NovelToon NovelToon
Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?

Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.

​Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.

​Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.

Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Matahari pagi menembus celah gorden, namun tidak ada lagi aroma kopi yang kuseduh dengan cinta di meja makan. Aku turun ke bawah dengan langkah tenang, mengenakan setelan kerja terbaikku.

Di ruang makan, pemandangan kontras menyambutku. Alana sedang bergelut dengan kompor di dapur, wajahnya yang biasa terawat kini tampak kusam karena uap panas dan keringat.

"Arkan! Kenapa kompor ini sulit sekali dinyalakan?" teriak Alana frustrasi.

Arkan, yang duduk di meja makan dengan kemeja yang tampak agak kusut - karena aku tidak lagi menyetrika pakaiannya - hanya bisa memijat pelipisnya. "Aku tidak tahu, Lan. Biasanya Kinanti yang mengurus semuanya."

Aku melangkah masuk ke dapur, mengambil gelas tinggi dan menuangkan air mineral dingin. "Gasnya habis, Alana. Dan, kamu harus belajar memesan sendiri ke agen gas langganan. Pak Diman tidak akan membantu, dia akan mengantar aku ke kantor."

Alana menoleh dengan tatapan tajam. "Kinanti! Aku ini sedang hamil! Kamu tega membiarkan aku mengurus hal kasar seperti ini?"

Aku menyesap air duku dengan elegan. "Hamil bukan berarti cacat, Lan. Dulu Bunda-ku tetap menjual kue berkeliling kampung saat mengandungku. Kamu ingin menjadi nyonya di sini, bukan? Nyonya rumah harus tahu cara mengelola dapur saat pelayan tidak ada. Karena mulai hari ini, Bi Ijah hanya bekerja untukku. Dia tidak akan menyentuh paviliun atau memasakkan makanan untukmu."

Wajah Alana pucat pasi. Dia menatap Arkan, mengharap pembelaan. "Mas! Lihat dia!"

Arkan bangkit, suaranya parau. "Kin, tolonglah... setidaknya untuk pagi ini saja. Aku ada rapat penting di kantor."

Aku tersenyum tipis, menatap Arkan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Rapat penting? Ah, aku hampir lupa. Sekretarismu menelepon tadi pagi. Ada beberapa dokumen tender proyek renovasi hotel di Bali yang butuh tanda tangan persetujuanku sebagai komisaris utama. Tanpa itu, kamu tidak bisa menjalankan proyeknya, bukan?"

Arkan tertegun. Dia baru teringat akan surat perjanjian yang dia tandatangani dengan penuh cinta lima tahun lalu, sebuah janji bahwa seluruh aset dan keputusan strategis perusahaan adalah atas namaku sebagai bentuk jaminannya padaku.

Saat itu, dia melakukannya untuk membuktikan bahwa dia tidak akan pernah mengkhianatiku. Ironis.

"Aku akan mengeceknya nanti siang jika aku sempat," kataku sambil berjalan menuju pintu. "Ayo Pak Diman, kita berangkat."

~~

Di kantor, suasana terasa berbeda. Arkan masuk ke ruanganku dua jam kemudian tanpa mengetuk pintu. Wajahnya menunjukkan rasa frustrasi yang mendalam.

"Kinanti, tolong tanda tangani ini sekarang. Vendor sudah menagih uang muka. Jika proyek ini terhambat, reputasi perusahaanku taruhannya!" Arkan menyodorkan map cokelat ke hadapanku.

Aku tidak segera mengambil pulpen. Aku justru menyandarkan punggung ke kursi kebesaranku, menatapnya dengan tenang. "Duduklah, Arkan. Kamu terlihat sangat tidak rapi. Di mana Arkan yang dulu selalu tampil sempurna?"

Arkan duduk dengan kasar. "Bagaimana aku bisa rapi? Alana tidak tahu cara mengurus rumah! Dia hanya tahu cara menghabiskan uang! Pagi ini dia menangis karena tidak bisa menggunakan mesin cuci, dan paviliun itu... dia bilang dia tidak bisa tidur karena suara jangkrik."

"Bukankah itu wanita pilihanmu? Wanita yang kamu bilang memahami kamu lebih baik dariku?" Aku membuka map tersebut, membacanya perlahan halaman demi halaman. "Dan soal dokumen ini... aku melihat ada penggelembungan dana di bagian logistik. Apa ini untuk biaya renovasi kamar bayi yang kamu bicarakan semalam?"

Arkan terdiam, matanya menghindari tatapanku.

"Jangan pernah mencoba mencuri dari perusahaan sendiri untuk membiayai pengkhianatanmu, Arkan," kataku dingin sambil menutup map itu tanpa tanda tangan. "Revisi dokumen ini. Hilangkan semua biaya tambahan yang tidak masuk akal itu, baru kembali kepadaku."

"Kinanti! Proyek ini bisa lepas!" bentak Arkan.

