Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 – Uang yang Terjebak di Rak
Tiga hari setelah Bu Rina mulai membantu di dapur, suasana warung menjadi jauh lebih teratur.
Ibunya tidak lagi harus mengerjakan semuanya sendirian.
Pekerjaan mengupas pisang dan menyiapkan bahan kini dibagi berdua.
Hasilnya langsung terlihat.
Produksi meningkat.
Pelayanan warung tetap berjalan lancar.
Dan yang terpenting, ibunya tidak lagi terlihat kelelahan seperti minggu lalu.
Melihat itu, Arga merasa sedikit lega.
Setidaknya satu masalah sudah berhasil diatasi.
Namun ternyata masalah berikutnya sudah menunggu.
Malam itu, setelah warung tutup, Arga kembali memeriksa catatan keuangan.
Ia menghitung pemasukan.
Mengurangi biaya bahan baku.
Mengurangi biaya operasional.
Lalu membandingkannya dengan minggu sebelumnya.
Semakin lama ia menghitung, semakin dalam kerutan di dahinya.
"Aneh."
Ia menghitung ulang.
Hasilnya tetap sama.
Pendapatan naik.
Keuntungan naik.
Tetapi uang tunai yang tersedia tidak bertambah sebanyak yang seharusnya.
Padahal secara logika, semakin ramai warung, semakin banyak uang yang terkumpul.
Namun kenyataannya berbeda.
Arga menatap buku catatan itu cukup lama.
Kemudian sebuah ingatan muncul dari kehidupan sebelumnya.
Saat masih menjadi karyawan, ia pernah mengikuti pelatihan manajemen keuangan perusahaan.
Saat itu seorang pembicara mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia lupakan.
"Keuntungan dan uang tunai adalah dua hal yang berbeda."
Dulu ia menganggap kalimat itu aneh.
Sekarang ia mulai memahaminya.
Keesokan harinya, Arga mulai melakukan sesuatu yang membuat ibunya bingung.
Ia memeriksa seluruh isi warung.
Satu per satu.
Rak makanan ringan.
Rak minuman.
Rak kebutuhan rumah tangga.
Bahkan gudang kecil di belakang rumah.
"Apa yang kamu cari?" tanya ibunya.
"Uang."
Jawaban itu membuat ibunya tertawa.
"Uang kok dicari di rak?"
Arga tersenyum tipis.
"Karena memang ada di sana."
Selama hampir satu jam, ia mencatat berbagai barang.
Biskuit cokelat merek tertentu.
Permen rasa stroberi.
Minuman kemasan yang kurang populer.
Beberapa produk bahkan sudah berada di rak selama berminggu-minggu.
Saat semua data terkumpul, Arga akhirnya menemukan masalahnya.
Sebagian modal warung terjebak dalam barang yang lambat terjual.
Barang-barang itu memang masih memiliki nilai.
Tetapi selama belum dibeli pelanggan, uang mereka tetap tertahan.
Malam harinya, Arga mengajak kedua orang tuanya berdiskusi.
"Aku tahu kenapa uang kas tidak bertambah banyak."
Ayahnya langsung memperhatikan.
"Kenapa?"
Arga menunjukkan daftar yang sudah dibuat.
"Karena barang-barang ini."
Ayahnya membaca beberapa nama produk.
"Lalu?"
"Penjualannya lambat."
"Itu biasa."
"Benar."
Arga mengangguk.
"Tapi jumlahnya terlalu banyak."
Ia mengambil satu bungkus biskuit dari rak.
"Kalau barang ini tidak terjual selama dua bulan, berarti uang yang kita gunakan untuk membelinya juga tidak bisa dipakai selama dua bulan."
Ayahnya mulai mengerti.
Sementara ibunya terlihat berpikir.
"Jadi uang kita tidak hilang?"
"Tidak."
"Terus?"
"Uang kita hanya terjebak di rak."
Kalimat itu membuat suasana hening beberapa saat.
Kemudian Arga menyampaikan idenya.
"Kita harus membuat barang-barang ini bergerak lebih cepat."
"Bagaimana caranya?" tanya ayahnya.
"Paket."
Kedua orang tuanya saling berpandangan.
Arga lalu menjelaskan rencananya.
Mereka akan menggabungkan produk yang laris dengan produk yang lambat terjual.
Misalnya:
Dua pisang goreng ditambah teh kotak.
Dua pisang goreng ditambah biskuit.
Minuman dingin ditambah makanan ringan.
Harga paket dibuat sedikit lebih murah dibanding membeli satuan.
Ayahnya langsung mengernyit.
"Kalau lebih murah, untung kita berkurang."
Arga sudah memperkirakan keberatan itu.
