NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PECAHAN KEBENARAN DI BALIK TUNGKU

Haidar melangkah meninggalkan ruang monitor dengan kaki yang terasa seberat timah. Setiap langkahnya di atas lantai besi yang berkarat menimbulkan suara dentuman kosong yang seolah mengejek keberadaannya. Meskipun Sersan sudah memperingatkannya berulang kali untuk tidak percaya pada apa pun yang ia lihat di layar monitor tadi, bayangan rongsokan motor bebek dan boneka beruang di aspal basah itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terjepit. Retakan di hatinya terasa nyata—sebuah kekosongan yang bahkan tidak bisa ditambal oleh es di nadinya.

​Karena lift utama sudah hancur lebur menghantam dasar menara, mereka terpaksa memanjat sisa-sisa poros lift yang kini hanya menyisakan kabel-kabel baja yang menjuntai dan besi penyangga yang bengkok. Haidar harus menggunakan kekuatannya untuk membekukan dinding poros agar bisa dijadikan pijakan sementara. Setiap meter kenaikan terasa seperti perjuangan melawan gravitasi dan maut yang menanti di lubang gelap di bawah mereka.

​"Sedikit lagi, Haidar. Puncak menara ini adalah tempat di mana segala sesuatu yang rusak dipaksa untuk menyatu kembali," suara Sersan bergema dari atas, ia memanjat dengan lincah seolah berat tubuhnya tidak berarti apa-apa.

​Saat mereka akhirnya berhasil memanjat keluar dari poros dan mencapai lantai puncak, hawa panas yang luar biasa langsung menyambar wajah Haidar. Panas itu beradu dengan aura dingin dari tubuhnya, menciptakan kabut putih tebal yang menghalangi pandangan. Mereka kini berada di aula luas berbentuk lingkaran sempurna yang dikelilingi oleh pipa-pipa gas yang membara merah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tungku raksasa setinggi sepuluh meter yang menyemburkan api berwarna biru keputihan. Di depan tungku itu, berdiri sesosok raksasa dengan baju zirah besi hitam yang membara. Wajahnya tersembunyi di balik topeng las kuno dengan satu celah mata yang memancarkan cahaya jingga pekat.

​Inilah The Welder. Sang Pengelas Takdir di Sektor Ferrum.

​"Haidar..." suara The Welder terdengar berat, seperti suara gesekan lempengan baja. "Kau datang membawa kepingan yang salah. Kau membawa es ke dalam tungku penyucian ini."

​Haidar mengepalkan tangannya begitu kuat. Mata Birunya berdenyut, memindai suhu ruangan yang melonjak drastis. "Aku tidak butuh penyucianmu. Aku hanya butuh jalan keluar dari tempat ini."

​"Keluar?" The Welder terkekeh, suara tawa yang penuh dengan distorsi mekanis. "Kau pikir kau bisa lari dari kegagalanmu? 19.30, Haidar. Ingat angka itu? Waktu di mana kau memutuskan bahwa sebuah boneka lebih berharga daripada nyawamu sendiri."

​Kalimat itu menghantam Haidar lebih keras daripada hantaman gada mana pun. 19.30. Seketika, memori kecelakaan itu kembali muncul. Aspal basah, lampu jalan yang redup, dan rasa sakit luar biasa saat motornya menghantam aspal. Dia teringat betapa bodohnya dia, memutar balik hanya demi boneka beruang mata besar itu, hingga akhirnya kecelakaan itu merenggut segalanya. Jam tangan yang pecah di pergelangan tangannya menunjukkan angka itu sebelum dunianya menjadi gelap.

​"Diam!" teriak Haidar. "Itu hanya kecelakaan!"

​"Itu adalah pilihan, Haidar," balas The Welder sambil mengangkat obor las raksasanya. "Dan sekarang, pilihanmu membawamu ke sini untuk dilebur kembali. Kau mati demi sebuah benda mati, dan membiarkan Kinaya hidup dalam bayang-bayang seorang ayah yang tak pernah pulang."

​"Jangan dengarkan dia!" teriak Sersan sambil menghunuskan pedang merahnya. "Dia memancing amarahmu agar esmu mencair! Serang dia sekarang, atau kita akan terpanggang di sini!"

​The Welder mengayunkan obor lasnya, menciptakan gelombang api biru yang meluncur membelah lantai besi. Haidar melompat ke samping, namun radiasi panasnya sempat menjilat jubahnya, menciptakan aroma kain terbakar yang sangat nyata—sensasi yang terlalu tajam untuk sebuah mimpi.

