NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 13: Surat Terakhir untuk Dara*

Hujan turun pelan malam itu.

Jogja basah, dingin, dan sepi.

Kafe Senja udah tutup jam 9, tapi lampu di meja 7 masih nyala.

Alya duduk sendirian.

Di depannya ada buku catatan Rani yang udah tipis. Halaman terakhir kosong.

Di sebelahnya, secangkir kopi hitam yang udah dingin.

Mas Bayu udah pulang.

Revan pamit buat ambil obat Mas Bayu di apotek.

Jadi malam ini, meja 7 bener-bener milik Alya dan Dara.

Alya buka laptop, tapi nggak ngetik.

Dia ngambil pulpen. Pulpen biru yang dulu Dara kasih waktu ulang tahun Alya ke-21.

Tintanya masih lancar.

Ia tarik napas panjang.

Terus mulai nulis.

---

_Dara,_

_Kak, aku nggak tahu kamu masih baca ini atau nggak.

Tapi kalau kamu bisa, tolong dengerin sebentar ya._

_Aku udah pulang. Beneran pulang.

Nggak cuma ke Jogja, tapi pulang ke diri aku sendiri._

_3 tahun lalu aku kabur. Aku takut. Aku malu.

Aku mikir kalau aku ngilang, orang bakal lupa kalau aku pernah salah.

Ternyata yang lupa itu aku sendiri.

Aku lupa kalau kamu pernah bilang, “Al, nulis itu kayak napas. Kalau berhenti, kamu mati.”_

_Sekarang aku ngerti kenapa kamu maksa aku lanjut.

Bukan biar aku terkenal. Bukan biar buku aku laku.

Tapi biar aku nggak mati pelan-pelan di dalam kepala aku sendiri._

_Maafin aku ya, Kak.

Maafin aku yang nggak ada waktu kamu masuk ICU.

Maafin aku yang lebih milih kabur daripada duduk di samping kamu waktu terakhir.

Aku takut lihat kamu sakit. Aku pengecut._

_Tapi aku janji, mulai sekarang aku nggak akan kabur lagi.

Dari luka, dari orang, dari diri aku sendiri._

_Novel kedua udah 40% jadi.

Tokoh utamanya nggak takut lagi. Dia berantakan, tapi dia jujur.

Kayak kamu._

_Kafe ini rame lagi.

Meja 7 jadi tempat orang curhat.

Ada Mas Bayu yang sekarang ngajarin aku cara nyeduh kopi tanpa gosong.

Ada Revan…

Kak, aku ketemu orang yang bikin aku ngerasa aman buat tinggal.

Dia nggak sempurna. Tapi dia milih aku, bahkan waktu aku paling berantakan._

_Aku tahu kamu pasti bakal bilang, “Al, jangan jatuh cinta sama orang yang bikin kamu lupa nulis ya.”

Tenang. Dia malah yang nyuruh aku nulis tiap malam._

_Jadi kalau kamu nanya, “Alya, kamu udah ikhlas belum?”

Jawabanku iya.

Aku ikhlas.

Aku ikhlas kamu pergi.

Aku ikhlas kamu nggak bisa lihat aku sekarang.

Tapi aku nggak ikhlas kalau aku berhenti hidup karena kamu udah nggak ada._

_Ini surat terakhir aku buat kamu, Kak.

Habis ini aku mau mulai nulis buat aku sendiri.

Buat orang-orang yang duduk di meja 7.

Buat Revan.

Buat Mas Bayu.

Buat aku yang dulu takut pulang._

_Makasih ya, Kak.

Makasih udah jadi kakak yang nggak pernah nyerah sama aku.

Makasih udah ninggalin aku dengan alasan buat hidup._

_Ketemu lagi nanti, ya.

Tapi nggak sekarang.

Aku masih punya banyak cerita yang harus selesai dulu._

_Salam dari meja 7,

Adik kamu yang bandel,

Alya._

---

Alya berhenti nulis. Tangannya gemetar.

Ia lipat kertas itu pelan-pelan, kayak ngelipat masa lalu.

Di luar, hujan makin deras.

Tapi di dalam, rasanya anget.

Kayak ada beban 3 tahun yang akhirnya lepas dari dada.

Ia taruh surat itu di dalam buku catatan Rani.

Terus tutup bukunya.

“Udah ya, Kak,” gumamnya pelan.

“Udah cukup.”

---

Revan masuk basah kuyup 10 menit kemudian.

Lihat Alya duduk diem di meja 7, langsung jalan cepat ke sana.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, duduk di sebelah.

Alya ngangguk.

“Nggak apa-apa. Malah… enteng.”

Revan lihat buku catatan yang ketutup.

“Kirim ke Dara?”

Alya senyum kecil.

“Kirim ke diri aku sendiri. Biar aku nggak nyalahin diri aku lagi.”

Revan nggak nanya lebih jauh.

Dia cuma dorong secangkir kopi panas ke depan Alya.

“Minum. Biar nggak kedinginan.”

Alya nerima. Seruput pelan.

“Van…”

“Hmm?”

“Kalau aku nggak ikhlas waktu itu, kita nggak bakal duduk di sini kan?”

Revan ketawa pelan.

“Mungkin nggak. Mungkin aku udah di Bali, jadi Head Barista yang nggak pernah pulang.”

Alya diem. Terus berbisik, “Bagus kamu nggak jadi.”

Revan ketawa lagi.

“Bagus kamu milih pulang.”

Mereka diem. Nggak ada kata-kata lagi yang perlu diucapin.

Di luar hujan masih turun.

Di dalam, meja 7 jadi tempat paling tenang di seluruh Jogja.

---

Besoknya, Alya kirim file novel kedua ke editor.

Subject emailnya cuma satu kata: _Selesai._

Di bagian ucapan terima kasih, ia nulis:

> _Untuk Dara, yang ngajarin aku kalau berhenti nulis itu sama dengan berhenti hidup.

> Ini buku buat kamu.

> Dan buat semua orang yang pernah merasa nggak cukup pulang._

---

*[Bersambung:]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!