NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang

Motor bebek tua Kris kembali menderu membelah jalanan Bruno yang menurun. Angin pegunungan yang tadinya terasa sejuk, kini terasa menusuk pori-pori Alan. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar.

​Kris, yang sejak tadi mengintip dari kaca spion yang bergoyang-goyang, akhirnya tidak tahan untuk membuka suara. Dia sedikit menoleh ke belakang sambil berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh raungan angin dan knalpot bodongnya.

​"Mas Alan... Sampeyan ndak apa-apa toh? Kok mukanya kusut amat kayak cucian belum disetrika?" tanya Kris polos.

​Alan menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan bayangan tatapan benci Xarena dari kepalanya. "Nggak apa-apa, Kris. Cuma... ya gitu deh. Masalah rumah tangga berat banget ternyata."

​"Wah, kelihatan tadi, Mas. Mbaknya galak tenan. Saya yang nunggu di pager aja ikut gemeteran pas dia teriak angka dua. Takut dikeroyok warga juga saya," seloroh Kris sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.

​Alan tersenyum kecut. "Sorry ya, Kris. Malah jadi bikin lu ikutan tegang."

​"Halah, santai aja, Mas. Tapi beneran, Mas Alan punya utang sama preman? Kok tadi saya denger samar-samar ada sebut-sebut bos kota segala?"

​"Nggak ada, Kris! Sumpah demi apa pun, aku nggak punya utang. Ini pasti aku sedang dijebak sama orang dari Jakarta. Sengaja kirim preman ke rumah saudaranya Xarena biar aku kelihatan kayak bajingan di depan dia," jelas Alan frustrasi.

​Kris manggut-manggut di atas motornya, membuat motor bebek itu agak oleng sedikit. "Oalah... Kirain beneran. Tapi jahat banget ya orang kota kalau bales dendam. Sampai repot-repot kirim orang ke pelosok Bruno begini."

​"Makanya itu. Aku harus cari tahu siapa preman yang ke sini tadi. Kamu tahu nggak tempat nongkrongnya preman-preman atau orang-orang luar yang mencurigakan di sekitar Purworejo?" tanya Alan, secercah harapan muncul.

​Kris tampak berpikir sejenak, memperlambat laju motornya saat memasuki wilayah jalan yang agak rata. "Kalau di Bruno sini mah aman, Mas. Isinya petani semua. Tapi kalau preman-preman kota yang modelan tatoan begitu, biasanya kalau nggak di terminal, ya nongkrongnya di sekitaran warung remang-remang dekat stasiun lama, atau daerah pinggiran kota. Emang Mas Alan mau nyamperin? Berani?"

​"Harus berani, Kris. Kalau aku diem aja, selamanya Xarena bakal benci sama aku."

​Kris diam sejenak, lalu menepuk tangki motornya. "Yaudah, karena Mas Alan udah bayar saya dapet bonus banyak hari ini, saya anterin muter-muter kota Purworejo deh. Kita cari pelan-pelan. Tapi kita mampir beli bensin dulu ya, Mas. Ini jarumnya udah tidur pules di huruf E."

​"Iya, iya, aman. Nanti aku isiin full tanki," jawab Alan mulai sedikit tenang.

​Sementara itu, di warung remang-remang pinggiran Purworejo, Tigor dan dua anak buahnya sedang merayakan keberhasilan mereka. Di atas meja kayu yang agak reyot, sudah tersedia tiga botol minuman keras lokal, beberapa bungkus rokok, dan sepiring besar gorengan yang masih hangat.

​"Gila, Bos Riko kalau transfer kagak tanggung-tanggung ya, Gor. Langsung masuk lima juta!" ujar salah satu anak buah Tigor yang berambut cepak, namanya Sastro. Dia sedang sibuk menghitung lembaran uang di bawah meja.

​"Iyalah! Orang kaya Jakarta mah bebas. Bagi mereka duit segitu cuma kayak duit parkir. Yang penting buat kita, tugas beres, mulut rapat," sahut Tigor sambil meneguk minumannya.

