Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Setelah kepergian Leon, hidupku terasa seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya—sunyi dan berdebu. Tidak ada lagi tawa yang meledak tanpa sebab. Tidak ada lagi suara ceria yang dulu terasa ringan. Aku masih bernapas, masih berjalan, tetapi rasanya ada bagian dari diriku yang tertinggal entah di mana.
Aku kehilangan ceriaku—Aku kehilangan tawaku.
Setelah Dev benar-benar pulih, aku memutuskan kembali tinggal di rumahnya. Bukan karena keinginanku, justru dia yang memohon.
“Aku tidak ingin sendirian lagi, Nara,” katanya waktu itu. “Tolong tetap di sini.”
Dan aku tinggal.
Hari-hari kami lebih banyak dihabiskan di rumah. Memasak bersama, walau sering kali aku hanya duduk di meja dapur memperhatikannya. Bermain game sampai larut malam, membaca buku di ruang tamu tanpa banyak bicara, kadang Dev pergi mengecek bisnisnya, lalu kembali dengan wajah lelah tapi tetap menyempatkan diri menatapku lama.
Suatu hari, Dev mengajakku mengunjungi salah satu restorannya.
“Aku ingin kamu ikut,” ujarnya santai. “Sekalian aku perkenalkan ke semua orang di sana.”
Aku hanya mengangguk.
Begitu memasuki restoran itu, aroma rempah dan mentega langsung menyambutku. Para karyawan menyambut Dev dengan penuh hormat. Seorang pria paruh baya—mungkin manajer atau tangan kanannya, langsung mendekat dan berbincang serius dengannya.
Dev berjalan menyusuri ruangan dengan langkah mantap, aku mengikuti di belakangnya.
Tiba-tiba ia berbelok masuk ke dapur.
Ruangan itu sibuk, suara wajan beradu, pisau memotong, dan kompor menyala bercampur menjadi satu irama yang tegang. Semua mengenakan seragam putih bersih dengan topi tinggi dan apron senada. Dev tidak tersenyum—Ia mencicipi satu hidangan, lalu yang lain, wajahnya berubah dingin. Dan tiba-tiba suaranya menggelegar.
“Kamu mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dunia memasak?”
Seluruh dapur mendadak sunyi. Seorang karyawan muda menunduk gemetar.
“Maaf, Pak. Dia karyawan baru dan baru lulus,” sela pria paruh baya tadi.
Dev menoleh tajam. “Saya tidak peduli dia baru atau lama. Saya juga tidak peduli dia baru lulus atau sudah profesional. Jika dia bekerja di sini, berarti dia sudah paham standar yang saya tetapkan.”
“Baik, Pak,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Di mana kepala chef?”
“Saya, Pak,” jawab pria bertubuh besar di sudut ruangan.
“Kamu bertugas mengawasi. Kenapa bisa ada kelalaian seperti ini?” Nada suaranya tajam, keras, tidak menyisakan ruang untuk bantahan.
“Maaf, Pak. Itu kesalahan saya. Saya akan memperbaikinya.”
Dev menghela napas, masih menahan amarah.
“Jangan karena saya jarang terlihat di sini, kalian bekerja tanpa SOP. Upah kalian bukan kecil. Berikan hasil yang sepadan.” Suaranya lebih tenang, tapi tetap tegas. “Semuanya paham?”
“Paham, Pak.”
Aku hanya berdiri diam, tubuhku kaku, jantungku berdebar. Untuk pertama kalinya aku melihat Dev seperti itu—keras, berwibawa, menakutkan. Berbeda sekali dengan Dev yang selalu lembut padaku.
Dev keluar dari dapur sambil berbicara dengan manajernya. Aku mengikuti dari belakang, masih mencerna sisi baru darinya. Tiba-tiba tangan kirinya melambai ke belakang, memberi isyarat agar aku mendekat. Aku menyusul dan menggenggam tangannya. Seolah pria yang tadi menggelegar itu tidak pernah ada.
Setelah berjalan cukup jauh, kami masuk ke ruangan yang tampak seperti kantor. Dev duduk, membuka beberapa map, lalu menyalakan laptopnya.
“Dev,” panggilku.
“Iya?” Ia menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke layar.
“Aku bosan.”
Ia tersenyum tipis. “Halo, Bosan. Aku Dev.”
Aku mendengus pelan. “Aku serius.”
“Oh, namanya sudah ganti lagi?”
“Dev…” Aku menatapnya kesal.
Ia tertawa kecil. “Baiklah. Kamu ingin apa?”
“Mungkin aku ingin berkeliling.”
“Oke. Tunggu sebentar.” Ia mengangkat ponsel. “Tolong panggilkan Lidia ke ruangan saya.”
Tak lama kemudian seorang wanita anggun dengan rambut digelung masuk. “Bapak memanggil saya?”
“Tolong antar Nara berkeliling.”
Aku langsung menoleh. “Dev, aku bisa sendiri.”
“Tidak apa-apa. Biar kamu tidak tersesat,” katanya ringan. “Dia pemandu wisata terbaik di sini.”
Aku mendesah pelan, tapi menurut.
Restoran itu indah. Nuansa Bali berpadu dengan sentuhan Eropa. Para pegawai perempuan mengenakan kebaya dengan bunga kamboja terselip di rambut, sementara pria memakai topi khas Bali. Elegan, hampir seperti lukisan hidup.
“Kamu sudah lama bekerja di sini?” tanyaku memecah hening.
