NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Refleks Gilang langsung mundur sedikit ke balik pilar dekat lobby.

Ia tidak ingin sampai terlihat oleh Dimas.

Suara mereka terdengar samar dari kejauhan, tapi beberapa kata masih tertangkap jelas.

“…kehamilan…”

Gilang mengernyit.

Lalu beberapa detik kemudian—

“…Valeria…”

Jantung Gilang langsung terasa jatuh.

“Hamil?” gumamnya pelan.

Kepalanya langsung menoleh lagi ke arah mereka.

“Siapa yang hamil… Bu Valeria?”

Gilang masih berdiri diam di balik pilar.

Pikirannya terasa penuh mendadak.

Ia mencoba mengingat lagi potongan percakapan yang tadi terdengar.

Kehamilan.

Valeria.

Tapi rasanya tetap sulit dipercaya.

Gilang langsung menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri.

“Nggak mungkin…” gumamnya lirih. “Paling gue salah dengar.”

Lagipula percakapan mereka tadi juga tidak terlalu jelas.

Mungkin saja bukan tentang itu.

Gilang akhirnya keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan.

Tapi begitu sampai di parkiran, pikirannya tetap kembali ke satu kata itu.

Kehamilan.

Tangannya menggenggam helm lebih erat.

“Jangan-jangan…” gumamnya pelan.

Kalau benar Valeria hamil—

berarti target itu sudah tercapai?

Tapi entah kenapa Gilang malah sulit mempercayainya sendiri.

Semuanya terasa terlalu cepat.

Gilang bersandar sebentar di motornya sambil menatap kosong ke bawah.

“Bisa aja itu anak suaminya sendiri…” gumamnya pelan.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Dan kalau memang begitu—

berarti targetnya gagal.

Napas Gilang langsung terasa berat membayangkannya.

Kalau gagal, ia harus mengembalikan uang yang sudah diberikan Valeria padanya.

Jumlahnya jelas bukan sedikit.

“Ya Tuhan…” desahnya pelan sambil mengusap wajah kasar.

Tapi di sisi lain—

Kalau kehamilan itu benar karena dirinya…

ia bukan cuma akan mendapat uang tambahan.

Tapi juga—

seorang anak biologis yang bahkan tidak akan pernah bisa ia akui sebagai miliknya sendiri.

Pikiran itu membuat dada Gilang terasa sesak aneh.

Ia langsung mengacak rambutnya frustrasi.

“Apaan sih” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Saat Gilang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah tepukan terasa di bahunya dari belakang.

“Hei…”

Gilang langsung tersentak kaget sampai refleks menoleh cepat.

Dan matanya langsung membesar.

“Viona?”

Gadis itu berdiri di belakangnya sambil membawa tas kecil di bahu.

Gilang masih terlihat bingung. “Ngapain kamu di sini?”

Viona mengangkat sedikit kakinya lalu menunjukkan jempol kakinya yang diperban.

“Abis operasi,” katanya sambil nyengir kecil. “Cantengan, hehe.”

Gilang sempat melirik bingung beberapa detik.

“Kak Gilang sendiri ngapain di sini?” tanya Viona balik.

Gilang langsung gelagapan.

Karena jujur saja—

dia sendiri juga tidak tahu kenapa datang ke rumah sakit ini.

“Oh… anu,” katanya cepat. “Ngambil obat buat Ibu.”

“Oh…”

Tapi beberapa detik kemudian wajah Viona langsung berubah seperti baru ingat sesuatu.

“Ihh!” katanya kesal. “Harusnya aku masih marah sama Kakak!”

Ia langsung membalik badan sambil cemberut lalu berjalan menjauh lagi.

Gilang tanpa sadar tersenyum kecil melihat Viona yang ngambek begitu.

Saat gadis itu mau terus berjalan, Gilang cepat-cepat memegang tali tas kecil Viona dari belakang.

“Tunggu, tunggu…”

Viona langsung menoleh kesal. “Apasih—”

“Aku minta maaf buat yang kemarin, yaaa,” potong Gilang cepat. “Maaf banget.”

Nada suaranya kali ini jauh lebih lembut dibanding biasanya.

Viona akhirnya berbalik badan lagi. Tangannya disilangkan di depan dada sambil menatap Gilang curiga.

“Sebenernya cewek kemarin itu siapa, Kak?”

Gilang langsung diam.

