NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - RIBUT

“Wah makanannya udah datang!” binar mata Zara menjadi begitu cerah melihat makanan yang di pesannya datang dengan sangat cepat.

“Gila, lo pesan apa aja Zar?” Agas sangat heran dengan Zara yang memesan begitu banyak makanan tanpa kira-kira. Di meja tersedia Pizza, salad, kentang goreng, sushi, wonton, ayam goreng, minuman bersoda dan jus buah. Agas memandang ngeri makanan yang dipesan ketiga wanita itu. Junkfood. Makanan yang cukup dihindari oleh para wanita. Apalagi profesi Zara yang mengharuskannya menjaga bentuk tubuh, Zara terlihat lebih santai soal itu.

“Kan nanti ada Bang Dipta, jadi pasti habis kok!”

“Ini sih buat 6 orang lebih loh. Buat 7-8 orang juga cukup!”

“Diem deh. Emosi buat kita lapar. Jadi mending mulutnya diem dan ikut makan aja.” ujar Maya yang tak tahan mendengar ocehan Agas

Agas yang dikeroyok oleh calon kakak iparnya dan temannya meringsek ke arah kekasihnya. Citra mengelus kepala Agas dengan lembut, berusaha menenangkan Agas.

Tok

Tok

“Permisi pak, saya izin masuk!”

“Silahkan, Hani!”

“Begini pak, diluar ada Pak Dipta meminta izin untuk masuk. Apakah diperbolehkan? “

“Suruh masuk Hani. Kami sedang menunggunya.”

“Baik pak!”

Tak lama Dipta datang dan mencari-cari istrinya. Melihat istrinya duduk tenang sembari memakan pizza, membuatnya merasa lega. Untung saja mereka bertiga tak tantrum berlebihan. Apalagi dirinya baru tau soal berita menyangkut Arsyad yang tersebar pagi tadi.

“Halo, bang!” sapa Arsyad

“Halo, gimana Dit masalah lo? Udah selesai? “ tanya Dipta

“Udah bang. Untuk cuma bentar marahnya. Beritanya juga udah ditarik dan Citra udah nyiapin berita klarifikasinya.” jelas Arsyad.

“Baguslah!”

Hening melanda. Dipta memperhatikan istrinya dan kedua temannya yang tampak sangat santai. Menahan tawanya, Dipta dapat membayangkan kejadian yang akan berlangsung nantinya.

“Oh iya bang, bukankah tadi abang bilang ada kejutan. Kejutan apa?” tanya Agas yang sebenarnya ikut penasaran. Dari penjelasan Maya, kejutan itu ditujukan untuk mereka. Lebih tepatnya Maya, Citra dan Zara.

“Ada kejutan buat kalian bertiga. Hanya saja, kalian udah siap mental kan?” tanya Dipta sembari tersenyum misterius.

Maya, Citra dan Zara saling lempar pandang. Sebenarnya mereka deg-degan. Mereka tak dapat menerka kejutan yang akan diberikan Dipta kepada mereka. Apalagi untuk mereka bertiga sekaligus. Sebuah keanehan yang sangat aneh bagi mereka.

Dengan mantap, mereka mengangguk. Apapun kejutan mereka berusaha siap.

“Sebelumnya kalian tak merasa melupakan sesuatu?” tanya Dipta mencoba memancing ketiganya.

“Lupa?” ujar ketiganya secara bersamaan. Mereka terdiam sejenak, memikirkan janji hari ini. Namun, tak menemukan sesuatu dalam ingatan mereka. Secara serentak mereka menggelengkan kepalanya.

“Kalian, yakin?” pancing Dipta lagi.

Merasa kesal, Zara merasa terpancing emosinya.

“Lupa apaan sih bang?!” sentak Zara

Arsyad yang merasa heran dengan kekasihnya yang seharian ini mudah sekali tersulut emosi. Tampak tak biasa dimata Arsyad. Zara sangat dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sabar, namun hari ini tampak pemarah. Dirinya hanya berubah saat dalam kondisi....

“Sayang, kau sedang datang bulan kah?” tanya Arsyad

“Eh, kok tahu?”

Helaan nafas kembali keluar. Arsyad akhirnya tahu penyebab Zara yang mudah sekali dikendalikan emosi hari ini. Citra dan Maya tertawa kecil melihat respon Arsyad saat mengetahui Zara yang sedang kedatangan tamu.

Pandangan Maya kembali ke arah suaminya.

“Sebenarnya ada apa bang? Memangnya kami melupakan apa?”

“Wǒ!”

(Aku!)

Nala masuk ke dalam ruangan sambil berkacak pinggang. Menatap ketiga sahabatnya itu dengan pandangan menuntut penjelasan. Nala lelah menunggu sendirian di bandara, malah ketiga enak-enakan duduk santai dan melupakan dirinya. Sungguh ironis sekali.

Maya, Citra dan Zara terkejut melihat kedatangan Nala. Seketika mereka mengingat janji mereka yang akan menjemput Nala. Secara spontan, mereka nyengir serempak ke arah Nala. Mereka tak sengaja lupa akan janji mereka.

“ Watashi ga anata-tachi san'nin ni nankai denwa shita ka mite mite?!”

(Lihat berapa kali aku menelpon kalian bertiga?!)

