NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 5 – Jalan yang Terpaksa

Tubuh Raka melayang perlahan melintasi ruangan, seolah diangkat oleh tangan-tangan tak kasatmata. Kakinya tidak menginjak lantai, jarinya mencengkeram udara kosong berusaha mencari pegangan, tapi semua sia-sia. Kesadarannya masih utuh—ia bisa melihat, mendengar, dan merasakan setiap detik kengerian itu, namun tak punya kendali atas tubuhnya sendiri.

“Tidak… lepaskan aku! Aku tidak mau pergi!” teriaknya sekuat tenaga, tapi suaranya terdengar teredam, seolah terperangkap di dalam ruang kedap suara.

Pintu kamar yang sudah dikunci rapat mendadak berderit terbuka perlahan, tanpa ada yang menyentuh gagangnya. Angin dingin yang menusuk tulang berhembus masuk, membawa bau apek dan tanah basah yang persis sama seperti yang ia hirup semalam di rumah tua itu.

Di koridor kosan yang gelap gulita, bayangan-bayangan hitam kurus berbaris berdiri mengapit jalannya. Kepala mereka tertunduk rendah, tapi sepasang mata putih redup bersinar menatap ke arahnya saat ia melintas. Suara bisikan mereka menyatu menjadi satu irama yang memusingkan, mendorong langkahnya melaju semakin cepat.

“Pulanglah… tempatmu sudah menanti… jangan melawan takdir…”

Raka berusaha memanggil nama pemilik kosan atau tetangga, tapi lidahnya terasa kaku dan berat, tak mampu mengucapkan satu suku kata pun. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya berjalan keluar dari gerbang kosan, melangkah menyusuri jalanan yang sepi, menuju satu arah yang ia tahu persis—Gang Melati.

Semakin dekat ke mulut gang itu, kegelapan semakin tebal menyelimuti pandangan. Cahaya bulan yang tadinya samar tertutup awan hitam pekat, membuat segalanya nyaris tak terlihat. Namun entah kenapa, Raka bisa melihat jalannya dengan sangat jelas, dipandu oleh sinar redup berwarna kelabu yang memancar dari depan.

Begitu menginjakkan kaki di dalam gang, waktu seolah berjalan lebih lambat. Suara alam lenyap sepenuhnya—tak ada lagi kicau jangkrik, gemerisik daun, atau suara angin. Hanya keheningan yang berat, diiringi oleh derap langkah kaki yang beriringan di belakangnya.

Di ujung gang itu, rumah tua itu kini terlihat berbeda. Pintu kayunya terbuka lebar, memancarkan cahaya kuning redup dari dalam, bukan kegelapan seperti sebelumnya. Suara samar terdengar keluar—suara percakapan orang, tawa kecil, bahkan denting piring dan sendok, seolah rumah itu sedang ramai dihuni keluarga yang sedang makan malam.

“Tidak mungkin… ini hanya ilusi mataku…” batin Raka, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.

Saat ia mendekati pagar besi yang berkarat, pagar itu berderit terbuka dengan sendirinya. Di halaman yang semula dipenuhi semak belukar, kini terlihat rapi—rumput hijau terawat, bunga-bunga mekar di sisi jalan setapak, dan lampu taman menyala terang menerangi jalan menuju teras. Semua terlihat nyata, terlalu nyata untuk dianggap hanya khayalan.

Begitu melangkah naik ke tangga teras, suara di dalam rumah makin jelas terdengar.

“Anak kita sudah pulang… tunggu sebentar, kami sudah menyiapkan makan malam kesukaanmu,” suara wanita lembut terdengar dari balik pintu, membuat bulu kuduk Raka berdiri tegak. Suara itu bukan suara orang yang ia kenal, tapi terdengar begitu akrab, seolah dipanggil dari lubuk ingatan yang tidak pernah ia miliki.

Pintu terbuka lebih lebar lagi. Dari ambang pintu, muncul sesosok wanita paruh baya berpakaian kebaya usang, rambutnya disanggul rapi namun pucat pasi seperti kertas. Di belakangnya, tampak seorang pria tegap dengan wajah kaku dan dua anak remaja berdiri berdampingan, semuanya menatapnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

Ini dia—keluarga Handoko yang menghilang puluhan tahun lalu.

“Masuklah, Nak. Sudah terlalu lama kau berkeliaran di luar. Sekarang waktunya kembali ke rumah selamanya,” ujar pria itu dengan suara berat dan datar. Tangannya yang panjang menjulur keluar, ingin menyentuh bahu Raka.

Begitu ujung jarinya yang dingin menyentuh bahu tempat bekas jejak tangan itu berada, rasa sakit seperti dibakar menjalar sekujur tubuh Raka. Ia menjerit dalam hati, matanya terasa berkunang-kunang, pandangannya mulai kabur. Di sela-sela kesadarannya yang memudar, ia melihat sekilas ke belakang bahunya di permukaan kaca jendela—dan apa yang terlihat membuatnya mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya.

Di cahaya pantulan itu, ia tidak melihat dirinya sendiri. Yang terlihat adalah sosok kurus pucat dengan mata kosong, berdiri tepat di belakang tubuhnya, sedang mengendalikan setiap gerakan yang ia buat.

“Ini belum selesai… selama kesadaranku masih ada, aku tidak akan menyerah!”

Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Raka menggigit lidahnya sendiri sekuat tenaga. Rasa perih dan darah yang terasa di mulutnya memicu kejutan yang cukup besar untuk memutuskan ikatan kendali itu sejenak. Tubuhnya jatuh tersungkur di ambang pintu, kendali atas anggota badannya perlahan kembali.

Ia mendongak dan melihat wajah-wajah di hadapannya berubah seketika. Senyum mereka lenyap, digantikan oleh raut marah yang mengerikan. Kulit mereka mengelupas, mata memerah menyala, dan suara mereka berubah menjadi raungan menggelegar yang memekakkan telinga.

“BERANI MELAWAN?! KAU SUDAH MENJADI MILIK KAMI! TIDAK ADA JALAN PULANG UNTUKMU!”

Raka merangkak mundur secepat mungkin, lalu berbalik dan berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak. Ia tidak berani melihat ke belakang lagi, hanya mendengar teriakan dan suara benda-benda berjatuhan mengejarnya dari balik pagar. Namun ia sadar, waktu yang ia dapatkan hanya sebentar—mereka akan segera mengejarnya lagi, dan kali ini mungkin tidak akan memberi celah sedikit pun.

Di tengah lari yang terengah-engah, satu pemikiran muncul di kepalanya: Jika lari tidak bisa menyelamatkan dirinya, maka satu-satunya cara adalah menghadapi akar masalahnya secara langsung.

📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!