NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 - Kembali Jadi Dokter

Beberapa hari setelah pertengkaran besar itu, suasana rumah keluarga Hartanto berubah semakin dingin.

Zayn dan Anggun masih berbicara, tetapi seperlunya saja. Tidak ada lagi percakapan santai sebelum tidur. Tidak ada lagi makan malam bersama. Bahkan kamar mereka terasa seperti hotel mewah yang dihuni dua orang asing.

Zayn mulai lebih sering pulang larut. Bukan karena sengaja menghindar, melainkan karena rumah itu kini membuat dadanya sesak.

Sementara Anggun semakin tenggelam dalam dunianya sendiri. Pemotretan, acara brand, meeting, dan ponsel yang hampir tak pernah lepas dari tangan. Hubungan mereka perlahan retak tanpa ada yang benar-benar mencoba memperbaikinya.

Berbanding terbalik dengan kehidupan Naomi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidupnya mulai terasa bergerak ke arah yang lebih baik.

Pagi itu Naomi sedang duduk di ruang konsultasi Junie sambil memangku Davin yang sibuk memainkan mobil-mobilan kecil. Anak itu kini semakin aktif. Ocehannya makin banyak, tawanya makin keras, dan matanya selalu penuh rasa penasaran.

Junie menutup map pasien di tangannya lalu menatap Naomi. “Aku mau ngomong sesuatu.”

Naomi langsung menoleh. “Hm?”

Junie tampak sedikit lebih serius dari biasanya. “Di klinik lagi butuh dokter umum tambahan.”

Naomi mengedip pelan. “Oh…”

“Aku mau nawarin kamu kerja di sana.”

Naomi langsung membeku. Beberapa detik dia benar-benar tidak bisa bereaksi. Bahkan Davin sampai menarik-narik lengannya sambil berseru kecil.

“Ma!”

Naomi masih menatap Junie tidak percaya. “Dok… Ini serius?”

Junie mengangguk tenang. “Serius."

Naomi langsung gugup mendadak. “Tapi aku udah lama nggak praktik…”

“Kamu masih punya kemampuan itu.”

“Aku takut nggak bisa ngikutin.”

“Kamu bisa belajar lagi.”

Jawabannya terlalu yakin sampai Naomi sendiri kehilangan kata-kata.

“Lagipula,” lanjut Junie, “aku lihat sendiri perkembangan kamu beberapa bulan terakhir.”

Naomi menunduk pelan. Jujur saja, tawaran itu terasa seperti mimpi. Dulu dia bahkan berpikir hidupnya sudah selesai.

“Aku…” suaranya mengecil. “Aku nggak tahu harus bilang apa.”

Junie tersenyum kecil. “Bilangan iya aja cukup.”

Naomi spontan tertawa kecil. Namun sedetik kemudian, keraguannya muncul lagi.

“Tapi Davin gimana?”

Junie terlihat sudah menduga pertanyaan itu. “Kamu bisa bawa dia.”

Naomi mengernyit. “Hah?”

Junie mengangguk santai. “Di lantai dua ada area bermain kecil buat anak pasien. Lagian di klinik juga banyak orang.”

Naomi masih terlihat ragu.

“Ada Dokter Sofia juga,” tambah Junie. “Dia dokter anak. Suka banget sama Davin.”

Naomi sedikit mengenal Sofia. Dokter anak muda yang cukup tomboy dan cerewet. Sementara satu dokter lain di klinik adalah dokter kandungan bernama Abdur Rahman yang terkenal sangat kalem.

“Mereka semua baik kok,” lanjut Junie.

Naomi menggigit bibir pelan. Dadanya mulai hangat perlahan.

“Kenapa baik banget sih sama aku…” gumamnya lirih tanpa sadar.

Junie terpaku sepersekian detik.

Naomi sendiri langsung salah tingkah setelah menyadari ucapannya. “Aku maksudnya…” dia cepat-cepat membenarkan. “Aku cuma… nggak nyangka aja.”

Junie tersenyum kecil. “Karena kamu pantas dapat kesempatan lagi.”

Kalimat itu entah kenapa terasa tulus sekali. Setelah bertahun-tahun, kini Naomi merasa dirinya benar-benar masih punya masa depan.

Hari pertama kerja Naomi dijadwalkan minggu depan. Malam sebelum mulai bekerja, Naomi duduk di ruang tengah apartemen bersama Jihan. Lampu kamar sudah dimatikan. Davin tertidur pulas setelah tadi aktif berlarian ke sana kemari sampai kelelahan sendiri.

Naomi duduk sambil memeluk lutut di sofa. “Aku gugup,” ungkapnya.

Jihan yang sedang makan keripik langsung melirik. “Itu normal.”