"Maka biarkan lepas," jawabku datar. "Kamu yang memilih untuk menghancurkan rumah tanggamu, sekarang kamu harus bersiap melihat kariermu ikut goyah karena fokusmu terbagi. Kamu ingin membuktikan pada Alana bahwa kamu bisa menghidupinya? Silakan lakukan dengan cara yang jujur."

Arkan keluar dari ruanganku dengan membanting pintu. Aku tahu, harga dirinya sebagai arsitek sukses sedang diinjak-injak, dan yang melakukannya adalah wanita yang dulu selalu memujinya.

Sore harinya, aku pulang dan menemukan paviliun belakang dalam keadaan kacau. Suara pecahan kaca terdengar hingga ke rumah utama. Aku berjalan ke sana, berdiri di ambang pintu paviliun.

Alana duduk di lantai, menangis di antara pecahan piring. Di depannya, Arkan berdiri dengan napas memburu.

"Aku lelah, Alana! Aku pulang ingin istirahat, tapi yang kudengar hanya keluhanmu! Makan malam belum siap, rumah berantakan, dan kamu masih menuntut aku membelikan perhiasan baru?" teriak Arkan.

"Aku bosan di sini, Mas! Kinanti memperlakukan aku seperti tawanan! Dia mematikan wifi di paviliun, dia tidak memberiku akses ke kolam renang, dan semua orang di rumah ini menatapku seolah aku sampah!" Alana balas berteriak, air matanya menghapus riasan mahalnya.

"Memang itu posisimu sekarang, bukan?" suaraku menginterupsi perdebatan mereka.

Keduanya menoleh. Arkan tampak malu melihatku menyaksikan kelemahannya, sementara Alana menatapku dengan kebencian murni.

"Kinanti! Kamu sengaja melakukan ini semua!" jerit Alana.

"Aku hanya memberikan apa yang kamu minta, Alana. Kamu bilang kamu mencintai Arkan, bukan hartanya. Sekarang, saat Arkan sedang tidak memegang kendali atas harta itu, kenapa kamu mengeluh? Bukankah cinta seharusnya cukup?" aku berjalan masuk, menghindari pecahan kaca dengan hati-hati.

Aku menatap Arkan. "Arkan, kamu terlihat sangat lelah. Mau aku buatkan teh hangat di rumah utama? Seperti yang biasa kulakukan dulu saat kamu pulang lembur?"

Mata Arkan seketika berbinar. Ada kerinduan yang sangat nyata di sana. Penyesalan itu mulai menggerogoti hatinya. Dia melihat ke arahku, bersih, wangi, tenang, dan berkuasa, lalu melihat ke arah Alana yang sedang histeris.

"Boleh, Kin?" tanya Arkan ragu.

"Mas! Kamu tidak boleh pergi!" Alana menarik ujung kemeja Arkan. "Aku sedang mengandung anakmu!"

Arkan menepis tangan Alana pelan. "Aku hanya sebentar, Lan. Aku perlu bicara dengan Kinanti soal pekerjaan."

Aku berjalan mendahului Arkan menuju rumah utama. Di ruang tengah, aku duduk di sofa, membiarkan Arkan duduk di hadapanku. Aku menuangkan teh hangat untuknya. Arkan menyesapnya dengan perlahan, seolah itu adalah air paling nikmat yang pernah dia rasakan.

"Kin..." suara Arkan bergetar. "Maafkan aku."

"Untuk apa, Arkan?"

"Untuk semuanya. Aku baru sadar... hidup dengan Alana tidak semudah yang kubayangkan. Dia... dia menuntut terlalu banyak. Sedangkan aku, aku tidak bisa memberikan apa-apa tanpa persetujuanmu. Aku merasa seperti pecundang."

Aku menatap wajah pria yang dulu sangat kucintai ini. "Kamu memang pecundang, Arkan. Kamu mengkhianati wanita yang membantumu membangun karier dari nol demi wanita yang hanya mencintai kesuksesanmu. Sekarang, saat kesuksesan itu berada di bawah kendaliku, kamu baru merasakan dampaknya."

"Aku merindukan kita yang dulu, Kin," ucap Arkan, mencoba meraih tanganku.

Aku menarik tanganku sebelum dia sempat menyentuhnya. "Kita yang dulu sudah mati di sore hari saat aku membaca pesan di ponselmu. Sekarang yang ada hanya aku sebagai pemegang kendali, dan kamu sebagai pria yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Tiba-tiba, Alana masuk ke rumah utama dengan langkah tertatih-tatih. "Arkan! Pulang ke paviliun sekarang!"

Arkan tidak bergerak. Dia justru menatap Alana dengan tatapan jengah. "Berhenti berteriak, Alana! Kamu mempermalukan dirimu sendiri."

"Oh, jadi sekarang kamu membela dia? Kamu menyesal telah memilihku?" Alana tertawa histeris. "Ingat Arkan, aku mengandung anakmu! Kamu tidak bisa kembali padanya!"

