maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Tutup mulutmu, Nona Pembangkang!" desis Cade ketus.
Sifatnya yang semaunya sendiri dan anti-drama membuat kesabarannya habis dalam sekejap. Tanpa memedulikan tatapan syok dari para menteri di ruang persidangan agung, komandan berambut pendek itu melangkah maju dengan gusar. Dengan satu gerakan cepat dan kasar, tangan besarnya yang dibalut sarung tangan kulit hitam kembali membekap mulut Maizy dengan kuat, seketika menelan bulat-bulat kalimat "tahun 2026" dan "Berlin modern" yang baru saja diteriakkan gadis itu.
"Mphff—hmmph!" Maizy terbelalak marah, tangannya memukul-mukul lengan zirah perak Cade yang sekeras batu, namun bekapan itu terlalu erat hingga membuat kacamata cadangannya kembali bergeser miring.
Melihat situasi yang semakin kacau dan mendapati rahang Kaisar Harleyton yang mulai mengeras menahan murka, Frederick Aldrich langsung melangkah maju ke depan takhta. Pria tegap dengan kulit tan itu berlutut sangat dalam, menundukkan kepalanya demi menutupi rasa sakit hati yang luar biasa di matanya karena ucapan Maizy barusan.
"Mohon ampunan Anda, Yang Mulia Falkenhayn," suara bariton Frederick bergema rendah, penuh kepanikan yang tertahan demi melindungi gadis yang dicintainya. "Nona Muda Maizy... dia sama sekali tidak bermaksud membangkang atau menghina takhta. Hutan terlarang tempat kami menemukannya dipenuhi oleh gas beracun dan tanaman mistis purba. Hamba bersumpah, Maizy benar-benar mengalami trauma hebat hingga jiwanya terguncang dan kehilangan ingatannya secara total. Dia tidak mengingat siapa dirinya, tidak mengingat hamba, dan tidak mengingat kekaisaran ini."
Kaisar Harleyton menatap Frederick yang memohon dengan sangat serius, lalu beralih menatap Maizy yang masih berusaha meronta di bawah bekapan tangan Cade. Kaisar tua itu mengembuskan napas berat sambil memijat pelipisnya. "Bawa dia keluar dari ruang sidang sekarang juga, Reinart. Sembuhkan kepalanya sebelum malam perjamuan tiba."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia," sahut Cade dingin.
Tanpa menunggu hitungan detik, Cade langsung mencengkeram bahu Maizy dan menariknya paksa untuk berbalik, menyeret tubuh bergaun sutra biru dongker itu keluar dari ruang persidangan yang kaku.
Sepanjang jalan menembus pintu emas ganda hingga menyusuri koridor istana, Maizy sama sekali tidak menyerah. Meskipun sebagian suaranya teredam oleh sarung tangan kulit Cade, dia tetap memaki-maki dan mengutuk komandan egois itu habis-habisan.
"Mphuuff—dasar gila! Lepaskan aku, cowok sialan mesum! Kalian semua tidak waras! Paman Michael pasti sedang mencariku! Lepas—hmmph!" Maizy terus menghentakkan kakinya dan mencoba mencakar tangan Cade, membuat furing gaun mewahnya berdesir kasar menghantam lantai granit.
Cade hanya mendengus miring, terus menarik dan menyeret Maizy dengan langkah kaku penuh dominasi tanpa niat melonggarkan bekapannya sedikit pun, sementara dari arah belakang, Frederick berjalan menyusul mereka dengan langkah berat dan tatapan mata abu-abu yang redup, dirundung rasa bersalah yang teramat dalam karena tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan Maizy saat ini.
Cade terus menarik dan menyeret Maizy menyusuri lorong-lorong istana yang megah, mengabaikan segala makian dan rontaan gadis itu hingga mereka tiba di paviliun barat. Dengan satu sentakan kaku, Cade membuka pintu kayu ek ganda yang menuju ke kamar pribadi Maizy—sebuah ruangan yang luar biasa luas dan mewah dengan ranjang berkanopi beludru merah dan jendela besar yang menghadap langsung ke taman istana.
Cade mendorong Maizy masuk ke dalam kamar, lalu melepaskan bekapannya dengan sentakan kasar yang membuat kacamata cadangan Maizy hampir terlepas lagi.
"Masuk dan diamlah di sini, Nona Menjengkelkan. Urus saja khayalan tahun 2026-mu itu sampai kepalamu waras," gerutu Cade ketus sambil melangkah mundur ke luar kamar dan langsung membanting pintu hingga tertutup rapat. BLAM! Suara kunci yang diputar dari luar terdengar nyaring, mengurung Maizy di dalam kemegahan kamar tersebut.
Maizy terengah-engah, membetulkan letak kacamatanya dengan tangan gemetar, sementara air mata frustrasinya mulai menetes bebas membasahi pipi. Sifat ENFJ-nya merasa sangat tertekan dan terisolasi di ruangan asing ini. Dia berjalan mendekati jendela berjeruji, menatap keluar dengan hati yang hancur lebur memikirkan nasib Paman Michael di dunia modern.
