Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 8
Mobil mewah Andra membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang, Nadhira memangku kepala ibunya yang tak sadarkan diri. Setiap kali tubuh ibunya bergetar karena sesak napas, jantung Nadhira serasa berhenti berdetak.
"Sabar, Dhira. Sebentar lagi sampai," suara Andra terdengar berat.
Dia fokus pada kemudi namun sesekali melirik spion tengah dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara cemas dan rasa bersalah yang amat dalam.
Setibanya di rumah sakit, semuanya berlangsung seperti kilat yang menyambar. Perawat berlarian membawa brankar, dan ibunya segera dilarikan ke ruang resusitasi. Nadhira ingin ikut masuk, namun seorang perawat menahannya di depan pintu kaca yang dingin.
Nadhira berdiri mematung, menatap lampu merah Emergency yang menyala di atas pintu. Tubuhnya gemetar hebat. Dia tidak sadar bahwa Andra masih berdiri di belakangnya, hingga pria itu melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Nadhira yang kedinginan.
"Ibumu kuat, Dhira. Dia akan baik-baik saja," bisik Andra.
Nadhira menepis jas itu dan mengembalikannya kepada Andra. Dia berbalik dengan mata yang berkilat marah sekaligus hancur.
"Jangan begini, Andra! Jangan pura-pura peduli! Kehadiranmu hanya akan membuat Diana semakin salah paham padaku! Aku hanya mantan sahabat kamu di masa lalu! Berhenti peduli padaku! Aku mohon! Aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan satu-satunya alasan aku masih tetap bertahan. Aku mohon Andra!" mohon Nadhira sambil menangis.
Air matanya tak bisa dia tahan. Padahal sekuat tenaga dia ingin memperlihatkan dirinya yang berbeda di depan Sahabatnya. Dia ingin menunjukkan jika sekarang dia sudah menjelma menjadi wanita yang kuat. Bukan wanita yang lemah seperti dahulu. Wanita yang selalu bersembunyi di belakang punggung Andra.
Andra terdiam, wajahnya mengeras.
"Dhira! Diana bukan wanita seperti itu! Kamu sepetinya selama ini salah paham kepada Diana! Dia juga sangat menerima kamu sebagai sahabatku. Jangan begini! Dan jangan pura-pura manjadi wanita kuat! Apalagi ibumu dalam keadaan seperti ini! Jangan egois dan keras kepala!" Andra jadi kesal kepada Nadhira.
"Iya terserah saja. Terima kasih sudah membantuku. Silahkan pulanglah! Jangan sampai Mbak Diana salah paham padaku karena berfikir aku yang memanggil kamu untuk membantuku!" usir Nadhira.
Belum sempat Andra menjawab, ponsel pria itu bergetar di saku celananya. Nama Honey berkedip di layar dengan panggilan. Nadhira menjauh dan memilih menunggu lebih dekat di depan pintu ruangan emergency sambil berdoa.
"Iya sayang," jawab Andra lembut.
"Sayang, Kamu di mana? Aku di rumah dan pelayan bilang kamu belum pulang," tanya Diana.
"Iya sayang, aku pulang sekarang. Tadi ada urusan sedikit di kantor!" bohong Andra.
"Ya sudah kalau begitu aku tunggu kamu sayang. Aku sangat merindukan kamu!" suara Diana manja.
"Iya sayang. Aku juga sangat merindukan kamu! Tunggu aku pulang sekarang!" jawab Andra melirik ke arah Dhira yang tak peduli dan fokus dengan keselamatan ibunya.
Setelah memutus sambungan telepon, Andra terdiam sejenak. Sorot matanya bimbang antara kewajibannya sebagai suami dan rasa kemanusiaannya sebagai teman lama. Namun, ketegasan Nadhira yang seolah membentengi diri dengan tembok besi membuatnya merasa tak lagi dibutuhkan di sana.
"Dhira, aku sudah urus deposit awal di kasir," ucap Andra pelan, berdiri beberapa langkah di belakang Nadhira.
"Gunakan itu. Jangan membantah, anggap saja ini hutang kalau itu membuat harga dirimu lebih baik."
"Ambil lagi Andra! Karena aku sudah ikut jaminan kesehatan pemerintah!" jawab Nadhira.
"Baiklah kalau memang itu maumu! Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku! Apalagi kamu tak punya siapa-siapa di sini!"
