NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Perjalanan pulang dari kediaman orang tua Dewangga terasa seperti perjalanan menuju ruang eksekusi. Di dalam mobil, Dewangga terus mengoceh tentang rencana bisnis dan betapa ia merasa bangga dengan performanya di depan sang ayah tadi. Namun, Siham memilih untuk mematikan suaranya. Ia duduk bersandar pada pintu mobil, menatap lampu-lampu jalanan yang berlarian di kaca jendela. Pikirannya kosong, namun hatinya penuh dengan diksi-diksi yang mengantre untuk dimuntahkan.

​Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam rumah mereka yang luas dan sepi, Siham langsung melangkah menuju tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak menawarkan diri untuk membuatkan teh, tidak juga bertanya apakah Dewangga ingin mandi air hangat. Ia hanya ingin diam.

​"Siham," panggil Dewangga, suaranya terdengar tidak senang dengan perubahan atmosfer di antara mereka.

​Siham tidak berhenti. Ia terus melangkah hingga sampai di anak tangga ketiga.

​"Siham! Aku sedang bicara padamu!" suara Dewangga meninggi, kali ini disertai langkah kaki yang mendekat. Ia mencekal pergelangan tangan Siham, memaksa istrinya itu berbalik. "Kenapa kamu diam saja sejak tadi? Kamu marah?"

​Siham berbalik perlahan. Ia menatap mata suaminya mata yang selalu tajam, selalu menuntut, dan selalu penuh dengan doktrin tentang bagaimana seharusnya seorang istri bersikap. Siham menatapnya dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membedah karakter antagonis dalam sebuah naskah yang paling sulit ia sunting.

​"Kenapa? Tersinggung dengan ucapan aku tadi di rumah Papa dan Mama?" tanya Dewangga lagi dengan nada meremehkan. "Soal aku menyuruhmu ke psikiater? Atau soal aku bilang tulisan-tulisan yang kamu pegang itu sampah? Siham, dengar. Aku melakukan itu untuk kebaikanmu. Aku tidak mau kamu menjadi wanita dramatis yang kehilangan akal sehat."

​Siham tetap bergeming. Keheningan itu justru membuat Dewangga semakin gusar. Di kepala Siham, ia justru sedang mencatat ekspresi wajah Dewangga saat ini: alis yang bertaut, urat leher yang menegang, dan kesombongan yang membuncah. Ini adalah bahan tulisan yang sangat mahal.

​"Aku lelah, Mas," ucap Siham akhirnya, suaranya sangat datar, nyaris tanpa emosi. "Aku harus kurasi naskah yang masuk tadi sore. Pekerjaanku sebagai editor sampah sedang menungguku."

​Siham melepaskan tangannya dengan halus namun tegas, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Ia tidak menoleh lagi. Namun, di tengah tangga, ia sempat melirik ke bawah. Ia melihat Dewangga tidak mengejarnya. Alih-alih masuk ke kamar mereka untuk istirahat, pria itu justru melangkah menuju lorong yang gelap, menuju perpustakaan pribadinya.

​Hati Siham mencelos. Ia tahu apa yang akan dilakukan Dewangga di sana. Ia mungkin akan duduk di kursi kulit itu, mematikan lampu besar, dan membuka kembali kotak bludru merah marun itu. Ia akan kembali menjadi penyair untuk bayangan bernama Agata. Sementara Siham, istri sahnya yang baru saja melayaninya di depan orang tuanya, dibiarkan memanjat tangga kesepian sendirian.

​Sakit? Luar biasa. Tapi Siham tahu ia tidak punya hak untuk menuntut. Ia adalah hasil balas budi. Dia adalah anak mantan asisten rumah tangga. Status itu seolah menjadi rantai yang mengikat lidahnya untuk tidak pernah meneriakkan rasa cemburu.

​Siham masuk ke kamar, menutup pintu, dan menguncinya. Ia segera mengganti gaun sutra mahalnya dengan baju tidur katun yang longgar. Ia menghapus riasan tebal di wajahnya, membiarkan wajah aslinya yang pucat dan lelah terlihat di cermin. Ia mengambil tabletnya, duduk di pojok tempat tidur, dan mulai menghidupkan dunianya sendiri.

​Jemarinya menari dengan liar di atas layar. Rasa sakit dari perpustakaan, rasa mual dari makan malam yang penuh kepalsuan, dan dinginnya tatapan Dewangga, semuanya ia ubah menjadi kalimat yang menyayat.