“Sudah cukup lama, Bu.”
“Bapak sering datang?”
“Dulu sering. Sekarang sudah jarang.”
“Kenapa?”
Lidia ragu sejenak. “Mungkin sejak Ibu Viona tidak ada.”
Langkahku terhenti.
Viona.
Nama itu seperti batu yang dijatuhkan ke dalam dadaku.
Aku kembali berjalan, berusaha terdengar biasa. “Dulu Bapak sering datang bersama Viona?”
“Iya. Kadang bersama, kadang Ibu Viona yang menyusul.”
Kami berhenti di tepi danau kecil berisi ikan koi.
“Lidia.”
“Iya, Bu?”
“Saya ingin sendiri sebentar.”
“Ibu yakin?”
Aku mengangguk. Begitu ia pergi, pikiranku penuh.
Viona.
Nama itu terasa terlalu hidup di tempat ini. Terlalu akrab di lidah semua orang. Aku kembali berjalan menuju kantor Dev, namun langkahku terhenti saat mendengar bisikan.
“Bukan. Aku yakin bukan dia.”
“Tapi kenapa bisa semirip itu?”
“Aku bilang juga apa? Laki-laki kalau memilih pasangan biasanya tidak jauh dari masa lalunya.”
Deg.
“Berarti belum sepenuhnya move on.” Mereka tertawa kecil.
“Kalian kenapa membicarakan orang?” Suara Lidia terdengar tegas.
“Dia bukan Ibu Viona. Namanya Nara.” “Wajahnya memang mirip, tapi sikapnya berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Yang sekarang lebih ramah. Aku lebih suka yang ini.”
“Ternyata bagus juga. Kita tidak akan dimarahi tanpa alasan lagi.”
Aku berjalan melewati mereka, mereka langsung terdiam dan tersenyum canggung. Aku membalas senyum itu. Tapi di dalam, sesuatu retak.
...***...
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Mobil melaju, tapi pikiranku tertinggal di restoran itu.
Mirip... lebih baik dari yang dulu... tidak dimarahi tanpa alasan.
Aku sudah memaafkan Dev. Sudah menerima kembali, berusaha memahami. Tapi ada satu hal yang belum bisa kulakukan. Menerima diriku yang baru. Karena setiap kali orang menatapku, aku tidak tahu— mereka melihat Nara… atau hanya bayangan seseorang bernama Viona.
Aku pertama kali sadar ada yang salah, bukan saat orang-orang mulai menatapku berbeda. Tapi saat aku menatap diriku sendiri. Pagi itu kamar mandi masih dingin, lampu putih menyala setengah malas, memantulkan bayangan yang berdiri tepat di depanku. Rambutku masih berantakan, mata sembap karena kurang tidur. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang berubah—Seharusnya.
Aku mendekat ke cermin, mencondongkan wajah sedikit. Perempuan di sana ikut bergerak, kami saling menatap. Dan entah kenapa, aku merasa sedang menatap orang asing. Aku mengerjap. Pantulan itu tetap sama—terlalu sama, justru itu yang membuatku tidak nyaman.
“Ini aku,” gumamku pelan, seolah sedang meyakinkan diri sendiri. Tapi kalimat itu terasa hambar, tidak meyakinkan siapa pun. Aku mengangkat tangan, menyentuh pipi. Tapi sentuhan itu terasa seperti menyentuh wajah milik orang lain. Seperti tubuh ini bukan sepenuhnya punyaku. Aku menarik napas panjang—Mungkin aku hanya lelah.
Aku sering diberitahu bahwa wajahku cantik. Terlalu sering, bahkan. Sampai pujian itu berubah menjadi beban. Sampai setiap kali orang tersenyum padaku, aku bertanya-tanya—mereka melihat siapa?
Aku?
Atau seseorang yang pernah ada sebelum aku?
Aku menjauh sedikit dari cermin. Tidak suka jarak sedekat itu. Tidak suka detail-detail yang terlalu jelas. Mata ini, garis wajah ini, semuanya terasa seperti milik kenangan yang bukan milikku.
Dev pernah menatapku lama sekali, terlalu lama.
Bukan tatapan laki-laki yang sedang jatuh cinta. Lebih seperti seseorang yang sedang kehilangan, lalu menemukan sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu. Saat itu aku belum mengerti kenapa dadaku terasa nyeri.
Sekarang aku tahu. Aku bukan sedang dicintai. Aku sedang dibandingkan. Air keran menetes pelan, suaranya berulang, konstan. Aku menunduk, membasuh wajah. Air dingin menyentuh kulit, membuatku sedikit tersadar.
Saat aku kembali menatap cermin, perasaan asing itu masih ada.
Aku tersenyum kecil pada pantulan itu. Senyum yang kupelajari, senyum aman. Pantulan itu membalas senyumku dengan sempurna.
“Berhenti,” bisikku tanpa sadar.
Aku mematikan lampu kamar mandi dan keluar dengan cepat, meninggalkan cermin dalam gelap. Aku tidak ingin ditatap, tidak pagi ini, tidak oleh diriku sendiri.
Sejak hari itu, aku belajar satu hal:
Cermin tidak selalu menunjukkan siapa dirimu.
Kadang, ia hanya memantulkan siapa yang orang lain ingin lihat. Dan sejak saat itu juga, aku mulai takut— bahwa suatu hari nanti, aku benar-benar akan lupa bagaimana rasanya menjadi Nara.