Di balik pintu kamar yang terkunci, terdengar langkah kaki bot baja yang berat milik Frederick mendekat. Pria tegap ber-tan skin itu tidak ikut pergi bersama Cade. Dia berdiri tegap di depan pintu kayu kaku tersebut, bersedekap dada dengan jubah mantel hitamnya yang berkibar pelan.
Frederick menyandarkan punggungnya pada pintu, menundukkan kepalanya yang berambut wolfcut hingga poninya menutupi mata abu-abunya yang sarat akan rasa sakit hati dan kepedihan mendalam. Dia tahu Maizy ada di balik pintu itu, sedang menangis sendirian.
"Maizy..." bisik Frederick teramat lembut, suaranya yang bariton terdengar parau dan samar menembus celah pintu. "Aku tahu kau tidak mengenalku, dan aku tahu kau ketakutan. Tapi aku bersumpah demi sisa hidupku... selama aku berdiri di depan pintu ini, tidak akan ada satu pun orang—termasuk Cade atau keputusan takhta—yang bisa menyakitimu lagi. Istirahatlah, Nona Mudaku."
beberapa menit kemudian
Cklek.
Suara kunci pintu yang berputar pelan membuat Maizy refleks menoleh dari jendela dengan waspada. Pintu besar itu terbuka sedikit, memunculkan sesosok wanita paruh baya bertubuh agak gempal yang mengenakan gaun pelayan linen abu-abu lengkap dengan celemek putih bersih. Di tangannya, dia membawa sebuah nampan perak berisi baskom air hangat, kain kompres, dan semangkuk sup yang masih mengepulkan uap wangi.
Dia adalah Hilda, kepala pelayan paviliun barat yang sudah mengasuh Maizy sejak kecil.
Begitu melihat Maizy berdiri gemetaran dengan mata sembap dan gaun sutra biru dongkernya yang kotor, wajah Hilda langsung dipenuhi rasa iba yang teramat sangat. Sifat aslinya yang luar biasa lembut, pengertian, dan keibuan seketika menguar hangat, meruntuhkan atmosfer dingin istana yang sedari tadi mencekik Maizy.
"Oh, Gott im Himmel... Nona Muda Maizy-ku yang malang!" seru Hilda dengan nada suara yang setengah berbisik namun penuh drama, langsung menutup pintu di belakangnya dengan rapat.
Hilda menaruh nampannya di atas meja nakas, lalu buru-buru menghampiri Maizy. Tangan-tangannya yang hangat dan agak kasar karena pekerjaan rumah tangga langsung menggenggam jemari Maizy yang sedingin es. "Lihat dirimu, Nona! Lututmu pasti sakit sekali karena diseret-seret oleh Komandan Reinart yang kaku seperti papan gilasan itu! Huh, dasar pria tidak tahu cara memperlakukan wanita! Dan kacamata macam apa ini? Mengapa frame-nya berbeda lagi?"
Sifat comel Hilda langsung kumat bahkan sebelum Maizy sempat menjawab. Sembari menuntun Maizy untuk duduk di tepi ranjang berkanopi beludru yang empuk, mulut Hilda tidak berhenti mengoceh pelan dengan ekspresi gemas.
"Nona harus tahu, di luar sana seluruh pelayan sedang membicarakan aksi Komandan Reinart yang membekap mulutmu di ruang sidang! Kurang ajar sekali dia! Tapi, oh... Nona juga harus tahu, Komandan Aldrich tadi terlihat seperti pria yang kehilangan jiwanya saat berdiri di depan pintu. Kasihan sekali dia, wajah tampannya yang tan itu sampai pucat pasi karena Nona bilang tidak mengenalnya! Padahal biasanya dia selalu menatap Nona seolah Nona adalah satu-satunya matahari di kekaisaran ini," gosip Hilda panjang lebar sambil mulai memeras kain hangat di dalam baskom dengan telaten.
Maizy hanya bisa terdiam, sifat ENFJ-nya yang peka membuat dia merasa sedikit nyaman dan terhibu oleh kecerobohan mulut comel Hilda yang penuh kasih sayang ini.
Hilda perlahan mengangkat bagian bawah rok gaun biru Maizy, menyingkap perban putih kaku yang ternyata masih terbebat di lutut Maizy—sisa luka dari dunia modern semalam. Dengan gerakan yang luar biasa lembut dan penuh kehati-hatian, Hilda mulai mengompres bagian sekitar luka luar tersebut, memastikan tindakannya tidak menimbulkan rasa perih.
"Aku tahu Nona sedang bingung dan merasa asing dengan kami semua setelah kembali dari hutan terkutuk itu," ucap Hilda tiba-tiba, suaranya melembut, berganti menjadi nada pengertian yang sangat dalam sembari menatap mata Maizy dari balik lensa kacamatanya. "Tidak apa-apa jika Nona tidak ingat padaku atau pada sup labu kesukaan Nona ini. Yang penting Nona sudah pulang dengan selamat. Biarkan pelayan tuamu ini yang mengurus sisanya, ya?"