​"Kamu adalah CEO yang mampu memimpin ribuan orang, tapi kamu adalah lelaki kecil yang bersembunyi di balik bayang-bayang masa lalu. Kamu memintaku ke psikiater karena kamu takut melihat pantulan kegilaanmu sendiri di mataku. Di meja makan tadi, kamu menyuapiku dengan kemewahan, namun di tangga ini, kamu membiarkanku mati kelaparan akan kasih sayang."

​Siham menarik napas dalam, air matanya jatuh tepat di atas kata kasih sayang. Ia lalu membuka akun Aksara Renjana. Ia mengunggah sebuah pengumuman pendek yang segera membuat jagat maya gempar:

​"Terima kasih untuk setiap doa dan simpati kalian. Saat ini, aku sedang dalam proses revisi naskah terbaruku. Buku ini bukan lagi sekadar sajak luka, tapi sebuah surat pamit untuk rumah yang tak pernah menganggapku ada. Naskah ini sedang dikurasi oleh editor terbaikku, Siham. Tunggu penderitaanku dalam bentuk jilid yang akan segera terbit."

​Postingan itu langsung meledak. Ribuan komentar masuk dalam hitungan detik.

"Semangat Aksara Renjana!","Tunjukkan pada suamimu bahwa kau berharga!"

"Kami menunggu naskahmu!"

​Siham tersenyum getir. Di dunia maya, ia dicintai dan didukung oleh ribuan orang yang tidak pernah melihat wajahnya. Di dunia nyata, di rumah ini, ia hanya dianggap sebagai editor yang "otaknya perlu diperiksa".

​Ia tahu, pengumuman ini akan sampai ke telinga rekan-rekan kantornya besok pagi, dan mungkin akan sampai ke telinga Dewangga juga melalui pemberitaan.

Biarlah. Siham tidak peduli lagi. Ia akan terus menulis, terus mengumpulkan luka demi luka, sampai naskah itu benar-benar selesai.

​Dan saat buku itu terbit nanti, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: itu akan menjadi hari di mana ia tidak akan pernah lagi menaiki tangga rumah ini sebagai istri Dewangga. Ia akan pergi, meninggalkan Dewangga bersama kotak bludrunya dan kenangan Agata yang sudah usang.

​Malam itu, di bawah temaram lampu tidur, Siham terus menulis hingga matanya perih. Ia tidak peduli apakah Dewangga masih berada di perpustakaan atau sudah tidur di sofa. Baginya, Dewangga sudah lama menjadi tokoh mati dalam naskah hidupnya.

1
falea sezi
bertele tele cerai sat set 😒
falea sezi
cerai trs pergi sembuhin diri 😒 ngapain meratapi nasib 😒
Lee Mba Young
laki blm move on di paksa nikah ya bgini hasil nya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
sukensri hardiati
ya Allah ....sihaaam....kuat yaa...
Lee Mba Young
Sdh tau laki gk Cinta, ngapain bertahan smp 5 th.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
lulu oey
AAHH TERLALU LAMA THOR PELAN TAPI PASTI
stela aza
kelamaan Thor ,,, q udh gemes bgt sama si dewangga pingin getok kepalanya biar otaknya balik ketempatnya ,,, 🤦
falea sezi
knp mesti dk kasih skit Thor jd males😕 harusnya abis ne pergi jauh males bgt liat lu nulis scene menderita buat siham 😒
falea sezi
sakit bgt jd siham😕
falea sezi
laki kayak gini harus di buang di laut😕
Lee Mba Young
bner juga sih, mnujual kesedihan sdng penulis alias siham sendiri gk berusaha bangkit. cm jual kesedihan tok tp gk nglawan. coba kl berani main terbuka 🤣. gk akn berani siham. ya cm bisa mnujual tulisan kesedihan itu smp mati. nnti sekarat berharap belas kasian.
Lee Mba Young
ibu meninggal bpk mninggal bukan ninggalin warisan mlh ninggalin penderitaan buat anak. yg mati enak gk ngrasain apapun. yg hidup hrs bertahan dng penderitaan. dosa ortu banget itu.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
Haryati Atie
ka cerita nya bagus banget😍 .
Bunga
buat sigam bahagia dong Thor...jangan bikin tragis banget hidupnya
stela aza
lanjut thor up-nya double donk ❤️❤️❤️
blcak areng: udah up ya kak tiap hari 2 bab kakak 🙏
total 1 replies
stela aza
next thor ❤️❤️❤️
Nurlaila Ikbal
ya Allah sedih sekali thor baca bab ini..semangat thor upnya 🙏🙏🙏🙏
Bunga
sigam perjalanan hidup mu begitu menyakitkan...adakah kebahagian menemui mu....
Bunga
kasian sekali hidupmu shiham.
kenapa di buat semenderita itu thor
stela aza
kelamaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!