NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Suara pintu didobrak dari luar menggema keras, memecah keheningan malam yang sejak tadi menyelimuti apartemen itu.

“Nayla!!!”

Suara itu.

Nayla membeku.

Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat, sebelum kemudian berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Ia mengenali suara itu. Terlalu mengenalinya bahkan sampai ke cara nada itu naik, ke emosi yang terselip di setiap hurufnya.

Endra.

Tubuh Nayla yang semula terbaring lemah di atas ranjang langsung bergerak. Gadis itu bangun dengan tergesa, kepalanya terasa berat, pandangannya sedikit berkunang. Namun rasa kaget dan panik lebih kuat dari rasa pusing yang menyerangnya.

Kakinya menapak lantai dingin, langkahnya goyah saat berjalan keluar kamar. Nafasnya memburu, pikirannya kacau.

Kenapa Endra ada di sini?

Bagaimana dia tahu?

Belum sempat Nayla menemukan jawaban, tubuhnya baru saja melewati ambang pintu kamar, sebuah tangan besar langsung mencengkeram pergelangannya dengan kasar.

Seketika rasa sakit menjalar.

Nayla terkejut.

Matanya membulat saat sosok di hadapannya benar-benar jelas.

Endra.

Wajah laki-laki itu gelap. Rahangnya mengeras, napasnya berat, dan sorot matanya… penuh amarah yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Endra—”

Belum sempat Nayla menyelesaikan ucapannya, Endra sudah menariknya dengan paksa.

Kuat.

Tanpa kompromi.

Tanpa peduli.

Nayla bahkan tidak sempat menyeimbangkan tubuhnya. Ia hanya bisa terseret mengikuti langkah panjang Endra yang berjalan cepat menuju pintu keluar.

“Endra, lepas… sakit…” gumam Nayla lirih, berusaha menarik tangannya.

Namun cengkeraman itu tidak mengendur.

Sedikit pun tidak.

Endra seperti tidak mendengar.

Atau mungkin tidak ingin mendengar.

Lorong apartemen terasa panjang. Setiap langkah Nayla terasa berat. Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka, memperhatikan kejadian itu dengan rasa penasaran. Tapi Endra tidak peduli.

Sama sekali tidak.

Ia terus menarik Nayla tanpa melihat ke kanan atau kiri.

Nayla menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang semakin menjadi di pergelangan tangannya. Ia mencoba lagi melepaskan diri, tapi sia-sia.

Tenaga Endra jauh lebih kuat.

“Endra, aku bisa jelasin semuanya… jangan salah paham…”

Tidak ada jawaban.

Hanya langkah kaki yang terus berderap cepat.

Mereka sampai di lobby.

Lampu-lampu terang menyinari wajah mereka. Beberapa orang yang sedang duduk di sana langsung menoleh. Ada yang berbisik, ada yang sekadar menatap.

Nayla semakin merasa tidak nyaman.

Tapi lagi-lagi Endra tidak peduli.

Ia terus menarik Nayla keluar menuju area parkiran.

Udara malam langsung menyergap kulit Nayla yang dingin. Angin berhembus, membawa hawa yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat suasana semakin mencekam.

Endra membuka pintu mobil dengan kasar. Dan tanpa peringatan iaa mendorong tubuh Nayla masuk ke dalam.

“Masuk!”

Nayla terhuyung, hampir terjatuh di kursi. Belum sempat ia bereaksi, pintu sudah ditutup dengan keras.

Endra segera masuk dari sisi lain, menyalakan mesin mobil tanpa berkata apapun.

Suara mesin meraung.

Mobil melesat cepat keluar dari parkiran.

Nayla terdiam.

Tangannya gemetar.

Ia menatap ke depan, jantungnya berdegup kencang saat mobil melaju di jalan dengan kecepatan yang jauh di atas normal.

Lampu-lampu jalan berlalu begitu cepat.

Klakson terdengar dari berbagai arah.

Beberapa kendaraan menghindar.

Endra mengemudi seperti orang yang kehilangan kendali.

“Endra…tolong pelan-pelan,” suara Nayla bergetar.

Ia memegang dashboard, tubuhnya ikut berguncang mengikuti laju mobil yang tidak stabil.

Namun Endra tidak merespon, tatapannya lurus ke depan. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram setir dengan kuat.

Nayla semakin takut, bukan hanya untuk dirinya. Tapi juga untuk orang lain di jalan.

“Endra, please… kita bisa ngomong baik-baik…”

Tetap tidak ada jawaban.

Hanya suara mesin dan klakson yang saling bersahutan.

Sampai akhirnya—

BRAK!

Mobil berhenti mendadak.

Tubuh Nayla terdorong ke depan, kepalanya membentur dashboard dengan cukup keras.

“Ah—”

Ia meringis, langsung memegang pelipisnya yang berdenyut.

Beberapa detik ia hanya diam, mencoba menahan rasa sakit.

Lalu perlahan ia mendongak dan melihat Endra.