​Haidar memfokuskan Cryo-Core-nya hingga dadanya terasa seperti dihujam paku es. Ia meluncur maju menggunakan jalur es di bawah kakinya. Belati hitamnya mengeluarkan aura dingin yang luar biasa. Saat ia berada dalam jarak jangkau, ia mencoba menusuk sendi leher zirah raksasa itu. Namun, The Welder ternyata jauh lebih gesit. Dengan satu gerakan tang penjepitnya, ia menangkap bilah belati Haidar.

​TSSTTTTTTT!

​Uap panas meledak saat es Haidar beradu langsung dengan panas membara dari logam The Welder. Logam belati itu mulai memerah dalam hitungan detik. Haidar bisa merasakan panas yang menyiksa merambat ke telapak tangannya, mencoba mencairkan es yang sudah menyatu dengan nadinya.

​"Kau pikir boneka itu bisa menggantikan kehadiranmu?" The Welder berbisik, mendekatkan wajah topeng lasnya tepat ke depan wajah Haidar. "Kau membuang hidupmu untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa memeluk Kinaya saat dia menangis mencarimu."

​"DIAM!!!" teriak Haidar dengan amarah yang meluap.

​Ledakan energi biru meledak dari tubuh Haidar secara liar. Sebuah badai salju lokal tercipta, membekukan pipa-pipa gas yang tadinya membara hingga pecah berantakan. Haidar berhasil menarik belatinya dan memberikan tendangan telak ke dada The Welder, membuat raksasa itu mundur beberapa langkah hingga menabrak tungku raksasanya.

​The Welder kembali tegak, zirah dadanya nampak sedikit penyok dan tertutup lapisan es tipis yang segera menguap. "Marah? Bagus. Amarah adalah bahan bakar terbaik untuk melebur logam. Tapi esmu hanya menunda kehancuran yang sudah pasti terjadi sejak kau memutar balik motormu malam itu."

​Haidar terengah-engah, uap napasnya keluar seperti asap tebal. Ia melirik ke arah Sersan yang sedang bertarung dengan beberapa budak mesin. Sersan nampak sengaja membiarkan Haidar menghadapi sang Pengelas ini sendirian, seolah ini adalah pengadilan pribadinya.

​"Sersan! Bantu aku!" teriak Haidar.

​"Ini adalah bagian dari takdirmu, Haidar! Selesaikan apa yang kau mulai!" jawab Sersan tanpa menoleh.

​Haidar kembali memfokuskan pandangannya pada The Welder. Raksasa itu kini mengangkat obor lasnya tinggi-tinggi. Secara ajaib, seluruh api biru dari tungku raksasa itu terhisap masuk ke dalam ujung obornya, membuat ruangan itu mendadak gelap gulita, hanya disinari oleh cahaya biru pekat yang terkumpul di ujung senjata The Welder.

​"Mari kita lihat, seberapa kuat es yang kau banggakan itu mampu menahan panasnya kenyataan yang kau tinggalkan," ucap The Welder dengan suara yang mengguncang lantai.

​Haidar memejamkan mata sejenak. Ia merogoh sakunya, menyentuh boneka beruang kecil yang entah bagaimana ada di sana. Ia ingat wajah Kinaya. Ia ingat janjinya untuk tidak pernah membuatnya sedih. Jika dia harus menjadi es yang paling keras di seluruh Niskala untuk menebus kesalahannya malam itu, maka ia akan melakukannya.

​"Aku akan pulang... aku akan memperbaikinya, Kinaya."

​Mata Niskala Birunya terbuka, memancarkan kilatan listrik dingin yang menyambar-nyambar. Seluruh tubuhnya kini diselimuti oleh lapisan es transparan yang keras seperti berlian. Haidar melesat, meninggalkan jejak es yang membeku di udara. Saat obor las The Welder diayunkan jatuh membawa seluruh panas tungku yang terkumpul, Haidar tidak menghindar. Ia menerjang tepat ke tengah pusaran api biru, mengangkat belatinya yang kini memanjang dengan bilah es murni, siap membenturkan seluruh hidupnya pada takdir yang sedang membara di hadapannya.

1
Wawan
Hadir ingin kenal Kinaya ✍️
Suparni
rekomend👍👍👍
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!