“Bohong banget kalau Kak Gilang nggak kenal dia siapa,” lanjut Viona sambil mengerucutkan bibir kecil. “Waktu itu Kakak panik banget.”

Gilang terlihat berpikir keras beberapa detik sebelum akhirnya menjawab gugup.

“E… itu… anu…” ia mengusap tengkuknya pelan. “Kemarin sebelumnya kita sempat ketemu di rumah sakit pas lagi antre ambil obat.”

Viona masih menatap curiga.

“Cuma ngobrol bentar sih,” lanjut Gilang cepat. “Makanya aku agak kaget waktu lihat dia kecelakaan.”

“Oh… gitu.”

Viona mengangguk kecil.

Tapi cara gadis itu menatap Gilang jelas tidak benar-benar percaya.

“Hm,” gumamnya pendek sambil memiringkan kepala sedikit. “Kebetulan banget ya.”

Gilang langsung mengangguk cepat. “Iya, kebetulan aja.”

Ia buru-buru mengalihkan topik lalu membuka jok motornya mengambil satu helm.

“Hmm, mau ke kampus bareng nggak? Yok.”

Viona langsung memonyongkan bibir kecil. “Hmm… males ah.”

Gilang menoleh. “Kenapa lagi?”

“Nanti aku ditinggalin di tengah jalan lagi.” jawab Viona cemberut.

Gilang langsung terdiam sebentar lalu tertawa kecil merasa bersalah.

“Ya ampun… masih dibahas.”

“Ya jelas lah!” balas Viona cepat. “Aku ditinggal gitu aja di stasiun.”

“Iya iya, salah aku.” Gilang mengangkat kedua tangan menyerah. “Nggak bakal lagi.”

Viona masih pura-pura berpikir sambil melirik motornya.

“Bener?”

“Bener.”

“Kalau ditinggal lagi?”

Gilang mendesah pasrah. “Terserah kamu mau marah berapa hari.”

Viona langsung mencubit lengan Gilang pelan. “Dasar rese!”

“Aduh!” Gilang malah tertawa kecil sambil mengusap lengannya.

Akhirnya Viona tetap naik ke motor Gilang.

Di perjalanan, suasana sempat diam beberapa menit. Hanya suara kendaraan dan angin jalanan yang terdengar.

Sampai akhirnya Gilang membuka suara pelan, sedikit ragu.

“Vio…”

“Hm?”

“Kamu kenal Devan dari mana?”

Viona menjawab santai dari belakang. “Oh itu? Kak Devan sekarang ngekost di samping kostanku.”

Gilang sedikit mengernyit.

“Belum lama sih, belum sampai sebulan,” lanjut Viona. “Tapi dia ramah, suka nyapa duluan. Jadi cepet akrab.”

Ia lalu sengaja menambahkan dengan nada menyindir, “Nggak kayak cowok satu itu. Buat kenalan aja nunggu setahun baru akrab.”

Gilang langsung melirik lewat spion. “Siapa?”

“Ya ada tuh,” jawab Viona santai. “Namanya Cogapek.”

Gilang langsung tertawa kecil. “Apaan tuh Cogapek? Mana ada nama orang kayak gitu.”

Viona langsung menahan tawa kecil dari belakang. “Beneran ada.”

“Hah?” Gilang masih bingung.

“Nih buktinya sekarang aja dia nggak paham,” lanjut Viona puas. “Emang Cogapek namanya.”

Gilang sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar.

“Cowok nggak peka?!” katanya sambil tertawa ngakak kecil.

Viona ikut tertawa pelan. “Nah, akhirnya paham juga.”

Gilang akhirnya ikut tertawa bersama Viona sepanjang jalan.

Suasana yang tadi canggung perlahan terasa lebih ringan.

Sampai tiba-tiba—

BRUMM! BRUMMM!

Suara motor besar terdengar dari belakang disusul klakson beberapa kali.

Viona refleks menoleh.

“Itu…” gumamnya.

Sebuah motor melaju mendekati mereka.

Devan yang mengendarainya.

Dan di belakang Devan ada seseorang berpakaian mencolok dengan kacamata hitam besar meski hari tidak terlalu panas.

Saat motor itu sejajar sebentar dengan Gilang, orang di belakang Devan hanya melambaikan tangan santai.

Viona malah tertawa kecil. “Siapa tuh? Mamanya ya?”

Ia memperhatikan lagi penampilan orang itu.

“Kok gayanya begitu banget…”

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!