Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Rekaman Rahasia dan Penjaga yang Tak Terlihat
"Lo bener-bener udah gak punya otak ya, Maura?!"
Benturan keras ke dinding beton di sudut lorong belakang rumah singgah para artis dan staff membuat Maura tersentak. Edrick mencengkeram kedua bahunya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasa memancarkan ketenangan manipulatif kini memancarkan kemurkaan yang murni.
"Ed... lepasin, sakit!" ringis Maura, mencoba melepaskan diri namun tenaganya kalah jauh.
"Sakit lo bilang? Lo pikir apa yang lo lakuin ke Sienna di atas bukit tadi gak sakit, hah?!" desis Edrick, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mematikan. "Gue tahu lo yang dorong dia, Maura! Gak usah lo pasang muka sok polos lo itu di depan gue!"
Maura mendongak, menatap Edrick dengan mata yang berkaca-kaca, namun sedetik kemudian tawa sinis justru lolos dari bibirnya. "Oh, jadi lo peduli? Iya! Gue yang dorong cewek sialan itu! Kenapa? Lo mau ngelaporin gue ke polisi?!"
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang parah sama Sienna, gue sendiri yang bakal seret lo ke penjara, Maura!" ancam Edrick, rahangnya mengeras sempurna.
"Halah, bohong! Lo marah gini bukan karena takut investasi perusahaan lo hancur, Ed! Lo marah karena lo masih mencintai Sienna, kan?!" teriak Maura frustrasi, emosinya yang tertahan sejak kemarin akhirnya meledak di sudut lorong yang sepi itu. "Lo masih terobsesi sama dia! Declan juga begitu posesif sama dia sampai rela lompat ke jurang! Terus gue apa, Ed?! Nggak ada yang milih gue di sini! Gue selalu jadi pajangan buat ambisi busuk lo!"
Edrick melepas cengkeramannya dengan kasar, menatap Maura penuh rasa muak. "Lo itu cuma alat, Maura. Dan alat yang rusak... gak layak buat dipertahankan."
Pria itu berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Maura yang menangis sesenggukan bersandar di dinding. Di balik pilar beton yang berjarak hanya dua meter dari mereka, Rian—manajer Declan—perlahan menurunkan ponselnya. Layar ponsel itu masih menampilkan indikator merah yang berkedip, menandakan bahwa seluruh konfrontasi panas dan pengakuan Maura baru saja terekam sempurna tanpa celah.
"Dapet lo, ular berkulit sutra," gumam Rian dengan senyuman miring, langsung menyimpan file rekaman itu ke dalam folder tersembunyi sebelum berjalan cepat menuju rumah sakit.
...----------------...
Sementara itu, di dalam ambulans yang melaju membelah jalanan malam dengan sirine yang meraung kencang, Declan tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari dingin Sienna. Dokter tim medis di dalam ambulans baru saja menyelesaikan pemeriksaan awal dan membalut luka di dahi cewek itu.
"Gimana kondisinya? Jawab yang bener, jangan ada yang ditutup-tutupi," tuntut Declan, suaranya terdengar sangat parau dan dingin menatap dokter di hadapannya.
"Tenang, Tuan Bryer. Beruntung dahan pohon menahan laju jatuhnya, jadi tidak ada cedera tulang dalam yang fatal atau benturan keras di kepala," jelas dokter itu sambil merapikan peralatan stetoskopnya. "Nona Sienna hanya mengalami luka goresan luar di dahi, beberapa memar di kaki, dan pingsan karena syok serta kondisi fisiknya yang memang sedang drop akibat flu berat. Kita tidak terlambat membawanya."
Declan mengembuskan napas panjang, bersandar lemas di dinding ambulans. Beban berat yang sempat menghimpit dadanya sejak sore tadi seolah terangkat sebagian. Dia menunduk, menatap wajah polos Sienna yang kini terpejam tenang di bawah pengaruh obat penenang.
"Untung lo gak apa-apa, Rose," bisik Declan sangat pelan, mengusap punggung tangan Sienna dengan ibu jarinya. "Kalau sampai lo kenapa-kenapa... gue gak bakal pernah bisa maafin diri gue."
...----------------...
Namun, di belahan kota yang berbeda, di dalam sebuah ruang kerja remang-remang yang dipenuhi monitor pengawas, kabar tentang jatuhnya Sienna sudah sampai ke telinga seorang pria paruh baya berjas hitam mahal. Pria itu berdiri di depan jendela besar, menggenggam sebuah cerutu yang asapnya mengepul tebal. Di belakangnya, belasan pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam berdiri membungkuk hormat.
"Putri kesayangan gue... tersakiti lagi di acara tv murahan itu?" tanya pria itu, suaranya terdengar sangat berat, berwibawa, dan memancarkan aura kegelapan yang mutlak. Pria yang selama ini menyembunyikan identitas aslinya sebagai ketua mafia terbesar demi keselamatan putrinya, kini tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Benar, Ketua. Nona Sienna didorong dari tebing oleh salah satu peserta bernama Maura Gilbert," jawab tangan kanannya dengan nada gemetar.
Pria paruh baya itu meremukkan cerutunya di dalam asbak kaca hingga hancur. "Gue udah cukup bersabar membiarkan dia main-main di dunia hiburan. Tapi kalau ada tikus yang berani nyentuh kulitnya sampai berdarah... artinya mereka bosen hidup. Kirim dua tim terbaik untuk jaga kamar rawatnya sekarang. Gak ada yang boleh mendekat tanpa izin gue, termasuk bocah keluarga Bryer itu."
"Siap, Ketua!"
...----------------...
Satu jam kemudian, ambulans tiba di rumah sakit. Sienna langsung dipindahkan ke kamar rawat eksklusif di lantai paling atas. Declan yang setelan kemeja hitamnya masih tampak compang-camping dan robek di beberapa bagian, berjalan keluar dari kamar rawat untuk mengurus administrasi.
Namun, baru tiga langkah meninggalkan pintu kamar Sienna, langkah kaki Declan mendadak terhenti. Insting tajamnya sebagai pria yang waspada langsung menangkap atmosfer yang sangat tidak beres di koridor rumah sakit malam itu.
Di depan pintu kamar rawat Sienna, dan di sepanjang sudut koridor, berdiri empat orang pria asing bertubuh tegap. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi dengan earpiece nirkabel yang terpasang di telinga mereka. Tatapan mata mereka sangat dingin, tajam, dan sama sekali tidak terlihat seperti petugas keamanan rumah sakit biasa.
Declan menyipitkan matanya, berjalan mendekat dengan aura tubuh yang tidak kalah mengintimidasi. "Kalian siapa? Ngapain berkeliaran di depan kamar istri gue?" tanya Declan dingin, menghalangi salah satu pria yang berniat mengintip ke dalam kaca pintu kamar Sienna.
Salah satu pria berjas hitam yang tampaknya merupakan kepala tim, melangkah maju dan menatap Declan tanpa rasa takut sedikit pun. "Maaf, Tuan Bryer. Kami di sini atas perintah langsung dari atasan kami untuk menjaga keselamatan Nona Sienna Rose. Anda diminta untuk tidak membuat keributan di sini."
Declan terkekeh sinis, rahangnya mengeras. "Atasan kalian? Siapa? Edrick Jasper?"
"Tingkat kekuasaan Tuan Jasper bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan atasan kami, Tuan Bryer," jawab pria berjas hitam itu dengan nada datar namun penuh tekanan yang mutlak. "Jadi, silakan Anda urus urusan Anda sendiri, dan biarkan kami menjalankan tugas untuk melindungi putri ketua kami."
Declan tertegun sesaat di tempatnya berdiri, menatap lambang naga kecil berwarna perak yang tersemat di kerah jas pria itu. Otak cerdasnya langsung memproses informasi yang sangat mengejutkan. Pria-pria di depannya ini... bukan paparazzi, bukan orang suruhan agensi, dan bukan anak buah Edrick. Mereka adalah bagian dari organisasi gelap legendaris yang bergerak di bawah tanah—anak buah dari papa kandung Sienna sendiri.
Declan menoleh sekilas ke arah pintu kamar tempat Sienna terbaring, lalu kembali menatap tajam ke arah para penjaga tersebut. "Gue gak peduli siapa bapaknya atau seberapa besar organisasi kalian. Selama dia di acara ini, dia tanggung jawab gue. Jadi kalau kalian berani macam-macem... gue sendiri yang bakal seret ketua kalian ke hadapan Sienna."