Aku bangkit berdiri, merasa drama ini sudah cukup untuk hari ini. "Arkan, bawa istrimu kembali ke tempatnya. Suara teriakannya merusak ketenangan rumahku. Dan jangan lupa, Arkan, besok pagi jam delapan adalah tenggat waktu revisi dokumen tender. Jika tidak ada di mejaku, aku akan menyerahkan proyek itu pada firma arsitek lain."

Aku berjalan menuju tangga, meninggalkan mereka berdua yang terpaku di ruang tengah. Dari atas, aku bisa melihat Arkan menarik tangan Alana untuk keluar, namun matanya terus menatap ke arahku, tatapan penuh penyesalan, kerinduan, dan rasa sakit.

Aku masuk ke kamarku, menutup pintu, dan tersenyum pada wajahku di cermin.

Alana semakin tertekan karena dia sadar kecantikannya tidak bisa membeli kekuasaan di rumah ini. Arkan semakin menyesal karena dia sadar bahwa tanpa aku, dia bukanlah siapa-siapa.

Dinding-dinding rumah ini kini menjadi saksi bisu bagaimana pengkhianatan mulai memakan pelakunya sendiri. Arkan mungkin merindukanku, tapi aku tidak akan pernah memberinya jalan pulang.

Aku akan membiarkan dia tetap berada di antara kami, tersiksa oleh penyesalannya padaku dan tercekik oleh tuntutan Alana.

Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak, sementara suara tangisan Alana dan keluhan Arkan di ruang bawah menjadi nina bobo yang sangat merdu. Roda itu sudah berputar, dan aku adalah orang yang memegang tuasnya.

Besok adalah hari yang baru. Hari di mana aku akan membuat Arkan semakin terpojok di kantornya sendiri, dan hari di mana Alana akan menyadari bahwa menjadi nyonya kedua adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.

Karena di rumah ini, hanya ada satu ratu. Dan namanya adalah Kinanti.

...----------------...

To Be Continue .....

1
Siti Zaid
Arkan seolah2 menyalahkan kinanti sepenuhnya..padahal dirinya yg selingkuh duluan..pun begitu juga Alana yg sudah sangat jahat pada kinanti😠
Himna Mohamad
hrs gagal thoor rencana arkan
Lee Mba Young
Waduh istri sah kalah dong nanti yg menang pelakor. jng sampai kl Arkan Dan Alana menang Aku akn berhenti Baca.
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.

berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
Siti Zaid
Kinanti yg lemah lembut dan berhati malaikat telah mati disaat kamu selingkuh dan menikahi sahabat nya..Arkan!! kamu sendiri yg menjadikan Kinanti..wanita yg tidak memiliki perasaan..semuanya salah kamu dan Alana..😡
Herdian Arya
pembalasan yang sangat setimpal, tapi Kinanti juga mati hati nuraninya, dan yang paling kasian adalah bayi itu yangharus menanggung kesalahan orang tuanya.
Lee Mba Young
lagian Arjuna juga anak haram, hasil selingkuh kan. nnti kl dewasa pasti malu tu punya ibu kandung pelakor Dan bpk tukang selingkuh. masih bagus di urus kinanti 👍.
Lee Mba Young
Aku gk ngerti Jalan pikiran arkan, dia merasa bersalah ke pelakor tp gk merasa bersalah ke istri sah.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
Lee Mba Young
Arkan ki aneh bersujud kok nek pelakor, bersujud yo nek istri sah. utek e gk beres.
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
Dew666
🎈🎈🎈🎈
Lee Mba Young
Pdhl arkan Dan Alana adlh pelaku tp merasa korban semua. aneh pas main kuda smp Alana hamil apa gk mikir sakit nya kinanti lah.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
Lee Mba Young
Syukurin mkne to Ojo selingkuh.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Lee Mba Young
Ya nikmati saja karma mu Arkan. Karma tak semanis Kurma.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.

Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.

Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
YuWie
ya harusnya kau rangkul bayik nya..walo dia adl bukti dr hasil penghianatan. klo kau kasih sayang spt ibu kandungnya kan nanti besarnya arjuna jg akan menyayangimu. cukun si al dan suamimu yg dendam padamu jgn si bayik..dan pembaca jg gak semakin ilfil sama kamu..masaknprotagonis tak punya hati.. atau jgn2 mmg kinanti adl tokoh antagonisnya 🙃
YuWie
protagonis tapi malah jadi antagonis kie si kinanti ya.. sama bayi aja tega gak bisa memisah sakit hati ke ortu dg si bayik
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Alana lo gk tobat Wes dadi pelakor. arkan juga gk merasa bersalah.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
Lee Mba Young
Kinanti jng sampai lengah. pasti kan nnti Alana gk bisa nuntut balas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.
Dew666
💟💟💟💟
YuWie
gantian balas dendam Al..ben muter wae isine balas dendam.
YuWie
kenapa kamu gak punya anak sendiri kin.. Harta ada, dendam terbalaskan tapi apakah kamu bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!