Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN SINIS PARA PEMUDA DESA
Keesokan harinya, kabut tipis masih menyelimuti seluruh desa saat mereka berangkat. Matahari baru saja mulai mengintip malu-malu dari balik bukit, memancarkan cahaya keemasan yang lembut menyinari hamparan sawah dan jalan setapak yang masih basah embun. Di jalan tanah yang sempit itu, berjalan beriringan empat orang: Pak Suryo di paling depan, diikuti Bu Lastri dan Seruni, sedangkan Liam berjalan paling belakang, sedikit menjauh dari mereka semua.
Liam berjalan dengan langkah tegap, tenang, dan senyap seperti biasa. Ia mengenakan baju gembel sederhana pemberian Pak Suryo, kainnya kasar dan warnanya sudah pudar, namun di tubuhnya yang tinggi besar dan berkulit seputih pualam itu, baju sederhana itu justru membuatnya tampak makin berbeda, makin menonjol, dan makin terlihat seperti sosok yang bukan berasal dari tempat ini. Wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke depan, seolah tak ada satu pun hal di sepanjang jalan itu yang mampu menarik perhatiannya, meski dalam diamnya itu, semua panca inderanya bekerja jauh lebih tajam dibandingkan manusia biasa. Ia bisa mendengar detak jantung mereka bertiga, bisa mencium aroma keringat dan debu jalanan, bisa merasakan setiap getaran tanah yang ia pijak. Semuanya masuk ke dalam kesadarannya, namun semuanya ia simpan rapat, tak sedikit pun terlihat di raut wajahnya.
Padepokan yang dituju terletak di atas bukit kecil di ujung desa, bangunan kayu besar yang kokoh dan luas, dikelilingi pagar bambu tinggi dan pepohonan tua yang rimbun. Dari kejauhan sudah terdengar suara teriakan, hentakan kaki, dan benturan benda yang berirama, tanda bahwa para murid sudah mulai berlatih sejak dini hari. Padepokan ini sangat dihormati warga desa, dipimpin oleh seorang guru silat yang disegani karena ilmu dan ketegasannya.
Saat mereka berempat sampai di gerbang utama yang terbuka lebar, langkah mereka terhenti sejenak. Di halaman luas yang beralaskan tanah keras, puluhan pemuda berusia belasan hingga dua puluhan sedang berlatih berbaris dan jurus dasar. Semuanya mengenakan pakaian latihan berwarna sama, kulit mereka terbakar matahari, tubuh mereka kekar dan berotot akibat kerja keras dan latihan rutin.
Keberadaan rombongan kecil ini langsung menarik perhatian semua orang. Suara latihan perlahan mereda, dan puluhan pasang mata tertuju ke arah gerbang, tepatnya tertuju pada sosok Liam yang berdiri diam di belakang orang tuanya.
Pak Suryo dan Bu Lastri terlihat gugup dan menunduk sedikit, sadar diri bahwa mereka adalah keluarga miskin yang jarang bergaul dengan kalangan yang dianggap lebih terhormat di desa itu. Seruni berdiri tegak di samping ibunya, berusaha tersenyum sopan meski hatinya agak cemas. Namun, Liam tetaplah Liam. Ia berdiri tegak lurus, punggung kaku, tatapannya kosong dan dingin menatap lurus ke depan, seolah orang-orang yang menatapnya itu tak lebih dari sekadar tiang-tiang kayu yang bergerak.
Di sudut halaman, berkerumun sekelompok pemuda yang tampaknya lebih senior dan dianggap lebih hebat di sana. Saat melihat Liam, mereka langsung saling berbisik sambil menatap sinis, bibir mereka menyeringai meremehkan.
"Lihat tuh... datang-datangnya pakai baju tambal sulam, persis orang miskin dari pinggir sungai," bisik salah satu pemuda berbadan besar sambil terkekeh pelan.
"Kamu lihat wajahnya? Pucat sekali, kayak orang sakit atau mayat hidup. Kulitnya seputih kapur, mana ada laki-laki kulitnya seputih itu. Lemah pasti dia, cuma modal tampang saja," sambung temannya yang berambut gondrong, matanya menatap Liam dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
"Mau belajar silat katanya? Hah, jangan-jangan nanti jatuh cuma kena angin saja. Buang-buang waktu saja ada orang seperti dia di sini," timpal yang lain, suara bisikan mereka cukup keras agar terdengar, berharap bisa membuat pendatang baru itu merasa malu atau marah.
