Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Meja Kerja
Pagi ini, lobi kantor Dewangga Group terlihat sama seperti biasanya—sibuk, formal, dan dipenuhi orang-orang dengan langkah terburu-buru. Namun bagi Sia, berjalan di samping Arkan yang sudah kembali ke mode "CEO Robot" memberikan sensasi yang benar-benar berbeda.
Arkan melangkah tegap dengan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya datar, pandangannya lurus ke depan, dan ia hanya mengangguk singkat pada setiap karyawan yang menyapanya dengan hormat. Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria yang terlihat begitu kaku ini, beberapa jam yang lalu, adalah orang yang sama yang bersikeras ingin membuatkan sarapan—meskipun akhirnya hanya berakhir dengan telur mata sapi yang bentuknya agak abstrak.
Begitu mereka masuk ke dalam lift khusus eksekutif dan pintu tertutup rapat, suasana mendadak berubah.
Arkan mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang sedikit merosot. Ia melirik Sia melalui pantulan cermin lift. "Sepuluh detik sebelum drama dimulai," bisiknya.
Sia tertawa kecil sambil merapikan tumpukan map di pelukannya. "Jangan lupa ekspresinya, Pak. Alisnya harus sedikit ditekuk biar kelihatan kalau Bapak lagi mikirin proyek triliunan, bukan mikirin nanti malam makan apa."
Arkan menoleh, menatap Sia dengan binar jahil yang hanya diperlihatkan pada wanita itu. Ia mendekat satu langkah, membuat Sia terpojok ke dinding lift. "Kalau aku nggak bisa fokus rapat karena asistenku pakai parfum yang sama dengan aroma di bantal apartemenku semalam, itu salah siapa?"
"Salah Bapak yang hidungnya terlalu sensitif," jawab Sia berani, meski pipinya mulai merona.
Tangan Arkan bergerak cepat, merapikan kerah kemeja Sia yang sedikit miring. Jemarinya sengaja berlama-lama di sana, mengusap leher Sia dengan lembut sebelum lift berdenting menandakan mereka sampai di lantai 42.
Begitu pintu terbuka, Arkan langsung kembali ke posisi tegak. "Sia, pastikan semua bahan untuk pertemuan dengan tim legal sudah ada di meja saya dalam lima menit," suaranya kembali dingin dan penuh otoritas.
"Baik, Pak," jawab Sia dengan nada sekretaris yang sempurna.
Suasana di kantor hari itu terasa sangat dinamis. Sia sibuk berlari dari satu departemen ke departemen lain, sementara Arkan mengurung diri dalam serangkaian rapat yang tak berujung. Namun, di antara kesibukan yang luar biasa itu, mereka menemukan cara-cara kecil untuk tetap "terhubung".
Pukul satu siang, sebuah pesan masuk ke ponsel Sia.
Arkan: Rapatnya membosankan. Aku baru saja membayangkan Bima dan Raya sedang kencan diam-diam di tengah rapat direksi. Menurutmu, apa yang akan dilakukan Bima di bawah meja?
Sia hampir tersedak air mineral yang sedang diminumnya. Ia melirik ke arah ruang rapat kaca yang tertutup tirai tipis. Di sana, ia bisa melihat siluet Arkan yang sedang duduk serius mendengarkan presentasi manajer keuangan. Siapa yang menyangka pria itu sedang mengetik pesan seperti itu?
Sia membalas dengan cepat.
Sia: Fokus, Pak Penulis! Kalau Bapak ketahuan senyum-senyum sendiri, yang lain bakal curiga. Dan jawabannya: Bima mungkin akan menggenggam tangan Raya dengan jari kelingkingnya, supaya tidak ada yang tahu.
Beberapa detik kemudian, ia melihat Arkan di dalam ruangan sana sedikit menunduk, menatap ponsel di bawah meja, lalu menyunggingkan senyum yang sangat tipis—hampir tak terlihat, tapi bagi Sia, itu adalah senyum paling manis di dunia.
Sore harinya, saat kantor mulai sedikit lengang, Sia masuk ke ruangan Arkan untuk memberikan berkas terakhir yang butuh tanda tangan. Ia menemukan Arkan sedang bersandar di kursinya, memejamkan mata dengan kacamata yang diletakkan di atas meja.
Sia berjalan pelan, berniat meletakkan berkas itu tanpa mengganggu, namun suara Arkan menghentikannya.
"Jangan pergi dulu," gumam Arkan tanpa membuka mata.
