Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 2
"Apa anda terluka, mbak?" tanya Andra kepada seorang wanita yang tadi dia tab rak.
Beberapa bagian motornya juga terlihat ada yang pa tah. Seorang wanita juga terlihat meringis kesakitan memegangi lutut dan juga tangannya. Bahkan dari kemeja putih yang dikenakan terlihat noda merah. Sepertinya dia terlu -/ka, Andra terlihat merasa bersalah karena mengemudi sambil melamun. Sehingga menyebabkan orang lain terluk -/a karenanya.
"Mbak, kita ke rumah sakit, sepertinya kaki dan tangan anda terlu-/ka. Motornya biar saya minta orang bengkel membentulkannya," ajak Andra.
"Tidak perlu ke rumah sakit, Pak! Saya tidak apa-apa. Saya harus berangkat bekerja. Terima kasih juga anda mau memperbaiki motor saya," ucapnya mencoba untuk berdiri.
"Apa anda yakin tak ingin ke rumah sakit? Bahkan tangan anda ..."
"Saya tidak apa-apa, Pak! Kalau boleh saya minta tolong anda perbaiki motor saya saja. Karena biayanya pasti cukup mahal, saya ..."
"Nadhiraaaa ...? Apa aku nggak salah lihat? Kamu Nadhira kan?" kaget Andra saat melihat wanita yang di tabrak ternyata sahabatnya di masa lalu.
Sebelum Andra menikah dengan Diana. Andra bahkan memegang bahu Nadhira untuk meyakinkan matanya kalau wanita di depannya benar-benar sang sahabat yang sudah lama menghilang. Nadhira juga membulatkan matanya tak percaya bisa bertemu lagi dengan Andra.
"Andra? Bukannya kamu di luar negri bersama dengan istrimu yang perancang dan model cantik itu?" tanya Nhadida yang tak kalah kaget.
"Aku sudah pulang satu tahun lalu! Eh, serius aku nggak ngira bisa ketemu sama kamu di sini! Tangan kamu terluka, Dhira! Kita ke ke rumah sakit biar diobati! Motormu biar aku bawa ke bengkel untuk diperbaiki!" tawar Andra.
"Terima kasih tapi aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja mungkin tergores aspal. Aku harus bekerja, Andra, Aku tidak mau telat dan akhirnya dipecat. Apalagi aku baru mendapatkan kontrak di perusahaan ini," jawab Nadhira.
"Ya sudah kalau gitu biar aku antarkan. Kamu kerja di mana?"
"Di PT. Trijaya Abadi,"
"Ya sudah kita bareng saja ke sana. Aku juga bekerja di sana!" jawab Andra.
"Terima kasih mah merepotkan!"
"Ck! Tak usah sungkan begitu Dhira!"
Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantor. Kantor yang sama tempat mereka bekerja. Namun mereka tidak pernah bertemu satu sama lain karena memang jabatan Nadira di sana hanya sebagai staf accounting biasa. Sehingga tidak pernah bertemu dengan Andra yang merupakan salah satu petinggi perusahaan.
"Kamu kerja di bagian Apa Dhira?" tanya Andra.
"Staff accounting, aku baru mendapat kontrak setelah tiga bulan masa percobaan,"
"Bagaimana dengan keadaan ibumu? Apa kamu sudah menikah dan memiliki anak?"
"Keadaan ibu baik-baik saja. Aku masih belum menikah sampai sekarang. Mana ada pria yang mau denganku Andra! Apalagi aku berasal dari keluarga yang miskin. Bahkan untuk memiliki teman saja aku sulit, dulu asal sekolah dan kuliah cuman kamu yang mau berteman dengan aku," kekeh Nadhira.
"Aku kira kamu sudah menikah dan memiliki anak!"
"Lalu kamu dan mbak Diana? Sudah punya anak berapa? Anak Kalian pasti sangat lucu-lucu. Apalagi ayah dan ibunya juga sangat cantik dan tampan!"
"Aku belum punya anak, Diana masih sibuk dengan proyeknya sehingga kami menunda memiliki momongan,"
"Oh maaf,"
"Kenapa kamu tidak hadir di pernikahan aku? Dan kamu juga tiba-tiba menghilang begitu saja. Kata beberapa orang kamu pulang kampung dan menikah,"
"Kebetulan saat itu ayahku sakit, sehingga aku harus pulang kampung. Maaf aku tidak datang di hari pernikahan kamu dan Mbak Diana," ucap Nadhira menundukkan kepalanya.
