NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke kantor Mahardika

Jika ada satu hal yang paling disukai Nayla dari kehidupan barunya di griya tawang Mahardika, itu adalah ukuran dapurnya yang luasnya hampir menyamai seluruh area rumahnya dulu di pinggiran Jakarta.

Namun, jika ada hal yang paling ia benci, itu adalah keheningan yang terlalu pekat ketika Gibran sudah berangkat kerja.

Setelah kepergian suaminya yang mendadak berubah menjadi mesin gombal maut berkekuatan tinggi itu, Nayla menghabiskan waktu satu jam hanya untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup tidak karuan.

"Nayla, fokus! Kamu di sini untuk menyelamatkan harga diri keluargamu, bukan untuk baper sama kulkas dua pintu yang korsleting," omel Nayla pada dirinya sendiri sambil mencuci piring-piring sisa sarapan dengan gerakan yang sengaja dihentak-hentak.

Tepat saat ia sedang mengeringkan tangannya, pintu lift pribadi yang terhubung langsung ke griya tawang berdenting terbuka. Sosok Mama Renata muncul dengan keanggunan khas wanita paruh baya kelas atas. Ia mengenakan terusan tunik sutra berwarna pastel, rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan senyum hangat langsung merekah di wajahnya begitu melihat sang menantu.

"Nayla sayang," sapa Renata lembut, melangkah masuk sambil membawa sebuah tas belanja besar dari kain kanvas.

Nayla buru-buru meletakkan kain lap dan menyalami mertuanya dengan takzim. "Eh, Mama. Selamat pagi, Ma. Kok tumben pagi-pagi sudah ke sini? Papa ... enggak ikut, kan?" tanyanya dengan nada yang agak berbisik di kalimat terakhir, masih sedikit trauma jika tiba-tiba Baskoro muncul membawa sepasang mata elang penuh selidik.

Renata tertawa kecil, suara tawa yang sangat renyah dan menenangkan. "Papa kamu itu sedang sibuk main golf dengan koleb bisnisnya dari Jepang. Tenang saja, hari ini pawangnya tidak ikut. Mama ke sini sengaja mau mengantarkan bahan-bahan makanan. Kemarin Mama dengar dari Gibran kalau kamu pintar masak masakan rumahan. Mama kangen sekali makan masakan yang ... apa itu namanya? Yang pakai bumbu ulek tradisional, bukan makanan restoran hotel yang rasanya terlalu flat."

Nayla tersenyum lega. Ketakutannya langsung menguap melihat ketulusan Renata. "Wah, kebetulan sekali, Ma. Nayla baru saja mau merencanakan masak siang. Mama bawa bahan apa saja?"

Mereka berdua akhirnya sibuk membongkar tas belanjaan di atas konter dapur. Renata ternyata membelikan daging sapi wagyu kualitas super, namun di sisi lain, ia juga menyelipkan beberapa ikat kangkung, tahu, tempe, dan beberapa potong ayam kampung. Sebuah kombinasi bahan makanan yang cukup absurd bagi seorang istri konglomerat.

"Mama sengaja beli ini. Gibran itu, sejak kecil kalau di rumah selalu diberi makanan serba barat atau makanan sehat yang tidak ada rasanya oleh ahli gizi keluarga. Tapi Mama tahu, diam-diam dia suka jajan siomay atau ketoprak kalau pulang sekolah dulu. Jadi, Mama pikir, kenapa kamu tidak coba buatkan dia bekal makan siang hari ini? Sekali-kali beri kejutan untuk suamimu yang kaku itu," ujar Renata dengan mata berkedip penuh arti.

Nayla tertegun. "Membawakan bekal ke kantornya, Ma? Tapi ... apa Mas Gibran tidak malu kalau istrinya datang bawa rantang? Maksud Nayla, dia kan CEO Mahardika Group, pasti makan siangnya di restoran bintang lima bersama klien penting."

Renata mengibaskan tangannya di udara, menganggap remeh kekhawatiran Nayla.

"Malu kenapa? Justru pamer istri yang perhatian itu adalah pencapaian tertinggi seorang pria, tahu! Sudahlah, ayo Mama bantu potong-potong sayurnya. Kita buatkan menu yang paling dia suka: ayam goreng bumbu lengkoas dan tumis kangkung pedas."

Maka, jadilah dapur mewah itu dipenuhi oleh suara ulekan batu yang dibawa Nayla dari kontrakan lamanya sebuah pemandangan kontras yang jika dilihat oleh Baskoro mungkin akan membuat pria tua itu pingsan seketika.

Renata bertugas memetik kangkung sambil mendengarkan cerita-cerita lucu Nayla tentang kehidupan di kampung, sesekali ruang dapur itu dipenuhi gelak tawa mereka berdua.

