Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA 35 TAHUN
SIAPA ORANG TUAKU?
"Aku bukan anak kandung Papa dan Mama."
kalimat itu mengubah segalanya.
Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang mendadak terasa asing. Kasih sayang yang kuterima sejak kecil tak berubah, tetapi kini ada pertanyaan besar yang terus menghantuiku.
Siapa aku sebenarnya?
Dan mengapa selama tiga puluh lima tahun, kebenaran itu disembunyikan dariku?
Aku tidak tahu bahwa pencarian ini akan membuka luka lama, mengungkap rahasia keluarga, dan mempertemukanku dengan masa lalu yang selama ini sengaja dikubur.
Namun ternyata, menemukan kebenaran bukanlah akhir dari perjalanan ini.
Justru setelah rahasia tiga puluh lima tahun itu terbuka, semakin banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa sebenarnya sosok yang selama ini menyimpan begitu banyak rahasia?
Mengapa kebenaran baru terungkap setelah Papa tiada?
Dan mampukah aku menyatukan dua keluarga yang dipisahkan oleh masa lalu?
Di sisi lain, senyum polos keponakan-keponakanku membuatku sadar bahwa hidup bukan hanya tentang mencari jawaban, tetapi juga tentang menentukan masa depan.
Perjalananku masih panjang.
Masih ada luka yang harus disembuhkan.
Masih ada rahasia yang belum terungkap.
Dan masih ada kisah yang belum selesai dituliskan.
_________________________________________________
Usia tiga puluh lima tahun seharusnya menjadi usia yang tenang,Setidaknya, itulah yang selalu kubayangkan,namun hidup tak pernah benar-benar berjalan sesuai rencana.
Sedikit Cerita Pecahan dari masa lalu, sebelum mengenal mas Dika dan Andre,pernah hampir dua minggu Papa dirawat di rumah sakit. Enam bulan menjelang pernikahanku,Papa sempat merencanakan perjalanan ke Jawa Tengah.Ia pernah ingin membawaku dan calon suamiku untuk bertemu seseorang yang telah lama ia kenal.
Entah siapa orang itu, bagiku tak menjadi soal. Aku sama sekali tak menaruh curiga.
Siang itu aku pulang ke rumah hanya untuk mengambil selimut—agar bisa dipakai bergantian saat menjaga Papa di rumah sakit bersama kak Reno,Sambil merapikan kamar Papa, aku mulai bertanya lirih,
"Kak, kenapa sih Mama selalu bilang aku nggak mirip sama kalian? Meski cuma bercanda, entah kenapa aku jadi sering kepikiran."
Kak Rico yang sedang duduk di tepi tempat tidur mendadak terdiam. Wajahnya terlihat tegang. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya... ada hal yang selama ini kami rahasiakan," ujarnya pelan. "Tapi kamu jangan kaget ya, Dek. Apa pun yang terjadi, ini tetap rumahmu."
Aku menatapnya bingung,tiba-tiba ada rasa tidak nyaman yang menjalar di dadaku.
"Maksud Kakak apa?" tanyaku. Suaraku mulai bergetar.
Matanya tampak berkaca-kaca.
"Dulu... keluarga kita sangat ingin punya anak perempuan.usiamu masih sekitar enam bulan, kamu dibawa Om Wisnu ke Jakarta dan diserahkan ke Mama."
Aku membeku.
Kak Rico kembali menarik napas sebelum melanjutkan.
"Om Wisnu bilang... kamu berasal dari keluarga kurang mampu di Jawa Tengah."
Dunia seolah berhenti berputar,Tangisku pecah seketika,Aku menepis pelukan Kak Rico dan mundur beberapa langkah.
"Bohong! Itu bohong!" teriakku histeris.
"Jadi aku bukan anak kandung Papa dan Mama? Lalu siapa orang tuaku? Di mana mereka sekarang?!"
Dadaku terasa sesak. Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan,Rumah yang selama ini kuanggap tempat paling nyaman mendadak terasa asing,Setiap sudutnya masih sama, tetapi kini semuanya terasa berbeda.
