Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman perjodohan
“Winda, gaji bulan ini sudah ditransfer HRD. Dan ada tambahan bonus dari manajemen.”
ucap Tristan tiba-tiba berada di belakang Winda saat Winda sedang sibuk merapikan tas nya sebelum pulang.
Winda sedikit tersentak karena terkejut dan ia spontan menoleh ke belakang " eh iyaa ,pak" jawab winda gugup.
Winda berhenti sejenak, mencerna kata-kata barusan.
“Tunggu.....apa tadi ,pak? Bonus? sumpah ,pak?”
tanya Winda tak percaya. Winda merasa masih sering ceroboh saat bekerja, dan tiba-tiba mendengar satu kata itu, " bonus" wajar saja Winda tak percaya.
“Untuk apa saya bercanda? Kerja kamu bulan ini bagus." jawab Tristan meyakinkan.
“Terima kasih banyak, Pak. Saya benar-benar nggak nyangka.” ucap Winda sangat merasa ber terimakasih. Mata Winda langsung berbinar. Senyum lebarnya tak bisa disembunyikan lagi.
“Itu memang hak kamu. Pertahankan kerjanya.” ucap Tristan sebelum melangkah pergi.
Winda pulang malam itu dengan langkah ringan meski tubuhnya lelah. Sepatu kerjanya terasa lebih berat dari biasanya, tapi hatinya justru sebaliknya. Ada rasa senang yang sulit disembunyikan sejak ia keluar dari tempat kerja. Hari ini gajian—dan bukan gajian biasa.
Ia sempat berhenti sebentar di depan rumah, menarik napas dalam-dalam. Rumah itu sederhana, catnya mulai pudar, tapi tetap menjadi tempat yang selama ini ia sebut pulang.
Begitu masuk, suara televisi menyambutnya. Ayahnya-Arman duduk di ruang tamu, ibu di dapur, dan adik-adiknya sibuk dengan urusan masing-masing. Winda tersenyum kecil.
“Ayah,” ucapnya sambil melepas sepatu, “hari ini Winda gajian.”
Ayahnya menoleh sekilas. “Hmm.”
Winda tak langsung berkecil hati. Ia sudah terbiasa dengan respons dingin itu. Ia mendekat, duduk di sofa yang sudah agak lusuh. lalu melanjutkan dengan suara yang tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“Gajiku ditambah, yah. Totalnya… tujuh juta.”
Winda menunggu. Menunggu senyum, atau setidaknya anggukan bangga. Tapi yang datang justru keheningan yang aneh.
Arman mematikan televisi. Perlahan, matanya menatap Winda, bukan dengan kagum, melainkan dengan hitungan.
“Tujuh juta?” ulangnya datar.
“Iya, Yah. Alhamdulillah,” jawab Winda cepat. “Lumayan buat kebutuhan rumah. Aku juga bisa nabung sedikit buat kita beli rumah-”
“Lumayan?” potong Arman.
“Kamu sadar nggak, di rumah ini ada enam orang?”
Kalimat itu jatuh seperti air dingin. Senyum Winda memudar.
“Hitungannya gampang,” lanjut Arman, nadanya mulai tajam. “Tujuh juta dibagi enam. Itu nggak seberapa.belum lagi biaya adek mu sekolah."
Winda menelan ludah. “Tapi, Ayah… selama ini kita 5juta juga udah cukup,kan?. Aku—”
“Cukup dari mana nya hah?” sela Arman lagi.
Ibunya - Priska muncul dari dapur, tapi hanya berdiri di ambang pintu. Tidak ikut bicara. Tidak juga membela.
Arman menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. “Makanya, dari dulu ayah bilang apa?”
Winda sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Soal perjodohan itu,” lanjut Arman tanpa ragu. “Kamu harus dijodohkan.”
“Tapi ayah…” suara Winda melemah. “Winda sudah kerja. Winda bisa tanggung jawab. Winda-”
“Kamu kerja mati-matian, tapi hasilnya cuma segini,” Arman menunjuk meja seolah angka tujuh juta tertulis di sana. “Kalau kamu nikah sama pria itu, hidup kita akan berubah.”
Winda menggeleng pelan. “Aku nggak kenal dia. Aku nggak cinta.”
“Cinta itu urusan belakangan” jawab Arman dingin. “Yang terpenting sekarang itu uang.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Winda kira.
“Dengar,” Arman melanjutkan, kini tanpa berusaha terdengar halus. “Mahar nikahnya besar. Itu bisa kita pakai. Buat kebutuhan, buat beli rumah ,dan lain nya. Setelah nikah, kamu tetap bisa kirim uang ke rumah. Kalau kurang, minta ke suami kamu. Dia kaya.”
Winda berdiri. Tangannya gemetar. " Ayah ga pernah sayang sama Winda. Ayah selalu mikirin Uang,Uang, dan UANG!. Ayah selalu bilang Winda ini. Winda itu. Kenapa ga adek aja?!"
" karena kamu anak pertama. Winda." balas Arman tegas.
" terus kenapa kalau aku anak pertama?!"
winda berhenti sejenak. air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku bukan barang..hiks..” lanjut Winda bergetar.