Seruni mendengar semua bisikan itu dengan jelas, wajahnya memerah menahan kesal dan marah. Ia ingin sekali membalas ucapan mereka, ingin membela Liam yang tak pernah berbuat salah pada siapa pun. Namun, saat ia menoleh ke arah Liam, ia terkejut melihat pemuda itu sama sekali tidak bereaksi. Tidak ada kemarahan, tidak ada rasa malu, tidak ada rasa sakit hati. Liam tetap diam, tetap datar, matanya bahkan tak sedikit pun melirik ke arah kelompok pemuda yang mengejeknya itu. Bagi Liam, kata-kata mereka tak berbeda dengan suara angin yang berhembus lewat daun—ada, tapi tak ada artinya, tak menyentuhnya sedikit pun.
Pak Suryo memimpin langkah mereka menuju beranda utama tempat Guru Besar duduk mengawasi latihan. Seorang pemuda berbadan tegap, tampak sebagai pengurus padepokan, menghampiri mereka dengan wajah kaku dan dingin.
"Kalian siapa? Ada keperluan apa datang ke sini di jam latihan?" tanyanya ketus, matanya melirik sekilas pakaian sederhana mereka dengan pandangan sebelah mata.
"Saya Pak Suryo, Pak. Ini istri saya, anak saya Seruni, dan ini anak angkat saya, Liam," jawab Pak Suryo dengan sopan dan rendah hati. "Kami datang mengantarkan Liam. Ia berkeinginan kuat untuk masuk belajar di sini, belajar ilmu bela diri agar bisa menjaga diri dan keluarga. Kami sudah memohon izin sebelumnya pada Guru Besar."
Pemuda itu menoleh menatap Liam yang berdiri diam di belakang ayahnya. Ia menatap tinggi besar tubuh Liam, namun saat melihat wajah pucat dan tatapan kosong itu, ia mengernyitkan dahi dan menghela napas kasar.
"Anakmu ini... aneh sekali," ucapnya lantang, sengaja agar terdengar orang lain. "Wajahnya dingin, matanya kosong, jalannya diam saja. Apa dia bisa berbicara? Apa dia cukup kuat untuk latihan keras di sini? Ini bukan tempat istirahat atau tempat bersantai, tahu. Di sini latihannya berat, tak ada ampun."
Seruni ingin sekali menjawab, tapi Liam lebih dulu bergerak perlahan. Ia melangkah maju satu langkah, berdiri sejajar dengan Pak Suryo. Ia menatap pemuda pengurus itu tepat ke dalam matanya, tatapannya tajam namun tetap datar dan dingin, suaranya rendah, berat, dan singkat.
"Aku bisa. Aku kuat."
Hanya empat kata. Diucapkan tanpa nada bangga, tanpa nada tantangan, hanya pernyataan fakta yang polos. Namun, suara itu bergema rendah dan dalam, membuat pemuda di hadapannya tanpa sadar merasakan hawa dingin tiba-tiba menyelimuti tubuhnya. Ia tertegun sejenak, terkejut dengan suara itu, lalu segera mengembalikan wajah sinisnya.
"Kita lihat saja nanti. Masuklah, tapi jangan menangis minta pulang kalau sudah kena hajar murid lain," ucapnya sambil menunjuk ke arah kerumunan pemuda tadi. "Tempatmu ada di sana, bersama murid baru lainnya. Barang bawaanmu taruh di kamar belakang sebelah timur."
Pak Suryo dan Bu Lastri menatap Liam dengan mata berkaca-kaca, rasa haru dan khawatir bercampur jadi satu. Bu Lastri memegang tangan Liam yang dingin dan keras.
"Le... hati-hati ya di sini. Jangan nakal, jangan cari masalah, ikuti apa kata Guru. Kalau ada apa-apa, pulang saja ke rumah, kami selalu menunggu," ucap Bu Lastri pelan, suaranya bergetar menahan tangis.
Liam menatap wajah ibu angkatnya itu, lalu menatap Seruni yang tersenyum sedih namun penuh semangat ke arahnya. Sekali lagi, rasa hangat yang asing itu menjalar sedikit di dadanya, rasa yang selalu muncul setiap kali ia melihat wajah mereka.
"Iya," jawab Liam singkat, datar, namun matanya menatap lekat-lekat wajah mereka seolah ingin mengingatnya baik-baik.
Seruni maju selangkah, ingin sekali memeluknya, tapi ia tahu sifat Liam yang tertutup dan dingin. Ia hanya menepuk pelan lengan pemuda itu. "Belajar yang rajin ya, Liam. Kami akan sering datang menjenguk. Ingat... kamu tidak sendirian."