Kata-kata Kak Rico jatuh seperti pisau—tajam, dingin, dan tanpa peringatan,Tatapannya penuh iba, sementara aku sama sekali belum siap menerima kenyataan yang baru saja menghancurkan duniaku.
Rahasia itu rupanya telah hidup begitu lama di tengah keluarga kami.
Dan hari ini..aku memilih keluar tepat saat aku merasa hidupku mulai baik-baik saja.
Beberapa minggu kemudian,Papa menghembuskan nafas terakhir,Aku masih ingat jelas ucapan terakhirnya. Dengan tangis pecah di sisi ranjangnya, aku bertanya,
“Pa… nanti aku masih boleh pulang ke rumah ini?”
Papa menangis. Suaranya gemetar.
“Ini rumahmu…” ucapnya terbata-bata.
2 Minggu berlalu,aku mulai jarang pulang dan memilih tinggal di kos,Namun Papa sebelum benar-benar pergi—selalu menelepon.
“Kapan kamu pulang? Kamu sudah lupa Papa dan Mama, ya?”
Kini aku yang kehilangan arah.
Aku bingung. Bahkan saat berdoa pun, pertanyaanku tetap sama:
Siapa orang tuaku? Di mana mereka?
Dirumahh, Mama dan Papa sangat mengkhawatirkan keadaanku. Mereka memastikan kondisiku baik-baik saja, tapi air mata terus jatuh hampir setiap hari—tanpa jawaban.
Siang itu aku menghubungi Kak Rico
“Halo, Kak…” sapaku menahan tangis.
“Kamu baik-baik saja, Dek?” tanyanya dari seberang.
“Kakak pernah bilang ibu kandungku ada di Solo, . Aku harus ke sana Kak. Aku harus hubungi Om Wisnu. Dia pasti tahu.Karena Dari sanalah aku bisa menemukan keluargaku.”
“Tapi itu puluhan tahun lalu, Dek,” jawabnya hati-hati. “Bisa jadi ibu kandungmu sudah tidak berjualan di terminal itu lagi.”
“Setidaknya aku tahu dari tetangga sekitar,” balasku tegas.
“Aku harus tahu Ibu ku pergi ke mana. Rumahnya di mana. Kalau pun orang tuaku sudah meninggal, aku ingin tahu nama lengkap mereka… supaya aku tahu ke mana doaku harus ditujukan.”
Kak Rico terdiam sesaat.
“Baik. Kakak yang temani. Kirim alamat kosmu, Kakak jemput sekarang.”
Telepon ditutup,Aku benar-benar lelah. Mataku bengkak oleh tangis yang tak kunjung reda,aku capek
Sepanjang perjalanan menuju Solo,tasbih tak pernah lepas dari tanganku, ada doa yang terus kulantunkan dalam hati. Aku hanya berharap, kali ini aku tidak pulang dengan tangan kosong.
Aku kembali mencoba menelepon Om Wisnu.
"Halo," jawabnya singkat.
"Om, tolong jawab jujur," kataku tegas.
"Aku dalam perjalanan menuju Solo,Aku juga sudah tlp tante,Mereka bilang tidak tahu. Bukankah Om sendiri yang pernah bilang ke Kak Rico kalau ibu kandungku kerja di warung milik Tante? Di terminal sebelah mana? Nama Mama dikenal sebagai apa? Tolong jawab, Om."tanyaku mendesak.
"Tika, Om benar-benar tidak tahu," jawabnya gugup. "Kamu ke Solo sama siapa?"tanya Om ingin tau.
"Aku sendirian. Dan aku tidak akan pulang ke Jakarta sebelum menemukan orang tua kandungku," jawabku tegas.
Tanpa menunggu balasan lagi, telepon kututup,
Rumit sekali memecahkan perkara ini. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Om Wisnu dan Tante Mirna.
benar saja, Tak lama kemudian, Kak Rico menerima telepon dari Om Wisnu. Rupanya ia mulai memberikan petunjuk. Ia menyebut nama seorang sesepuh yang cukup dikenal di sekitar wilayah Kartasura, seorang wanita tua bernama Mbah Karsih.
