(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Keputusan Raka
Senyum tipis di wajah Raka perlahan memudar. Ia menatap layar tablet di tangan Jack beberapa saat, memperhatikan foto-foto yang baru saja menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.
Setelah beberapa detik terdiam, ia mengembalikan tablet itu tanpa banyak bicara. Wajahnya terlihat datar, terlalu tenang untuk seseorang yang baru mengetahui pengkhianatan istrinya sendiri.
“Jack, antar aku pulang,” ucapnya pelan.
Jack mengangguk hormat. “Baik, Tuan muda.”
Jono yang sejak tadi berdiri di samping hanya bisa menggaruk kepalanya dengan bingung. Hingga saat ini, pikirannya masih belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa sahabat yang selama ini bekerja serabutan bersamanya ternyata adalah pewaris perusahaan terbesar di negeri ini.
Namun dibanding fakta itu, ada hal lain yang jauh lebih membuatnya gelisah, yaitu perubahan sikap Raka. Biasanya pria itu akan tersenyum, tetap sabar meski dihina, atau mencoba membela keadaan dengan nada lembut. Tapi sekarang, Raka terlihat berbeda, dia hanya diam dan tenang.
Perjalanan menuju rumah terasa hening. Tidak ada percakapan di dalam mobil selain suara mesin dan pendingin udara, Jack duduk di kursi depan sesekali melirik ke arah kaca spion, memperhatikan ekspresi Raka yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil hitam itu berhenti di depan rumah sederhana tempat Raka tinggal bersama keluarga istrinya. Rumah itu tampak biasa saja, tetapi bagi Raka, tempat itu menyimpan terlalu banyak pengorbanan yang selama ini ia lakukan tanpa pernah dihitung.
Tagihan listrik, uang sekolah Doni, kebutuhan dapur, biaya renovasi kecil, sampai cicilan beberapa barang rumah tangga, semuanya sebagian besar berasal dari hasil kerja kerasnya. Bahkan ketika penghasilannya tidak cukup, ia rela bekerja sambilan hingga tubuhnya kelelahan.
Raka keluar dari mobil perlahan. Jack ikut turun, tetapi tetap menjaga jarak.
“Tuan muda, apakah saya perlu ikut masuk?” tanya Jack hati-hati.
Raka menggeleng pelan. “Tidak usah. Aku ingin menyelesaikannya sendiri.”
Jack hanya mengangguk, sementara Jono berjalan mengikuti Raka dari belakang.
Begitu pintu rumah dibuka, suara Rasti langsung terdengar bahkan sebelum Raka sempat melangkah masuk. Ternyata dia kembali dengan cepat dari cafe ke rumah, dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
“Akhirnya pulang juga! Mana uangnya?” bentaknya tanpa rasa bersalah.
Wanita itu berdiri di ruang tamu dengan tangan bersedekap, wajahnya terlihat kesal seperti seseorang yang sedang menagih kewajiban.
Raka menatap istrinya beberapa saat tanpa bicara, tatapan itu membuat Rasti mengernyit. “Kok malah diem? Udah di transfer belum?”
Raka menghela napas pendek sebelum akhirnya bertanya dengan suara tenang, “Kamu dari mana?”
Rasti terlihat sedikit terkejut. “Apa?”
“Kamu habis dari mana?” ulang Raka dengan nada yang tetap datar.
Wajah Rasti berubah tidak nyaman sesaat sebelum akhirnya mendecak kesal. “Ya pergi sama teman-temanku lah, emang kenapa?”
Tanpa banyak bicara, Raka mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan salah satu foto yang dikirim Jack, raut wajah Rasti langsung berubah pucat.
“Itu...” bibirnya bergetar sesaat. “Kamu ngikutin aku?”
Belum sempat Raka menjawab, ibu Rasti keluar dari kamarnya sambil memasang wajah masam.
“Ribut apa lagi sih? Baru pulang sudah bikin suasana rumah nggak tenang!”
Namun ketika melihat ekspresi panik putrinya dan foto di tangan Raka, wanita paruh baya itu hanya menghela napas kasar.
“Terus kenapa?” tanyanya ketus.
Raka mengernyit tipis. “Ibu tahu soal ini?”
Alih-alih marah pada putrinya, wanita itu justru melipat tangan di dada. “Kalau memang anak saya cari yang lebih baik, salahnya di mana?” jawabnya dingin. “Lihat dirimu. Penghasilan kecil, masa depan nggak jelas, hidup pas-pasan. Mau sampai kapan anakku sengsara?”
Jono yang berdiri di belakang sampai mengepalkan tangan. “Bu, jangan ngomong begitu juga,” protesnya.
“Kamu diam!” bentak wanita itu. “Ini urusan keluarga!”
Rasti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. “Mas, aku capek hidup begini terus. Aku pengen hidup enak. Aku pengen punya suami yang bisa bahagiain aku.”
Kalimat itu membuat dada Raka terasa semakin sesak, tetapi anehnya wajahnya tetap tenang. Ia hanya mengangguk kecil seolah mulai memahami kenyataan yang selama ini enggan ia lihat.
Tak lama kemudian, kakak laki-laki Rasti keluar dari kamarnya sambil tertawa sinis.
“Sudahlah,” katanya santai. “Kalau memang nggak sanggup bikin adikku bahagia, mending pergi aja. Jangan jadi beban.”
Raka tersenyum kecil, tetapi kali ini senyum itu terasa pahit. “Jadi selama ini, seperti itu pandangan kalian tentangku?” tanyanya pelan.
“Memangnya salah?” sahut ibu mertua Raka tanpa ragu. “Rumah ini nggak butuh laki-laki sepertimu!”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening, Jono sampai membelalak tidak percaya. Rumah yang selama ini banyak ditopang oleh uang Raka justru menjadi tempat pertama yang mengusirnya.
Di tengah ketegangan itu, suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar.
“Mama! Kak Raka!”
Doni masuk dengan napas memburu, wajahnya langsung berubah ketika melihat suasana ruang tamu yang panas.
“Ada apa ini?”
“Kakak iparmu mau pergi,” jawab ibunya dingin. “Bagus, biar rumah ini nggak tambah susah.”
Doni menatap semua orang bergantian sebelum pandangannya berhenti pada foto di tangan Raka, butuh beberapa detik sampai ia memahami situasinya.
“Kak Rasti...” suaranya mengecil. “Kakak selingkuh?”
“Doni, jangan ikut campur!” bentak ibunya.
Namun kali ini Doni tidak tinggal diam. “Kenapa aku nggak boleh ikut campur?” balasnya dengan suara meninggi. “Selama ini Kak Raka yang bayar sekolah aku! Yang beliin buku! Yang bantu uang les!”
Ruangan langsung hening, Doni menatap kakaknya dengan mata merah menahan marah. “Kalian semua seenaknya sama kak Raka, padahal selama ini dia yang bantu keluarga ini!”
Rasti menoleh tidak nyaman, sementara ibunya terlihat kesal. “Kamu kurang ajar!” bentak sang ibu.
“Kalau membela orang baik dibilang kurang ajar, ya sudah!” jawab Doni dengan suara bergetar.
Raka melangkah mendekat lalu menepuk bahu Doni pelan. “Sudah, Don,” ucapnya tenang.
“Tapi Kak...”
Raka tersenyum kecil. “Kamu tetap adik kakak walaupun nanti kakak nggak tinggal di sini lagi, sekolah kamu tetap jalan. Kalau ada apa-apa, telepon kakak.”
Doni langsung menatap Raka dengan mata berkaca-kaca. “Kak jangan pergi...”
Raka menghela napas pelan sebelum menatap rumah itu sekali lagi. “Ternyata perjuanganku selama ini, sia-sia saja,” ucapnya lirih.
Di sudut ruangan, Doni mengepalkan tangan sambil menatap kakaknya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, rasa hormatnya pada Rasti perlahan berubah menjadi kebencian.
Sementara itu, Raka segera masuk ke dalam mobil bersama Jono. Dan akhirnya dengan perasaan yang berat Raka meninggalkan tempat itu, tempat yang selama ini menjadi tempat yang di penuhi harapannya, berharap Rasti bisa berubah, tapi... kenyataannya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya sendiri.
Rasti yang dulu selalu tersenyum kepadanya, membelanya dan bahkan mendukung segala keputusannya sudah berubah tak seperti saat awal pernikahannya.
“Jadi... Tuan muda memutuskan untuk pulang?” tanya Jack.
Raka mengangguk pelan. “Yaa, tapi antarkan dulu temanku, lalu kita pulang menemui Papa.”
“Baik Tuan muda.”
Jono hanya terdiam, ia terus menatap Raka dengan ekspresi tak percaya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km