NovelToon NovelToon
Penawar Luka Aira

Penawar Luka Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."

***

Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balapan yang gagal.

Deru knalpot memecah sunyi malam, menyatu dengan denyut adrenalin yang berdegup liar di dada seorang gadis cantik bernama Aira. Gadis itu berdiri di antara barisan motor, helm terpasang, mata tajam menatap garis start yang basah oleh cahaya lampu jalan.

Balapan liar.

Hal yang seharusnya ia jauhi, tapi justru menjadi satu-satunya jalan yang ia pilih, setidaknya untuk saat ini.

Bukan karena hobi.

Bukan karena ingin pamer.

Balapan liar bukan sekadar pelarian—itu kebutuhan. Uang dari kemenangan adalah alasan terkuatnya malam ini.

Namun kabar buruk datang seperti rem mendadak.

Ada razia. Polisi menyebar.

Kerumunan bubar, suara mesin satu per satu menghilang. Aira menggeram kesal. Tangannya mengepal di setang motor sport yang ia pinjam—motor mahal yang seharusnya membawanya pada kemenangan.

Malam ini, harapan itu runtuh. Ia sangat menginginkan uang itu. Sangat.

Kesal bukan main. Malam ini seharusnya jadi miliknya. Ia sudah siap, sudah fokus, sudah mempertaruhkan segalanya dan semuanya runtuh hanya karena kabar razia. Ia menunduk sesaat, menahan emosi, lalu menyalakan motor.

Dengan perasaan campur aduk, Aira melaju meninggalkan lokasi. Kecepatan motornya tidak sekencang biasanya. Kepalanya penuh, dadanya sesak oleh rasa kecewa. Angin malam menerpa jaket tipisnya, tapi tidak mampu mendinginkan amarah di dalam dirinya.

Hingga tiba-tiba— Aira mengerem keras.

Di tengah jalan, di bawah sorot lampu kuning pucat, seekor kucing tergeletak lemah. Tubuhnya kotor, salah satu kakinya terlihat terluka. Kucing itu mengeong pelan, nyaris tak terdengar, seolah hanya berharap ada yang melihatnya.

Beberapa pengendara lain ikut berhenti. Namun bukan untuk menolong.

“Aduh lama banget sih!”

“Usir aja itu kucing!”

“Kenapa harus di tengah jalan, sih?!”

Klakson bersahutan. Wajah-wajah tak sabar bermunculan di balik helm. Mereka menunggu—bukan untuk membantu, melainkan berharap kucing itu menyingkir sendiri.

Tak satu pun turun.

Aira melepas helmnya dengan gerakan kasar. Dadanya naik turun, bukan karena balapan, tapi karena amarah yang mendidih.

“Kalian punya hati gak, sih?” suaranya meninggi, tajam menusuk malam. “Dia sedang terluka!”

Tanpa menunggu jawaban, Aira turun dari motor. Langkahnya cepat, penuh emosi. Ia berjongkok di depan kucing itu, suaranya berubah lembut.

“Hey… bentar ya,” bisiknya.

Dengan hati-hati, Aira mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya ke pinggir jalan. Kucing itu tidak melawan, hanya mengeong lirih. Saat ia kembali berdiri, pandangannya menyapu para pengendara lain.

“Kalau gak mau nolong, jangan cuma bisa marah!” ucapnya dingin.

Beberapa orang memilih pergi. Beberapa pura-pura tidak mendengar. Aira tidak peduli. Fokusnya kini hanya satu yaitu kucing di tangannya.

Ia menatap luka di kaki kecil itu. Hatinya mencelos. Sejak kecil, Aira memang selalu seperti ini. Terlalu mudah peduli pada hewan, terutama kucing. Ada perasaan hangat yang selalu muncul, perasaan yang tidak pernah ia dapatkan dengan mudah di rumahnya.

Rumah yang melarangnya memelihara kucing. Rumah dengan ibu tiri yang alergi bulu kucing. Larangan yang selalu terasa tidak adil.