​"Tapi, Gor... Lu yakin kita aman di sini? Tadi si Bos bilang kita disuruh tiarap dulu kan? Jangan-jangan si Alan itu nyariin kita," tanya preman satunya lagi, seorang pria kurus bernama gendon.

​Tigor tertawa terbahak-bahak sampai tersedak asap rokoknya sendiri. "Uhuk! Ah, lu mah penakut amat, Ndon! Si Alan itu cuma orang kota yang lagi luntang-lantung. Mana tahu dia daerah Purworejo. Lagian, tadi lu lihat sendiri kan tampangnya pas dibilang istrinya ngamuk? Pasti sekarang dia lagi nangis-nangis di pojokan kamar kontrakan."

​"Iya juga sih. Lagian mukanya emang muka-muka cowok penurut gitu. Kagak bakalan berani main fisik," timpal Sastro sambil mencomot bakwan.

​"Nah, mangkanya itu. Kita habisin ini minuman, terus entar malam kita geser ke arah Jogja. Biar makin aman dari pelacakan," kata Tigor dengan nada sok pintar. "Lagian, siapa juga yang bakal nemuin kita di warung pojokan begini?"

​Di sisi lain kota, motor bebek tua Kris akhirnya memasuki area pinggiran Purworejo setelah sempat mengisi bensin di pom mini. Alan memperhatikan setiap warung dan pangkalan ojek yang mereka lewati dengan mata elang.

​"Kris, lu yakin daerah sini?" tanya Alan, menaikkan volume suaranya.

​"Yakin, Mas. Ini jalur lingkar luar. Biasanya orang-orang yang 'aneh-aneh' kalau siang bolong nongkrongnya di warung-warung bambu dekat pohon beringin depan itu tuh," tunjuk Kris dengan dagunya.

​Saat motor mereka melambat melewati sebuah warung dengan spanduk lusuh, mata Alan menangkap sesuatu. Ada dua motor matic yang terparkir di depan warung tersebut. Salah satu motornya memiliki stiker logo tengkorak di pelat nomornya—sama persis dengan ciri-ciri motor preman yang diceritakan Kang Parman kepada warga Bruno tadi.

​"Kris, Kris! Berhenti di depan sana! Pelan-pelan, jangan sampai kelihatan mencurigakan," bisik Alan mendadak tegang.

​Kris langsung membelokkan motornya ke arah pohon pelindung jalan, sekitar dua puluh meter dari warung tersebut. "Kenapa, Mas? Ketemu?"

​"Itu motornya. Ciri-cirinya mirip banget sama yang dibilang warga di Bruno tadi," kata Alan sambil turun dari motor.

​Kris ikut turun, wajahnya yang tadi santai mendadak berubah pucat. "Waduh, beneran, Mas? Itu yang di dalem badannya gede-gede lho. Mas Alan yakin mau masuk sendirian? Apa kita panggil polisi aja?"

​Alan mengepalkan tangannya. Amarah yang tadi sempat teredam oleh rasa sedih, kini kembali membakar dadanya. "Kalau panggil polisi, prosesnya lama, Kris. Mereka bisa kabur duluan. Gua cuma butuh pengakuan mereka lewat rekaman handphone."

​Alan merogoh kantongnya, mengaktifkan fitur perekam suara di ponselnya, lalu menyelipkannya di kantong kemeja atas dengan posisi mikrofon menghadap keluar.

​"Kris, lu tunggu di sini. Kalau dalam lima menit aku nggak keluar, atau lu denger suara ribut-ribut, lu langsung teriak 'kebakaran' atau cari bantuan, ya?" instruksi Alan.

​Kris menelan ludah dengan susah payah. "Si-siap, Mas. Duh, jantungan saya lama-lama ikutan sampeyan. Semoga selamat ya, Mas."

​Alan menarik napas dalam-dalam, merapikan kaus polonya yang sudah agak kering, lalu melangkah dengan pasti menuju warung remang-remang tersebut. Langkah kakinya terdengar mantap, siap menghadapi apa pun demi membersihkan namanya di hadapan Xarena.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!