" ayah juga udah ga pernah kerja lagi semenjak aku udah kerja. ayah mau aku yang biayain keluarga. ayah mau aku yang biayain sekolah adek. kurang apa lagi?!"
“Kurang?” ulang Arman pelan, meremehkan. “Kamu pikir semua yang kamu kasih itu sudah cukup?”
Winda menatapnya tak percaya.
“Kamu itu anak pertama ” lanjut Arman tajam. “Sudah seharusnya kamu balas apa yang orang tua kasih ke kamu sejak kecil.”
Winda terdiam beberapa detik. Dadanya naik turun. Lalu suaranya pecah.
“DARI KAPAN KEWAJIBAN ANAK ITU NAFKAHIN ORANG TUANYA YANG SEHAT?!”
teriaknya sampai tenggorokannya sakit.
Ayahnya ikut berdiri. Wajahnya mengeras. "Jangan kurang ajar kamu ,Winda!" teriak nya marah sebelum menampar winda dengan tangan nya yang kasar dengan kuat hingga membuat kepala Winda tersentak ke samping.
Priskan melangkah maju " sudah! berhenti! apa kalian tidak malu di dengar oleh tetangga?!" teriak Priska marah.
Namun mereka mengabaikan nya.
Winda langsung kembali menatap Arman dengan raut wajah yang tak bisa dideskripsikan. marah, kesal, sedih, semuanya bercampur aduk.
“Aku cuma mau hidup dengan pilihanku sendiri,” Winda menahan tangis. “Aku nggak mau dijodohin.”
Arman mendekat satu langkah.
“Banyak anak di luar sana rela dijodohkan demi keluarga.”
" TAPI AKU BUKAN MEREKA!"
Kalimat itu seperti api yang menyulut amarah Arman.
“Kalau kamu nolak,” katanya dengan suara rendah tapi penuh ancaman, “kamu keluar dari rumah ini.”
Winda membeku. Dunia Winda terasa berhenti.
“Kamu bukan anak saya lagi,” lanjut ayahnya tanpa ragu. “Jangan harap bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi.”
Winda merasa kakinya lemas. Ia ingin berteriak, ingin bertanya kenapa cintanya sebagai anak selalu kalah oleh uang. Tapi suaranya hilang di tenggorokan.
Arman mulai mendorong nya pelan namun kasar menuju pintu utama rumah. " keluar kamu dari rumah ini. keluar!"
" hiks.. winda ga mau.. ga mau, ayah...hiks.."
" udah Arman, udah.." Priska mencoba menarik Arman menjauh dari Winda.
" Diam Priska! dia itu anak ga berguna! anak durhaka sama orang tua! gak pernah mau nurut! "teriak Arman amarah nya kembali meluap.
" Winda! pergi sana!" teriak priska menyuruh winda pergi.
Arman menatap Winda dengan jijik.
“Dasar anak gak tau diri! gak tau di untung! " katanya tajam. “Sudah di besarkan! tapi selalu melawan orang tua! Kamu itu anak yang salah! Aku berharap punya anak yang lebih berguna!”
Air mata Winda jatuh deras.
" aku juga ga pernah mau punya ayah kayak kamu!" teriak winda tanpa peduli kalau dia sedang berbicara dengan ayahnya.
" apa kamu bilang?! berani kamu panggil ayah kek gitu! DASAR ANAK KURANG AJAR! SINI KAMU!"
" LEBIH BAIK AKU NGGAK PUNYA ORANG TUA DARI PADA PUNYA AYAH SEPERTI KAMU!
DASAR ORANG TUA EGOIS!"
teriak Winda penuh amarah dan kebencian, sebelum berbalik pergi ke kamar tidur nya dan membanting pintu di belakang nya.
" DASAR ANAK DURHAKA!" teriak Arman ingin mengejar Winda namun Priska memegang nya erat.
Di balik pintu, Winda akhirnya membiarkan air matanya jatuh. Tangisnya pecah, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tak ada suara yang keluar. Dadanya naik turun, napasnya tersengal, seolah setiap isak yang tertahan justru melukai dirinya sendiri.
Winda tak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Pikirannya kacau—bingung, takut, marah, dan kesal bercampur menjadi satu, Semuanya menumpuk, bertabrakan di kepalanya. Membuat kepalanya berdenyut menyakitkan.sakitnya menjalar pelan tapi pasti - seperti luka yang tidak berdarah, tapi terus menggerogoti dari dalam.
Haruskah Ia menerima perjodohan itu?
Menyerah, menikah dengan orang asing, lalu mengorbankan hidupnya demi keluarga yang tak pernah benar-benar mendengarkan keinginannya?
Atau pergi dari rumah?
Tapi… pergi ke mana?
Tidak…
Ia tak pernah benar-benar hidup jauh dari orang tuanya.Seumur hidupnya, Winda selalu pulang ke tempat yang sama. Selalu bertahan. Selalu percaya bahwa selama ia memberi, selama ia kuat, semuanya akan baik-baik saja.
tapi jika ia bertahan, apa yang tersisa dari dirinya?
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini