Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Didalam kelas, Felix tidak dapat menahan senyum lebarnya dari wajahnya. Ia terus menatap serangkaian nama di layar ponselnya sambil tersenyum bahagia.
Ivan dan Gio saling menatap dan mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Felix.
Ivan ingin membuka mulutnya tapi ditahan oleh Gio.
"Ada apa, Gee?" Ivan menatap Gio dengan kesal.
"Apa kau yakin ingin bertanya?"
"Kenapa?" Tanya Ivan bingung.
"Aku sangat penasaran."
"Tidak bisakah kau menunggu sampai kelas selesai?"
Ivan menggeleng.
"Tidak... aku tidak bisa." Tegasnya.
"Kau juga penasaran bukan?" Ivan menatap Gio.
"..." Gio ingin menjawab, tapi tidak tahu ia harus menjawab apa, mulutnya hanya membuka dan menutup.
Lalu Gio melihat Ivan yang sudah menoleh kearah Felix.
"Fel..." panggil Ivan sedikit gugup.
"Hem." Gumam Felix, tanpa menoleh kearah Ivan. Felix masih menatap layar ponselnya, dan senyumnya belum hilang.
"Apa kau tadi malam sudah tidur lagi dengan Syerly?"
"Ya." Jawab Felix singkat.
Ivan langsung menatap Gio.
"Lihat! Apa kau mendengarnya?" Bisik Ivan.
Gio hanya menatap datar ketika keberanian Ivan meningkat untuk terus bergosip.
"Apa Syerly sehebat itu diatas ranjang, sampai membuatmu tidur dengannya dua kali?"
Suasana berubah seketika.
Hening.
Felix perlahan meletakkan ponselnya lalu menoleh kearah Ivan.
"Van..." suara Felix tenang, tapi Ivan merasakan merinding diseluruh tubuhnya.
"Beberapa hal, harus dirahasikan." Tatapan Felix sangat dingin, sampai membuat Ivan gemetar.
"Pikirkan! Apa yang pantas dan tidak pantas untuk ditanyakan."
Ivan tanpa sadar menelan ludah dan diam-diam menyesal.
Gio yang melihat Ivan yang baru saja dimarahi oleh Felix berusaha untuk tidak menertawakan temannya.
Tapi senyumannya masih bocor dan dilihat oleh Ivan.
"Apa kau mengejekku?"
Gio menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya.
"Kau jelas-jelas mengejekku." Teriak Ivan, lalu tawa Gio pecah memenuhi kelas.
Waktu istirahat tiba. Felix terus menatap layar ponselnya dengan cemas. Ia sudah sangat lama mengirim pesan, tapi tidak menerima balasan dari Syerly.
"Ada apa, Fel?"
Felix menoleh dan melihat Gio yang sendirian duduk disampingnya.
"Dimana Ivan?"
Gio tersenyum kecil.
"Jangan cari dia! Ivan sedang kesal?"
"Kesal... kenapa?"
"Karena kata-katamu tadi." Jawab Gio masih menahan tawa.
"Dia pantas mendapatkannya." Kata Felix dengan tenang.
"Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya seseorang pantas untuk dibicarakan."
Gio mengangguk setuju.
"Kau benar tentang itu."
Gio terdiam sebentar.
"Tapi, Fel... bukan hanya Ivan saja yang penasaran, aku juga penasaran."
Gio mendesah pelan
"Ivan hanya menggunakan kata-kata yang salah." Katanya pelan.
Lalu Gio menatap Felix dengan serius.
"Sepertinya kau sangat tertarik dengan Syerly?"
"Semua gadis yang aku kencani memang menarik. Jika tidak, aku tidak akan mengencani mereka. Menurutku tidak ada yang salah tentang itu." Jawab Felix dengan datar.
"Fel..." panggil Gio pelan.
"Meskipun, kau terus menyangkalnya. Tapi, kau sebenarnya sangat menyukai Syerly sejak pertama bertemu. Jika tidak, kau pasti tidak akan merasa terganggu." Setiap kata dari Gio perlahan memukul dada Felix.
"Dan itu sebabnya Ivan mengkhawatirkanmu..." lanjut Gio, nadanya terdengar sedikit tajam.
"Apa kalian pikir, aku jatuh cinta dengan Syerly?" Tanya Felix.
Gio menghela napas pendek.
"Bukan kami yang harus menjawab," katanya pelan.
"Tanyakan pertanyaan itu ke hatimu."
Felix mengalihkan pandangannya. Ada perang batin yang sedang terjadi, dan itu membuat hatinya kacau.
"Jika kau menyukainya," lanjut Gio, "maka teruskan. Tapi, jika kau hanya mencari teman kencan, aku pikir kau harus mundur!"
