata beberapa guru senior, namun tidak ada satu pun yang berani mempertanyakan keputusan sang anak Kiai.

Gus Adrian kemudian menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Rebecca yang kini bersiap memutar kudanya untuk kembali ke belakang panggung. Sudut bibir tegas sang dosen bergerak membentuk sebuah lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat, memberikan kode penghormatan yang sangat personal.

Rebecca yang menangkap tatapan dalam itu segera mengalihkan pandangannya, menepuk leher kuda hitamnya untuk bergerak maju. Di balik poni see-through-nya yang sedikit berantakan, belahan bibir ombre alami Rebecca kembali mengatup rapat, menyimpan debaran aneh yang kini mulai ikut berpacu di dalam dadanya seiring langkah kaki kuda yang membawanya menjauh dari pusat lapangan luas tersebut.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!