"Oh aku kira kamu menikah dan gak bilang-bilang padaku! Lalu bagaimana keadaan ayahmu?
"Sudah meninggal, eh aku turun di sini saja biar aku jalan kaki masih ada waktu. Aku takut nanti malah banyak omongan yang aneh-aneh, apalagi aku keluar dari mobil kamu," pibta Nadhira.
"Kamu yakin? Ini masih cukup jauh sampai ke kantor!"
"Tidak apa-apa masih banyak waktu,"
Andra akhirnya menurunkan Nadhira di sana. Mereka sudah dekat dan menjadi teman sejak sekolah menengah atas hingga kuliah. Nadhira mendapatkan beasiswa saat itu. Sehingga bisa kuliah, selama ini memang Nadhira kesulitan memiliki teman. Sehingga temannya bisa dihitung dengan jari.
Alasan mereka tak mau berteman dengan Nadira. Karena Dia berasal dari keluarga miskin, apa kadang mereka mengatakan Nadhira bau, dan lusuh. Sehingga mereka tak mau mengajak Nadhira bermain. Begitupun di kantor, bahkan Nadhira lebih sering menyendiri.
Saat tiba di ruangannya tidak ada satupun yang peduli dengan keadaan Nadhira yang terpincang. Keberadaannya di sana memang tidak terlalu dipentingkan. Karena mereka hanya membutuhkan kinerja dari Nadhira yang cukup cekatan dan juga teliti.
Nadhira buatkan kopi
Nadhira foto copy
Nadhira periksa lagi
Nadhira buatkan laporan sekarang
Itulah keseharian Nadhira yang selalu diminta untuk mengerjakan ini dan itu oleh staff senior di sana. Menjelang makan siang tidak ada yang mengajaknya untuk makan siang bersama. Nadhira hanya tersenyum, tak pernah sedikitpun merasa sakit hati. Karena apa? Karena sudah terbiasa.
Nadhira membawa bekal makanan yang selalu dibawa dari rumah. Dia lakukan untuk menghemat pengeluaran, dia selalu makan di taman belakang kantor. Sendirian. Saat semua orang pergi keluar untuk makan siang, dia akan berada di sana makan sendiri.
"Aku kira lu-kanya tidak dalam seperti ini! Pantas saja rasanya sedikit sakit! ucap Nadhira saat mengobati lu-/ka di tangan dan kakinya.
"Kenapa aku harus bertemu kembali dengan Andra? Dia sudah bahagia bersama dengan Mbak Diana. Dari dulu mereka adalah pasangan yang sangat cocok," ucap Nadhira sambil menatap langit biru.
Dia malah kembali teringat masa lalu bersama dengan Andra. Sahabat yang baik dan selalu membantu juga menghargai dirinya tak seperti orang lain. Sebenarnya Nadhira datang saat pesta pernikahan Andra dan Diana. Namun dia hanya berdiri di dekat pintu masuk gedung saja.
Walaupun saat itu dia adalah sahabat Ardan, namun dia merasa malu untuk datang menemui sahabatnya. Walau hanya sekedar memberikan ucapan selamat. Apalagi dia tahu saat itu Diana sedikit salah paham dengan kedekatan mereka.
"Aku bahkan tak pantas memiliki teman, status dan juga status sosial aku dan Andra sudah berbeda. Apalagi kami sudah dewasa. Aku bukan sahabatnya lagi yang dulu. Karena seperti Mbak Diana bilang, aku tak pantas berteman dengan Andra," Nadhira menghela napas.
"Jika memang aku tidak ditakdirkan memiliki jodoh, setidaknya aku ingin hidup dalam kesendirian namun bahagia. Dan sekarang aku harus bekerja keras untuk biaya pengobatan ibu! Tetap semangat Nadhira, apapun Yang terjadi Kamu adalah yang terhebat!" Nadhira menyemangati dirinya sendiri.
"Kamu masih sama seperti dulu Dhira!" suara bariton Andra mengagetkan Nadhira.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh