NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Pulang Membawa Kecurigaan

Pagi terakhir di Makassar datang dengan langit yang cerah.

Dari jendela suite hotel, cahaya matahari memantul di antara gedung-gedung kota dan laut yang terlihat samar di kejauhan. Pemandangan itu indah.

Namun baik Almira maupun Reynard tidak benar-benar menikmatinya.

Pikiran mereka masih dipenuhi dokumen.

Data distribusi.

Akun otorisasi tingkat tinggi.

Dan seseorang yang diam-diam bermain di balik proyek kerja sama mereka.

Makassar yang awalnya hanya dijadwalkan sebagai kunjungan bisnis singkat kini meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Sebuah tanda tanya.

Dan keduanya membawa tanda tanya itu pulang ke Jakarta.

Bandara Sultan Hasanuddin tampak ramai pagi itu.

Tim proyek yang ikut dalam kunjungan mulai berkumpul di area keberangkatan.

Beberapa tampak lelah.

Beberapa masih sempat membeli oleh-oleh.

Sementara yang lain sibuk mengabadikan foto terakhir sebelum pulang.

"Kalian tidak foto?"

tanya Bayu tiba-tiba.

Almira yang sedang memeriksa tiket langsung menoleh.

"Apa?"

"Foto."

Bayu mengangkat ponselnya.

"Buat kenang-kenangan."

Almira punya firasat buruk.

Dan benar saja.

Lima menit kemudian seluruh tim berkumpul untuk foto bersama.

Masalahnya, entah bagaimana Almira dan Reynard kembali berdiri berdampingan di tengah barisan.

"Kenapa aku selalu di sini?"

gumam Almira.

"Karena kamu tidak cukup cepat kabur."

jawab Reynard.

Klik.

Foto diambil.

Bayu tersenyum puas.

Dan Almira sudah bisa membayangkan foto itu akan menjadi bahan gosip kantor selama beberapa minggu ke depan.

Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang dibanding keberangkatan.

Bukan karena mereka kehabisan topik.

Justru sebaliknya.

Ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkan.

Data yang mereka temukan di Makassar belum cukup untuk menuduh siapa pun.

Namun juga terlalu jelas untuk diabaikan.

"Kita mulai dari pusat."

kata Reynard pelan ketika pesawat sudah mengudara.

Almira mengangguk.

"Akun otorisasi itu prioritas."

"Kalau kita bisa menemukan siapa yang menggunakannya, kita bisa menemukan jalurnya."

"Kalau datanya belum dihapus."

"Itulah yang membuatku khawatir."

Hening.

Kemudian Almira menoleh.

"Kamu pikir mereka tahu kita sedang menyelidiki?"

Reynard tidak langsung menjawab.

"Itu yang ingin aku cari tahu."

Jakarta menyambut mereka dengan kemacetan seperti biasa.

Begitu mendarat, mereka langsung berpisah untuk kembali ke kantor masing-masing.

Tidak ada waktu untuk beristirahat.

Tidak ada waktu untuk menikmati akhir perjalanan.

Karena pekerjaan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Di Valencia Group, Almira langsung menuju ruangannya.

Bahkan sekretarisnya terkejut melihat ia datang secepat itu.

"Bu Almira?"

"Jadwalkan rapat internal."

"Untuk sore ini?"

"Secepatnya."

Sekretarisnya mengangguk.

"Baik, Bu."

Tak jauh berbeda, Reynard juga langsung memanggil tim teknologi informasi Mahardika Holdings.

Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah ruang rapat kecil sudah dipenuhi beberapa staf IT senior.

Reynard berdiri di depan layar.

"Aku ingin akses log sistem tiga bulan terakhir."

Salah satu staf tampak bingung.

"Untuk audit rutin, Pak?"

"Anggap saja begitu."

Ia belum siap membagikan seluruh temuannya.

Belum.

Karena semakin sedikit orang yang tahu, semakin baik.

Sore hari.

Almira sedang meneliti laporan lama ketika seseorang mengetuk pintunya tanpa menunggu jawaban.

Ia bahkan tidak perlu melihat.

"Nadia."

"Tepat sekali."

Sahabatnya masuk sambil membawa dua gelas minuman.

"Kamu pulang dari Makassar dan tidak menghubungiku."

"Aku bekerja."

"Bohong."

"Aku benar-benar bekerja."

Nadia duduk di sofa.

Lalu menyeringai.

"Bagaimana bulan madunya?"

Almira menutup laptop perlahan.

Sangat perlahan.

"Keluar."

Namun Nadia tidak pernah mengenal arti menyerah.

Sepuluh menit kemudian ia masih berada di sana.

Masih berbicara.

Masih menggoda.

Masih membuat Almira menyesali persahabatan mereka.

Sampai akhirnya sebuah kalimat membuat Nadia berhenti bercanda.

"Ada masalah di proyek."

Ekspresi Nadia berubah.

Serius.

"Masalah apa?"

Almira ragu beberapa saat.

Lalu menjawab secara umum.

"Ada data yang tidak cocok."

"Berbahaya?"

"Mungkin."

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Nadia tidak melontarkan satu pun candaan.

