NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gencatan Senjata

Beberapa hari ini, Hamka merasa hidupnya… aneh.

Pagi-pagi tak lagi diisi adu mulut receh dengan si tetangga.

Tak ada suara sandal diseret keras, tak ada balasan ketus yang biasanya menyulut perang kecil di teras.

Lingkungannya terasa sunyi.

Bukan sunyi biasa.

Tapi sunyi yang mengganggu.

Hamka berdiri di depan rumah, menatap pagar sebelah yang tertutup rapat. Biasanya, dari balik sana sudah terdengar suara Naura,entah mengomel, entah membalas ejekannya.

Sekarang tidak.

Babe Ramli yang sedang menyiram tanaman ikut melirik ke arah pagar itu.

“Tumben sepi, Ka,” gumamnya.

“Biasanya jam segini udah ribut.”

Bu Tika muncul dari dapur sambil membawa lap. Ia berhenti, ikut menengok ke teras.

“Iya ya,” katanya heran.

“Biasanya Naura teriak, Hamka balas. Sekarang kok adem.”

Hamka hanya mengangguk kecil. Wajahnya muram,langkahnya gontai seperti ponsel yang kehabisan baterai .

Tangannya masuk ke saku, dadanya terasa kosong.

Sunyi itu bukan karena hujan.

Bukan karena semua orang pergi.

Tapi karena satu suara sengaja dihilangkan.

Kesunyian ini melebihi sunyi dari jam dua belas malam mana pun yang pernah ia lewati.

Hamka duduk di anak tangga, menatap lantai.

Ia merindukan perang.

Karena di balik teriakan dan keusilan yang tak jelas siapa memulai, selalu ada satu hal yang tak pernah ia sadari.

Itu caranya merasa tidak sendirian.

Ponselnya bergetar pelan di tangannya,bukan pesan dari Naura.

Ia menghela napas panjang.

“Ngapain sih lo, Ka,” gumamnya lirih.

Gengsi masih berdiri kokoh.

Menahannya untuk melangkah satu langkah ke pagar sebelah.

Padahal, di dalam dirinya, penyesalan itu sudah berteriak lebih keras dari semua perang yang pernah mereka lakukan.

Dan malam itu, Hamka akhirnya mengerti,

sunyi bukan cuma ketiadaan suara.

Saat Hamka tenggelam bersama semua yang ada dipikirannya ,tiba-tiba terdengar suara gerbang besi itu berderit pelan .

Hamka yang sedang duduk di teras rumahnya refleks menoleh.Dilihatnya Naura sedang mengunci gerbang .

Dan di detik yang sama, Naura mengangkat wajah.

Pandangan mereka bertemu. Beberapa detik mereka saling mengunci .

Tidak ada senyum.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada kata pembuka yang biasanya selalu muncul begitu saja.

Hanya tatapan.

Beberapa detik yang terasa terlalu lama untuk disebut kebetulan, tapi terlalu singkat untuk menyelesaikan apa pun.

Hamka berdiri setengah. Dadanya menegang.

Ada begitu banyak kata yang ingin keluar,mungkin sebuah permintaan maaf, penjelasan, atau sekadar memanggil namanya.

Entahlah ,yang jelas lidahnya terasa kaku

“Na—”

Suara itu nyaris lolos.

Tapi Naura sudah lebih dulu memalingkan wajah. Tangannya yang memegang kunci mengeras, lalu ia menarik gerbang itu rapat.

Klik.

Suara kunci terkunci terdengar jelas di telinga Hamka.

Naura melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Tanpa satu kata pun.

Hamka berdiri kaku di teras. Tangannya mengepal, lalu terkulai.

Tatapan tadi masih tertinggal di kepalanya,

bukan tatapan marah, bukan pula benci.

Malam kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, Hamka merasa jarak itu bukan lagi sekadar pagar besi di antara rumah mereka.

Melainkan sesuatu yang mulai tumbuh di hati

pelan, tapi berbahaya.

Sesuatu yang bisa membuatnya kehilangan Naura.

jika ia terus memilih diam.

***

Entah sejak kapan perasaan itu muncul.

Bukankah beberapa hari lalu ia dan Naura masih saling usil?

Masih bertukar kata pedas yang berujung tawa kesal.

Masih saling mencari celah untuk menang, meski tak pernah jelas siapa yang memulai.

Namun sekarang, segalanya terasa dingin.

Seperti gencatan senjata yang tak pernah disepakati...sunyi, kaku, dan penuh jarak.

Hamka mondar-mandir di kamarnya. Jendela terbuka, tapi udara malam tak mampu menenangkan dadanya.

Tidak bisa.

Ia tak tenang.

Ia sudah terlalu terbiasa dengan berisiknya si tetangga itu. Dengan suara Naura yang memecah pagi, dengan ocehannya yang menyebalkan tapi entah kenapa selalu ia tunggu.

Tapi tatapan Naura tadi …

Begitu asing. Begitu jauh.

Apa dia benci gue? Masa iya hanya gara-gara minumannya gue minum ? atau mungkin... gara-gara sikacamata ?

Pertanyaan itu mengendap, menekan.

Hamka menjatuhkan diri di ranjang, satu lengannya menutup mata.

Ia mencari jawabannya sendiri dan justru menemukan kekosongan.

Apa yang harus ia lakukan?

Egonya berteriak untuk diam.

Harga dirinya menyuruhnya menunggu.

Tapi hatinya… tidak setuju.

Dan untuk pertama kalinya, Hamka mengakui sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.

Ia merasa kehilangan.

Harusnya hidupnya sekarang lebih tenang.

Tak ada ribut. Tak ada perang kata. Tak ada yang memancing emosinya setiap hari.