“Aku takut lupa semuanya.”

“Kalau lupa tinggal buka Google.”

Naomi langsung mendelik. “Aku serius!"

“Aku juga serius.”

Naomi menghela napas panjang sambil menyandarkan kepala ke sofa. “Aneh ya…” ujarnya. “Dulu aku pikir hidupku udah selesai.”

Jihan menatap sahabatnya beberapa detik. Memang benar, dulu Naomi seperti orang yang kehilangan cahaya. Hidup sekadar bertahan demi Davin. Tapi sekarang perempuan itu perlahan hidup lagi.

“Junie baik banget sama aku,” ucap Naomi pelan.

Jihan langsung menyeringai tipis. “Nah mulai.”

Naomi melirik malas. “Apaan?”

“Dokter Junie.”

Naomi menghela napas kecil. “Aku serius bingung.”

“Bingung kenapa?”

“Kenapa dia sebaik itu.”

Jihan langsung tertawa pendek. “Karena dia cinta sama kamu.”

Naomi spontan melotot. “Ih ngawur!"

“Naomi…” Jihan mendekat sambil menunjuk wajah sahabatnya dramatis. “Cowok normal nggak bakal sepeduli itu sama perempuan kalau nggak suka.”

Naomi langsung memalingkan wajah. “Dia memang baik sama semua orang.”

“Enggak.”

“Jihan…”

“Dia tuh beda kalau sama kamu.”

Naomi terdiam sebentar. Sebenarnya bukan dia tidak sadar. Dia sadar Junie terlalu perhatian. Terlalu sering datang membantu. Bahkan Davin sendiri sangat dekat dengan laki-laki itu. Kadang Naomi juga memergoki cara Junie menatapnya. Lembut sekali, dan itu justru membuatnya takut.

“Aku nggak mau salah paham,” katanya pelan.

Jihan mendesah kecil. “Na… cowok itu jelas banget suka sama kamu.”

Naomi menggeleng cepat. “Nggak mungkin.”

“Kenapa nggak mungkin?”

“Karena…” Naomi menggantungkan kalimatnya. Karena dirinya janda dengan anak. Karena hidupnya berantakan. Karena masa lalunya terlalu rumit, dan karena setelah semua yang terjadi bersama Zayn, Naomi bahkan tidak yakin dirinya masih bisa percaya pada pernikahan lagi.

“Aku belum kepikiran nikah lagi,” ucapnya akhirnya.

Jihan sedikit melunak sekarang.

Naomi menunduk sambil memainkan ujung bantal sofa. “Aku cuma pengin Davin tumbuh sehat,” lanjutnya lirih. “Itu aja dulu.”

Jihan diam beberapa detik. Lalu tiba-tiba dia bertanya, “Kalau Junie suatu hari nembak kamu gimana?”

Naomi langsung membeku. “Apa?”

“Jawab.”

“Jihan…”

“Jawab aja dulu.”

Naomi mendadak salah tingkah. “Aku nggak tahu.”

“Nah berarti kepikiran.”

“Enggak!”

Jihan ngakak pelan.

Naomi langsung melempar bantal kecil ke arahnya. “Ganggu banget sih!”

Jihan masih tertawa sambil menghindar.

“Tapi serius,” katanya kemudian. “Kalau memang ada orang baik datang ke hidup kamu lagi… jangan langsung ditolak cuma karena trauma.”

Naomi terdiam. Kalimat itu menancap cukup dalam di kepalanya. Karena jujur saja, semakin hari Junie memang semakin masuk ke hidup mereka. Bukan cuma ke hidupnya. Tapi juga Davin, dan itu yang paling berbahaya. Karena Davin sudah mulai terbiasa mencari Junie. Kalau laki-laki itu datang, anak itu langsung heboh sendiri.

“Juni! Juni!”

Bahkan panggilan “Dokter Junie” kini berubah jadi “Juni” versi bayi yang cadel. Setiap melihat mereka bersama, hati Naomi selalu terasa aneh. Hangat tapi juga takut. Takut berharap terlalu jauh.

...***...

Hari pertama Naomi bekerja akhirnya tiba. Pagi itu Naomi tampil jauh berbeda dibanding biasanya. Rambutnya dikuncir rapi. Dia memakai kemeja putih sederhana dengan outer pastel dan celana bahan longgar.

Jihan sampai bersiul saat melihatnya keluar kamar. “Wih dokter cantik.”

Naomi langsung tertawa malu. “Lebay!"

“Serius. Kau keliatan hidup lagi.”

Kalimat itu membuat Naomi sedikit terdiam.

Sementara Davin yang duduk di stroller sibuk menepuk-nepuk meja sambil ikut cerewet sendiri.

