"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Skenario Mahar dan Perangkap yang Terpasang
Malam kian merayap tinggi, membungkus kediaman Adiwangsa dalam keheningan yang semu. Di sudut kamar pelayan yang sempit dan pengap—tempat yang kini menjadi ruang gerak terbatasnya setelah Adrian mencabut hak kebebasannya—Aruna duduk di tepi ranjang lipat. Di tangannya, sebuah ponsel kuno berlayar retak yang ia sembunyikan di dalam lipatan kasur tipis menyala temaram.
Setelah memastikan situasi luar kamar aman dan kedua manusia berhati iblis itu sedang terbuai di kamar utama, Aruna menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. Sebuah nada sambung terdengar, sebelum suara bariton yang matang dan penuh wibawa menyahut di seberang sana.
"Paman, sekitar dua minggu lagi aku akan pergi," bisik Aruna. Nada suaranya sangat lirih, hampir menyerupai desau angin malam, namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana.
Di ujung telepon, Paman Aldo menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut keteguhan keponakannya. "Siap, Nona... Aku sudah mempersiapkan segala hal untuk kedatanganmu. Seluruh dokumen legalitas, aset rahasia, hingga jajaran direksi lama yang masih setia sudah berkumpul. Mereka siap menyambutmu untuk memimpin perusahaan peninggalan kakekmu."
"Terima kasih, Paman. Terima kasih karena selalu mempercayai aku di saat dunia menganggapku sampah," ucap Aruna, setitik air mata melankolis hampir saja jatuh, namun ia segera menyekanya dengan kasar.
"Kenapa tidak sekarang, Nona? Kenapa harus menunggu dua minggu lagi?" tanya Paman Aldo, nada suaranya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam atas keselamatan fisik Aruna di rumah terkutuk itu. "Dengan bukti-bukti kekerasan dan dokumen yang sudah kita pegang, kita bisa menyeret Adrian ke meja hukum besok pagi jika Anda mau."
Aruna menatap dinding kamar yang berjamur dengan tatapan kosong yang mendingin. "Aku menunggu surat cerai itu, Paman. Aku harus memastikan putusan itu diketok palu tanpa celah. Aku tidak ingin mereka memiliki celah hukum sedikit pun untuk menuduhku kabur dari rumah atau menuntut ganti rugi atas kegagalan pernikahan ini. Dan yang paling penting... aku ingin melihat wajah kemenangan mereka yang semu, tepat beberapa detik sebelum mereka hancur berkeping-keping."
"Baik, Nona. Jika itu keputusanmu, Paman akan menjaga baris belakang dengan ketat. Tetaplah berhati-hati."
Setelah panggilan terputus, Aruna menggenggam ponsel itu erat-erat di dadanya. Pikirannya mendadak melayang mundur, menyusuri lorong waktu lima tahun yang melelahkan. Rasa perih yang melankolis tiba-tiba menghantam ulu hatinya, membuat dadanya terasa sesak.
Mas... lima tahun aku bersamamu di rumah ini, batin Aruna, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar. Hanya di tahun pertama aku merasa benar-benar menjadi istrimu. Merasa dicintai, merasa memiliki rumah untuk bersandar. Namun empat tahun selebihnya? Aku tidak lebih dari seekor anjing penurut buat kamu. Aku merendahkan diriku, membuang harga diriku ke dalam lumpur, memasak, mencuci, dan menerima setiap makianmu hanya karena aku mencintaimu. Sekarang, rasa cinta itu sudah mengabu, Adrian. Dan abu itu akan menjadi racun yang mencekikmu.
Sementara itu, di kamar utama yang ber-AC sejuk, atmosfer penuh manipulasi sedang dirajut di atas ranjang sutra. Adrian berbaring dengan lengan yang dijadikan bantalan oleh Valerie. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan kening berkerut, memikirkan kalender yang terus berjalan.
"Sayang, sebentar lagi surat cerai akan keluar," ujar Adrian perlahan, memecah kesunyian. "Rupanya setelah kejadian Purnama Grup kemarin, Aruna benar-benar pasrah. Dia tidak mengambil tindakan apa pun untuk membatalkannya. Bagaimana menurutmu?"
