NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 - Puzzle yang Aman

“Bang, itu benaran? Ingatan Nala balik?” tanya Citra yang tak menyangka bahwa ingatan Nala akan kembali.

“Kemungkinan besar. Ini hanya dugaan awal. Apalagi setelah melihat rekam medis Nala. Kita tunggu hasil CT Scan, baru kita tau kabar itu benar atau tidak.”

Nala keluar, semua orang langsung berdiri. Nala yang di bawa ke ruang CT Scan, semua mengantarnya. Tak lama, Nala kembali keluar dan  dipindahkan ke ruang rawat. Semua anggota keluarga bergantian memasuki ruang rawat Nala.

Saat giliran Arya yang akan masuk, Dipta mencegatnya.

“Gue mau bicara 4 mata sama lo!” Dipta menatap tajam Arya. Dipta meninggalkan area kamar inap Nala. Arya yang tak tau apa-apa hanya berjalan mengikuti. Dirinya tak tau apa yang ingin dibahas Dipta.

Dipta berhenti di taman rumah sakit. Duduk di kursi taman, menunduk dan menghela napas panjang.

“Lo mau bicara apa?”

Dipta mendongak, terlihat Arya yang berdiri di hadapannya.

“Kenapa lo harus bahas gelang itu?” tanya Dipta mencoba memancing Arya. Dirinya tak bodoh, dirinya tau Arya mencoba mencari tau soal gelang itu.

“Apa maksud lo?”

“Saat di pernikahan. Kenapa lo harus membahas gelang yang dipakai Nala? Kenapa? Karena lo nanyain itu, ingatan Nala kepancing untuk bangkit” geram Dipta

Arya tampak bingung. Respon Dipta, tampak tak wajar baginya.

“Gue nggak tau alasan lo tiba-tiba marah sama gue. Gue juga nggak ada maksud lain soal gelang itu, gue Cuma nanya...”

“... Dan, bukannya lo harus senang ya kalau ingatannya Nala balik?”

“Gue harus seneng? Kalau ingatan Nala semuanya indah, gue bakalan senang. Tapi nggak. Banyak ingatan Nala yang tak seharusnya bangkit lagi. Meskipun harus terpendam semua, gue ikhlas. Asal ingatan menyakitkan itu juga ikut hilang, asal lo tau!” teriak Dipta

“Apakah masa lalu Nala, terlalu sakit untuk diingat?”

“IYA!”

Dipta kembali terduduk lemas. Dirinya tak siap. Banyak kemungkinan buruk yang kini hinggap di kepalanya.

“Bang, dokter nyariin abang,” ujar Arsyad yang tiba-tiba muncul diantara mereka

“Oke, gue kesana.” Dipta berjalan cepat menuju ruang dokter.

Arya merenung, melihat ke arah Dipta yang berjalan menjauh. Berjalan ke arah lain, Arsyad tampak bingung.

“Kak Arya mau kemana?” heran Arsyad yang melihat kakak sepupunya merenung.

“Kakak keluar sebentar. Mau cari minum.”

Arsyad ragu, tapi memilih mengangguk saja dan pergi mengikut Dipta. Menengok sebentar ke arah Arya, tampak sekali ada guratan kesedihan disana.

“Aneh, sejak kapan Kak Arya sedih untuk orang lain?” gumamnya dan memilih melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya Dipta di ruang dokter, Maya ikut mendampingi.

“Selamat malam pak, mari saya jelaskan mengenai kondisi pasien saat ini.” Dokter mengeluarkan hasil CT Scan. Menunjuk ke arah otak, menjelakan letak permasalahan Nala.

“Pak Dipta, hasil CT Scan menunjukkan aktivitas yang tidak biasa pada bagian Hippocampus (pusat memori). Sepertinya ada trauma psikis yang terpicu kembali. Jika pemicunya kuat, memori itu akan kembali sebagai 'flashback' yang menyakitkan.”

Dipta dan Maya tampak mencerna penjelasan dokter tersebut. “Maksudnya dok?”

Dokter itu tersenyum. “Jika pemicu itu kuat, ingatan itu akan hadir kembali. Namun, seiring ingatan itu kembali maka rasa sakit akan menyertainya. Pasien akan merasakan kepalanya seperti tertimpa ribuan batu secara bersamaan. Dan hal itu bisa mengganggu ke kesehatan pasien yang lain, yaitu asma.”

“Jadi, kami harus bagaimana dok?”

“Biarkan dia ingat secara perlahan. Jangan dipaksa.”

“Baik dok, terima kasih!”

 

...****************...

