"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hadiah Sultan dan Jantung yang Hampir Copot
Di tengah suasana suap-suapan yang mendadak romantis itu, sebuah teriakan lantang dari luar koridor memecah keheningan.
"Ibu Suri Indira tiba di kediaman Pangeran Agung!"
Deg!
Jantung Lia rasanya mau melompat keluar dari tenggorokan. Nama itu... Ibu Suri Indira! Dalam novel, dia adalah kasta tertinggi dalam rantai makanan Kerajaan Ivalice.
Nenek Alistair yang sangat menyayangi cucunya, namun bisa berubah menjadi malaikat pencabut nyawa bagi siapa pun yang menyakiti Alistair. Mengingat Aurellia asli adalah musuh bebuyutan sang nenek, Lia merasa lehernya sudah mulai gatal-gatal seperti mau dipenggal.
Karena panik, Lia tidak sengaja menyenggol gelas yang hendak diberikan Alistair.
"Aduh!"
Alistair dengan sigap menangkap gelas itu, sementara Lia secara refleks ikut menahannya agar tidak tumpah. Posisi itu membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, tangan mereka bertumpuk di gelas yang sama, dengan napas yang saling bersentuhan.
Tepat saat itu, pintu terbuka lebar.
Ibu Suri Indira melangkah masuk dengan anggun, tongkatnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang penuh wibawa. Namun, langkahnya terhenti. Ia melihat pemandangan di atas ranjang, cucunya yang kaku sedang "mesra" dengan istri yang biasanya ingin Ia racuni.
Ibu Suri berdehem pelan, membuat Lia dan Alistair seperti tersengat listrik. Mereka langsung menjauh dan memperbaiki posisi duduk dengan canggung.
"Apa yang membuat Ibu Suri datang selarut ini?" tanya Alistair, suaranya kembali ke mode formal nan kaku.
"Alistair, aku ini nenekmu. Berhenti memanggilku seolah aku ini pejabat pajak," sindir sang nenek dengan nada jenaka.
"Lagipula, apa menemui cucu kesayanganku harus pakai reservasi dulu?"
Alistair tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya keluar untuk neneknya.
"Pengumuman prajurit tadi terdengar sangat resmi, Nek."
Ibu Suri tertawa renyah, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Lia. Ia membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar Alistair.
"Nenek sengaja menyuruh mereka berteriak kencang, supaya kalian punya waktu untuk memakai baju. Nenek takut kalian sedang... ah, kalian pasti paham."
Mata Lia hampir keluar dari penggalannya.
Hah?! Lagi apa? Lagi gitu-gituan?! Ya ampun, Nek! Memang muka Alistair ini mirip Ali-ku sayang yang hot-hot gimana gitu, tapi ya nggak sekarang juga kali! batin Lia menjerit, wajahnya mendadak merah padam seperti kepiting rebus.
"Nenek berpikir terlalu jauh," sahut Alistair sambil berdehem, mencoba menutupi telinganya yang juga mulai memerah.
"Nenek hanya berjaga-jaga. Siapa tahu ada cicit yang sedang dalam proses pembuatan," balas sang nenek santai, lalu beralih menatap Lia dengan tajam.
Lia langsung menahan napas. Ia sudah bersiap untuk dikuliti hidup-hidup. Ya Tuhan, kalau emang mau dipenggal, tolong bikin yang estetik biar tetep cakep di peti mati, doanya pasrah.
"Nenek datang ke sini untuk memberikan hadiah," ucap Ibu Suri tiba-tiba.
Lia berkedip bingung.
"Hadiah?"
"Iya, hadiah untuk cucu menantuku yang sekarang sudah mulai 'waras'."
Lia semakin bingung. Hadiah apaan? Paket kematian gratis ongkir?
Atas isyarat tangan sang nenek, beberapa pelayan masuk membawa kotak-kotak kayu berukir indah.
"Buka!" perintah Ibu Suri.
Begitu kotak itu dibuka, mata Lia langsung berubah menjadi simbol dollar, atau lebih tepatnya simbol koin emas. Di hadapannya, satu kotak penuh dengan emas batangan yang berkilau mematikan. Di kotak lain, ada tiga set perhiasan berlian yang cahayanya sanggup membuat lampu kamar terasa redup. Dan terakhir, tumpukan kain sutra tercantik yang belum pernah Lia lihat seumur hidupnya.
Lia melongo sampai mulutnya terbuka lebar. Dulu, di dunia nyata, beli cincin emas dua gram saja dia harus nabung sampai tipes plus dapet subsidi dari Mama. Sekarang? Di depannya ada harta karun yang cukup buat beli satu kecamatan di Ivalice!
Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Lia?! Ini mah bukan transmigrasi, ini namanya menang jackpot slot surga! batin Lia girang.
"Ini... semuanya untuk saya, Nek?" tanya Lia dengan suara bergetar, antara terharu dan rakus.
Ibu Suri mengusap kepala Lia dengan lembut.
"Tentu. Selama kau bersikap manis pada Alistair, semua harta di perbendaharaan Nenek bisa jadi milikmu. Bagaimana?"
Lia langsung memasang wajah "Istri Paling Sholehah" sedunia.
Nenek, tenang saja. Jangankan bersikap manis, disuruh kayang di depan Alistair tiap pagi pun Lia sanggup! Batinnya bersorak.