NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMANDANGAN DARI ATAP DUNIA

Angin sore di atap tertinggi Arkananta Tower bertiup kencang, membawa aroma sisa hujan dan kelembapan yang sejuk, namun tak cukup dingin untuk menembus kehangatan yang kini menyelimuti hati mereka berdua. Di bawah sana, Jakarta terbentang luas bagaikan hamparan permadani cahaya yang tak berujung, ribuan lampu kendaraan dan gedung bersinar redup di tengah kabut senja, menciptakan pemandangan yang megah namun juga terasa menyendiri bagi siapa saja yang berdiri di ketinggian ini.

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu. Tiga hari di mana dunia mereka berubah total. Ciuman dalam kegelapan itu bukan sekadar sentuhan fisik, melainkan kunci yang membuka pintu gerbang perasaan yang selama ini terkunci rapat, tertimbun tumpukan aturan, jabatan, dan rasa takut. Kini, meski di depan umum mereka masih harus berpura-pura menjadi bos dan sekretaris yang profesional, setiap tatapan mata, setiap sentuhan tak sengaja, dan setiap nada bicara menyimpan makna yang jauh lebih dalam dan rahasia.

Sore ini, Devan mengajak Alana ke atap. Tempat yang paling tinggi, tempat yang menjadi wilayah pribadinya dan sangat jarang dia izinkan orang lain melangkah masuk, kecuali dirinya sendiri saat butuh tempat untuk melarikan diri dari dunia.

Alana berdiri di samping pagar pembatas kaca yang tebal, menatap ke bawah dengan napas tertahan. Pemandangannya luar biasa, membuatnya merasa seolah sedang berdiri di atas dunia, di atas segalanya. Namun, rasanya jauh lebih menakjubkan lagi saat dia merasakan kehadiran Devan yang berdiri tepat di sampingnya, bahu mereka saling bersentuhan, mengalirkan getaran hangat yang membuat seluruh tubuhnya merinding.

“Dulu, aku sering ke sini sendirian,” ujar Devan pelan, suaranya terbawa angin namun tetap terdengar jelas di telinga Alana. Matanya menatap lurus ke cakrawala yang mulai memerah keemasan tempat matahari terbenam. “Di sini, di ketinggian ini, rasanya aku bisa melupakan segalanya. Melupakan bahwa aku harus menjadi Devan Arkananta yang dingin, kejam, dan tak terkalahkan. Rasanya, hanya di sini aku bisa bernapas lega.”

Alana meliriknya. Wajah profil itu tampak begitu sempurna namun juga begitu menyedihkan. Garis rahang yang tegas, hidung yang bangir, dan bibir yang kini terkatup rapat—semuanya menampilkan beban berat yang dipikulnya sendirian selama bertahun-tahun.

“Rasanya sepi sekali, Pak,” gumam Alana pelan. “Berdiri setinggi ini, tapi tak ada yang menemani. Rasanya pasti capek sekali memikul semuanya sendiri.”

Devan menoleh perlahan, menatap wanita itu dengan pandangan lembut yang kini sudah menjadi miliknya sendiri. Dia tersenyum tipis, lalu perlahan mengulurkan tangannya, mencari jari jemari Alana dan menggenggamnya erat di atas pagar kaca itu. Jari-jarinya saling mengait, menyatukan hangat kulit mereka di tengah angin yang makin kencang.

“Sepi?” ulang Devan pelan. “Ya, dulu sekali rasanya sepi sampai rasanya mau mati. Dulu aku pikir, inilah harga yang harus dibayar untuk menjadi yang teratas. Bahwa puncak itu tempatnya hanya untuk satu orang. Bahwa kekuasaan dan kesepian itu pasti berjalan beriringan.”

Dia berhenti sejenak, mengusap punggung tangan Alana dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang penuh rasa sayang dan kepemilikan.

“Tapi sore ini... saat kau ada di sini di sampingku, saat kita berdua berdiri melihat dunia dari atas... aku baru sadar satu hal besar, Alana.”

“Apa itu, Pak?” tanya Alana, mendongak menatap manik mata hitam yang kini memantulkan bayangan dirinya.

Devan mendekat sedikit, memperkecil jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka hampir saling bersentuhan. Aroma tubuhnya yang khas dan maskulin langsung memenuhi indra penciuman Alana, membuat jantungnya berdegup kian cepat.

“Aku baru sadar, puncak ini ternyata cukup luas untuk dua orang. Bahwa kekuasaan tidak ada artinya kalau tak ada orang yang berarti untuk dibagikan. Dan bahwa segala kemegahan, gedung tinggi, uang miliaran, dan nama besar ini... semuanya hanyalah sampah dan debu kalau dibandingkan dengan satu sosokmu yang berdiri di sini.”

Kalimat itu diucapkan begitu jujur, begitu dalam, dan begitu penuh keyakinan hingga membuat mata Alana berkaca-kaca. Di bawah sana, ribuan lampu kota mulai menyala satu per satu, namun bagi Alana, satu-satunya cahaya yang dia butuhkan ada tepat di depan matanya ini.

“Pak... Bapak punya segalanya. Bapak menguasai semuanya yang ada di bawah sana. Tapi Bapak bilang itu tak berarti?” tanyanya pelan, masih tak sepenuhnya percaya.

Devan menggeleng pelan, lalu mengangkat tangan yang bebas, menyisir rambut Alana yang tertiup angin, menyelipkannya rapi ke belakang telinga. Jemarinya berhenti di pipi Alana, menampungnya lembut seolah memegang air yang bisa tumpah kalau tak hati-hati.