Liam mengangguk pelan, tak ada kata balasan lagi. Ia berdiri diam melihat ketiga orang yang telah memberinya tempat hidup itu berjalan meninggalkan halaman padepokan, perlahan menghilang di balik gerbang bambu. Hanya saat bayangan mereka hilang sepenuhnya, Liam perlahan membalikkan badannya, menghadap puluhan pasang mata yang masih menatapnya dengan berbagai pandangan: penasaran, sinis, meremehkan, dan curiga.
Ia tak peduli. Ia berjalan melintasi halaman luas itu dengan langkah tegap dan tenang. Setiap kali ia lewat, kelompok pemuda yang tadi mengejeknya sengaja berdehem keras, berbisik lebih lantang, atau sengaja menyenggol bahunya saat ia lewat.
"Heh, anak baru! Hati-hati jalan, nanti jatuh kena angin lho!" seru salah satu dari mereka sambil tertawa keras.
"Kulitnya putih banget, apa jangan-jangan dia putri raja yang tersesat, hahaha!" ejek yang lain, disambut gelak tawa teman-temannya.
Liam sama sekali tak menoleh, tak berhenti, tak mengubah ekspresi wajahnya. Ia terus berjalan lurus, melewati mereka seolah mereka tak ada, seolah tubuhnya terbuat dari dinding batu yang tak tersentuh oleh kata-kata kasar atau senggolan kasar itu. Bagi Liam, hal-hal kecil seperti ini tak ada artinya dibandingkan bahaya besar yang ada di dalam tubuhnya sendiri, bahaya yang nyaris merenggut nyawa Seruni. Ia ke sini bukan untuk berteman, bukan untuk mencari pujian, bukan untuk dilayani. Ia ke sini hanya untuk satu tujuan: belajar mengendalikan diri, belajar menahan kekuatan besar yang tersembunyi di dalam darahnya.
Ia terus berjalan sampai tiba di bangunan panjang di bagian paling belakang padepokan, bangunan kayu sederhana yang berderet kamar-kamar kecil. Di sana tertulis papan nama: Kamar Murid Baru.
Liam mendorong pintu kayu yang sedikit reyot itu pelan-pelan. Ruangan itu panjang, cukup luas, berisi belasan tempat tidur papan berjejer rapi di kiri dan kanan. Beberapa murid lain sudah ada di sana, sedang meletakkan barang bawaan mereka atau mengobrol. Saat Liam masuk, suasana ruangan seketika hening. Semua mata menoleh, menatap sosok tinggi besar dengan wajah pucat dan dingin itu yang melangkah masuk senyap, tanpa suara, persis seperti bayangan yang meluncur masuk.
Liam sama sekali tak mempedulikan mereka. Ia berjalan menuju tempat tidur paling ujung, tempat yang paling sepi, paling jauh dari pintu, dan paling gelap. Ia meletakkan bungkusan kain kecil berisi pakaian ganti sederhana miliknya di atas kasur jerami yang tipis.
Ia lalu duduk di pinggir ranjang itu, punggungnya tegak kaku, kedua tangannya bertumpu di lutut, dan matanya yang hitam pekat menatap lurus ke dinding kayu di hadapannya. Wajahnya tetap datar, dingin, dan kosong seperti biasa. Di dalam keheningan kamar itu, di tengah tatapan aneh murid-murid lain yang masih diam memperhatikannya, Liam sudah mulai memusatkan pikirannya.
Di sini, di tempat baru yang penuh tatapan sinis dan permusuhan ini, di sinilah ia akan mulai belajar. Ia tak tahu seberapa berat latihannya, ia tak tahu seberapa banyak musuh yang akan ia temui, dan ia tak tahu apakah ilmu manusia ini cukup untuk mengendalikan darah abadi yang mengalir di tubuhnya. Namun satu hal yang pasti, tekadnya bulat dan keras seperti batu karang.
Liam mengatupkan kedua matanya perlahan, menarik napas panjang dan tenang. Di dalam hatinya yang dingin, ia kembali mengingat wajah Seruni, wajah Pak Suryo, dan Bu Lastri. Demi mereka... ia akan bertahan. Ia akan menjadi kuat, bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi.
Di luar sana, suara teriakan dan hentakan kaki para pendekar muda bergema keras membelah udara pagi, menandai dimulainya babak baru dalam hidup anak angkat keluarga miskin itu, babak baru bagi seorang vampir yang tak ingat asal-usulnya.