Valerie yang sedang memainkan jemarinya di dada Adrian langsung menegakkan tubuhnya sedikit. Otak liciknya bekerja dengan cepat. Mengingat perintah suaminya di luar sana untuk segera mengamankan aset Adiwangsa, menyingkirkan Aruna terlalu cepat sebelum aset dipindah tangan justru bisa menjadi bumerang.
"Lebih baik batalkan saja perceraian itu, Adrian," jawab Valerie dengan nada suara yang dibuat seolah-olah dia sedang memikirkan efisiensi bisnis. "Pikirkan lagi. Kalau kalian cerai sekarang, kita harus mengeluarkan uang untuk mencari pekerja rumah tangga yang baru. Belum lagi ibumu yang sangat pemilih. Aruna bisa kita manfaatkan untuk mengurus seluruh pekerjaan rumah dan melayani ibumu secara gratis. Soal hubungan kita... kita bisa menikah siri dulu di bawah tangan. Yang penting kita tetap bersama, kan?"
Adrian membalikkan tubuhnya, menatap Valerie dengan tatapan tidak setuju. Ego lelakinya yang tinggi menolak mentah-mentah ide nikah siri. "Berarti aku harus pergi ke pengadilan untuk mencabutnya?"
"Ya, kamu harus ke sana. Dan coba bujuk Aruna agar mau ikut ke pengadilan besok demi mempermudah proses pembatalan administrasi. Hakim akan langsung menyetujuinya jika kalian berdua datang secara sukarela," hasut Valerie, jemarinya mengusap pipi Adrian dengan lembut.
"Baik, aku akan coba membujuknya besok," Adrian mengangguk, namun matanya menatap Valerie dengan dalam. "Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatiku, Valerie. Nanti, setelah urusan ini mereda, kamu benar-benar mau kan menikah resmi denganku?"
Valerie pura-pura terkejut, ia memalingkan wajahnya dengan raut melas yang sangat manipulatif. "Bukan aku tidak mau, Mas... Tapi aku malu kalau kamu baru saja diterpa isu cerai lalu langsung menikah resmi denganku. Di luar sana, orang-orang di media sosial pasti akan mencapku sebagai pelakor. Aku tidak mau nama baikku hancur."
"Jadi kamu tidak mau?" nada suara Adrian meninggi, merasa tidak aman.
"Bukan... bukan begitu, Mas!" Valerie segera menangkup wajah Adrian, tatapannya mendadak berubah cemas yang dibuat-buat. Valerie sangat takut jika Adrian tersinggung, kesempatan emas untuk mengakuisisi perusahaan Adiwangsa bisa hilang dari genggamannya. "Kalau nikah siri sih, aku oke-oke saja sekarang. Demi menjaga perasaanmu dan ibumu."
"Tapi aku maunya kita menikah resmi, Valerie!" tegas Adrian, suaranya penuh kepemilikan yang egois. "Untuk urusan kamu disebut pelakor atau apa pun di luar sana, kita bisa buat klarifikasi resmi di media sosial. Kita punya uang, kita punya kuasa atas media. Mengubah opini publik itu gampang, semuanya bisa dibeli dengan uang! Aku tidak ingin menyembunyikanmu sebagai istri siri."
Melihat keras kepalanya Adrian, Valerie menyadari bahwa ini adalah momen yang tepat untuk melemparkan umpan utama yang sudah disiapkan oleh suaminya. Ia menghela napas panjang, lalu bersandar manja di bahu Adrian, mengubah suaranya menjadi seringan bulu dan sangat menggoda.
"Emmm... kalau memang kamu memaksa kita harus menikah resmi di mata negara..." Valerie menjeda kalimatnya, jemarinya membentuk pola melingkar di dada Adrian. "...boleh tidak, aku meminta mas kawin yang spesial?"