Tapi justru itulah masalahnya.

Tenang ini hampa.

Sunyi ini menyakitkan.

Hamka menatap langit-langit kamar, napasnya berat.

Sejak kapan ketenangan jadi hal yang tak ia inginkan?

Sejak kapan diam berarti kehilangan?

Dan sejak kapan...

kehilangan itu bernama Naura.

***

Hamka akhirnya menyerah pada gengsinya sendiri.

Sore itu, ia berdiri di depan pagar rumah Naura. Tangannya sempat terangkat, ragu, lalu turun lagi. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk pelan.

Naura yang membuka pintu. Wajahnya datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

“Kenapa?” tanyanya singkat.

Hamka menggaruk tengkuk, senyum khasnya muncul,cengiran yang biasanya bikin Naura ingin memukul, tapi diam-diam ia rindukan.

“Gue…” Hamka menarik napas.

“Gue lebih suka kita musuhan yang berisik daripada musuhan mode silent.”

Naura tidak langsung menjawab. Matanya menatap Hamka, mencari kesungguhan di balik candaan itu.

Hamka menelan ludah, lalu melanjutkan, suaranya sedikit lebih pelan.

“Hampa hati gue, Naw…”

Cengirannya masih ada, tapi kali ini tidak sempurna. Ada sesuatu yang retak di sana.

“Gue kira kalau lo diem, hidup gue bakal lebih tenang,” lanjutnya jujur.

“Ternyata malah kosong.”

Naura menyilangkan tangan di dada. “Terus?”

Hamka menghela napas.

“Terus gue sadar… gue kangen ribut sama lo. Kangen dimaki tetangga gara-gara kita berisik.”

Sudut bibir Naura bergerak sedikit. Hampir tak terlihat.

“Tapi gue nggak jago ngomong ginian,” tambah Hamka cepat, seperti takut momen itu menghilang.

“Kalau gue salah, ya gue salah. Cuma… jangan ngilang gitu aja.”

" Siapa bilang gue ngilang ? Mata Lo kehalang belek ya? " ketusnya dengan mendelik sebal.

" Lo emang masih jadi tetangga gue ,...tapi.. Lo kaya jauh banget."

Hening beberapa detik.

Naura menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi.

“Lo nyebelin,” katanya akhirnya.

Hamka tersenyum lebih lebar. “Iya. Itu bakat.”

Tapi kali ini, di antara mereka, hening itu tidak lagi menekan.

Tidak sepenuhnya reda.

Belum sepenuhnya damai.

Namun setidaknya, perang sunyi itu berakhir.

Naura mendengus kecil, lalu bersandar di kusen pintu.

Suasana yang tadi kaku perlahan mengendur.

Hamka memiringkan kepala, menatapnya dengan ekspresi sok mikir.

“Lo nggak kangen perang mulut sama gue?”

Naura langsung melotot. “Apaan sih ngomong lo!”

“Perang mulut?” tanya Naura polos, alisnya naik.

Hamka mendecak,

“Ah, lo mah lemot.”

Naura tertawa kecil. “Maksud lo?”

“Bukan perang mulut kayak di Drakor yang sering Lo tonton. ” lanjut Hamka , setengah menahan senyum.

“Tapi perang mulut kita. Yang saling usil. Saling nyebelin.”

Hamka terdiam sebentar, lalu senyum lebarnya muncul lagi.

“Oh… yang itu.”

" Ihh..otak Lo kok ngeres sih ,Naw."

Wajah Naura memerah karena malu

Hening kembali menyelip, tapi kali ini tidak canggung.

Hangat. Akrab. Seperti sesuatu yang akhirnya kembali ke tempat semula.

Hamka menatap Naura, lebih lembut dari biasanya.

“Kalau gitu… besok ribut lagi yuk?”

Omongannya persis kaya anak bocah lagi ngajakin temennya jajan es potong .

Hamka berdiri di hadapan Naura dengan sikap sok santai, meski jantungnya berdetak tak karuan. Ia mendekat sedikit, menurunkan suara seperti sedang membocorkan rahasia besar.

“Nanaw… baikan, yook,” katanya akhirnya.

Sudah habis sudah harga dirinya dihadapan tetangganya itu.

“Hampa telinga gue tanpa denger suara cempreng dan berisiknya elo.”

Naura refleks menoleh tajam. “Eh kampret,” balasnya spontan.

“Ngapain lo ngomong gitu? Bukannya kita udah musuhan dari orok?”

Hamka terkekeh kecil, mengangguk setuju.

“Iya. Dari orok.”

Lalu senyumnya memudar sedikit, diganti kesungguhan yang jarang ia tunjukkan.

“Tapi ini beda,” lanjutnya pelan.

“Ini udah melebihi gencatan senjata perang dunia.”

Naura terdiam. Alisnya mengernyit, tapi sudut bibirnya bergetar, menahan senyum.

Hamka menggaruk tengkuk. “Gue nggak jago diem-dieman, Naw..."

Hening sejenak.

Naura menghela napas, lalu mendecak.

" Makanya jadi orang jangan nyebelin ," ucap Naura sambil mengerucutkan bibirnya .

Hamka langsung tersenyum lebar. Gadis didepannya terlihat begitu menggemaskan.

Ya Tuhan..selama ini mata gue kenapa ya..kok gue baru nyadarnya sekarang

“ Kita baikan ya.” Hamka menatap lembut Naura .Ada kilatan memohon di matanya .

Naura menggeleng, tapi senyumnya akhirnya jatuh juga

Naura mengangkat alis.

“Liat nanti. Kalau lo nyebelin...."

Hamka tertawa.

“Deal.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian hari,

sunyi di antara mereka benar-benar pergi.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!