"Lebih baik untung sedikit hari ini daripada barang tidak terjual selama berbulan-bulan."
Ayahnya terdiam.
Karena sebenarnya ia tahu Arga benar.
Keesokan harinya, mereka mulai mencoba.
Sebuah papan karton sederhana dipasang di depan warung.
Tulisan tangan Arga terlihat cukup rapi.
Paket Sarapan Hemat
Paket Pulang Sekolah
Paket Teman Nongkrong
Tidak ada desain khusus.
Tidak ada promosi besar-besaran.
Namun hasilnya mulai terlihat.
Saat jam pulang sekolah, beberapa siswa membaca tulisan tersebut.
"Lebih murah kalau paket."
"Ambil paket saja."
"Aku mau yang ini."
Hari pertama belum terlalu berbeda.
Hari kedua lebih baik.
Hari ketiga jauh lebih baik.
Barang-barang yang biasanya lama terjual mulai keluar dari rak.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Arga melihat uang tunai di laci kas bertambah lebih cepat.
Namun kejutan terbesar justru datang dari Bu Rina.
Suatu sore, saat membantu membersihkan dapur, wanita itu berkata,
"Kalau boleh kasih saran..."
Arga menoleh.
"Tentu."
"Di arisan RT kemarin, beberapa ibu-ibu membicarakan gorengan di sini."
Arga langsung tertarik.
"Lalu?"
"Mereka bilang enak."
Bu Rina tersenyum malu.
"Bahkan ada yang tanya apakah bisa pesan untuk acara."
Arga membeku.
Pesanan.
Bukan pelanggan datang satu per satu.
Tetapi pembelian dalam jumlah besar sekaligus.
Ia langsung melihat potensinya.
Kalau ada pesanan untuk rapat, arisan, atau acara warga, produksi bisa direncanakan lebih baik.
Risiko makanan tersisa juga lebih kecil.
Malam itu, Arga langsung mencatat ide tersebut.
Pesanan arisan.
Pesanan rapat.
Pesanan acara warga.
Semakin dipikirkan, semakin masuk akal.
Tetapi saat semangatnya mulai tumbuh, suara ayahnya terdengar dari ruang depan.
"Arga."
"Ada apa?"
Ayahnya membawa sebuah amplop cokelat tua.
Wajah pria itu terlihat lebih serius dari biasanya.
"Aku menemukan ini saat membereskan lemari."
Arga menerima amplop tersebut.
Begitu melihat nama yang tertulis di bagian depan, ekspresinya langsung berubah.
Ia mengenali nama itu.
Terlalu mengenalinya.
Di kehidupan sebelumnya, nama tersebut selalu muncul setiap kali ayahnya membahas masalah keuangan.
Perlahan Arga membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar tagihan lama.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Ia memang sudah mengetahui keberadaan utang itu.
Sejak kehidupan sebelumnya.
Ia tahu utang tersebut menjadi salah satu penyebab kondisi ekonomi keluarga terus memburuk.
Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia ketahui.
Jumlah pastinya.
Dulu setiap kali ia bertanya, ayahnya selalu menghindar.
"Ayah urus sendiri."
Atau,
"Jangan pikirkan itu."
Karena itulah Arga tidak pernah melihat angka sebenarnya.
Sampai malam ini.
Tatapannya tertuju pada lembar tagihan tersebut.
Untuk pertama kalinya, ia memahami besarnya beban yang selama ini dipikul ayahnya seorang diri.
Tidak heran warung mereka akhirnya tutup di kehidupan sebelumnya.
Tidak heran ayahnya selalu terlihat tertekan.
Dan tidak heran kondisi keluarga terus memburuk meski sudah berhemat selama bertahun-tahun.
Arga menarik napas panjang.
Keuntungan warung memang mulai meningkat.
Arus kas mulai membaik.
Namun semua hasil kerja keras mereka selama beberapa minggu terakhir bahkan belum cukup untuk menutup sebagian kecil dari angka yang tertulis di kertas itu.
Masalah mereka ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Ayahnya menundukkan kepala.
Sementara ibunya tampak gelisah.
Namun kali ini Arga tidak merasa putus asa.
Karena berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Sekarang ia mengetahui masalahnya.
Ia memahami penyebabnya.
Dan ia masih memiliki waktu untuk mengubah semuanya.
Perlahan ia melipat kembali lembar tagihan tersebut.
Lalu menatap kedua orang tuanya.
Dalam hati, sebuah tekad kembali terbentuk.
Utang ini pernah menghancurkan masa depan keluarga mereka.
Tetapi kali ini...
Ia tidak akan membiarkan sejarah yang sama terulang untuk kedua kalinya.