“Aku gak bisa bawa kamu pulang dan pelihara kamu,” gumam Aira lirih, menahan sesak di dadanya. “Tapi aku gak bakal ninggalin kamu gitu aja.”

Ia kembali menaiki motor, kali ini dengan kucing itu di pangkuannya, jaketnya terbuka sedikit agar tubuh kecil itu terlindungi. Aira berkeliling mencari apotek, harapannya tipis—hingga sebuah papan hijau terang masih menyala di ujung jalan.

“Alhamdulillah…”

Ia membeli obat luka, antiseptik, dan kapas. Di teras apotek yang hampir tutup, Aira membersihkan luka kucing itu dengan teliti. Sesekali ia meringis, seolah ikut merasakan perihnya.

“Kuat ya,” ucapnya pelan. “Kamu hebat.”

Tanpa ia sadari, dari seberang jalan, seorang laki-laki berdiri memperhatikannya. Helm masih menutupi wajahnya, motor terparkir tak jauh. Sejak tadi ia berniat turun untuk menolong kucing itu—namun langkahnya terhenti ketika melihat Aira lebih dulu bergerak.

Ada sesuatu yang membuatnya terpaku.

Cara gadis itu marah.

Cara tangannya lembut saat menolong.

Cara matanya penuh emosi namun jujur.

Ia merasa pernah melihatnya. Entah di mana. Entah kapan.

Laki-laki itu menatap Aira lebih lama, rasa penasaran perlahan tumbuh.

Malam ini, di antara kegagalan balapan dan seekor kucing terluka, takdir diam-diam mulai mengikat benang yang belum disadari oleh siapa pun—terutama oleh gadis yang memiliki nama lengkap, Aira Salma Zhafira.

Aira menghela napas panjang setelah membalut luka di kaki kucing itu dengan rapi. Tangannya berhenti bergerak, lalu ia tersenyum kecil—senyum yang lelah, namun lega.

“Sudah selesai,” gumamnya pelan.

Kucing itu mengeong lirih, kepalanya menggesek ujung jaket Aira seolah mengucapkan terima kasih. Gadis itu mengusap kepalanya sebentar, hati-hati, seakan takut menyakitinya lagi. Baru saat itulah ia menyadari—ada noda darah kecil di bagian depan bajunya. Merah samar, tapi jelas terlihat.

Aira menatapnya sekilas, lalu menghela napas. “Ya sudahlah,” ucapnya ringan, meski matanya menyiratkan kelelahan. Malam ini benar-benar tidak sesuai rencana.

Di seberang jalan, laki-laki itu masih berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas dari sosok Aira. Noda darah di baju gadis itu justru membuat dadanya terasa sesak—aneh, seperti pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan tanpa aba-aba, ingatannya ditarik mundur.

Lima tahun lalu.

Waktu yang berbeda, suasana yang berbeda, tapi perasaan yang… sama. Seorang gadis dengan sorot mata keras namun hati yang terlalu lembut untuk dunia sekejam ini. Ia ingat jelas—wajah itu mungkin lebih dewasa sekarang, garis-garisnya berubah, tapi tatapan itu… tidak.

Tatapan yang sama.

Laki-laki itu mengerjapkan mata, berusaha menarik dirinya kembali ke masa kini. Tangannya mengepal tanpa sadar.

Jadi benar… itu dia?

Dadanya berdebar, bukan karena ragu, melainkan karena sesuatu yang belum benar-benar pergi sejak lima tahun lalu. Ia pikir waktu sudah menguburnya. Ia pikir jarak telah memadamkannya. Ia pikir ia sudah melupakan gadis yang mampu membuatnya tertarik untuk kali pertama.

Nyatanya, tidak.

“Ini pertanda apa?” gumamnya nyaris tak terdengar. “Setelah sekian lama… dan rasa itu masih sama.”

Di sisi lain, Aira menggendong kucing itu perlahan, bersiap pergi. Ia sama sekali tidak tau bahwa dari balik helm dan jarak beberapa meter, seseorang sedang menatapnya dengan perasaan yang belum selesai, dan takdir yang perlahan kembali menyatukan arah mereka.

Malam itu belum berakhir.

Dan cerita mereka… baru saja benar-benar dimulai.

***

Motor sport itu berhenti tepat di depan rumah Ishaan, sahabatnya. Suara mesinnya yang tadi bising kini perlahan mereda, menyisakan sunyi malam yang mulai dingin. Aira mematikan mesin, lalu melepas helmnya dengan gerakan lelah.

Ia menekan klakson pelan, tanda ia sudah sampai.

Tak lama, pintu rumah terbuka. Ishaan keluar dengan kaos santai dan celana pendek sebatas lutut, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja hendak tidur.

“Kok udah balik aja?” tanyanya, alisnya terangkat heran.

Aira menyandarkan motor itu dengan hati-hati sebelum menjawab singkat, “Iya, gagal. Ada razia dadakan.”

Ishaan menghela napas panjang, lalu bersandar di pagar. “Ya elah… lagian kan udah gue bilang, pake aja duli duit gue, Ai. Buat bantu pengobatan Mang Arif.”

Nama itu membuat Aira terdiam sejenak.

Mang Arif.

Suami dari Bik Lastri. Orang yang selama ini diam-diam selalu memastikan ia makan, memastikan pintu rumah terkunci, memastikan ia tidak sendirian di dunia yang terasa terlalu keras untuknya, dan memastikan pendidikannya. Sejak kecil, Aira dirawat oleh sepasang suami-istri itu.

Sekarang, pria itu tengah sakit. Dan biaya pengobatannya tidak sedikit.

Aira menunduk, menatap ujung sepatunya. Rahangnya mengeras. “Ck, nggak lah,” jawabnya akhirnya. “Gue mau usaha sendiri.”

Ishaan menggeleng pelan, sudah hafal dengan keras kepalanya sahabatnya itu. “Ya terserah lo aja lah. Lo. emang keras kepala, Ai." Ia mengangkat bahu.

“Lo mau balik? Nggak mau nemuin bokap gue dulu?”

Aira menggeleng cepat. “Nggak, Shaan. Udah malem. Gue gak mau Bibi khawatir. Pasti bokap lo juga udah istirahat. Gak enak ganggu gue."

“Oh… yaudah. Eh btw, kerudung lo mana?"

Aira menepuk keningnya, ia lupa. "Oh iya."

Aira buru-buru memakai jilbab instannya sebelum ia pulang ke rumah.

"Bisa gawat kalau lo lupa, Ai."

Aira tersenyum tipis. "Iya, Bik Lastri bisa kecewa kalau tau gue masih buka tutup begini."

"Ya elooo... Udah sih pake aja terus, biar keliatan cewenya!" Ucap Ishaan yang membuat Aira mendelik tajam. "Heh! Gue emang cewe tulen tau!"

"Iya iya deh. Udah sana balik. Keburu malem."

"Ini udah malem prindapan!"

"Ck! Jangan lupa besok dateng latihan."

"Hmmm." Aira hanya membalas gumaman.

Ia sudah berniat untuk mundur. Tapi... Ia masih memikirkannya lagi.

Suasana hening sesaat.

"Kenapa bengong?"

"Eh iya, yaudah gue balik ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Ai."

Aira hanya mengangguk kecil, lalu berbalik. Kali ini tanpa motor. Ia memilih berjalan kaki, seperti biasanya.

Jarak rumah Ishaan ke rumah Bik Lastri memang tidak jauh. Hanya sekitar sepuluh menit. Jalanan malam itu cukup sepi, hanya ada beberapa lampu jalan yang menemani langkahnya.

Angin malam menyapu wajahnya. Dingin. Tapi tidak sedingin isi hatinya.

Keluarga Ishaan… selalu terasa hangat baginya.

Ayah Ishaan dulu adalah kakak kelas almarhum bundanya. Sejak kecil, mereka sudah mengenal Aira dengan baik karena Aira di rawat oleh Bik Lastri yang merupakan tetangga keluarga Ishaan juga.

Bahkan setelah Bunda dari Ishaan meninggal saat Ishaan berusia tujuh belas tahun, keluarga itu tetap menjadi tempat yang penuh kehangatan.