Laki-laki itu masih duduk di sampingnya, napasnya memburu, matanya merah, tatapannya tajam… terlalu tajam. Seolah ingin menghancurkan apapun yang ada di hadapannya.

Nayla menelan ludah.

Takut.

Sangat takut.

Ia tahu.

Jika Endra sudah seperti ini maka yang muncul bukan lagi laki-laki yang ia kenal. Tapi seseorang yang jauh lebih gelap. Tiba-tiba—

BUGH!

Endra memukul setir dengan keras.

Nayla terperanjat, tubuhnya refleks menjauh. Ia menahan napas, air matanya mulai menggenang. Namun ia berusaha menahannya.

Ia tidak boleh menangis.

Tidak sekarang.

“Endra… aku bisa jelasin…”

“Jelasin apa, Nayla?!” bentak Endra tiba-tiba.

Suaranya keras.

Menggelegar di dalam mobil.

Nayla tersentak.

“Lo bego, Nay! Lo cewek paling bego yang pernah gue temui!” lanjutnya, menunjuk dahi Nayla dengan kasar.

Setiap kata terasa seperti pukulan.

Nayla menggigit bibirnya.

Menahan diri.

“Dia cuma nolongin aku, Dra…” lirihnya.

Endra tertawa kecil.

Sinis.

Sakit.

“Dibayar berapa lo semalam, huh?”

Nayla membeku.

Apa?

“Apa maksud kamu…?”

“Lo murahan, Nayla!” potong Endra.

“Dasar cewek jalang!”

Kalimat itu menghantam. Lebih sakit dari apapun. Air mata Nayla jatuh, tidak bisa ditahan lagi. Dadanya terasa sesak, ia lebih memilih dipukul. Lebih memilih disakiti secara fisik daripada harus mendengar kata-kata itu dari orang yang ia cintai.

“Endra…” suaranya pecah.

“Nggak usah drama!” bentak Endra lagi.

“Lo cuma cewek lemah!”

Tangis Nayla semakin menjadi. Namun di balik itu ada sesuatu yang berubah.

Perlahan.

Sesuatu yang selama ini ia tahan.nIa menyeka air matanya dengan kasar. Menarik napas dalam. Lalu—

“Kalau kamu anggap aku kayak gitu…”

Suaranya pelan.

Tapi tegas.

“Kita putus aja.”

Hening.

Endra membeku.

“Lo bilang apa?”

Nayla menatapnya.

Matanya merah.

Penuh luka.

“Aku capek, Dra.”

“Hubungan kita udah gak sehat.”

“Dan aku nggak apa-apa kalau harus putus sekarang.”

“Ngomong sekali lagi lo!” Endra mendekat.

Wajahnya sangat dekat.

Napasnya terasa di wajah Nayla.

Nayla takut.

Tapi ia tidak mundur.

Tangannya terangkat, mendorong dada Endra menjauh.

“Lo egois, Endra!” suaranya meninggi.

“Gue capek sama semua kelakuan lo!”

PLAK!

Satu tamparan mendarat keras.

Kepala Nayla terhempas ke samping, membentur kaca mobil.

Sunyi.

Beberapa detik.

Hanya suara napas mereka yang terdengar.

Nayla diam.

Matanya kosong.

Pipinya terasa panas.

Sangat panas.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Endra menarik napas kasar, lalu tiba-tiba membuka dashboard. Tangannya mencari sesuatu.

Nayla menoleh dan saat ia melihat benda itu—

Jantungnya seakan jatuh.

Cutter.

Benda tajam itu kini berada di tangan Endra. Tangannya gemetar, tubuhnya bergetar hebat.

Memori itu kembali.

Saat Endra pernah melukai dirinya dengan benda yang sama.

“Endra… lo mau apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.

Endra menatapnya.

Dingin.

“Kalau peringatan gue udah gak mempan di lo…”

Ia mengangkat cutter itu.

“Ini cara terakhir.”

Nayla panik.

Ia langsung meraih handle pintu.

Mencoba membukanya.

Tidak bisa.

Terkunci.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

“Buka! Endra buka!” suaranya panik.

Endra tersenyum tipis.

Tanpa emosi.

“Lo gak akan bisa keluar, Nayla.”

Air mata Nayla jatuh semakin deras.Tubuhnya menempel ke pintu mencoba menjauh sejauh mungkin. Tapi ruang itu terlalu sempit, ia terjebak. Benar-benar terjebak.

“Endra… jangan…” suaranya bergetar hebat.

“Please… aku takut…”

Namun Endra tidak berhenti.

Ia mendekat.

Pelan.

Terlalu pelan.

Dan itu justru lebih menakutkan.

“Nayla… gue udah bilang berkali-kali…”

“Lo itu punya gue.”

Tangannya menggenggam pergelangan Nayla. Menariknya paksa cutter itu semakin dekat. Dan Nayla hanya bisa menangis tanpa tahu apakah kali ini ia akan selamat.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!