Citra yang mengerti maksud Nala segera mengecek ponselnya. Melihat respon Citra, Maya dan Zara pun mengikuti.

Citra baru saja menyadari bahwa ponsel yang dibawanya adalah ponsel yang ia khususkan untuk bekerja.

“Sorry Nala, ponsel kerja yang gue bawa,”

Berbeda dengan Citra, Zara melihat ponselnya yang sedang dalam mode silent karena permasalahan berita itu. Ia lupa untuk menonaktifkannya sehingga kabar Nala tak bisa ia respon dengan cepat.

“Mode silent, Nala,”

“Kalau gue, gue nggak lihat notifikasi pesan lo, Nala. Sorry ya adik iparku,” Maya merasa bersalah. Kemudian memandang sang suami. Dirinya tak hanya merasa bersalah ke Nala, tapi juga suaminya. Nala adalah adik kesayangan Dipta dan Dipta selalu protektif terhadap Nala. Dan baru saja dia teledor tak menjemput adiknya yang baru saja pulang setelah sekian lama.

“Maaf bang, adik lupa jemput Nala!” rasa bersalah Maya lebih besar dibandingkan Citra dan Zara. Maya lah yang seharusnya ingat, karena itu kewajibannya. Apalagi Maya sekarang bukan hanya sahabat tapi juga kakak ipar dari Nala.

“Tak masalah, dek. Adek kan lupa. Tapi maafnya Nala, abang nggak bisa bantu. Adek tau sendirikan bagaimana sifat adek kandung abang ini,” ujar Dipta

Maya sangat tau. Begitu juga dengan Citra dan Zara. Nala adalah seorang yang keras kepala dan susah dibujuk.

“Gomen, gomen!” ujar Citra dengan rasa bersalah. Zara dan Maya memelas ke arah Nala. Mereka bertiga merasa sangat bersalah membiarkan Nala menunggu mereka tanpa kabar apapun

Nala memilih duduk di dekat sang kakak. Memilih acuh tak acuh, Nala memalingkan wajahnya ke arah pintu.

Melihat itu, mereka bertiga secara serempak duduk di dekat Nala. Bahkan mereka menggeser Dipta yang duduk di samping Nala. Mengalah, Dipta dan Agas memilih berpindah tempat dan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya.

“Ayolah beb, maafin kita ya. Kita lupa banget tadi!”

“Betul, ini itu salah Adit yang nggak kunjung kasih klarifikasi soal berita yang tersebar. Kan jadinya gue emosi, yak!”

“Ayolah adik ipar, maafin kakak iparmu yang cantik ini ya!” Maya membujuk dengan memijat pundak Nala. Zara mengipas-kipas Nala yang berkeringat dan Citra menawarkan minuman yang tersedia. Bahkan mereka bertiga melupakan pasangan mereka sendiri dan memilih membujuk Nala.

Arsyad dan Agas terkejut melihat respon kekasih mereka. Mereka tak menyangka saat melihat kekasih mereka dengan berbaik hati melayani Nala yang sedang merajuk. Sangat berbeda jika mereka yang merajuk. Jika mereka yang merajuk, kekasih mereka malah ikut merajuk. Sangat jarang mau membujuk. Namun ini, sangat berbeda dan membuat mereka takjub.

“Bro, ini?”

“Jangan kaget. Tahta tertinggi bagi mereka itu Nala. Bahkan jika aku bertengkar dengan Nala, Maya akan lebih memilih membela Nala daripada aku, suaminya.” jelas Dipta yang sudah mengenal cukup baik bagaimana persahabatan mereka. Malahan, Dipta sangat berterima kasih kepada mereka bertiga karena mampu membuat adiknya bahagia dan ceria. Masa lalu yang dialami adiknya, membuat Dipta sedih. Namun, sekarang tidak lagi karena kebahagiaan silih berganti terus saja datang kepada adiknya.

“Dan lo nggak keberatan?” tanya Agas

“Nggak. Malahan aku ikut senang melihat Nala memiliki teman yang baik dan mau membelanya apapun yang terjadi.” Agas dan Arsyad memperhatikan Dipta dengan seksama. Pernyataan yang terlontar itu adalah sebuah kalimat yang tulus, dan mereka dapat melihat itu.

“Nih, ada wonton. Kesukaan lo banget nih. Jadi buat lo, tapi lo harus maafin kita, ya?” tawar Zara saat melihat ada makanan favorit Nala. Nala sangat menyukai makanan berupa pangsit atau sejenis.

“Ada jus melon juga tuh, buat lo deh!” tawar Citra sambil menyodorkan segelas jus melon

“Ada kentang goreng juga!” ujar Maya sambil mencoba menyuapkannya ke mulut Nala.

Melihat respon ketiganya, akhirnya Nala merasa luluh. Makanan, mana mungkin Nala akan menolaknya.

“Baiklah, kali ini dimaafkan. Dan kalian harus mentraktirku boba selama seminggu. Oke?”

“Oke!”

Dan akhirnya mereka berpelukan dengan senang. Tanpa memedulikan orang di sekitar mereka.

“Dan Nala akan selalu luluh dengan makanan,” gumam Dipta yang melihat sifat adiknya yang tak pernah berubah

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!