“Ma! Ma!”

“Iya sayang.”

Naomi mencium kepala anaknya pelan sebelum akhirnya menarik napas panjang. Dia gugup sekali. Namun saat sampai di klinik, suasananya ternyata jauh lebih hangat dari yang dia bayangkan.

Sofia langsung heboh begitu melihat Davin. “YA AMPUN INI PANGERAN KECIL DATANG!”

Davin malah tertawa senang saat digendong dokter anak tomboy itu.

“Lucu banget sih!” kata Sofia gemas.

Sementara Dokter Abdur Rahman menyambut Naomi dengan senyum ramah dan sopan.

“Selamat bergabung, Dokter Naomi.”

Mendengar panggilan “dokter” lagi setelah sekian lama membuat dada Naomi langsung sesak aneh. Hampir terharu.

Junie yang berdiri tak jauh dari sana diam-diam memperhatikan ekspresi Naomi. Saat melihat mata perempuan itu mulai berkaca-kaca, sudut bibirnya perlahan ikut terangkat kecil. Karena akhirnya Naomi kembali menemukan dirinya sendiri lagi.

1
MamDeyh
Kasyan Abyan...
Tiara Bella
pisahan lama² ini anggun sm Zayn....tp entah tanggapan Ratna ibunya Zayn yg egois itu....
Rommy Wasini Khumaidi
Anggun gk sadar dulu dia juga bayi,gk tiba² lahir langsung jadi gadis cantik,semua butuh proses nggun
Ariany Sudjana
hahahaha Zayn Zayn, karena kebodohan kamu, kamu melepaskan batu permata demi pelacur murahan 😂😂🤣🤣 orang yang kamu pilih tidak memiliki jiwa seorang ibu, dia lebih sibuk dengan dirinya sendiri 😂😂🤣🤣 yang gitu yang jadi kebanggaan keluarga Hartanto?
falea sezi
laki kayak banci lu zayn🤣
Ninik Sumarni
dokter kok bodoh banget ya ini orang gak sadar juga
Uyen Uyen
lah yang dulu membuang Naumi siapa Zayn???
Yuli Yulianti
ayo Naomi ud saat nya kamu jujur ke keluarga mu klo kamu ud dibuang dan diceraikan
sunaryati jarum
Sudah terlambat Zain,Naomy tidak akan mau kembali padamu, walau kau membawa nama keluarga.Naomy sekarang jangan samakan ketika masih jadi istrimu.Sekarang tangguh tidak bisa ditindas siapapun.
sunaryati jarum
Sudah terlambat Zain,Naomy tidak akan mau kembali padamu, walau kau membawa nama keluarga.Naomy sekarang jangan samakan ketika masih jadi istrimu.Sekarang tangguh tidak bisa ditindas siapapun.
Ma Em
Zayn karena cemburu pada Junie sampai hati mau melaporkan pada keluarga Naomi agar Naomi pulang kampung , Zayn kamu tdk mikir otakmu ditaro di dengkul kalau Naomi pulang kampung Davin juga pasti akan ikut plg ke kampung lalu Naomi dapat uang darimana kalau berhenti jadi dokter mau kasih Davin makan apa sedangkan kamu saja sebagai seorang ayah tdk urus Davin malah di telantarkan , dasar Zayn bodoh tdk memikirkan nasib Anaknya .
Tiara Bella
egois bngt si Zayn ihhhh boleh gk Thor dipites....
Desau: macam kecoak aja kak dipites🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
Zayn kamu dokter, tapi bodohnya kebangetan. kamu pikir dengan menjauhkan Naomi dari Junie, terus Naomi mau balik sama kamu? mimpi kamu ketinggian, apalagi ibu kamu akan menentang karena tuduhan Naomi selingkuh, padahal yang selingkuh kan kamu 🤣🤣
Dewi kunti
bayi lho diceblek Yo Soyo kejer
Rommy Wasini Khumaidi
selamat dokter Juni...lope you dokter Juni
Ariany Sudjana
hahaha kelihatan kan yang cerdas dan punya empati itu dokter Junie? ya jelas rumah sakit dokter Junie Ang dapat kontraknya, Zayn terlalu bodoh dan mau saj percaya dengan si pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Tiara Bella
anggun anggun anak sendiri loh itu bisa bikinnya doang km....gedein nya gk mw...
sunaryati jarum
Astaga masa bayi nangis kok malah digeplak pahanya, Anggun bukan seorang ibu tapi iblis
sunaryati jarum
Rumah sakit Hartanto nanti tidak lolos karena dokternya menganggap anak terlahir sumbing itu aib.
Ass Yfa
Zayn..yg dilepas ngapain....dikejr lagi..basi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!