Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Keesokan harinya, suasana kampus kembali seperti biasa. Mahasiswa lalu lalang seperti pada hari sebelumnya. Suara obrolan bercampur dengan langkah kaki yang tergesa, beberapa terlihat santai, beberapa terlihat stres. Dan di antara semua itu, ada satu orang yang berjalan dengan wajah datar.
Ia memilih berjalan ke arah taman dan duduk di bangku taman dekat gedung fakultas. Tasnya diletakkan di samping. Tangannya sibuk memainkan tutup botol minum, tapi pikirannya jelas tidak di situ. Satu hari sudah berlalu.
Tapi rasa malu itu… masih nempel meski terselip rasa sukur di dalamnya.
“Sialan. Gue masih malu banget sama kejadian kemaren, gimana kalau sampai Summer ilfeel sama gue dan dia malah ngejauh?” gumam Willy alias Willa KW, memasukkan sepotong roti sandwich yang sempat ia buka kedalam mulutnya.
Rasa malu yang ia dapatkan kemarin, membuatnya sedikit menghindari Summer dan memilih berangkat sendirian. Ditambah, hari ini Summer memang berangkat sedikit lebih siang.
“Wil.” Tiba-tiba sebuah suara familiar memanggilnya. Willy tidak perlu menoleh untuk tahu siapa, yang jelas dia bukan makhluk astra.
“Kutil sialan ini datang. Bentar lagi pasti gue abis diketawain, kalau sampe dia tau apa yang terjadi kemarin,” batin Willy. Ketenangan yang ia cari saat ini, seketika buyar setelah kehadiran Gio.
“Will, sombong amat lo, pake gak mau jawab panggilan gue. Gitu ya lo, mentang-mentang ada cs baru, gue di tinggal,” keluh Gio dengan nada yang merengek manja, bahkan nyaris membuat Willy muntah.
“Oke fiks, lo udah gak anggap gue sahabat lo lagi. Ternyata, hubungan kita gak sespesial itu ya. Jadi sedih, ternyata….”
Belum selesai Gio bicara, tangan kanan Willy sudah lebih dulu menggeplak kepalanya.
“Eh anjir, kepala gue. Kagak sopan lu, gini-gini gue di fitrahin anjir.”
Will memutar bola matanya malas, ”makanya, kalau lo gak mau gue geplak, lo diem mending diem. Merinding gue dengerin lo ngoceh. Gue masih lurus.”
“Yee si anjir. Gue juga masih lurus, masih doyan cewek gue.”
“Gak peduli gue,” sahut Willy.
“Lagian jangan salahin gue juga. Kan lo juga gak mau jawab gue pas gue panggil tadi.”
Willy berdecak singkag. “Tck. Lo dramatis banget tau gak. Lagian, kalo Lo ngerasa gue diem aja, makanya lo maju yang bener dan liat, gue lagi ngapain disini?”
Gio menoleh dan ia tahu kalau Willy tengah memakan roti yang mungkin ia beli di minimarket, yang letaknya tidak jauh dari gedung kampus.
“Ya liat sih.”
“terus?”
“Ya pengen aja gue ngajakin lo ribut. Suntuk gue kalau lo cuma diem.”
“Curut satu ini emang sialan.” Willy menggelengkan kepalanya pelan, disertai decakan sebal.
Gio cuma terkekeh, lalu tangannya mencomot salah satu roti milik Willy dan langsung memakannya tanpa izin terlebih dahulu.
“Eh Will,” ucap Gio pada Willy, di sela suapannya.
“Apaan.”
Gio menyipit, seolah sudah siap menyerang Willy.
“Lo kemarin gak ngampus, kenapa lo?”
Willy diam sebentar. Ia menoleh pelan ke arah Gio.
“Ini lo nanya atau lo udah tau sesuatu, tapi cuman mau konfirmasi?”
“Ish, apaan. Gue cuma nanya ya, Malih.”
“Tapi gue gak yakin kalau lo cuma nanya. Soalnya gue tau banget gimana lo.”
Gio terkekeh pelan. “Terus gimana? Beneran apa gak tuh?”
“Apaan?”
“Berita yang gue denger,” kekeh Geo, memainkan alisnya di depan Willy. “Lo gak jadi ngampus gara-gara kemarin ada insiden?”
Gio menatap Willy dengan tatapan jahilnya, membuat Willa meringis kecil menahan kembali rasa malu yang sudah sejak kemarin ia rasakan.
“Jangan lihatin gue kayak gitu ya, onta kurus.”