Nadhira tak menjawab, setelah beberapa saat akhirnya Andra pergi dari sana. Andra berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang perlahan memudar di koridor rumah sakit, digantikan bau karbol yang menusuk.
Nadhira menunggu di lantai sambil berdoa. Pintu ruang emergency terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah yang membuat firasat Nadhira memburuk. Nadhira buru-buru berdiri.
"Keluarga Bu Mila?"
"Saya, Dok. Bagaimana keadaan Ibu saya?"
"Kami berhasil melewati masa kritis akibat gagal napasnya. Tapi, ada komplikasi serius pada organ ginjalnya. Ibu Anda harus segera menjalani tindakan cuci darah rutin, dan kondisinya sangat lemah," dokter tersebut menghela napas.
"Selain itu, ada tagihan obat khusus yang tidak di cover asuransi untuk sementara ini. Biayanya cukup besar, dan untuk Masalah biayanya bisa di tanyakan ke bagian administrasi!" jelas Dokter.
Nadhira serasa dihantam godam besar. Deposit dari Andra bahkan sudah dia tolak mentah-mentah. Karena dia mengira jika semua bisa di cover oleh asuransi.
"Baik, terima kasih dok! Apa saya boleh bertemu dengan ibu?" tanya Nadhira.
"Nanti bisa di tanyakan ke perawat. Sekarang keadaan Bu Mila masih dalam pemantauan!" jawab dokter kemudian pergi.
Langkah kaki Nadhira terasa berat saat menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi menuju bagian administrasi. Setiap deru napasnya terasa sesak, seolah oksigen di tempat itu menipis seiring dengan beban yang menghimpit pundaknya. Ia meremas jemarinya yang dingin, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tadi ia pamerkan di depan Andra.
Di depan loket kaca yang terang benderang, seorang petugas wanita menyapanya dengan senyum profesional yang justru terasa menyakitkan bagi Nadhira.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"
"Saya... saya keluarga dari Ibu Mila yang baru masuk ke IGD. Saya ingin menanyakan rincian biaya obat khusus dan tindakan yang tidak ditanggung asuransi seperti yang dikatakan dokter tadi," suara Nadhira bergetar tipis.
Petugas itu jemarinya lincah menari di atas papan ketik. Keheningan sesaat itu terasa seperti selamanya bagi Nadhira. Kemudian, sebuah mesin pencetak berbunyi, mengeluarkan selembar kertas yang berisi deretan angka.
"Untuk tindakan awal resusitasi dan observasi di ICU nanti, memang sudah tercover, Mbak. Namun, ada tiga jenis obat injeksi untuk komplikasi ginjal dan alat dialisis darurat yang harus dibayar mandiri karena masuk kategori nonsubsidi," jelas petugas itu sambil mengarahkan telunjuknya ke kolom total.
Mata Nadhira membelalak saat melihat angka di bawah kertas itu. Dua puluh juta rupiah. Itu baru untuk biaya penanganan awal dan obat-obatan minggu pertama. Belum termasuk deposit ruang perawatan intensif dan biaya cuci darah rutin yang akan datang. Katanya akan di hitung lagi nanti dengan jenis asuransi yang di gunakan.
"Dua puluh lima juta?" bisik Nadhira hampir tak terdengar.
"Apakah tidak ada alternatif obat lain yang lebih terjangkau? Untuk kamar rawat nantinya sudah tercover kan, Bu?" tanya Nadhira memastikan.
"Ini sudah standar prosedur untuk kondisi gagal napas dengan komplikasi, Mbak. Jika tidak ada deposit dalam 2x24 jam, pihak farmasi tidak bisa mengeluarkan dosis berikutnya," petugas itu menatap Nadhira dengan simpati, namun tetap tegas.
"Untuk ruangan akan di sesuaikan dengan asuransi yang di miliki. Dan ini untuk rincian obat yang belum tercover saja. Nominalnya bisa lebih atau kurang ya, Mbak. Tergantung dari keadaan ibu Mila beberapa hari ke depan!" jelasnya lagi. Nadhira masih terdiam menggigit bibirnya.
"Apakah deposit yang masuk tadi dari Bapak Andra tetap ingin dibatalkan? Karena beliau tadi meninggalkan pesan bahwa dananya sudah siap di sistem kami."
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh