Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Akhir Li Hua
Setelah terpisah selama beberapa waktu, Shu Hua benar-benar tidak ingin berpisah dari Li Hua. Dan saat ada waktu yang tepat untuk bicara serius berdua dengan Li Hua, Shu Hua pun menggunakan kesempatan itu dengan baik untuk membicarakan tentang tawaran yang diberikan oleh Kaisar Tian Huan kepada dirinya.
Saat itu, tengah malam... ketika semua orang sudah tidur. Li Hua dan Shu Hua duduk di kursi anyaman bambu yang ada di halaman gubuk tua Guru Bai Yun. Mereka menikmati pemandangan langit malam yang indah dengan bintang-bintang.
Menggunkan kesempatan yang ada, Shu Hua pun mulai untuk bicara.
"Kak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kakak," ungkap Shu Hua. Ia masih ragu-ragu ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Li Hua, karena Shu Hua pikir, tawaran yang Kaisar Tian Huan berikan itu bahkan tidak pantas untuk dipertimbangkan langsung!
Namun, entah kenapa hati Shu Hua terus mendorongnya untuk mengatakan pesan dari Kaisar Tian Huan kepada sang kakak—Li Hua.
"Sebenarnya aku ingin bicara tentang apa saja yang telah terjadi kepadaku saat aku menghilang sebelumnya," kata Shu Hua. Masih sedikit ragu-ragu.
"Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya, Su-a. Kakak sudah tahu apa yang terjadi. Kakak melihat kamu... bersama Hao Lin, Yu Xuan dan Kaisar Tian Huan," ucap Li Hua.
Li Hua telah mendahului Shu Hua. Dan saat itu Shu Hua kaget karena ternyata Li Hua tidak mematuhi aturan yang ada dan tetap menggunakan kemampuannya untuk mencari di mana keberadaan Shu Hua.
Di satu sisi, Shu Hua senang saat tahu tentang fakta itu. Tetapi, di sisi lain Shu Hua juga bertanya-tanya dan penasaran... tentang sejauh mana yang Li Hua tahu tentang pembicaraan dirinya dan Kaisar Tian Huan.
"Kakak benar-benar tahu semuanya?" tanya Shu Hua. Ia masih tidak biasa dengan kemampuan luar biasa yang Li Hua punya.
"Iya. Aku tahu semuanya. Dan aku juga tahu jika Kaisar Tian Huan menawarkan perjanjian pernikahan. Dan kamu pasti ingin bertanya tentang apa pendapat kakak 'kan?"
"Iya, " jawab Shu Hua.
"Sebenarnya, saat Kaisar Tian Huan mengatakan tentang pernikahan itu... aku langsung menolaknya di tempat. Karena biar bagaimana pun... tidak mungkin kakak bisa menikah di tempat ini. Kita bukan berasal dari dunia ini, dan bukankah memang sudah sewajarnya kita tidak ikut campur? Kecuali jika kita benar-benar ingin tetap tinggal di sini selamanya!" ucap Shu Hua.
Kali ini Li Hua diam. Dan kali ini gantian, Li Hua adalah orang yang ragu-ragu untuk bicara kepada Shu Hua tentang masa depan yang telah ia lihat sebelumnya. Dan pada penglihatan itu, Li Hua jelas-jelas melihat dirinya benar-benar menikah dengan Hao Lin.
Dan seperti yang diketahui... apapun itu yang berhasil Li Hua lihat... semua itu pasti akan menjadi sebuah kenyataan. Cepat, atau lambat... semua itu pasti!
"Kak!" panggil Shu Hua.
"Kakak kok tiba-tiba malah diam begitu sih? Kakak mau ngomong apa?" tanya Shu Hua. Shu Hua sadar jika pada saat itu ada kata-kata yang tersangkut di ujung lidah Li Hua.
"Aku tahu, pasti ada sesuatu yang mau kakak bilang 'kan? Kakak ragu, dan karena itu kakak diam." Shu Hua sudah sangat hafal dengan kebiasaan sang kakak.
"Jangan banyak berpikir. Katakan saja apa yang ingin kakak katakan," ujar Shu Hua.
"Baiklah." Akhirnya Li Hua menyerah untuk memendam kebenaran yang ia lihat.
"Saat mendengar ini, kamu mungkin tidak akan langsung percaya. Karena kakak pun juga bereaksi seperti itu saat pertama kali mendapatkan penglihatan itu," kata Li Hua.
"Penglihatan tentang apa?"
"Tentang pernikahan yang baru saja kamu bilang," jawab Li Hua.
Shu Hua seketika terdiam. Dan dalam diam itu, Shu Hua berusaha untuk mencerna. Dan dalam diamnya, tiba-tiba pemikiran mengerikan terlintas di benaknya. Dan sesungguhnya Shu Hua benar-benar berharap jika pemikiran itu tidak benar.
"Jangan bilang..." Shu Hua bahkan tidak ingin mengatakan pemikiran mengerikan itu secara langsung dihadapan Li Hua yang hanya memasang ekspresi wajah datar.
"Kakak akan benar-benar menikah dengan Hao Lin?!" teriak Shu Hua.
"Kecilkan suaramu!" seru Li Hua dengan suara yang lebih kecil, takut jika keributan akan membangunkan orang lain.
Namun, saat itu Shu Hua benar-benar tidak terkendali lagi. Ia tidak menyangka, tidak menerima dan bahkan tidak ingin percaya dengan apa yang Li Hua katakan tentang penglihatannya.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" tekan Shu Hua.
"Aku yakin jika kakak hanya salah lihat! Tidak mungkin kakak benar-benar menikah di tempat ini! Terlebih lagi... dengan Hao Lin? What the fuck!?" Shu bahkan kini tidak bisa mengendalikan diri dan bahasa apa yang ia ucapkan dalam kekacauan.
"Kak, mungkin saja penglihatan kakak itu salah. Bisa saja 'kan?" Shu Hua mencari pembenaran dari Li Hua.
"Apakah penglihatan yang aku dapatkan selama ini pernah salah?" tanya Li Hua.
"Tidak pernah," jawab Shu Hua lemas.
"Tapi... bisa saja 'kan kali ini sistemnya error gitu?" Shu Hua masih tidak ingin menerima.
"Kak, ini tidak benar! Takdir konyol macam apa ini?"
Shu Hua benar-benar tidak bisa menerima kebenaran yang bertentangan dengan keinginannya. Shu Hua benar-benar tidak ingin membiarkan Li Hua menikah dengan Hao Lin.
"Jadi, apakah kakak akan menerima lamaran itu? Kakak akan menikah dengan Hao Lin? Tinggal di Istana Kekaisaran dan hidup dengan aturan ketat istana, dan bertaruh nyawa hanya untuk tahta?" tanya Shu Hua.
Li Hua meraih tangan Shu Hua, menggenggam tangan sang adik dengan erat.
"Sekonyol apapun takdir kita... kita tetap tidak bisa lari dari takdir itu, Shu Hua. Suka atau tidak, kita harus tetap menerima takdir itu. Kita harus menjalaninya dengan hati yang lapang," ujar Li Hua.
"Intinya saja kak! Katakan, kakak akan benar-benar setuju untuk menikah dengan Hao Lin?!" Shu Hua bertanya, dan kemudian memaksa Li Hua untuk menjawab pertanyaan itu dengan cepat.
Li Hua diam. Diam itu berlangsung cukup lama saat Li Hua akhirnya buka mulut dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang adik—Shu Hua.
"Iya. Kakak akan menerima pernikahan itu. Kakak akan menikah dengan Hao Lin!" jawab Li Hua dengan tegas.
Shu Hua benar-benar shock dengan keputusan besar yang sang kakak ambil. Shu Hua bertanya-tanya dalam hatinya... bagaimana bisa Li Hua membuat keputusan seberani itu? Bisa-bisanya dia mengatakan akan menikah dengan Hao Lin?!
"Kak..." Shu Hua berusaha untuk merubah keputusan yang telah Li Hua buat. Namun, Li Hua melarang Shu Hua untuk bicara apapun. Karena apapun yang Shu Hua katakan, semua itu tidak akan membuat Li Hua merubah keputusan yang telah dibuatnya.
"Kamu tidak perlu bicara lagi. Kamu percaya saja kepada kakak. Apapun yang kakak lakukan, semua itu pasti ada alasan tersendirinya. Kamu tahu itu 'kan?"
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