Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23. Hari pertama kerja
“Jadi sekarang kamu lagi menjalani masa iddah atau kek mana?" tanyanya dengan berjalan masuk dan mengusap bagian belakangku.
Ia tidak patuh pada ayahnya. Ia pun berani menyentuh area privatku.
Aku memandangnya tak suka, tapi hal itu seolah menjadi tantangannya. Ia memutar posisiku, kemudian memangkas jarak denganku.
Anak laki-laki ini!
"Iya, aku ditalak dan aku nggak memohon untuk dirujuk,” akuku benar menurutku. Aku janda secara agama, tapi aku tidak resmi menjanda karena aku tidak mengurus perceraianku.
“Oke, Mas datang tiga bulan lagi. Hati-hati di Medan, jaga diri dan jaga nyawa. Ingat, Mas kembali buat ngusahain kamu, Cantik.” Ia mengusap lembut pipiku dengan ibu jarinya, kemudian ia berbalik arah dan melangkah pergi ke luar penginapan ini.
Apa maksudnya?
Aku ingin mengupas teka-teki sikapnya selama ini. Sejak ia pulang dari masa rehabnya, ia terang-terangan mendekatiku. Aku merespon wajar, bukan merespon perasaannya.
Lalu, di suatu ketika ia meminta kepastian padaku. Aku mengatakan sebenarnya tentang statusku, tapi ia tidak percaya. Sampai akhirnya orang tuanya tahu, lalu ia lenyap begitu saja.
Aku yakin ini ada campur tangan keluarganya. Entah ia dinasehati, ditekan atau bahkan diancam untuk menjauhiku karena statusku. Soal ayah Wiya terang-terangan mengatakan agar aku mengurus perceraianku, jika aku mau dengan mas Barraq.
Yang jadi permasalahan ini adalah statusku.
Lalu, ia datang lagi tiga bulan kedepan untuk apa memangnya? Sampai menanyakan tentang masa iddah segala. Apa selama tiga bulan itu aku diminta untuk mengurus perceraianku juga?
Tapi jelas itu tidak mungkin aku lakukan, karena aku sudah terikat pekerjaan yang di awal sudah dikatakan agar aku tidak mengambil cuti. Aku tidak punya waktu untuk itu.
Lagipula, aku ingin tahu seberapa mampunya mas Galih tanpaku. Biaya perceraian yang lebih besar dari modal nikahnya itu, apa ia mampu membiayainya seorang diri hingga keluar akta cerainya?
Aku ingin tahu kesanggupannya sampai mana.
Cukup merepotkan mengurus pindahanku sendiri. Shelly masih berada di Jakarta, ia mengatakan akan menemuiku Minggu depan.
Aku hanya mendapatkan libur satu hari, itu pun karena dihitung perjalanan dari sini ke Medan. Aku merasa membiasakan diri di kota baru itu menguras energiku, aku butuh pesta kecil untuk menghibur diriku sendiri.
Hingga di sinilah aku. Dengan dress bodycon tanpa lengan, dengan belahan di sisi sebelah kiri yang setinggi bagian atas lutut. Aku makin berani dalam berpakaian.
Dentuman bas dari musik house di club ini terasa bergetar di dada, tetapi aku memilih mengabaikannya. Malam ini aku hanya ingin sendiri. Sengaja aku memilih duduk di kursi tinggi tepat di depan meja bartender, area paling terang dan paling mudah dipantau oleh staf club.
Setidaknya, di sini aku merasa lebih aman daripada sudut-sudut remang di sofa sana.
Aku menyesap Cosmopolitan kedua milikku. Rasa manis, asam dari cranberry, dan kehangatan alkohol mengalir lancar di tenggorokan.
Menenangkan.
Tiba-tiba, aroma parfum maskulin yang terlalu menyengat menyeruak di sebelahku. Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku menduduki kursi kosong tepat di sampingku. Ia mencondongkan badannya sedikit terlalu dekat.
"Sendirian aja, Cantik? Boleh kenalan?" tanyanya cukup lepas, mencoba bersuara di antara bisingnya musik.
Sebutan itu sering dipakai para buaya di tempat seperti ini. Aku sudah tahu dan terbiasa, bahkan mas Barraq pun sering menyebutku dengan kata ‘cantik’ itu.
Aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap gelasku. "Dea," jawabku singkat tanpa mengulurkan tangan.
"Aku Joel," katanya, tersenyum percaya diri.
"Sering ke sini? Kayaknya baru pertama kali lihat muka secantik kamu di sekitaran sini. Rumahnya daerah mana?" lanjutnya, dengan memperhatikan wajahku dengan intens.