Tatapan Gio semakin dalam.
"Karena kau bisa terluka."
"Kenapa seperti itu?" Tanya Felix pelan.
Gio mengambil salah satu bukunya, membuka halaman secara perlahan. Ia berbicara seolah sedang membaca, tapi matanya terus mengamati Felix.
"Karena orang yang tidak percaya dengan cinta." Gio berbicara dengan tenang.
"Biasanya tidak menemukan kebahagiaan dalam cinta. Dan akhirnya... dia tidak menemukan kebahagiaan ketika menetap dengan siapapun." Setelah itu Gio menutup bukunya. Mengubah ekpresinya dengan cepat.
"Apa kau tidak pergi makan?" Tanya Gio dengan sedikit senyum. Seolah orang yang baru saja berbicara serius bukanlah dia.
"Aku akan mencari Ivan. Aku sedikit mengkhawatirkannya."
Felix mengangguk sedikit.
Lalu Gio berdiri dan meninggalkan Felix didalam kelas.
Felix terdiam.
Memikirkan setiap kata dari Gio.
Dada Felix terasa sesak, seakan ada sesuatu yang selama ini ia abaikan, namun sekarang memaksa untuk diakui.
Lagi-lagi Felix menggelengkan kepalanya, mengusir semua pikirannya yang ia anggap sangat gila.
Didalam sebuah kantin dekat dengan gedung Fakultas Seni, Felix melihat sosok yang ia cari sedang duduk dengan tenang dan menikmati makanannya.
Felix mempercepat langkahnya dan berhenti didepannya.
"Aku menelponmu berkali-kali, mengapa kau tidak mengangkatnya?" Felix tidak menyembunyikan kekesalannya pada gadis didepannya.
Felix menatap penampilan Syerly yang sedikit berbeda dengan biasanya.
Rambut lurus Syerly kini berubah menjadi ikal panjang yang jatuh lembut melewati bahunya. Di wajahnya terpasang kacamata bulat dengan bingkai tipis, memberi kesan cerdas sekaligus misterius, sesuatu yang jarang Felix lihat darinya.
Hari ini, Syerly mengenakan blouse putih lengan panjang, dipadukan dengan dasi pita kecil di bagian kerah yang membuatnya terlihat manis dan berbeda.
Felix sempat terdiam sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di depannya. Matanya masih belum berhenti memperhatikan perubahan itu.
"Ada apa dengan penampilanmu ini?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar datar namun jelas mengandung rasa ingin tahu.
Dalam pikirannya, Felix membandingkan dua versi Syerly yang ia kenal. Syerly yang biasanya tampil bebas, sedikit liar, dengan aura seorang penyanyi diatas panggung yang hidup dengan berani, dan seperti api kecil yang menyala di ruangan gelap.
Namun gadis yang duduk di depannya sekarang berbeda. Penampilannya rapi, teratur, bahkan memberi kesan tegas. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan.
Felix akhirnya menghela napas pelan, menyipitkan mata.
"Apa kau ingin bertemu seseorang?" tanyanya. Nada suaranya tenang, tapi ada sedikit ketidaknyamanan yang tidak berhasil ia sembunyikan.
Gadis itu sedikit tersenyum.
"Adikku..." katanya pelan.
"Aku jarang bertemu dengannya dan dia membuat kejutan baru untukku..." sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri, sayangnya cukup keras untuk sampai ke telinga Felix.
"Adik...?" Kata Felix dengan bingung. Lalu menatap gadis didepannya.
"Apa maksudmu adik tapi mesra?" Godanya dengan senyum nakal.
Shayna hanya menaikkan satu alis.
"Aku kakaknya." Shayna menatap Felix dan menonton kekacauan yang sedang ia mainkan.
Felix membeku.
"Apa kau serius?"
Shayna mengangguk mantap.
"Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya."
Felix tertawa kecil.
Felix berpikir gadis itu Syerly, sedang bermain-main dengannya, jadi Felix membiarkannya.
Felix terus menatap Shayna kembaran Syerly. Penampilan mereka sangat berbeda tapi, wajah mereka sangatlah mirip. Felix masih berpikir orang didepannya itu adalah Syerly.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Shayna tiba-tiba, mengubah topik.
"Belum." Jawab Felix cepat
"Aku sangat kelaparan." Suaranya rendah dan sedikit serak.
"Aku bisa memakanmu utuh."
Shayna melihat Syerly yang berjalan mendekat. Dengan senyum licik, Shayna menatap Felix didepannya. Dia mencondongkan tubuhnya kedepan, dan berkedip didepan Felix.
"Kalau begitu, lakukanlah!" Bisik Shayna seperti undangan.