Tanpa membuang waktu, kami segera menuju ke sana,di rumah Mbah Karsih, kami mulai mendapatkan informasi mengenai keberadaan ibu kandungku.
Ternyata beliau tinggal di daerah yang masih sekitar satu jam perjalanan dari lokasi kami saat itu.
Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Namun aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan kembali ke Jakarta sebelum menemukan jawaban atas keberadaan ibu kandungku.
Sekitar pukul delapan malam, kami tiba di sebuah permukiman padat di pinggir sungai.
Rumah-rumah sederhana berdiri berdekatan. Sebuah rumah kayu tua berada tepat di tepi aliran air yang tenang.
Kami memarkir mobil di lahan kosong tak jauh dari rumah tersebut.
Beberapa pasang mata langsung memperhatikan kedatangan kami. Kak Rico dan beberapa rekannya masih mengenakan pakaian dinas karena baru selesai bekerja.Tak heran jika warga sekitar menatap penuh rasa penasaran.
Siapa gerangan yang datang beriringan dengan dua mobil pada malam hari?
lama kemudian,ada wanita berkacamata keluar dari rumah,Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajahnya masih terlihat cantik meski usia telah meninggalkan jejak di sana.
Awalnya ia menatap heran ke arah kami.
Namun ekspresinya berubah saat melihat Mbah Karsih.
"Mbah Karsih, to? Oalah, tak kira sopo. Karo sopo, Mbah?" sapanya ramah sambil mempersilakan kami masuk.
Kulihat Mbah Karsih menjelaskan sesuatu dengan suara pelan.
Beberapa saat kemudian, wanita itu menoleh ke arahku dan mempersilakanku masuk ke dalam rumah.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Lidahku terasa kelu,Aku hanya bisa diam.
Di dalam rumah,banyak anak kecil duduk mengelilingiku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Satu per satu mereka diperkenalkan kepadaku.
"Tika, ini adik-adikmu. Ini keponakan-keponakanmu."
Suara Mbah Karsih terdengar lembut.
beberapa wajah memang memiliki kemiripan denganku.Namun saat itu aku belum sanggup memikirkan hal lain.
Tatapanku terus tertuju pada wanita yang berdiri tak jauh di hadapanku.
Ibu kandungku.
Ada begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu,Marah.Kecewa.Penasaran dan
Sedih,Tetapi aku tidak mampu mengucapkan apa pun.
Rumah itu terlalu ramai untuk membicarakan semua hal yang selama ini menghantui pikiranku.
Aku hanya tersenyum tipis lalu memeluk satu per satu keponakanku yang masih kecil.
Malam terus berjalan.
Kami saling bertukar nomor telepon dan bercerita seperlunya.Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, aku harus berpamitan pulang. Esok hari aku masih harus bekerja.
Sebelum pergi, kuberikan sedikit uang tunai yang masih kubawa kepada mereka,Bukan karena iba.
Melainkan karena hatiku tergerak melihat kehidupan yang mereka jalani.
Setelah berpamitan, aku melangkah menuju mobil,Aku memang telah menemukan ibu kandungku.
Namun aku belum menemukan jawaban.
Masih ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Terutama tentang ayah kandungku.
Pria yang selama ini dikatakan telah meninggal dunia.
ku rasa, semakin dekat aku dengan kebenaran, semakin kuat perasaanku bahwa ada rahasia besar yang masih disembunyikan dariku.
_________________________________________________
Hari berlalu, Di sela kesibukanku bekerja di kantor, aku masih kebingungan bagaimana harus memulai komunikasi dengan Ibu Kandungku, jarak tiga puluh lima tahun yang memisahkan kami membuatku canggung dan ragu.
Ada rasa ingin dekat, tetapi juga takut membuka luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Hari-hari berlalu seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Padahal hidupku sedang berantakan,aku sedang tak ingin membicarakan masa depan. Aku hanya ingin bertahan menghadapi setiap kejutan yang datang silih berganti dalam hidupku.
"Nak, kamu jangan macam-macam ya," ujar Mama dengan wajah cemas. "Jangan sampai kepikiran mengakhiri hidup."
Aku tersenyum lalu memeluknya erat.