Sia tersenyum, lalu berjalan ke belakang kursi Arkan. Ia meletakkan tangannya di bahu pria itu, memijatnya pelan untuk melepas ketegangan. "Capek banget ya?"
Arkan mendesah lega, menikmati sentuhan tangan Sia. "Suara perdebatan soal anggaran itu lebih berisik daripada suara ketikan di kepalaku kalau lagi deadlock naskah." ia meraih salah satu tangan Sia, membawanya ke depan dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
"Arkan, pintu nggak dikunci," bisik Sia waspada, meski ia tidak menarik tangannya.
"Gibran lagi di lapangan, nggak bakal ada yang masuk tanpa ngetuk," sahut Arkan santai. Ia membuka matanya dan menarik Sia agar berdiri di sampingnya. Arkan meraih sebuah pulpen mahal, lalu dengan gerakan cepat, ia menuliskan sesuatu di telapak tangan Sia.
Sia mengerutkan kening. "Apaan sih?"
Saat Arkan melepaskan tangannya, Sia melihat tulisan rapi di telapak tangannya: "Bab 27: Hanya Kita."
"Itu judul bab terbaru The Velvet Night?" tanya Sia penasaran.
"Bukan," Arkan berdiri, merapikan jasnya, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga Sia yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Itu rencana malam ini. Cuma ada aku, kamu, dan draf novel yang nggak perlu kita unggah ke mana-mana."
Sia tertawa pelan, memukul dada Arkan dengan map yang ia bawa. "Kamu makin pinter ya gombalnya. Pasti gara-gara sering nulis dialog Bima."
"Aku serius, Sia. Menjadi Arkananta Dewangga itu melelahkan, tapi menjadi Arkan yang punya kamu itu... kayak nemu titik di akhir kalimat yang panjang. Melegakan."
Saat jam pulang kantor tiba, mereka keluar secara terpisah seperti biasa. Arkan turun lebih dulu ke basement, sementara Sia menunggu sepuluh menit kemudian. Di dalam mobil, suasana kaku kantor benar-benar luruh.
Arkan melepaskan dasinya, melemparnya ke kursi belakang, dan mengembuskan napas panjang. "Akhirnya."
Sia duduk di sampingnya, memperhatikan profil samping wajah Arkan yang terkena cahaya lampu jalanan Jakarta. "Tadi di kantor, Pak Gibran sempat nanya kenapa Bapak kelihatan lebih sering senyum hari ini."
Arkan menghidupkan mesin mobil. "Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang, mungkin karena grafik profit bulan ini naik. Padahal aku tahu, itu karena Bapak habis dapet ide adegan baru buat The Velvet Night, kan?" goda Sia.
Arkan tertawa rendah, suara yang selalu berhasil membuat Sia merasa nyaman. Ia meraih tangan Sia, menautkan jemari mereka di atas tuas transmisi. "Salah. Aku senyum karena setiap kali aku mendongak dari tumpukan berkas, aku bisa liat kamu dari balik kaca ruangan. Itu jauh lebih efektif daripada kopi mana pun di dunia ini."
Perjalanan pulang malam itu tidak terasa lama, meski kemacetan Jakarta mengepung mereka. Di dalam mobil yang kedap suara itu, mereka membicarakan banyak hal—dari yang tidak penting sampai soal kelanjutan nasib Bima dan Raya. Tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan profesionalitas yang mencekik. Hanya ada dua orang yang sedang menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
Sia menatap telapak tangannya, tulisan "Bab 27: Hanya Kita" itu masih ada di sana, sedikit pudar karena keringat. Ia menyadari satu hal: hidupnya sekarang memang seperti sebuah novel. Penuh kejutan, sedikit rahasia, dan memiliki tokoh utama pria yang meski kaku, punya cara paling lembut untuk mencintainya.
"Arkan," panggil Sia pelan.
"Ya?"
"Makasih ya. Buat hari ini. Buat semuanya."
Arkan meliriknya sekilas, lalu mengecup jemari Sia yang berada dalam genggamannya. "Sama-sama, Sia. Tapi siap-siap ya, Bab 27 versi nyata kita baru mau dimulai begitu kita sampai di apartemen."
Sia tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, merasa sangat yakin bahwa bab-bab selanjutnya dalam hidup mereka akan jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah tertulis di layar gawai pembaca Nightshade. Malam itu, Jakarta terasa lebih hangat, dan rahasia kecil di antara meja kerja mereka menjadi bumbu yang paling manis untuk mengakhiri hari.