Aku tidak seterkenal itu ternyata, aku influencer dengan banyak pengikut, tapi di sini aku tidak ada yang menyapa satupun.
"Nggak sering. Dekat sini aja," jawabku sedingin mungkin. Aku sengaja memutar tubuhku sedikit menjauh, berharap dia paham isyarat bahwa aku sedang tidak ingin diganggu. Aku benar-benar risih.
Namun, Joel tampaknya tipe pria yang bebal. Ia justru melambaikan tangan ke bartender. "Mas, isi ulang gelas kakaknya. Gabungin ke bil saya semua, ya?"
Aku langsung mengangkat tangan, memberi tanda batal ke bartender. "Nggak perlu. Saya bisa bayar sendiri." Aku menaikan dagu sengaja memasang wajah sombongku.
"Santai aja, Dea. Anggap aja ini tanda pertemanan," Joel terkekeh, lalu menatapku dari atas ke bawah. "Malam udah makin larut, lho. Cewek sendirian naik taksi jam segini bahaya. Gimana kalau malam ini Abang yang anter Adek pulang? Kebetulan mobil Abang di depan."
Aku langsung menegakkan punggung, meletakkan gelas dengan ketukan yang agak keras di atas meja. "Terima kasih penawarannya, tapi saya pulang sendiri. Permisi."
Aku meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di meja untuk membayar minumanku, lalu segera beranjak pergi tanpa menoleh lagi ke arahnya.
Aku ingin menghibur diri, malah dibuat risih. Ya beginilah jika ke club tanpa rombongan, sudah was-was takut dibungkus pria hidung belang. Eh, bertambah tidak nyaman saja karena datang pria setan itu yang tengah mencari mangsa.
Udara Medan pagi ini cukup cerah. Hari ini adalah hari pertama aku resmi bekerja sebagai General Manager di salah satu coffee shop estetik yang sedang berkembang pesat di kota ini.
Dengan blazer formal dan catatan di tangan, aku melangkah masuk ke area bar untuk menyapa para staf dan meninjau operasional pagi.
Ya Tuhan, aku makin jauh saja dalam berpakaian. Aku lebih suka rambutku digerai indah begini.
"Selamat pagi semuanya," sapaku ramah kepada tim barista yang sedang bersiap.
"Pagi, Bu Dea," jawab mereka serempak.
"Bu Dea, kenalkan, ini salah satu supervisor senior kita yang akan bantu Ibu untuk cross-check inventaris gudang hari ini," ucap kepala barista sambil menunjuk ke arah pintu belakang.
Seorang pria keluar dari ruang staf sambil membawa papan jalan atau clipboard. Ia mengenakan seragam polo shirt hitam khas kafe ini, tampak rapi dan sangat berbeda dengan penampilannya seperti tadi malam.
Begitu mata kami bertemu, langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak sempurna, itu Joel. Pria agresif dari club malam itu.
Senyum profesional langsung terpasang di wajahku, meskipun di dalam hati aku merasa situasi ini sangat menggelikan. Aku melangkah mendekat, mengulurkan tangan dengan tegas, hal yang tidak aku lakukan malam itu.
"Halo, Joel. Saya Dea Amanda, General Manager baru di sini," ucapku dengan nada suara yang tenang namun penuh otoritas. "Mohon kerjasamanya, ya?" lanjutku dengan mempertahankan keberanianku.
Joel menelan ludah, wajahnya mendadak pucat dan salah tingkah. Ia menjabat tanganku dengan gugup. "Ha... halo, Bu Dea. Baik, Bu. Mohon bimbingannya."
Aku tersenyum tipis. Setidaknya, sekarang dia tahu bahwa di tempat ini, akulah yang memegang kendali.
Mungkin beberapa orang di sini sedikit bingung saat aku menyebut nama Joel, karena staff tadi tidak menyebutkan nama supervisor senior ini.
Aku melepaskan jabat tangan Joel dengan senyum formal yang tetap terjaga. Pria itu buru-buru menunduk, pura-pura sibuk memeriksa catatan di papan jalannya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah.
Namun, rasa canggung yang ditinggalkan Joel mendadak menguap, digantikan oleh sensasi tidak nyaman yang menggelitik tengkukku.
Instingku mengatakan ada sepasang mata lain yang sedang menguliti penampilanku sejak tadi.
Aku mengedarkan pandangan ke arah meja kasir di sudut kiri bar. Di sana, berdiri seorang wanita dengan kemeja flanel berstruktur rapi yang dipadukan dengan celana kulot hitam.
Pakaian yang menandakan posisinya berada di jajaran manajemen, bukan staf operasional biasa. Tangannya bersedekap di dada, dan tatapannya lurus menghujam ke arahku.
Siapa dia?
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