Adrian tertawa kecil, merasa berada di atas angin karena bisa memenuhi apa pun keinginan wanita kesayangannya. "Apa pun yang kamu minta, pasti akan kuberikan, Valerie. Berlian? Rumah di kawasan elite? Katakan saja."
Valerie tersenyum misterius dalam kegelapan kamar. "Bagaimana kalau... saham PT Adiwangsa Logistik dialihkan sepenuhnya kepadaku sebagai mahar pernikahan kita?"
Seketika, tawa Adrian terhenti. Tubuhnya menegang. "Maksud kamu apa, Valerie? Mengalihkan seluruh perusahaan?"
"Tenang dulu, Mas... Jangan berpikir yang tidak-tidak," bujuk Valerie dengan nada yang sangat manis, mencoba meredakan keterkejutan Adrian. "Kamu akan tetap menjadi Direktur Utama di sana. Segala operasional tetap di tanganmu. Tapi, biarkan aku yang memegang posisi CEO dan kepemilikan saham utamanya atas nama mahar pernikahan. Ini juga demi meyakinkan keluargaku dan publik bahwa kamu benar-benar serius menghargaiku, bukan sekadar menjadikanku pajangan."
Adrian terdiam lama, dahi dan pelipisnya mulai dialiri keringat dingin. Perusahaan itu adalah hasil jerih payahnya—yang sebenarnya sebagian besar adalah warisan ayah Aruna—dan menyerahkannya begitu saja sebagai mahar terasa terlalu berisiko. "Kenapa harus perusahaan sih, Valerie? Minta yang lain saja."
Mendengar keraguan Adrian, Valerie langsung mengubah taktiknya. Ia menarik diri dari pelukan Adrian, berbalik memunggungi pria itu, dan melepaskan isak tangis palsu yang terdengar sangat melankolis dan tersakiti.
"Hemm... dugaanku benar. Berarti kamu memang tidak benar-benar cinta sama aku, Mas," ratap Valerie, suaranya bergetar penuh sandiwara. "Aku tahu... setelah kamu bosan denganku nanti, kamu pasti akan memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan Aruna sekarang. Mengurungku, memanfaatkanku, dan mengabaikan harga diriku karena aku tidak punya kekuatan apa-apa atas dirimu."
"Bukan begitu, Valerie... Dengar dulu," Adrian panik, mencoba meraih bahu Valerie namun ditepis lembut.
"Kamu tidak percaya sama aku, Mas," tangis Valerie kian menjadi, sebuah provokasi mental yang sangat matang. "Padahal selama ini, siapa yang membantumu mengurus Adiwangsa setelah ayah Aruna meninggal? Siapa yang pontang-panting mencari investor? Aku hanya ingin jaminan masa depan agar aku merasa aman bersamamu!"
Melihat wanita yang dipujanya menangis tersedu-sedu, benteng pertahanan logika Adrian runtuh seketika. Rasa bersalah dan ego untuk membuktikan cintanya mengalahkan akal sehatnya. Adrian menarik paksa tubuh Valerie ke dalam pelukannya, mengecup kening wanita itu dengan terburu-buru.
"Baik... baik, Sayang. Akan kuberikan PT Adiwangsa sebagai maharmu. Asalkan kamu bahagia, dan kamu berjanji akan selalu setia mendampingiku," ujar Adrian pasrah, sepenuhnya termakan oleh manipulasi Valerie. "Tapi, kita harus tetap menikah resmi secara negara, ya?"
Valerie menyembunyikan senyum kemenangan yang luar biasa licik di dada Adrian. "Iya, Mas... Aku berjanji," bisiknya, sementara di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana suaminya di luar sana akan langsung mengeksekusi proses akuisisi begitu dokumen pengalihan saham itu ditandatangani Adrian sebagai mahar.
Keesokan paginya, setelah sarapan selesai, Adrian melangkah menuju dapur belakang, tempat di mana Aruna sedang mencuci tumpukan piring kotor. Adrian berdiri di ambang pintu, menatap punggung istrinya yang tampak ringkih dalam balutan daster kusam. Ia berdehem keras, mengembalikan topeng kemurahan hatinya yang palsu.
