Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sandiwara di Meja Makan
Malam itu, paviliun utama kediaman besar keluarga Wijaya tampak menyala benderang. Lentera-lentera kristal bergaya klasik bergantungan di sepanjang selasar, memancarkan cahaya kekuningan yang megah namun terasa dingin.
Arumi berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, menatap pantulan dirinya yang hampir tidak ia kenali.
Bi Sumi benar-benar memilihkan gaun yang luar biasa. Sebuah gaun brokat berwarna biru tua dengan potongan sederhana namun elegan melekat pas di tubuhnya. Rambut hitamnya yang biasa dikuncir kuda kini disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Riasan tipis yang dipulaskan penata rias sore tadi membuat wajah lelah Arumi tampak segar dan berwibawa.
"Nyonya Arumi, Tuan Muda sudah menunggu di bawah," panggil Bi Sumi lembut dari ambang pintu.
Arumi mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. "Baik, Bi. Saya turun sekarang."
Saat melangkah menuruni tangga melingkar, Arumi melihat Renard sudah berdiri di dekat lobi. Pria itu mengenakan setelan tuxedo hitam dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Postur tubuhnya yang tegap membuat siapa pun pasti akan menoleh dua kali. Mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi Arumi, Renard membalikkan tubuhnya.
Selama beberapa detik, gerakan Renard terkunci. Sepasang mata elangnya menatap Arumi tanpa berkedip, memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada riak keterkejutan yang tertangkap jelas di bola matanya, sebuah pengakuan bisu bahwa wanita di depannya malam ini tampak sangat memukau.
Namun, begitu menyadari dirinya terpesona terlalu lama, Renard berdeham keras dan langsung memalingkan wajahnya. Semburat merah tipis kembali menghiasi daun telinganya.
"Gaun itu... tidak seburuk yang kukira. Setidaknya kamu tidak membuatku malu malam ini," ujar Renard dengan nada ketus yang dipaksakan. Ia meluruskan lengan kirinya yang tertekuk ke arah Arumi. "Gandeng lenganku. Mulai detik ini sampai kita pulang nanti, kita adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Jangan sampai ada satu kesalahan pun."
Arumi menatap lengan kokoh itu ragu, lalu perlahan melingkarkan jemarinya di sana. Kulit mereka yang saling bersentuhan mengirimkan sengatan hangat yang asing ke seluruh tubuh Arumi. "Saya mengerti, Tuan Renard. Saya tahu bagaimana cara berakting."
Jamuan makan malam diadakan di rumah utama, tempat di mana para sesepuh dan keluarga besar Wijaya berkumpul. Begitu pintu ruang makan raksasa dibuka, atmosfer di dalam ruangan langsung terasa mencekam. Meja makan panjang bertabur perak dan lilin-lilin tinggi dikelilingi oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba mewah.
Begitu Renard dan Arumi masuk, seluruh pasang mata langsung tertuju pada mereka. Keheningan mendadak merayap, digantikan oleh bisik-bisik halus yang sarat akan penilaian.
"Ah, ini dia pengantin baru kita," sebuah suara wanita paruh baya dengan nada sarkastik memecah keheningan. Itu adalah Tante Amara, bibi Renard dari jalur mendiang ayahnya, yang terkenal paling vokal dan ambisius di dalam keluarga. "Renard, Tante kira rumor di luar itu hanya isapan jempol. Ternyata kamu benar-benar menikahi gadis... dari keluarga Baskoro?"
Renard tidak langsung menjawab. Ia menarikkan kursi untuk Arumi dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah perhatian palsu yang sudah mereka skenariokan—sebelum akhirnya duduk di sampingnya.
"Iya, Tante. Arumi adalah istriku sekarang," jawab Renard tenang, suaranya terdengar begitu berat dan penuh wibawa, menguasai ruangan dalam sekejap.
Seorang wanita muda yang duduk di seberang Arumi—Siska, sepupu Renard yang terkenal angkuh—mendengus pelan sambil memutar gelas anggurnya. "Baskoro... bukankah itu pengusaha yang baru saja dinyatakan bangkrut total dan melarikan diri karena terlilit utang puluhan miliar? Wah, Renard, seleramu mendadak turun drastis, ya? Dari kalangan sosialita kelas atas, sekarang malah memilih anak dari seorang buronan."
Kalimat tajam itu menghunus tepat ke ulu hati Arumi. Jemarinya di bawah meja meremas gaun birunya dengan erat, berusaha menahan air mata yang mendadak mendesak keluar. Penghinaan itu begitu telanjang. Arumi bersiap untuk membuka suara demi membela harga diri mendiang ayahnya, namun sebelum ia sempat berbicara, suara dentingan garpu yang diketukkan ke piring porselen oleh Renard seketika membungkam seluruh ruangan.
Renard meletakkan garpunya perlahan, lalu bersandar pada kursinya. Tatapan matanya yang tadinya tenang berubah menjadi sedingin es, menatap lurus ke arah Siska dan Tante Amara. Aura intimidasi yang pekat seketika memenuhi ruang makan.
"Siska, jaga ucapanmu," desis Renard, suaranya rendah namun bergetar penuh ancaman. "Siapa pun ayah Arumi di masa lalu, tidak ada hubungannya dengan posisinya saat ini. Sekarang, Arumi adalah Nyonya Wijaya. Dia adalah istri sah pilihan hidupku. Menghina latar belakangnya di depan mejaku sama saja dengan menghina keputusanku. Dan kalian semua tahu betul apa konsekuensinya jika ada yang berani meragukan otoritas mutlakku di keluarga ini."
Siska seketika pucat pasi. Ia menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata sepupunya yang terkenal kejam jika sudah terusik. Tante Amara pun hanya bisa tersenyum kaku, berusaha mencairkan ketegangan yang mendadak membekukan ruangan.
Arumi menoleh perlahan ke arah Renard yang duduk di sampingnya. Jantungnya berdesir hebat.
Meskipun ia tahu bahwa pembelaan Renard malam ini mungkin hanya bagian dari sandiwara demi menjaga harga diri dan reputasi nama besar Wijaya, ada bagian kecil di dalam hati Arumi yang merasa sangat terlindungi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjuang sendirian di tengah keterpurukan, ada seseorang yang berdiri tegap di depannya, menjadi perisai yang menghalau badai untuknya.