NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Sahabat

Gudang tua di pinggiran kota itu berbau karat dan debu yang menyesakkan. Cahaya matahari hanya masuk lewat celah-celah atap seng yang bocor, menciptakan garis-garis cahaya yang menampakkan debu yang beterbangan. Di tengah ruangan, Livia terikat di sebuah kursi kayu tua, tangannya memerah akibat jeratan tali tambang yang kasar.

Di hadapannya, Sheila Nandhita melangkah perlahan. Ia telah melepaskan blazernya, menyisakan blus sutra tanpa lengan yang memperlihatkan bahunya yang tegang oleh adrenalin. Sepatu hak tingginya berdentum di atas lantai semen yang retak, menciptakan irama yang meneror keheningan.

"Kamu tahu, Liv? Aku selalu benci caramu menatapku," ucap Sheila dengan nada suara yang rendah namun tajam. "Kamu menatapku seolah aku ini adik kecilmu yang malang, yang butuh bantuanmu, yang butuh modal bisnismu. Kamu tidak pernah menganggapku setara."

Sheila meraih sebuah botol air mineral dingin, lalu tanpa peringatan, ia menyiramkan isinya ke wajah Livia.

Livia tersentak, napasnya memburu saat air dingin itu menusuk kulitnya. "Sheila... sadarlah... Apa yang kamu lakukan ini tindakan kriminal. Kamu bisa dipenjara!"

Sheila justru meledak dalam tawa yang paling nyaring sejauh ini. Ia memegangi perutnya, tertawa hingga wajahnya memerah. "Penjara? Hahaha! Aku sudah berada di penjara sejak aku harus melihatmu pamer kebahagiaan dengan Attar setiap hari! Ini bukan kriminal, Sayang. Ini adalah perayaan."

Sheila menjambak rambut Livia, memaksa wanita itu mendongak. Tidak ada rasa iba di mata Sheila; yang ada hanyalah kegembiraan yang murni dan mengerikan. Ia menikmati setiap isakan Livia, setiap tetes keringat dingin yang jatuh dari dahi sahabatnya. Ia merasa sangat hidup saat melihat orang lain hancur di bawah kakinya.

****

Sementara itu, di atas motor sportnya, Ayub Sangaji memacu adrenalin di tengah kemacetan Jakarta. Jantungnya berdegup lebih kencang dari mesin motornya. Ia baru saja sampai di depan Pengadilan Agama, hanya untuk menemukan map cokelat milik Livia berserakan di aspal, terinjak-injak dan kotor.

"Sial!" umpat Ayub. Ia turun dari motor, memunguti berkas-berkas itu dengan tangan gemetar.

Ia mencoba menghubungi ponsel Livia berulang kali, namun hasilnya tetap sama: kotak suara. Ayub menoleh ke segala arah, mencari saksi mata atau kamera CCTV. Ia merasa seperti orang buta yang mencoba mencari jarum di tengah badai. Ia tahu Livia diculik, tapi Jakarta terlalu luas untuk dijelajahi tanpa petunjuk.

Ayub menyandarkan kepalanya di setang motor, mencoba mengatur napas. Berpikir, Ayub! Berpikir! Ia teringat mobil merah Sheila yang ia lihat di kampus tadi. Jika Sheila yang melakukannya, wanita itu pasti membawa Livia ke tempat yang terpencil. Namun, tanpa akses GPS ponsel Livia, Ayub benar-benar kehilangan jejak. Rasa frustrasi mulai membakar dadanya, bercampur dengan ketakutan luar biasa akan keselamatan wanita yang mulai mengisi ruang di hatinya itu.

****

Di Rumah Sakit Medika, Rahmi perlahan membuka matanya. Meski masih sangat lemah, ia sudah bisa berkomunikasi lewat tatapan mata. Hilman berdiri di sisi lain ranjang, menatap putranya dengan dingin.

"Attar," suara Hilman berat dan berwibawa. "Ibumu sudah siuman. Jika kamu masih punya sedikit saja nurani sebagai laki-laki dan sebagai anak, putuskan hubunganmu dengan wanita iblis itu sekarang juga. Jika tidak, jangan pernah panggil aku Papa lagi, dan jangan pernah injakkan kakimu di rumah kami."

Attar menunduk, memandangi tangan ibunya yang lemah. Ia melihat penderitaan di wajah wanita yang melahirkannya, penderitaan yang ia sebabkan sendiri. Pikirannya kembali pada Livia. Ia menyadari betapa berharganya apa yang telah ia sia-siakan.

"Aku mengerti, Pa," bisik Attar. "Aku sudah memblokirnya. Aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Sheila. Aku hanya ingin Livia kembali."

Attar meraih ponselnya, berniat mengirimkan pesan terakhir yang sangat tegas kepada Sheila sebelum ia benar-benar menghapus keberadaan wanita itu dari hidupnya.

"Sheila, jangan pernah hubungi aku lagi. Aku membencimu karena telah menghancurkan keluargaku. Jangan pernah muncul di hadapanku atau Livia lagi. Ini berakhir."

****

Di gudang tua, ponsel Sheila bergetar di atas meja kayu. Ia melepaskan jambakannya pada Livia dan membaca pesan dari Attar. Bukannya sedih atau takut, wajah Sheila justru berubah menjadi seringai yang menyeramkan.

"Hah... kamu lihat ini, Livia?" Sheila memperlihatkan layar ponselnya pada Livia yang lemas. "Suamimu mencoba mencampakkanku. Dia bilang dia membenciku atas desakan orang tuanya yang kolot itu."

Sheila tertawa lagi, namun kali ini ada nada histeris yang lebih gelap. Ia mulai berjalan mondar-mandir seperti predator yang terkurung. "Dia pikir dia bisa lepas dariku begitu saja? Tidak semudah itu, Attar! Semakin kamu menolakku, semakin aku akan masuk ke dalam hidupmu! Aku akan merayap di bawah kulitmu sampai kamu memohon padaku untuk kembali!"

Ia menendang kursi yang diduduki Livia hingga wanita itu hampir terjungkal. "Semua ini karena kamu, Livia! Kalau kamu tidak ada, Attar tidak akan punya alasan untuk merasa bersalah!"

Sheila mengambil sebuah pisau lipat kecil dari tasnya. Ia memainkannya di depan mata Livia yang terbelalak ketakutan. "Ayub tidak ada di sini untuk menyelamatkanmu sekarang. Dia sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk. Kamu sendirian, Liv. Benar-benar sendirian."

Sheila tertawa kegirangan, suaranya bergema memenuhi gedung tua yang sepi, sementara di luar, langit mulai menghitam menandakan badai akan segera datang.

Di saat yang sama, Ayub yang sedang berada di persimpangan jalan, tiba-tiba melihat sebuah van hitam dengan goresan khas di bagian belakang—mobil yang sama yang sempat ia lihat melintas dengan kecepatan tinggi di dekat kampus kemarin. Tanpa pikir panjang, ia memutar gas motornya, mengikuti van itu masuk ke arah pinggiran kota yang sunyi.

****

Deru mesin motor Ayub berhenti mendadak seratus meter dari sebuah gudang tua yang tampak merana di tengah rimbunnya ilalang. Napasnya memburu, matanya yang tajam bak elang menangkap keberadaan van hitam dan mobil merah Sheila yang terparkir sembarangan. Tanpa membuang waktu, pemuda itu berlari mendekat, setiap langkahnya penuh dengan tekad yang membara.

Di dalam gudang, bau keringat dan ancaman memenuhi udara. Sheila masih berdiri di depan Livia, memainkan pisau lipatnya dengan senyum miring, ketika suara pintu besi yang ditendang hingga jebol menggelegar ke seantero ruangan.

BRAK!

"Lepaskan dia, Sheila!" teriak Ayub. Suaranya menggema, penuh otoritas yang tak terduga dari seorang pemuda berusia 20 tahun.

Sheila tersentak, lalu perlahan memutar tubuhnya. Bukannya takut, ia justru meledak dalam tawa yang paling melengking. "Oh, lihat siapa yang datang! Pahlawan kesiangan kita sudah lolos dari penjara tugasnya! Hahaha! Kamu benar-benar nekat, Ayub Sangaji!"

Sheila memberi isyarat dengan jarinya. Dari balik pilar-pilar beton yang retak, muncul enam orang pria berbadan besar. Mereka bukan preman biasa; otot-otot mereka menonjol, dan wajah mereka penuh bekas luka. Mereka adalah orang-orang bayaran yang disewa Sheila dengan sisa uang tabungannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!