“Dunia di bawah sana memang milikku. Aku bisa beli gedung itu, aku bisa ubah jalan itu, aku bisa buat orang-orang di sana tunduk dan patuh dengan satu kali jentikan jari. Tapi kau tahu apa yang tak bisa kubeli dan tak bisa kuperintah?”

Alana menggeleng lemah, tenggelam dalam tatapan yang begitu memikat itu.

“Hatimu. Kesetiaanmu. Ketulusanmu. Dan rasa damai yang selalu kurasakan setiap kali berada di dekatmu. Itu semua hal yang paling mahal di dunia ini, Alana. Dan itu semua, entah dengan cara apa, kini sudah menjadi milikku. Dan itu membuatku merasa menjadi orang terkaya di muka bumi ini, jauh lebih kaya daripada angka di rekening bankku.”

Alana tak kuasa menahan lagi. Air mata bahagia meleleh jatuh di pipinya, diseka cepat oleh jempol Devan. Dia tersenyum, senyum paling tulus dan indah yang pernah menghiasi wajahnya, senyum yang membuat hati Devan terasa meledak karena bahagia.

“Bapak ini gila,” bisik Alana, suaranya bergetar karena emosi. “Bapak ini orang paling hebat, paling berkuasa, tapi bicara hal-hal yang membuat rasanya dunia ini terlalu kecil untuk menampung bahagia saya.”

“Ya, aku gila. Gila karenamu. Dan aku bangga dengan kegilaan ini,” jawab Devan cepat.

Dia memutar tubuh Alana perlahan, memunggungikannya pada pemandangan kota yang luas itu, lalu dia melingkarkan kedua tangannya yang kekar dan hangat di pinggang ramping wanita itu, menarik punggungnya menempel rapat ke dada bidangnya. Devan meletakkan dagunya di bahu Alana, membiarkan mereka berdua melihat ke luar bersama, dalam satu ikatan yang tak terpisahkan.

Dari posisi ini, Alana bisa merasakan detak jantung Devan yang kuat dan teratur berirama selaras dengan detak jantungnya sendiri. Dia bisa merasakan napas hangat Devan menerpa lehernya, membuat kulitnya merinding halus namun nyaman sekali. Dia merasa terlindungi, merasa dimiliki, dan merasa bahwa dia adalah pusat dari seluruh dunia pria ini.

“Lihat ke bawah sana, Alana,” bisik Devan tepat di samping telinganya, membuat suara beratnya bergema langsung ke tulang belakangnya. “Lihat semua lampu itu, semua gedung itu, semua orang yang sibuk dengan hidup mereka. Di mata mereka, aku adalah Raja Arkananta. Aku adalah Dewa yang tak tersentuh.”

Dia mempererat pelukannya, mencium pelan kulit leher halus itu, membuat Alana mendesis pelan.

“Tapi di sini... di atap ini, di dalam lingkaran tanganku ini... aku bukan Raja. Aku bukan Dewa. Aku hanyalah seorang pria yang rela menyerahkan seluruh takhta, seluruh mahkota, dan seluruh kekuasaannya hanya demi satu senyummu. Hanya demi satu kehadiranmu.”

Alana memejamkan matanya, menikmati setiap detik kebahagiaan yang begitu sempurna ini. Dia tahu, jalan mereka tak akan mudah. Di balik kemegahan ini, di balik cahaya lampu kota yang indah itu, masih ada bahaya yang mengintai, masih ada musuh yang ingin menjatuhkan, dan masih ada rahasia masa lalu yang belum terkuak. Ibu tiri dan Dion belum diam, dan posisi mereka yang terang benderang ini justru membuat mereka makin mudah menjadi sasaran.

Namun saat ini, dalam pelukan hangat di atas atap dunia ini, Alana merasa berani menghadapi segalanya. Selama dia merasa tangan ini melingkar di tubuhnya, selama dia merasa napas ini menyertai hidupnya, dia merasa tak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tak ada jurang yang terlalu dalam untuk dituruni.

“Kalau begitu, Pak...” bisik Alana, menyusupkan tangannya ke balik lengan Devan, menggenggam erat lengannya. “Kalau Bapak sudah menyerahkan semuanya pada saya, maka saya janji akan menjaganya seumur hidup. Saya akan menjadi perisai Bapak, menjadi tanah pijakan Bapak, dan menjadi satu-satunya tempat pulang Bapak, kapan pun dan di mana pun.”

Devan tersenyum lebar, mencium pelipis Alana lama dan dalam. Angin kencang bertiup menerpa mereka berdua, tapi tak ada satu inci pun jarak yang tercipta. Mereka menyatu, berdiri kokoh bagaikan menara ini sendiri, tak tergoyahkan oleh badai apa pun.

“Dan aku janji, Alana. Tak peduli seberapa tinggi aku terbang, seberapa jauh aku melangkah... kakiku akan selalu berpijak di sini. Di dekatmu. Dan hatiku akan selalu takluk padamu, selamanya.”

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, menggantikan malam yang kelam namun berkilauan. Di atap tertinggi itu, di bawah langit yang mulai bertabur bintang, dua jiwa yang dulu kesepian kini menyatu, sadar bahwa puncak dunia bukanlah tujuan, melainkan tempat di mana mereka bertemu dan bersatu untuk menaklukkan semesta bersama.

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!