Nala terbangun, tangannya terasa berat seolah ada sesuatu yang menindihnya. Melirik tangannya, terlihat Dilat tertidur dengan tangannya sebagai tumpuan.

“Bang Didip,” ujar lirih Nala

Dipta terbangun saat mendengar suara lirih milik Nala. Melihat Nala yang bangun, dengan panik Dipta memencet tombol panggilan dokter.

“Bang Didip kenapa panik begitu, Nala baik-baik aja kok.”

Didip.

Dipta tersentak saat mendengar nama kecilnya keluar dari mulut adiknya. Sudah sangat lama dirinya tak lagi mendengar nama itu, dan kini ia bisa mendengarnya kembali.

“Adik, kau sudah ingat?” lirih Dipta

Nala hanya tersenyum. Namun itu sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan itu.

Dokter masuk ke ruang rawat Nala. Memeriksa keadaan Nala, dan mengecek pernapasan Nala.

“Apa ada keluhan?”

“Tidak ada dok. Hanya pusing sedikit.”

“Bagaimana, apa saja yang anda ingat?”

“Saya mengingat abang, kakek, ayah, nenek dan teman-teman saya dok. Yang sangat ingat masa SMP, kemudian terputus begitu saja. Semasa SMA, saya tak mengingatnya.”

Dokter mengangguk mengerti. Kemudian melirik ke arah Dipta yang berjaga.

“Pak Dipta, mari ikut saya sebentar.”

“Ada apa dokter?” ujarnya setelah mengikuti dokter menyingkir sebentar dari brankar Nala.

“Sepertinya pasien mengalami amnesia disosiatif selektif. Dia hanya mengingat sesuatu yang menurutnya aman.”

“Apakah ingatan Nala akan terus berkembang? Padahal ingatan itu sudah terkunci cukup lama.”

“Kemungkinan akan terus berkembang. Jika ada pemicunya, maka itu akan mempercepat ingatannya kembali.”

“Baik dok, terima kasih.”

“Sama-sama. Saya pergi dulu.”

Nala diam-diam mendengarkan penjelasan dokter. Sebagai seorang psikiater, Nala tau tentang kondisinya saat ini. Dirinya tak menyangka bahwa ingatannya akan kembali setelah meminum air dari ruang rahasia itu. Ingatan yang terkunci hampir 10 tahun itu.

Ingin segera mengingat, Nala bertekad akan kembali ke ruang dimensi secara bertahap. Dirinya ingin mengetahui apa yang terjadi di masa lalu hingga dirinya mengalami kecelakaan. Sosok ‘R’ yang terus menjadi tanyanya yang tak pernah terjawab. Jika ingatannya kembali, maka semuanya akan terjawab. Ya, Nala menginginkan ingatannya kembali. Meskipun, Nala tau kakaknya kurang menyukai soal ingatannya yang kembali.

 

...****************...

Waktu silih berganti. Menginap 2 hari rumah sakit, sudah cukup untuk Nala. Dirinya merindukan kasur kamarnya.

Memasuki area rumah, Nala merasa sangat lega. Tak ada yang mampu menandingi kebebasan setelah keluar dari rumah sakit

Blar!

“Selamat Datang!” Suara konfeti dan ucapan penyambutan membuat hati Kala menghangat. Dirinya melihat sahabat dan ortu Maya datang meyambutnya.

“Aduh, anak bungsu Mama pulang, “

Mike, saudara kembar Maya segera mendekat ke arah Nala.

“Heh bocah, jangan sakit terus lo. Nanti lo nggak bisa datang ke nikahan gue, tau rasa lo!” tak lupa tangan Mike aktif mengacak-acak rambut Nala

Nala yang geram segera menepis tangan Mike.

“Tenang aja, gue bakal datang. Gue juga penasaran gimana prosesi pedang pora. Pasti seru!” girang Nala saat membayangkan acara pedang pora seperti yang ia lihat di media sosial. Mike ikut tersenyum saat melihat Nala yang mulai kembali ceria.

“Heh udah, biarin Nala duduk dulu baru diajak bicara.” ujar Mama Ayu

“Ma makan dulu aja. Nala belum makan, ma,” rengek Nala

“Aduh, jadi bungsu lapar ya. Ayo, ayo makanannya udah siap.” Mama Ayu menggiring Nala ke arah ruang makan.

“Onty, onty!” panggil Bayu sambil merentangkan tangannya ke arah Nala

Nala tersenyum senang melihat Bayu.

“Aduh keponakan onty inj. Rindu ya!” goda Nala

“Ehm!” Bayu mengangguk-anggukan kepalanya semangat. Memeluk Nala dengan erat dan bersembunyi di pundak Nala.

“Duh, yang lagi manja!”

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!