"Aruna," panggil Adrian dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, penuh dengan kepura-puraan yang memuakkan.
Aruna menghentikan aktivitasnya, mematikan kran air, lalu berbalik dengan kepala yang menunduk dalam, merepresentasikan sosok istri tua yang telah sepenuhnya patah semangat dan patuh. "Iya, Mas?"
Adrian berjalan mendekat, berdiri di samping Aruna dan menatap wajah istrinya yang masih menyisakan bekas lebam. Ia menghela napas panjang, berakting seolah-olah dia adalah pria paling bijaksana yang sedang memberikan pengampunan.
"Aruna... setelah kupikir-pikir semalaman, aku merasa kasihan padamu," ujar Adrian dengan nada memelas yang manipulatif. "Aku ingin membatalkan perceraian kita di pengadilan. Aku benar-benar khawatir jika kamu keluar dari rumah ini... kamu mau tinggal di mana? Kamu tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, dan kamu bisa kelaparan di luar sana sendirian. Bagaimanapun, aku masih mengingat pesan almarhum ayahmu."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Adrian, Aruna harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa keras di depan wajah suaminya. Kasihan? Kelaparan? Adrian benar-benar tidak tahu bahwa dua minggu lagi, dialah yang akan mengemis di jalanan setelah seluruh kebohongannya dibongkar.
Namun, Aruna tetap menjaga aktingnya. Ia mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan matanya yang sayu menatap Adrian dengan pandangan penuh kepasrahan yang luar biasa meyakinkan.
"Aku terserah kamu saja, Mas..." bisik Aruna dengan suara yang sangat pelan, seolah-olah dia telah menyerahkan seluruh takdir hidupnya ke dalam tangan Adrian. "Apa pun yang terbaik menurutmu, aku akan ikut."
Jawaban pasrah dari Aruna membuat Adrian tersenyum puas secara instan. Rencananya dan Valerie berjalan tanpa hambatan sedikit pun. Wanita bodoh ini benar-benar sangat mudah dikendalikan.
"Baik. Kalau begitu, besok pagi-pagi sekali kita akan pergi ke pengadilan agama bersama-sama untuk mencabut berkas gugatan dan membatalkan perceraian ini secara resmi," perintah Adrian dengan nada otoriter yang kembali muncul. "Pastikan besok kamu berdandan yang rapi, jangan memalukan aku di depan hakim."
Aruna mengangguk pelan, menyembunyikan kilat rencana besar yang baru saja matang di dalam kepalanya setelah mendengar ajakan Adrian. "Baik, Mas..."
Adrian berbalik dan melangkah pergi dengan siulan kecil, merasa dirinya adalah sutradara terbaik yang berhasil memenangkan semua permainan ini.
Begitu langkah kaki Adrian tidak lagi terdengar, Aruna perlahan menegakkan tubuhnya. Rasa lesu dan ketakutan di wajahnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi yang sangat dingin dan tajam. Ia mengambil kain lap untuk mengeringkan tangannya, lalu menatap ke arah luar jendela dapur yang menampilkan langit pagi yang mulai cerah.
Besok ke pengadilan, Mas? batin Aruna, sebuah senyuman misterius dan mematikan terukir di bibirnya yang pucat. Tentu saja aku akan ikut. Kamu mengira besok adalah hari di mana kamu mengurungku kembali ke dalam neraka ini untuk selamanya. Tapi kamu lupa, Adrian... begitu kita melangkah masuk ke dalam ruang sidang besok, aku tidak akan membiarkanmu membatalkan apa pun. Besok... di depan hakim, aku sendiri yang akan memastikan seluruh dokumen busukmu, dokumen medis kesuburanmu, dan intrik mahar pengalihan perusahaan yang kalian rencanakan terbuka lebar di bawah terang matahari.
Jebakan telah terpasang sempurna, dan Adrian sendiri yang dengan sukarela berjalan membawa lehernya menuju tali gantung kehancuran yang telah disiapkan Aruna.