"Enggak, Ma. Masa cuma begini Tika nyerah."
Mama tersenyum tipis. Pandangannya kemudian tertuju pada foto Bu Asih yang terletak di meja.
"Ini ibu kandungmu? Cantik ya. Mama kalah cantik," candanya.
Aku tertawa kecil.
Tika masih ingat,waktu tika kecil,dirumah gak ada susu,Mama bikinin air teh buat aku. " tatap tika haru.
Mama terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang jauh sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Dulu waktu Mama masih di Balikpapan,Papamu masih dinas di Jakarta. Saat kami pindah ke Jakarta, kamu diantar Om Wisnu. Kalau tidak salah, usia kamu baru sekitar enam bulan."
Aku mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari ucapanya.
"Mama sempat kaget. Mama kira Papa selingkuh. Tapi tantemu bilang ada temannya yang punya bayi dan tidak mampu merawatnya. Karena kami memang sangat ingin punya anak perempuan, akhirnya kamu dibawa ke Jakarta."
Mendengar penjelasan itu, pikiranku mulai melebar,ada sesuatu yang terasa janggal.
Apakah ini ada hubungannya dengan sikap Om Wisnu dan Tante Mirna yang sejak awal sulit memberikan informasi tentang Ibu Asih?kenapa Ibu Asih selalu gugup setiap kali aku bertanya tentang makam ayah kandungku yang katanya sudah meninggal.
Aku merasa sudah saatnya mencari tahu siapa dan di mana ayah kandungku sebenarnya.
Waktu berlalu.
Aku menerbangkan Ibu Asih ke Jakarta bersama salah satu adikku yang sudah terbiasa mendampinginya.Pekerjaanku tidak memungkinkan untuk sering izin ke Solo, aku berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Aku memesan kamar di sebuah hotel bintang lima,yah Aku juga ingin membahagiakan beliau,menciptakan sesuatu yang mungkin jarang beliau rasakan sepanjang hidupnya,memesan makanan ke kamar agar suasana lebih cair dan relax saat bercerita.
Perlahan aku mulai bicara tentang masa kecilku,Ibu Asih tersenyum lebar mendengarnya.
"Dulu Ibu sering cari kamu, Nduk," katanya lirih.
Aku menatapnya.
"Ibu beliin kamu baju bagus. Ibu dijanjikan sama tantemu bisa ketemu. Tapi setiap kali Ibu datang,Ibu dibohongi. Katanya kamu ada di Kalimantan."
Aku masih menyimak'
"Terus... Papa kandung saya di mana,Buk?" tanyaku pelan, Kenapa Ibuk memilih menyerahkan saya, padahal Ibuk bisa membesarkan adik-adik yang lain?"
"Nduk... sebenarnya Ibu bukan menyerahkan kamu ke orang lain."
Aku langsung menatapnya.
"Ibu menyerahkan kamu ke papamu sendiri."
Aku tertegun,Rasanya seluruh tubuhku mendadak kaku.
"Jadi... Papa selingkuh sama Ibuk?" tanyaku tak percaya.
"Pantasan Om dan Tante sulit dimintai keterangan. Terus... Papa kirim uang ke Ibuk selama ini?"
Ibu Asih menggeleng pelan."Demi Tuhan, Ibu nggak pernah menerima sepeser pun. Kamu dibesarkan papamu saja Ibu sudah lega."
Aku menunduk.
"Buk,Mama angkat Tika itu orang yang sangat baik. Hatinya mulia. Tika dibesarkan penuh kasih sayang. Tika nggak pernah dipukul. Bahkan selalu diperjuangkan. Papa juga nggak pernah menafkahi Mama angkat. Selama ini Tika pikir uang itu dikirim untuk Ibu Asih."
"Tidak, Nduk," jawabnya lirih. "Ibu nggak pernah tahu apa-apa. Bahkan sejak kamu diserahkan, kontak Ibu diputus oleh tantemu."
Aku masih belum sepenuhnya percaya,Dan kurasa, kebenaran yang utuh hanya akan kudapat jika Om Wisnu atau Tante Mirna bersedia berbicara langsung di hadapanku bersama Ibu Asih.