NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Pemilik Baru

​Matahari pagi menyengat kulit Rendra yang kusam saat ia berdiri di depan lobi gedung Wijaya Corp. Ia tidak memiliki kendaraan lagi; mobilnya telah dibawa lari oleh Gisela, dan sisa uang di sakunya hanya cukup untuk membayar ojek pangkalan yang motornya sudah tua. Kemejanya yang tidak disetrika tampak sangat kontras dengan penampilan para karyawan yang berlalu-lalang dengan setelan rapi.

​Rendra menarik napas panjang, mencoba membusungkan dada. Ia masih CEO di sini, setidaknya secara hukum di atas kertas, pikirnya. Ia harus meyakinkan dewan direksi untuk memberikan suntikan dana darurat.

​"Selamat pagi, Pak Rendra," sapa petugas keamanan di pintu masuk. Nada suaranya tidak lagi penuh hormat, melainkan terdengar seperti kasihan yang menghina.

​"Selamat pagi. Saya mau langsung ke ruang rapat lantai sepuluh," ucap Rendra dengan nada memerintah yang dipaksakan.

​"Maaf, Pak," petugas itu menghalangi jalan Rendra dengan lengannya. "Akses kartu ID Bapak sudah dicabut sejak pukul delapan pagi tadi oleh pemegang saham mayoritas yang baru."

​Rendra tertegun. "Pemegang saham mayoritas yang baru? Apa maksudmu?! Saya pemilik saham terbesar di sini!"

​"Sepertinya Bapak belum membaca berita ekonomi pagi ini," petugas itu menunjuk ke arah televisi besar di lobi yang sedang menayangkan berita bisnis terkini.

​Di layar itu, tertulis headline yang membuat jantung Rendra seolah berhenti berdetak: "Akuisisi Kilat Wijaya Corp: Arania International Ambil Alih Seluruh Aset Akibat Gagal Bayar Hutang Vendor."

​"Arania ... International?" gumam Rendra. Nama itu sangat mirip dengan nama istrinya.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang ritmis terdengar dari pintu masuk utama. Barisan petugas keamanan segera berdiri tegak dan memberikan hormat. Dua mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi.

​Pintu terbuka, dan Rania keluar dari sana.

​Wanita itu tampak luar biasa. Ia mengenakan dress formal berwarna putih gading yang elegan, dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang senada. Wajahnya yang dulu selalu tampak lelah kini bersinar dengan aura otoritas yang sangat kuat. Di sampingnya, Elang Danuarta berjalan dengan gagah, memberikan ruang bagi Rania untuk menjadi pusat perhatian.

​Para karyawan di lobi langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Ibu Rania."

​Rendra berdiri mematung di tengah lobi, tampak seperti gelandangan yang tersesat di istana. Saat Rania melewatinya, Rendra refleks berteriak, "Rania! Apa yang kamu lakukan?! Arania International ... itu kamu?!"

​Rania berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menatap Rendra dari ujung kepala hingga ujung kaki, tatapan yang membuat Rendra merasa sekecil debu.

​"Bukan 'aku', Rendra. Tapi 'kami'," jawab Rania sambil melirik ke arah Elang dan tim pengacaranya. "Selamat datang di hari pertamamu sebagai pengangguran, Mas. Bagaimana rasanya berdiri di lobi kantormu sendiri tapi tidak diizinkan masuk?"

​"Kamu mencuri perusahaanku! Kamu menggunakan informasi rahasia untuk menjatuhkan sahamku!" tuduh Rendra dengan suara keras, menarik perhatian semua orang di lobi.

​Rania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang tapi mematikan. Ia melangkah mendekati Rendra, membuat pria itu refleks mundur.

​"Mencuri?" Rania tertawa pelan. "Rendra, aku tidak mencuri apa pun. Aku hanya membeli apa yang kamu buang. Kamu gagal membayar vendor selama tiga bulan karena uangnya kamu alihkan untuk membelikan apartemen Gisela. Aku hanya mengambil alih hutang-hutang itu dan mengubahnya menjadi kepemilikan saham. Secara hukum, perusahaan ini sudah tidak lagi mengenal nama Rendra Wijaya."

​Rania melirik papan nama besar di dinding lobi yang bertuliskan WIJAYA CORP. Ia memberi isyarat kepada beberapa pekerja yang sudah menyiapkan tangga. "Tolong lepaskan papan nama itu. Mulai siang ini, ganti dengan logo ARANIA INTERNATIONAL. Aku tidak ingin ada sisa-sisa nama pria pecundang di gedung ini."