Aira paham betul bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu. Ia juga pernah merasakannya.

Bedanya… Ishaan masih punya rumah yang benar-benar “rumah”.

Sedangkan Aira… tidak.

Langkahnya melambat.

Bayangan masa kecilnya muncul begitu saja.

Suara-suara itu…

Masih jelas. Masih menyakitkan.

“Kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding dia.”

“Anak siapa kamu sebenarnya?”

“Jangan-jangan kamu bukan anak ayah kamu! Ibu kamu selingkuh!"

"Kamu doang anak yang tidak penurut!"

"Kamu itu anak haram."

Aira memejamkan mata sejenak.

Sejak kecil, ia selalu dibanding-bandingkan dengan saudara tirinya. Tak pernah cukup. Tak pernah benar. Bahkan lebih parah—orang-orang di rumah itu tak segan menyebutnya sebagai anak haram.

Mereka menuduh ibunya, Desi, berselingkuh.

Menuduh bahwa Aira bukan anak dari ayahnya sendiri.

Padahal Aira tau… ibunya bukan seperti itu.

“Cukup…” bisiknya lirih, seolah mencoba menghentikan pikirannya sendiri.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali berjalan.

Satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah baginya hanyalah rumah sederhana milik Bik Lastri. Wanita itu bukan siapa-siapa secara darah, tapi memperlakukannya jauh lebih baik dari keluarga kandungnya sendiri.

Bik Lastri tidak punya anak.

Dan entah sejak kapan… Aira mengisi kekosongan itu.

Begitu pula sebaliknya.

Lampu rumah kecil itu sudah terlihat dari kejauhan. Hangat. Sederhana. Tapi cukup membuat dada Aira terasa sedikit lega.

Ia mempercepat langkahnya.

Malam ini mungkin gagal. Uang yang ia harapkan belum ia dapatkan. Tapi satu hal yang pasti— Ia belum akan menyerah.

Demi Mang Arif.

Demi Bik Lastri.

Dan demi dirinya sendiri, yang ingin membuktikan bahwa ia bukan seperti yang orang-orang tuduhkan.

1
Syti Sarah
ayo dong Aira trima azzam.udh di syang bnget tuh sama calon mertua 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
aira udah terima aja lamaran azzam
Shabrina Darsih
pasti kenasl Arsyla smnmama nya aira
Syti Sarah
kn mma nya Aira itu shbat umma arsyila wktu masih di jkarta kn ya
Fegajon: betul. sahabat arsyila waktu sekolah sebelum mondok
total 1 replies
syora
apa kalau nggak slh sahabat umma arsyila waktu skolah si desi desi itu kah
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Fegajon: iya betul babget😭
total 1 replies
Anak manis
seru, bagus, lucu
anakkeren
inget thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semoga cepat terungkap kebenaran nya gak ada drama tes dna ditukar kayak di dracin
Syti Sarah
ayo zam,semangat untuk membuktikan smua nya
Shabrina Darsih
bagus Azam bujtiin air anak nya alfrand sebel bangt kihta yesi sm jesika
Shabrina Darsih
wkwkwkwkwk malu dah jesica bukan fia yg d lamar
Syti Sarah
aduh,ksian bnget ya yg udh trllu tinggi brmimpi 🤭🤭
Ayu Oktaviana
kasihan kamu jes.. sudah dandan cantik cetar membahana mlh yang dilamar aira ank kandung pak alfand😂😂
anakkeren
lope buat authornya 😘
anakkeren
sukurin lu jes😡
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasihan deh kamu jes. kamu kan bukan anaknya pak alfand
just a grandma
ceritanya Azzam lebih berat ya daripada adiknya tapi tetep suka 😍
cutegirl
dr cerita cila, trus azzua dan sekarng Azzam aku suka. semangat tes Thor🥰🥰
Syti Sarah
ayo dong Aira,lihat prjuangan Azzam untuk kamu
Syti Sarah
lnjut lgi thor.ayo dong Thor cpetan buat Aira bisa nrima Azzam spnuh nya 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!