Gio memejamkan mata menahan tawa yang nyaris meledak. Bayangan kejadian kemarin ketika ia hendak menyusul ke kost Willy, masih terlihat jelas dalam ingatannya.
Kejadian dimana Willy harus menanggung malu di depan Summer, semua di saksikan Gio saat hendak menjemput Willy.
“ Gue gak liatin lo, tapi… ekspresi lo kemarin?? “
Gio lagi-lagi menjeda ucapannya, membuat Willy kesal sendiri.
“Ape? Lo lihat ekspresi gue gimana? Jangan bilang kalau lo…”
Gio melipat bibir kedalam, menahan gelak tawa yang nyaris kembali meledak. Namun mendengar ancaman Willy, justru tawanya seketika pecah.
“Hahaahaha…!”
Suara tawa Gio benar-benar pecah, sama sekali tidak bisa ia tahan lagi. Bahkan beberapa kali Gio memegangi perutnya yang terasa pegal karena terus tertawa.
Willy menggeram tertahan disertai helaan napas dalam dan kasar, lalu memejamkan matanya kuat sebelum menatap tajam ke arah Gio.
“Gio, stop ketawa atau gue…”
“Bebek kuning, kaos kaki nano-nano,” sahut Gio menyela Willy, tanpa menghentikan tawanya yang keras.
“Gio…”
“Hahahaha… Lo, Lo dapet ide dari mana sih? Ke kampus, gaya cewek, wig sama baju kebalik, belum kaos kaki warna-warni… anjir, Lo mahasiswa atau…”
“Giooo!! Lo ketawa sekali lagi, gue bunuh Lo ya.”
Tapi bukannya menuruti ucapan Willy, Gio masih terus tertawa hingga matanya berair.
“HAHA...oke, oke… gue stop,” ucap Gio sambil mengangkat tangan, meski napasnya masih terputus-putus karena sisa tawa.
Willy menatapnya datar. “Lo udah bilang stop tiga kali.”
“Iya, tapi ini terakhir. Sumpah.”
Beberapa detik benar-benar hening dan hanya terdengar suara napas gio yang terengah, sisa tawa sebelumnya yang baru bisa berhenti.
“Bebeknya senyum lagi gak sih kemarin? Apa dia udah lo jemur, biar gak kuning lagi?”
“GIO!”
Tangan Willy langsung melayang lagi. Kali ini lebih keras.
“AUH! IYA IYA, STOP! BENERAN STOP, gue berenti!” Gio langsung mundur sambil ketawa, tapi akhirnya ia benar-benar menahan diri.
Ia menarik napas panjang. Mengusap wajahnya yang masih belum bisa normal.
“Anjir… gue capek ketawa,” gumamnya.
Willy mendengus kesal. Ia kembali duduk, menyandarkan punggung ke bangku.
“Gue serius ya,” ucapnya datar. “Kalau lo nyebarin ini ke orang lain, gue kubur lo hidup-hidup, gak bakalan gue bayarin lagi tugas-tugas lo. Gue gak bakalan bantu lo apapun,” ancam Willy.
Gio mengangguk cepat, meski sesekali terlihat tersenyum karena menahan gelinya sendiri.
“Aman, bro aman. Ini cuma konsumsi pribadi gue. Kalau gue gak lupa,” kekeh Gio.
“Silahkan kalau lo berani bocorin apapun soal gue?”
Gio terkekeh kecil,“Tenang. Gue simpen rapat, apapun yang gue liat. Kecuali, kalau lo pengen denger lagi kilas baliknya,”
“Gio?”
“Haha, iya iya. Buset dah, lo cuma cosplay jadi cewek, ngapain lo ikutan sensi kayak cewek juga sih?”
“Isssh, itu mulut bisa lo rem gak sih? Kalau ada yang denger soal itu gimana? Gue khawatir Summer lewat dan denger ucapan lo.”
“Eh iya ,sorry-sorry.”
“Hmmm.”
“Eh tapi Will, lo kemarin malu depan Summer. Apa lo gak kepikiran, kalau dia bakalan curiga sama lo?”
“Maksud lo apa?” tanya Willy dengan pandangan tertuju ke arah Gio dan menatapnya dengan curiga. “Kenapa tiba-tiba bilang kayak gitu?”
“Assshh, lo yakin tanya ini ke gue? Anjir… Lo gak kepikiran apa gimana?”
“Maksud lo apa??”
“Yakin si Summer itu nggak bakal curiga, kalau lo itu aslinya ladyboy KW?”