​"Rania, aku mohon ... jangan lakukan ini," suara Rendra mulai pecah. "Ibu dan Tyas ... mereka mau makan apa kalau aku kehilangan perusahaan ini? Kamu masih punya hati, kan?"

​"Hati?" Rania menatap Rendra dengan mata yang mendingin. "Hatiku sudah kamu bunuh malam itu di rumah sakit, Rendra. Saat aku memohon bantuanmu untuk nyawa Abid, di mana hatimu? Saat Ibu dan adikmu menghinaku sebagai yatim piatu tak berguna setiap hari selama lima tahun, di mana hati mereka?"

​Rania melangkah maju, memangkas jarak antara mereka hingga Rendra bisa mencium aroma parfum mahal yang kini melekat pada mantan istrinya.

​"Kamu tanya mereka mau makan apa?" bisik Rania. "Saranku, suruh Tyas menjual koleksi tas bermereknya. Dan suruh Ibu Ratna menjual perhiasan emas yang dia dapat dari hasil memeras keringatku. Itu cukup untuk mereka bertahan hidup di kontrakan sempit selama setahun. Jika tidak ... silakan kalian belajar mengantri di dapur umum. Bukankah kalian bilang pekerjaanku di dapur itu sangat mudah?"

​"Rania, kamu benar-benar kejam!" Rendra hendak memukul Rania karena frustrasi, namun dalam sekejap, Elang Danuarta sudah menangkap tangan Rendra dan memelintirnya ke belakang dengan satu gerakan ahli.

​"Sentuh dia sedikit saja," ucap Elang dengan suara rendah yang mengancam, "dan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa menyentuh apa pun lagi dengan tangan ini."

​"Lepaskan dia, El," ucap Rania tanpa ekspresi.

"Pria ini tidak layak mendapatkan tenaga darimu."

​Elang melepaskan Rendra dengan kasar hingga pria itu tersungkur di lantai lobi yang dingin.

​Rania kembali menatap Rendra yang kini terduduk di lantai, dipermalukan di depan seluruh karyawannya yang dulu ia pimpin dengan angkuh.

​"Satu lagi, Rendra," ucap Rania sambil mengambil sebuah amplop cokelat dari asistennya. Ia melempar amplop itu tepat ke pangkuan Rendra.

"Itu adalah surat resmi dari kepolisian. Gisela sudah tertangkap tadi pagi saat mencoba menjual perhiasan hasil penadahan di pasar gelap. Dan tebak apa? Dia langsung menyebut namamu sebagai otak di balik penggelapan dana kantor."

​Wajah Rendra seketika menjadi pucat pasi. "Gisela ... dia mengkhianatiku?"

​"Tentu saja. Kamu pikir wanita yang mencintai uangmu akan setia padamu di penjara?" Rania kembali memakai kacamata hitamnya.

"Nikmatilah sisa harimu sebelum surat panggilan itu berubah menjadi surat penangkapan. Oh, dan jangan coba-pencoba datang ke apartemenku lagi. Karena mulai hari ini, hak asuh sementara Abid sudah jatuh ke tanganku sepenuhnya."

​Rania berbalik, melangkah menuju lift eksekutif tanpa menoleh lagi. Elang mengikutinya dari belakang, meninggalkan Rendra yang meraung frustrasi di tengah lobi, dikelilingi oleh tatapan sinis dan bisik-bisik menghina dari orang-orang yang dulu ia anggap sebagai bawahannya.

​Di dalam lift, Rania menatap angka yang terus naik. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang meledak.

​"Kamu melakukannya dengan sangat baik," ucap Elang sambil meletakkan tangannya di bahu Rania—memberikan dukungan emosional tanpa kata-kata yang berlebihan.

​"Ini baru permulaan, El," sahut Rania. "Aku ingin melihat bagaimana Ibu Ratna dan Tyas bereaksi saat mereka tahu bahwa rumah mewah itu akan disita sore ini juga. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya terusir di tengah hujan, persis seperti yang mereka lakukan padaku malam itu."

​Elang tersenyum. "Pihak juru sita sudah dalam perjalanan. Kamu mau menontonnya lewat CCTV?"

​Rania menoleh pada Elang, sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya. "Tentu. Aku ingin melihat setiap tetes air mata palsu mereka."

​Sore itu, keadilan tidak lagi datang dalam bentuk kata-kata maaf, melainkan dalam bentuk penyitaan aset yang menyakitkan. Rania telah mengambil kembali dunianya, dan ia membiarkan Rendra tenggelam dalam kehancuran yang ia buat sendiri.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!