Karena ia mengenal Almira cukup lama untuk tahu bahwa kata "mungkin" dari Almira biasanya berarti "sangat berbahaya."

Malam harinya, ponsel Almira bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Reynard.

Dan anehnya, ia langsung membukanya.

Reynard:

Sudah cek log internal?

Almira mengetik balasan.

Almira:

Sedang diperiksa.

Tak sampai satu menit kemudian.

Reynard:

Aku menemukan sesuatu.

Almira langsung duduk tegak.

Almira:

Telepon sekarang.

Lima menit kemudian mereka sudah berada dalam panggilan video.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada candaan.

Langsung ke inti masalah.

"Apa yang kamu temukan?"

Reynard membagikan layar laptopnya.

"Ini."

Almira memperhatikan data yang muncul.

Dan perlahan ekspresinya berubah.

Karena ada satu nama yang muncul berulang kali dalam log akses.

Bukan pengguna.

Bukan administrator.

Melainkan...

Server perantara.

"Akun itu tidak digunakan langsung."

kata Reynard.

Almira mengangguk.

"Seseorang menyembunyikan jejaknya."

"Tepat."

Mereka kembali memeriksa data.

Semakin lama semakin jelas.

Seseorang dengan sengaja mengalihkan akses melalui jalur lain sebelum masuk ke sistem utama.

Cara yang cukup cerdas.

Dan cukup berbahaya.

"Aku tidak suka ini."

gumam Almira.

"Aku juga."

"Lalu sekarang?"

Reynard bersandar di kursinya.

"Kita terus menggali."

"Itu bukan rencana."

"Itu satu-satunya yang kita punya."

Almira ingin membantah.

Namun sayangnya Reynard benar.

Percakapan berlanjut hampir satu jam.

Membahas kemungkinan.

Menyusun langkah berikutnya.

Membagi tugas.

Dan tanpa mereka sadari, mereka sudah berbicara jauh lebih lama daripada yang diperlukan.

Tentang pekerjaan, tentu saja.

Setidaknya itu alasan resmi.

Setelah panggilan berakhir, Almira menatap layar yang sudah gelap.

Lalu menyadari sesuatu.

Ia baru saja menghabiskan satu jam berbicara dengan Reynard.

Dan tidak satu pun bagian dari dirinya merasa terganggu.

Sebaliknya...

Ia merasa sedikit lebih tenang.

Kesadaran itu membuatnya langsung menghela napas panjang.

Situasi ini semakin rumit.

Di tempat lain, Reynard juga mengalami hal serupa.

Ia meletakkan ponselnya di meja.

Lalu memandang langit malam dari balik jendela kantornya.

Biasanya ia lebih suka menyelesaikan masalah sendirian.

Selalu begitu.

Namun kali ini berbeda.

Entah sejak kapan, ia mulai terbiasa berdiskusi dengan Almira.

Mulai terbiasa mendengar pendapatnya.

Mulai terbiasa bekerja berdampingan.

Dan kebiasaan itu tumbuh terlalu cepat.

Keesokan harinya, perkembangan baru muncul.

Bukan dari sistem.

Bukan dari data.

Melainkan dari keluarga.

Almira sedang sarapan bersama orang tuanya ketika ayahnya tiba-tiba berkata,

"Bagaimana kerja samanya dengan Mahardika Holdings?"

Sendok di tangan Almira berhenti.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk disadari.

"Baik."

jawabnya singkat.

Ayahnya mengangguk.

"Tentu saja."

Ibunya tersenyum.

"Saya dengar Reynard anak yang baik."

Almira hampir tersedak jus jeruk.

"Apa hubungannya?"

"Tidak ada."

jawab ibunya terlalu cepat.

Terlalu santai.

Terlalu mencurigakan.

Pada waktu yang hampir sama, Reynard juga mengalami kejadian serupa.

Sarapan bersama keluarganya berlangsung normal.

Sampai ayahnya tiba-tiba bertanya,

"Bagaimana Almira?"

Reynard langsung mengangkat kepala.

"Apa?"

"Maksudku kerja samanya."

"Tadi Ayah tidak bilang kerja sama."

Arman Mahardika batuk kecil.

Ibunya langsung menahan senyum.

Dan untuk pertama kalinya, Reynard merasa ada sesuatu yang aneh.

Sangat aneh.

Malam harinya, baik Almira maupun Reynard memikirkan hal yang sama.

Data yang hilang.

Akses yang disembunyikan.

Dan keluarga mereka yang tiba-tiba tampak terlalu tertarik pada satu sama lain.

Belum ada bukti.

Belum ada kesimpulan.

Namun perlahan sebuah perasaan muncul.

Perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Sesuatu yang lebih besar daripada proyek.

Lebih lama daripada kerja sama bisnis.

Dan mungkin...

Jauh lebih dekat dengan kehidupan pribadi mereka daripada yang mereka sadari.

Di sudut kota yang berbeda, dua orang sedang memandang layar laptop masing-masing.

Tidak mengetahui bahwa pertanyaan yang sama sedang muncul di kepala mereka.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Dan jauh di balik bayang-bayang permainan ini, seseorang mulai merasa tidak nyaman.

Karena Almira dan Reynard ternyata jauh lebih sulit dihentikan daripada yang diperkirakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!