Dua jam berlalu, makanan sudah siap dan ditata rapi di dalam kotak bekal bertingkat berwarna pastel yang sangat manis.

Renata pamit pulang karena ada janji temu dengan yayasan sosial, meninggalkan Nayla yang kini berdiri di depan cermin, menatap penampilannya sendiri dengan ragu.

Nayla memilih mengenakan gaun kasual selutut berwarna krem dengan potongan sederhana, rambutnya diikat setengah ke belakang dengan jepitan mutiara kecil pemberian Renata. Di tangannya, ia menjinjing tas kain berisi kotak bekal.

"Oke, Nayla. Ini cuma antar makanan, setelah itu langsung pulang. Anggap saja ini bagian dari profesionalitas kerja sebagai istri kontrak," gumamnya, menyemangati diri sebelum melangkah masuk ke dalam lift menuju lobi menara Mahardika Group yang terletak di pusat kawasan bisnis Sudirman.

Gedung Mahardika Group menjulang tinggi mencakar langit Jakarta dengan arsitektur kaca yang megah. Begitu melangkah masuk ke dalam lobi yang luasnya hampir menyamai lapangan bola, Nayla langsung merasa kerdil. Orang-orang di sekitarnya berjalan dengan cepat, mengenakan setelan jas mahal atau blazer kerja yang modis, dengan papan nama digital mengalung di leher mereka.

Nayla berjalan menuju meja resepsionis dengan langkah agak ragu. Di balik meja, seorang resepsionis wanita dengan riasan tebal dan senyum yang sangat terlatih menyapanya. "Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"

"Siang, Mbak. Saya mau bertemu dengan Mas ... maksud saya, Pak Gibran Mahardika," kata Nayla agak canggung.

Resepsionis itu menilai penampilan Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki dalam waktu tiga detik. Meskipun gaun Nayla tampak bagus, tidak ada logo merk mewah yang mencolok dari tas atau sepatunya.

"Apakah sudah membuat janji temu sebelumnya, Ibu? Maaf, jadwal Pak Gibran hari ini sangat padat."

"Belum sih, Mbak. Tapi saya cuma mau mengantarkan ini," Nayla menunjukkan tas bekalnya. "Saya istrinya."

Mendengar kata istri, ekspresi resepsionis itu langsung berubah drastis antara terkejut dan sangsi.

Berita tentang pernikahan mendadak Gibran memang sudah menyebar di kalangan internal kantor, tetapi sebagian besar karyawan mengira itu hanya gosip atau pernikahan siri tersembunyi dengan model papan atas. Mereka tidak menyangka bahwa "istri" sang CEO adalah gadis berpenampilan sesederhana ini.

"Ah ... Ibu Nayla? Baik, mohon tunggu sebentar, saya konfirmasi ke sekretaris beliau di lantai 45," ujar resepsionis itu, nadanya mendadak jauh lebih sopan meski matanya masih menyiratkan rasa penasaran yang besar.

Setelah beberapa menit menunggu, Nayla akhirnya diizinkan naik menggunakan lift khusus eksekutif.

Jantungnya berdegup kencang saat angka di panel lift bergerak naik dengan sangat cepat hingga berhenti di lantai 45. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung disambut oleh ruangan berlantai karpet tebal yang sangat sunyi dan elegan.

Seorang pria muda berkacamata dengan setelan jas rapi Gunawan, asisten pribadi Gibran yang dulu menginvestigasi latar belakang Nayla sudah berdiri menunggu dengan senyum sopan.

"Selamat siang, Ibu Nayla. Mari, saya antar ke ruangan Pak Gibran. Kebetulan rapat beliau baru saja selesai lima menit yang lalu," kata Gunawan ramah. Nayla hanya mengangguk, merasa agak canggung karena Gunawan adalah orang yang tahu persis tentang semua detail utang ibunya di kampung.

Namun, begitu Gunawan membukakan pintu kayu jati besar menuju ruang kerja sang CEO, langkah kaki Nayla mendadak terhenti di ambang pintu. Pemandangan di dalam ruangan itu membuat seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis.

Gibran tidak sendirian.

Di depan meja kerjanya yang besar, seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan pakaian super modis blazer merah menyala dengan potongan dada rendah dan celana kulot senada sedang berdiri sangat dekat dengan Gibran. Rambut wanita itu dicat warna cokelat madu, bergelombang sempurna, dan wangi parfum mahal yang sangat menyengat langsung menusuk hidung Nayla bahkan dari jarak beberapa meter.

Yang membuat darah Nayla mendadak berdesir panas adalah posisi mereka.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!